Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 228. Tak dapat mengatur hati


__ADS_3

Sebuah peluang dari dewa, kini tengah memberi sedikit celah, pada garis getaran hatinya.


''Silahkan, jika paduka tidak merasa terganggu dengan kami.'' Ziaruo.


Bahkan belum juga perkataan Ziaruo terselesaikan, tanpa rasa sungkan Murong telah menarik bangku kosong di samping wanita itu, serta mendudukkan tubuhnya dengan nyaman.


Biarlah hanya sejenak bersama dengannya, sekedar menemani wanita itu makan dan minum saja.


Dia berpikir untuk menikmati waktu yang mengalir saat sekarang, demi keinginan hati pribadinya.


Di sela keseharian mengurusi rakyat dan pemerintahan, ia ingin meluangkan waktu untuk diri sendiri saat ini.


Murong tampak berbeda dari kesehariannya, di sini ia lebih terlihat seperti sosok pria yang tengah berbahagia bersama orang terkasih.


Dengan senyum kecil di bibir, sorot mata lembut, serta penuh kepedulian.


Dengan tanpa mengindahkan kenyataan yang ada, Murong masih dapat menampilkan rona bahagia pada wajah itu.


Lengkungan pada bibir, menyiratkan suasana hatinya yang berbunga.


Bahkan, meski hanya untuk sekedar menatapnya saja, ia telah merasa puas.


Murong telah mampu menerima dan merelakan, wanita tersebut untuk menempuh bahagia dengan jalannya.


Dan tanpa keegoisan untuk memaksa, serta memiliki untuk diri sendiri.


Dalam keindahan rasa dan angan yang tersimpan rapat, ia telah mampu menentukan hal terbaik merelakan demi untuk melihatnya tersenyum tulus seperti hari ini.


Sungguh, kasih sayang tak selalu berjalan seperti apa yang di harapkan.


Terkadang luka mampir dan mewarnai di hati, serta menetap hingga akhir hidup.


Karena cinta dan ketulusan, tak pernah menjanjikan akhir kebahagiaan bagi semua orang.


Bahkan, tak jarang dengan dingin menautkan jejak untuk hati lain, tanpa melihat rasa sakit untuk yang di tinggalkan.


Meski demikian, masih banyak hati-hati lain berharap dan rela untuk menyambut perasaan tersebut. Dan Murongyu satu diantaranya.


Baginya mengenal wanita itu, adalah sebuah kebahagiaan terbesar dalam hidup ini.


Walau tak bersambut baik dengan hati sang wanita, setidaknya Murongyu menyadari bahwa dirinya masih bisa mengenal kasih sayang tulus untuk orang lain.

__ADS_1


Di awal ia memang berusaha keras untuk mendapatkan Ziaruo, namun seiring berjalannya waktu dan banyaknya polemik yang dihadapi. Murong tak ingin lagi memaksakan kehendak hatinya, untuk Ziaruo.


Melihatnya bahagia, dan bersanding bersama seseorang yang jauh lebih hebat darinya, mungkin sebuah pembuktian kebahagian atas cinta tulus yang ia miliki.


Murongyu masih terbuai dalam pikirannya, hingga tanpa sadar terus menatap kearah Ziaruo. Bahkan setelah mendudukkan tubuhnya, pria itu masih melewatkan waktu beberapa saat, sebelum beralih menatap Cangge.


Ziaruo yang memperhatikan pandangan Murong, tersenyum di balik cadar merasa lega setelah tak lagi menjadi pusat perhatian mata Murong, dan buru-buru berkata, ''Oh...kenalkan ini Cangge.''


''Cangge beri salam kepada Yang mulia kaisar.''


Ziaruo berbalik melihat kearah Cangge, ketika ia mengatakannya, baginya Murong masih sosok yang dapat ia tolerir.


Dalam hati ia memang menyesalkan perhatian serta sikap berbeda Murong untuknya. Namun dia bukanlah seseorang yang mampu mengatur pikiran serta perasaan hati orang lain.


Dengan sifat dan karakter Ziaruo, ia pasti enggan dengan siapapun yang memikirkan dirinya dengan cara demikian.


Akan tetapi, pria di sana dengan kuat berusaha menutupi perasaan serta kasih sayang di dalam hati. Dan hal terbaik yang dapat ia lakukan adalah, mendukung tindakannya dengan berpura-pura tidak tahu.


Ziaruo memperlakukan Murongyu layaknya seorang teman dan seseorang yang ia kenal saja.


..........


Mendengar namanya di sebut, bocah Cangge secara reflek berdiri dari duduk, dan membungkuk memberi hormat, seraya berkata.'' Salam Yang mulia ka..''


''Tidak perlu formalitas.''


Murong tak ingin ada orang lain yang mengetahui identitasnya, bukan hanya karena takut adanya ketidak nyamanan diantara mereka sekarang.


Melainkan, ia juga ingin menghindari musuh-musuh yang selalu menginginkan kehidupan kecil miliknya.


Mata Murongyu menatap sejenak kearah cangge, dan kembali melihat Ziaruo.


Dari sorot mata yang terpancar, jelas masih menunjukan rasa perhatian serta kekaguman untuk wanita itu.


''Anda masih berhati lembut seperti dulu Nona.'' Gumamnya dalam hati.


Memikirkan hal tersebut, tanpa sadar sebuah lengkung kecil lagi-lagi tersembul pada bibir Murong.


Apapun tentang wanita di depannya, ia akan selalu merasa sangat indah dan Indah.


Tak pernah ada hal buruk yang hadir atas setiap tindakan, serta tingkah laku Ziaruo, di dalam pandangan mata Murong.

__ADS_1


Mungkin benar pepatah lama yang mengatakan, bahwa kasih sayang membutakan mata. Apapun itu, tentang sesuatu yang berhubungan dengan orang yang di cintai, selalu akan baik dan indah.


Bahkan jika itu sebuah kesalahan, atau keburukan bagi orang lain. Bagi para pecinta, akan selalu ada sisi celah untuk memaklumi kesalahan tersebut, dan menitik beratkan keindahan sisi pandang miliknya, untuk sebuah keburukan itu sendiri.


Terlebih lagi, jika itu sebuah kebajikan dengan kesalehan budi pekerti untuk sang pujaan. Maka, dengan tanpa ragu ia akan melambungkannya tinggi dengan keagungan.


Sungguh, kekaguman dan pemujaan hatinya sudah benar pada tempatnya.


Ia tidak salah memilih untuk menetapkan hati untuk wanita itu.


Sebuah pribadi indah dan penuh kasih, yang suka berbagi serta berbudi.


Meski, tak pernah ada kebersamaan pada akhirnya, Murong masih merasa layak untuk perasaan itu.


Setidaknya ia tidak mencintai orang yang salah, biarlah takdir dan waktu kehidupan yang tidak tepat berdiri diantara mereka.


Di sela hati Murong semakin mengagumi kebaikan hati Ziaruo, terbesit setitik keegoisan, untuk menikmati sebaik mungkin pertemuan saat ini.


''Apakah Anda akan langsung kembali?.'' Tanya Murongyu, dengan suara yang ia tampilkan setenang mungkin.


Mendengar pertanyaan tersebut, Ziaruo menatap sekilas kearah cangge, dan kembali meraih cangkir di depannya.


Wanita itu tidak langsung menjawab, perlahan menyesap air dalam cangkir, menikmati air putih tak berasa, dan menatap kearah Murong.


Murongyu yang melihat hal itu, mendesah pelan.


Ia melihat sedikit tarikan pada kedua ujung mata Ziaruo.


Dan secara sadar ia mampu menebak, bahwa wanita di depannya dengan cadar di wajah itu, tengah tersenyum kecil kearahnya.


Dalam hati ada sedikit kecewa yang mulai bercokol dan menjalar perlahan.


''Ia dia adalah permaisuri Jing, tentu dia akan kembali.'' Pikirnya dalam diamnya.


Murong mengambil kesimpulan sendiri bahwa, senyum itu adalah kata pengganti dari persetujuan untuk pertanyaan yang ia berikan.


''Anda tidak memesan apapun Yang mulia?.'' Tanya Ziaruo mengingatkan.


Mendengar pertanyaan itu, Murong tersadar dari lamunan dan tersenyum kearah Ziaruo, sebelum menjawab. ''Sebenarnya pria ini sudah menyelesaikan sarapannya sejak tadi, kalian lanjutkan saja, jangan merasa sungkan.''


''Aku kesini, karena melihatmu dari jauh, bukan untuk sarapan.'' Sambungnya dalam pikiran.

__ADS_1


Dan tentu saja, itu tetap terkubur dalam kebisuan, tak akan lolos dari bibir Murongyu.


__ADS_2