
Masih di hutan barat.
''Itu...didalam pondok kita Ruoer.'' Pekik Yongyu dengan keras.
Namun, tiba tiba saja tubuh Ziaruo melesat masuk, dan menghilang kedalam cermin air bulan.
Melihat kejadian itu, tanpa pikir panjang, ataupun mengetahui arah tujuan, Yongyu ikut masuk kesana untuk mengikuti sang adik.
Baginya, segalanya dapat diurus dan dipikirkan nanti. Yang jelas, sekarang ia harus bersama wanita itu, menjaga dan melindunginya dimanapun ia berada.
Ada kekhawatiran tentang keselamatan sang adik.
Begitu ia masuk menembus cermin yang hampir menghilang dikehampaan, Tubuh Yongyu disambut kabut tipis keemasan, membawanya melayang melesat pergi.
Tubuh gagahnya ibarat sebuah kapas, yang terbang melayang di udara, menembus awan awan tipis yang bertebaran di jalannya.
Hingga beberapa saat kemudian, ia terjatuh didalam sebuah taman besar dengan hamparan bunga.
Yongyu kembali merasa bingung, dimana dirinya sekarang, dan harus kemana ia mencari sang adik.
Ia berjalan mengambil arah secara acak, berkeliling mencari sosok Ziaruo.
Hingga saat matanya terpaku pada sosok seorang gadis dari kejauhan, seorang wanita cantik dengan gaun seputih salju, berlari datang menghapirinya, matanya membulat dan bibirnya berucap. ''Ruoer...Untunglah aku menemukanmu.''
Namun, semakin wanita itu mendekat, ia semakin merasa aneh, seolah arah tatapan sang adik tak melihatnya, hingga pada akhirnya wanita itu menabrak dan menembus tubuh besar Yongyu.
''Ruor...ruoer'' Panggilnya beberapa kali.
Dengan cepat, Yongyu berbalik mengikuti langkah sang adik, ia tak mengindahkan kebingungan, yang semakin mendera hati serta pikirannya.
Sementara wanita yang ia panggil sebagai Ziaruo itu, terus berlari menjauh meninggalkannya.
Sebanyak apapun langkah kaki yang ia gerakan, sebanyak itu pula kebingungan serta kecemasan yang ia rasakan.
Mengapa pakaian sang adik berubah, mengapa ia tak mengenalinya, mengapa Ziaruo tak mendengar panggilannya, mengapa tubuhnya dapat menembus tubuhnya, mengapa sang adik tidak melihatnya, dan masih banyak mengapa..mengapa yang lainnya lagi.
Hingga sampai langkahnya terhenti disebuah ujung taman.
__ADS_1
Pemuda itu melihat Ziaruo tengah berpelukan, dengan seorang pria yang tak lain adalah kaisar Jing.
''Kakak..'' Gumam lirih Yongyu disela langkah kakinya, mendekati mereka.
Namun tetap saja, kebingungan masih menyelimuti hati Yongyu.
Manakala ia memanggil sang adik kembali, kedua orang tersebut, lagi lagi tak menjawab sapaan, bahkan teriakan panggilannya.
Meninggalkan Yongyu dengan segala kebingungan, didalam dimensi cermin air bulan.
Didalam pondok di hutan barat.
Seseorang pria bertopeng dengan tangan yang tengah memegang leher Murong berada didalam pondok. Tak jauh dari keduanya, tampak tubuh kasim Di, tersungkur bers*mb*h d*r*h tak sadarkan diri di lantai ruangan.
Dengan sorot mata tajam pria bertopeng itu berucap. ''Bahkan kau yang hanya bernilai tak lebih, dari satu helaian rambutku saja, berani membayangkan dan ingin menikahi istriku, apa kau pikir kau mampu dan pantas?''
Pria bertopeng itu, sudah siap meremukan tulang leher dari Murong, namun sebuah suara didengarnya dari arah belakang tubuhnya.
''Hentikan Yang Mulia.'' Sebuah suara yang sangat ia kenal dengan baik. Namun tetap saja suara itu tak membuatnya melepas cengkraman, tangan kokohnya pada leher Murong.
Pria bertopeng menatap sinis kearah Ziaruo, dengan hentakan kasar, ia mengangkat tubuh Murong, dan dan dilemparkan kearah patahan kayu dinding yang runcing di depannya.
Mengetahui hal itu, dengan cepat Ziaruo membalut tubuh Murong, dengan kabut keemasan, membawa tubuh itu kearahnya.
''Apakah anda baik baik saja?.'' Tanya Ziaruo dengan wajah cemas.
Menyaksikan hal itu, tubuh pria bertopeng bergetar hebat, tangannya mengepal. Dengan langkah secepat kilat, serta hanya dalam hitungan kedipan mata, tubuhnya sudah berada tepat didepan Ziaruo.
Mata pekat dibalik topeng itu, menatap tajam kearah sang wanita, seolah ingin mengoyak apapun disana.
Dengan suara yang penuh penahanan pria bertopeng itu, berkata.'' Bahkan sekarang kau berani membelanya, membela pria lain di depanku.''
Suara dengan nada tinggi itu, membuat Ziaruo mengeratkan giginya, hembusan nafas kasar dari Murongxu tepat mengenai wajah cantik wanita itu.
''Aku tak pernah membela siapapun, aku hanya ingin Anda hentikan semuanya sebelum terlambat.'' Jawab Ziaruo kembali.
Namun seolah tak memperdulikan ucapan Ziaruo, pria itu dengan cepat berusaha menyerang tubuh Murong.
__ADS_1
Akan tetapi, dengan sigap pula Ziaruo menangkis, serta membantu Murong dalam menghindari serangan tersebut.
Pondok damai milik Ziaruo kini tak berbentuk lagi, serangan serangan yang di keluarkan oleh pria bertopeng tersebut, sungguh membuat segalanya perak poranda.
''Ruoer...lepaskan aku...Pergilah, biarkan dia membunuhku, selama kau baik baik saja, tidak masalah apapun yang ia lakukan kepada tubuhku.'' Ucap Murong disela nafasnya yang tersengal.
Tubuh gagahnya kini seolah hilang tak berbentuk, kedua tangannya patah, kaki kirinya juga telah patah, bahkan ada beberapa tulang rusuk yang entah menjadi berapa remukan, didalam dada yang dulunya bidang tersebut.
Mu*ah*n d*r*h segar, berkali kali tumpah dari bibirnya.
Mendengar ucapan itu, tawa menggelegar terdengar dari tubuh pria dengan bertopeng itu. ''Hahaha...hahaha...hahaha.''
''Kau sungguh lucu.... bersedia mati untuk istri orang lain, bahkan untuk menjadi pijakan kaki kotornyapun kau tak pantas.'' Ucap pria dengan topeng pada wajahnya lagi.
''Rueor....Semakin kau melindunginya, aku semakin berkeinginnan untuk membunuhnya.'' Lanjut pria itu kembali.
Mendengar keputusan Murongxu, Ziaruo menghela nafas sesaat, meredakan gemuruh dalam hatinya.
Dan disaat hatinya mulai sedikit lebih tenang, ia kembali berkata. ''Maka... lakukanlah, b*nuh dia, dan kita jalani kembali kehidupan seperti ini dalam beberapa kali putaran lagi. Lakukan dengan cepat.''
''Kapan anda akan mendengar ucapan dan pendapatku?, kapan anda akan mendengar penjelasan orang lain?, kapan anda akan berhenti membuat jarak diantara kita?.''
Dari bibir wanita itu memang terdengar teriakan yang keras, akan tetapi dari sana juga terdengar suara isak tangisan.
Wanita itu membaringkan tubuh Murong yang tak berdaya, ia berdiri menatap tajam kearah Pria dengan topeng pada wajahnya, sembari berkata kembali. ''Dan kapan anda akan mengerti, setiap tindakan yang anda ambil, selalu hanya tentang diri anda, selalu melukai orang lain, bahkan juga menghancurkan setiap usaha yang telah kuperjuangkan, mengapa?, mengapa anda harus seperti ini?, mengapa?.''
Air bening kembali mengalir, mengucur deras diantara kedua ujung mata coklatnya.
Mendengar ucapan tersebut, ditengah kebingungannya, Murong merasakan kepedihan yang mendalam.
Apakah itu untuknya?, ataukah untuk pria bertopeng tersebut. Mengapa hatinya berkata bahwa kemarahan itu jelas jelas untuk dirinya, kesedihan tentang kisah mereka di kehidupan terdahulu, untuk keputusan serta keegoisannya di masa lalu.
Mata tajam Murong menatap wanita itu lekat, dan dengan suara yang terbata bata berkata. '' Ruoer.. ruoer..aku tak akan melakukan apapun yang mengecewakanmu lagi, percayalah.''
Murong ingin menggapai tubuh sang wanita, ia ingin memeluknya, serta ...menghapus air mata wanita itu, akan tetapi jangankan untuk datang padanya, bahkan untuk bergerakpun tubuh itu sudah kesulitan.
Mendengar ucapan itu, Ziaruo menoleh kearah sumber suara, menatapnya lekat. Ada banyak penyesalan dan bahkan ada rasa bersalah didalam harinya, untuk Murong yang tengah terluka parah. Dan reflek bibirnya meloloskan sebuah nama dengan nada pilu. ''Rongxu....''
__ADS_1