Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 188


__ADS_3

Inikah tuan yang mereka perjuangkan, untuk memimpin di masa mendatang?.


Ataukah mereka tengah mempersiapkan jantung dan hati sendiri, sebagai hidangan bergilir di meja tuannya secara sukarela?.


''Apa kau baik-baik saja?.'' Tanya Jiang Jing wei, ketika melihat Jendral besar Feng, yang terpental beberapa jengkal.


Jendral besar yang telah memasuki usia senja tersebut, memuntahkan seteguk darah segar dari mulut.


Mendengar kekhawatiran dari sang kaisar, jendral besar Feng mendongak keatas, dan menatap wajah itu.


Bahkan luka di tubuh tuanya tak lagi terasa sakit mendengar kekhawatiran itu.


Dan secara reflek bibirnya mencetak sebuah senyum kecil, dengan binar mata yang cerah.


Namun, sejenak kemudian Jendral Feng tersadar dan ia tak ingin membuat Jing mencemaskan dirinya.


Dengan buru-buru pria tia tersebut menyeka bibir, serta berusaha bangkit, seraya menjawab. ''Hamba baik-baik saja, mohon jangan khawatir.''


Yinfeng terdiam sesaat, mata itu lekat menatap Jing dengan aura yang memancarkan hati berbunga miliknya.


Seolah Ia adalah Ayah yang tengah menikmati kebahagiaan atas perhatian sang putra tercinta.


Akan tetapi Feng sadar, bagi Jing saat ini dirinya adalah paman, sekaligus jendral yangbia percaua.


Feng menegaskan dalam hati, serta pikirannya untuk kenyataan yang tengah ia hadapi, serta kembali menemukan pikiran tenangnya setelah beberapa saat.


Jendral tua itu berbalik, memunggungi Jing dengan keengganan.


Ia berjalan kearah para prajurit yang berusaha membantu rekan-rekannya, yang terkena pukulan beberapa saat yang lalu.


Banyak diantara mereka, yang bahkan tak lagi dapat bangkit untuk berdiri.


Mata tua Feng menyapu diantara para korban luka, seolah ia tengah mencari sosok seseorang di antara banyaknya para prajurit yang terluka.


''Dimana jendral Song?.'' Pekiknya dengan suara kecemasan.


Entah apa alasan hatinya, hari ini begitu mencemaskan pria muda itu, dan berharap untuk segera menemukannya.


Antara Jiang jing wei dan Song yisu, Feng lebih nyaman, serta dapat dengan mudah menyalurkan kasih sayang ataupun perhatian.


Mengeluarkan perhatian terpendam, yang tak dapat dengan leluasa ia berikan untuk Jing putra biologisnya.


Feng melihat sosok putra pada diri Song yisu, yang tak pernah dimilikinya secara mutlak.


Terkadang ia juga melihat sosok muda dirinya dahulu, pada perangai, serta prilaku jendral Song muda tersebut.


Bahkan, ia juga pernah membayangkan Jiang Jing wei, dalam sosok Song yisu, ketika mereka bersama dalam pelatihan, serta bercengkrama.


Namun, ia tidak pernah menyadari sejak kapan, dirinya memperdulikan, serta mencintai Jendral muda tersebut layaknya putra sendiri.


Oleh karenanya, hati tuanya merasakan cemas ketika melihat pemuda tersebut, terpental jauh akibat pukulan kuat bersamanya tadi.


''Jangan meremehkan kekuatan pemuda ini jendral Tua, Aku baik-baik saja.'' Sahut sebuah suara dari balik kerumunan, tak jauh dari para prajurit yang tengah membantu korban lain.


Melihat kondisi dari jendral muda tersebut tampak jauh lebih baik darinya, Jendral Feng menghela nafas lega, dan menjawab. ''Bagus...bagus...''

__ADS_1


Ia menepuk sejenak pundak Song yesu beberapa kali sebelum akhirnya, ia berbalik kearah para prajurit dan berkata. ''Bentuk formasi, dan lindungi Kaisar!.''


Jendral Feng kembali pada integritas dirinya kembali. Ia kembali memfokuskan pikiran, untuk keselamatan sang tuan(Jing).


Jendral Feng kembali menempatkan diri, sebagai pelindung, atau tameng keselamatan, bagi kaisar tersebut.


Jendral Feng memang selalu mengutamakan keselamatan Jing diatas segalanya.


Bahkan, sebelum ia tahu bahwa sang tuan, adalah darah keturunan miliknya, bersama sang kekasih, yang tak pernah ia lupakan hingga sekarang.


Dengan jiwa patriotik atas negri tercinta, Feng telah rela jika harus kehilangan nyawa untuk negri Zing.


Terlebih, ketika segala kebenaran tentang jatu diri sang kaisar telah ia ketahui.


Di dunia ini, tak akan ada lagi yang dapat menggoyahkan keputusan yang ia ambil.


Demi kekaisaran, serta demi kasih sayang besarnya yang tak dapat di ungkapan, untuk sang putra.


Jendral Feng siap menerima apapun, termasuk kehilangan nyawa kapanpun.


Feng telah cukup puas, dengan hanya melihat Jing berbahagia, serta berjaya diatas singgahsana.


Dalam hidup ini, ia tak lagi menuntut apapun untuk sesuatu.


Berbahagia, berjaya dan berbangga hati, atas keberhasilan Jing, meski hanya dari balik kegelapan kenyataan di hidupnya.


Feng menyadari, mungkin hal ini tak akan pernah ia miliki, tanpa rasa sakit, serta kepedihan atas penghianatan Lexue.


Jika bukan karena wanita tersebut berpaling dari dirinya, dan menikah dengan Kaisar Jing rong.


Jendral Feng selalu menekan rasa sakit dan kepedihannya, dengan melihat senyum, serta kejayaan Jing.


Dirinya telah berbahagia dan bersyukur atas hal itu.


Bahkan, dengan keselamatan, kemulyaan, serta kejayaan Jing sajalah, ia mampu memaafkan tindakan Lexue yang buruk terhadap dirinya dimasa itu.


Meskipun, kesakitan akan penghianatan Lexue, cukup terasa berat.


Bahkan, jika harus jujur jendral tua Feng hingga sekarang masih dapat mengingatnya dengan jelas.


................................


Sementara jendral Feng, dan semua prajurit sibuk, dengan upaya untuk menghadapi mahkluk jelmaan serigala disana, sosok mengerikan itu masih melakukan penyerangan, secara terus-menerus.


Pukulan-pukulan ganas, serta mengerikan melukai, bahkan membunuh banyak pengikut Jing.


Para pasukan bayangan elit, yang menjadi pelindung di depan kaisar Jiang jing wei-pun, tidak mampu menjauhkan sang jelmaan.


Justru posisi mereka semakin terdesak, dan berakibat semakin buruk di pihak Jiang jing wei.


Selain tubuh yang banyak di penuhi dengan luka serius, mereka juga hampir putus asa, mengingat tak dapat memberikan pukulan balik terhadap mahkluk itu.


Bahkan, hingga banyak korban berjatuhan di pihak Jing, tak satupun luka mampu di torehkan di tubuh sang jelmaan.


Meski demikian, mengingat tugas serta sumpah mereka untuk Kaisar Jiang Jing wei, baik Wuhan ataupun para penjaga elit bayangan, dengan sekuat tenaga kembali bangkit, dan bersiap menyerang kembali.

__ADS_1


Yongyu yang ikut turun tangan, juga sempat terpental beberapa jengkal.


Tubuhnya terlempar sedikit jauh, dari tempat semula ketika melakukan penyerangan.


Pemuda yang di ketahui khalayak sebagai ipar Kaisar Jing tersebut, juga sempat memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Menyaksikan hal tersebut, Jing dipenuhi kecemasan.


Ia mengetahui dengan jelas, seberapa penting pria Yongyu, bagi sang Permaisuri.


Ia tak ingin melihat Ziaruo bersedih atas kondisi dari saudaranya itu.


Bahkan jika itu pertalian saudara diantara mereka, Jiang jing wei tetap tak bisa menerima, ketika sang permaisuri bersedih/meneteskan air mata, untuk pria lain.


Akan tetapi, dia adalah saudara dari Ziaruo, sedetik kemudian pria Yongyu kbali bangkit, meski dengan sedikit kesulitan.


Dan selama penyerangan, Jing menyadari, bahwa mahkluk itu tak dapat di lukai dengan senjata biasa, ataupun di serang dengan tenaga dalam para pengikutnya.


Dan satu hal jelas telah ia sadari, dari sekian gerakan penyerangan sang mahkluk, dirinya adalah tujuan dari segala tindakan Jelmaan itu.


Jing menghela nafas sejenak, dan merintahkan semua untuk mundur.


''Apakah ada dendam diatara kami?, ataukan dia adalah wujud lain kebencian dari Jingyun, yang telah meninggal?.''


Pikiran tak rasional Jing menyeruak, menyaksikan sosok mengerikan di hadapannya tersebut.


Ia merasa pesimis atas kejadian tak masuk akal yang kini tengah dihadapi.


Dari sisi kecemasan serta rasa bersalah dihatinya, Jing sempat berpikir, bahwa mahkluk itu adalah perwujudan karma buruk untuk dirinya, atas kekejamanya di masa lalu, terhadap sang adik.


Di sela kecemasan itu, ia kembali menguatkan hati, manakala mengingat Ziaruo serta buah cinta mereka, yang masih tumbuh di dalam rahimnya.


''Tidak......Jikapun semuanya adalah kesalahanku, aku tetap tak ingin mati sekarang.'' Gumam Jing dalam pikiran.


Dengan langkah di buat setenang mungkin, Jing maju kedepan.


Ia menyampaikan kepada semua orang, bahwa mahkluk itu memilih dirinya, sebagai tujuan penyerangan.


Dan tak menunggu reaksi, ataupun sahutan dari perkataannya, Jing memerintahkan semuanya untuk mundur dan sedikit menjauh.


Sebagai orang nomor satu di kekaisaran Zing, arogansinya berkata, Jing tak ingin ada bantahan, atas perintah yang di sampaikannya.


''Wuhan...kau juga menepilah, kondisimu sudah cukup parah.'' Sambung Jing, dengan tampilan wajah serius.


Wuhan yang kebetulan masih dapat berdiri, meski dengan luka parah di tubuhnya, menatap sejenak kearah Jing.


Di sana, didalam hati Wuhan, serta tatapan manik mata kaisar tuannya, seolah telah tercapai sebuah kesepakatan final atas keputusan.


Dan dengan banyak rasa yang bercampur aduk, pria tersebut memahami dengan benar. Bahwa Kaisar Jiang Jing wei, sedang dalam keseriusan yang tak terbantahkan.


Tanpa mengatakan apapun, Wuhan menggeser tubuhnya kesamping, memberi jalan untuk Jing maju ke depan, sembari menjawab singkat. ''Baik Yang mulia.''


Dan tanpa perintah dari siapapun, semua prajurit dan para penjaga bayangan yang masih mampu bangkit, ikut melakukan hal yang sama.


Melihat tindakan itu, Mahkluk setengah serigala menyeringai penuh kepuasan, dan berkata. ''Seharusnya sejak awal kau lakukan, lihatlah ini semua adalah salahmu.''

__ADS_1


__ADS_2