
''Selamat pagi.'' ucap seorang pria dari balik pintu, dengan senyum cerah, secerah mentari pagi ini.
"Pagi tuan.'' jawab Xioyu dengan wajah tenang miliknya, mewakili Ziaruo, menjawab sapaan Gutingye.
''Ada apa dia pagi-pagi sekali datang kesini?.'' Pikir Xioyu, sambil terus mencuri lihat kearah tuan Gutingye.
"Bagaimana, apakah kau sudah lebih baik hari ini?.'' Tanya Gutingye kepada Ziaruo.
Melihat pria itu perhatian kepada sang nona, Xioyu menjadi gusar.
Namun, lain halnya dengan Ziaruo, yang sudah mengetahui kondisinya, dan mengira bahwa Gutingye adalah calon suaminya, ia tersenyum lembut kearah pria tersebut, serta merasa bersalah, karena ia telah melupakan pria yang dicintainya.
"Sepertinya sudah lebih baik, tapi...'' Wanita itu terdiam sejenak, ada rasa bersalah dalam sorot mata tersebut.
Ia menatapnya lekat sebelum kembali berucap. ''Maaf, aku belum bisa mengingat semua, kuharap kau tidak merasa kecewa."
Ziaruo mengatakan semuanya sembari menundukkan wajah. Tampak jelas di wajah tersebut, sebuah penyesalan atas kondisi tubuhnya.
Mendengar ucapan gadis cantik di depannya, Gutingye tersenyum dan berjalan mendekat ke arah ranjang.
"Jangan memaksakan dirimu, jika memang kau tak bisa mengingat apapun, kita bisa membuat kenangan yang baru.'' Ucapnya lembut, sembari melepas senyum di bibir wajah tegas miliknya.
"Bagaimanapun kau berusaha, tetap tak akan kau temukan kenangan apapun tentang kita, karena kita memang baru akan membuat kenangan-kenangan tersebut sebentar lagi.'' Gumam Tingye dalam hati.
"Oh ya, tabib mengatakan, bahwa kau harus sering berjemur, agar lebih cepat proses penyembuhan, aku sudah menyiapkan kursi di depan, dan ..ha..ha..ha.'' Lanjut gutingye, sambil mengangkat tubuh Ziaruo, membawanya keluar kamar.
Mendudukkannya pada sebuah kursi, di halaman kediaman miliknya, dengan senyum lebar dan hati yang berbunga-bunga.
"Ini adalah awal kehidupan bahagia milikku, bahkan aku rela menukarkan beberapa tahun usiaku untuk kebahagian ini bersamamu.'' Ucap Gutingye dalam hati, ia benar-benar merasa bahagia.
Sementara itu bagi Ziaruo saat ini, hanyalah sebuah kebingungan yang tak pernah ia ketahui ujung pangkalnya.
"Sudah, jangan seperti ini aku malu di lihat orang-orang.'' Ucap Ziaruo sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Entah mengapa meskipun, ia diperlakukan seperti itu oleh orang yang ia cintai ( versi Gutingye ), ada perasaan canggung, bukankah seharusnya ia bahagia?.
Meskipun, ia kehilangan ingatan seharusnya ia memiliki getaran-getaran dalam hatinya.
__ADS_1
Akan tetapi, ia tak merasakan perasaan apapun, hanya rasa malu dan ingin segera turun dari gendongan pria tersebut.
"Haha..haha..haha.'' Tawa pria tersebut bergema di perkampungan kecil, ketika melihat rona malu, pada wajah gadis tersebut.
"Tuan, cepat resmikan pernikahan kalian, biar Yanyan cepat memiliki adik ha..ha..ha.'' Ucap penduduk 1 yang kebetulan lewat, dengan nada mengoda mereka berdua.
Mendengar hal tersebut, perasaan Xioyu lagi lagi gusar dan gelisah.
"Tuan, sepertinya nona harus kembali ke kamarnya, saya akan merapikan rambutnya dan membantunya mengganti baju.''
Ucap Xioyu dengan nada pelan.
Ia ingin menyudahi percakapan konyol milik pimpinan perompak tersebut.
''Nona, ini sudah hampir 3 minggu mengapa anda belum pulih juga, padahal luka luka di tubuh nona, bahkan secara ajaib hilang tanpa bekas, tapi mengapa anda belum bisa menggerakkan tubuh anda?.'' Pikir Xioyu dengan penuh keheranan, hingga ia lupa bahwa gerak geriknya serta gelagatnya di awasi oleh Gutingye.
"Aku tahu, kau memiliki rencana busuk di dalam pikiranmu itu, sekali saja kau membuat kesalahan, aku sendiri yang akan membereskanmu.'' Gumam Gutingye dalam hatinya.
"Baiklah.. ayo aku akan membawamu kembali ke dalam.'' Jawab pria itu lagi, dan mengangkat kembali tubuh ramping itu, serta membawanya tepat di depan dada bidangnya (ala bridal style)
"Jangan seperti ini, turunkan aku, sepertinya kakiku mulai bisa digerakan, biarkan aku berlatih berjalan lagi.'' Ucap Ziaruo, dengan nada malu-malunya, karena di lihat beberapa orang yang disana.
"Apa, kenapa ia secepat itu bisa menggerakan tubuhnya, apakah tabib itu berbohong kepadaku? tidak, aku harus menemuinya.'' Pikir Gutingye dalam diamnya, dan melangkah masuk kedalam kediaman menuju kamar yang di persiapkan olehnya khusus untuk Ziaruo.''
"Mengapa, kita kesini, ini bukan kamarku?.'' Ucap Ziaruo dengan nada bingung .
"Ini adalah kamar barumu, yang lama biar digunakan oleh nona Xioyu saja, dan mulai sekarang biarkan aku yang menjagamu, dia juga memiliki kehidupannya sendiri, apa kau ingin dia selamanya melayanimu dan tidak memiliki keluarga hingga tua?.'' Ucap Gutingye, dengan nada seolah ia menginginkan suatu kebaikan atas kehidupan Xioyu.''
Sambil mendudukkan tubuh gadis cantik tersebut, pada sebuah kursi didalam kamar tersebut.
Gutingye mengerti, dan mulai memahami Ziaruo, gadis itu, memiliki hati yang bersih dan baik, jadi ia sudah tahu bagaimana cara membuatnya menurut kepadanya, tanpa paksaan dan rasa keberatan.
"Oh ya, apakah kau keberatan jika kita melangsungkan pernikahan, kita pekan depan?.'' Tanya pria itu dengan tatapan penuh harap miliknya.
Mendengar ucapan pria di depanya tersebut, ia menunduk dan diam.
"Maafkan aku, aku ingin melakukannya setelah kondisiku lebih baik dulu, setidaknya aku benar benar yakin dengan pernikahanku.'' Jawab Ziaruo lirih.
__ADS_1
"Apakah kau ingin aku menunggumu kembali, ataukah kau akan meninggalkanku Ziaruo.'' Ucap Gutingye, dengan nada pelan, ia berjongkok di bawah tubuh Ziaruo, yang duduk di atas ranjang.
Mendengar hal tersebut, mata Ziaruo membulat, sebuah kilasan memori memasuki pikirannya.
"Apakah, kau akan menyuruhku menunggumu lagi.'' Ucap Murongxu dengan suara lantang, seolah ia tengah frustasi .
"Apakah kau akan meninggalkanku sendirian lagi?.''
seperti yang terakhir kau lakukan?, aku memang bersalah, dan aku sudah meminta maaf kepadamu.''ucap Murongxu dengan suara yang masih agak keras.
"Permaisuri, apakah kau tahu kau begitu kejam, hatimu seperti bongkahan batu cadas yang keras.''
"Aaahkkk...aaahkkku'' Rintih Ziaruo, sambil memegangi kepalanya sontak saja, hal tersebut membuat Gutingye kelabakan dengan kecemasan.
"Ada apa denganmu, Ziaruo ...jangan membuatku takut, cepat panggilkan tabib!, cepat!'' Perintahnya, dengan suara keras dan penuh kecemasan .
Sementara itu gadis tersebut, masih memegangi kepalanya, dengan kedua tangan, sesekali mencengkeram dan menarik kasar rambutnya sendiri.
"Jangan, aku mohon ..jangan seperti ini, maafkan aku, aku tak akan memaksamu, aku akan menunggumu, dan akan selalu menjagamu, bagaimanapun keadaanmu.'' Ucap Gutingye penuh ketulusan.
Ziaruo mendengar semuanya, sebelum pandangan matanya mulai mengabur dan ia tidak melihat apapun, atau mendengar apapun lagi.(Pingsan)
''Siapa aku sebenarnya, siapa jati diriku mengapa ia memanggilku permaisuri, lalu siapa Gutingye?.'' Gumam seorang gadis, dengan balutan gaun putih, yang tengah merebahkan tubuhnya, di tengah hamparan taman bunga yang luas dan indah.
"Tubuhku lelah, bisakah aku tetap disini, aku ingin tetap disini dan merebahkan tubuhku disini selamanya.'' Ucapnya lirih lagi, sembari memejamkan mata, merasakan ketenangan disana, ia meletakan semua beban lelah tubuhnya untuk sejenak.
Sementara itu di istana, kekaisaran XILI.
Sebuah gulungan surat sampai di tangan kaisar Murongxu, ketika sedang berlangsung sidang pagi kerajaan.
''Pangeran Murongyu,'' panggil sang kaisar kepada putra keduanya .
"Hamba yang mulia.'' jawab pangeran Murongxu dengan sigap, setelah berjalan menuju ke depan, menghadap kaisar Murongxu dan menunduk hormat.
''Pimpin 500 prajurit utama menuju hutan barat, untuk membantu pangeran mahkota Muronghui memberantas perompak King." Perintah kaisar Murongxu dengan tegas.
"Baik yang mulia, hamba laksanakan.'' jawab pangeran Murongyu, dengan tegas dan penuh penghormatan, sebelum berjalan pergi dari sana.
__ADS_1
"Aku harap, kalian akan menyatukan pikiran dan hati kalian berdua ( Murongyu dan Muronghui ) untuk kekaisaran Xili.'' Ucap kaisar Murongxu dalam hatinya, ia berharap dengan rencana penangkapan per*mpok KING merah, kecanggungan di antara kedua putranya akan kembali menghilang.
''Terimakasih, sudah mampir membaca, mohon bantuan like, komen, saran dan kritikan-kritikan yang membangun, agar menjadi lebih baik lagi.''