Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 210. Pemilik Yincang.


__ADS_3

Telinga yang terlatih sejak ia masih bocah itu, dengan jelas mendengar isak tangis dari bawah atap.


Hatinya bergemuruh, atas banyaknya rasa yang bercampur aduk.


''Masihkah ini belum cukup?.''


..............................


Meninggalkan kepedihan hati serta kegelisahan mereka disana.


Dan beralih ke dimensi Yincang.


Murongxu yang telah mengetahui perihal perjanjian antara Ziaruo dan Yaksa, kembali datang menemui wanita ular tersebut.


Tubuhnya yang terbentuk atas daging dan darah kaum mortal, nyatanya lebih leluasa untuk datang dan pergi dari Yincang.


Bahkan, dengan kemampuannya yang besar, ia tetaplah di kenali sebagai manusia pada umumnya.


Berbeda dengan Ziaruo, yang terlahir sebagai manusia, namun dengan tubuh buatan yang di berikan Murongxu, wanita itu telah melewati banyak rintangan untuk datang kesana.


Yaksa yang sedikit memiliki kebingungan dengan jati diri dari murongxu, berusaha menyingkirkan kegelisahan, dan tampil setenang mungkin.


''Anda datang lagi.'' Ucap Yaksa datar.


Jika boleh jujur, sesungguhnya ia malas berurusan dengan pria di hadapannya sekarang.


Akan tetapi, jika ia menolak untuk menemui pria ini, maka konsekuensinya akan fatal untuk Yincang.


Oleh karena hal tersebut, meski dengan ke engganan yang besar, Yaksa tetap menyembulkan kepala dan datang kepada Murong.


''Heemmmmzz.'' Jawab Murong singkat.


Ia masih sombong dan arogan.


Melihat sikap itu, Yaksa mendecih dalam hati.


Datang untuk meminta bantuan, namun masih meninggikan diri.


Seolah tengah meminta pembayaran, atas sesuatu yang di pinjam oleh wanita Yaksa.


Hatinya berkata, bahwa ia harus lebih keras kepada pria disana.


Namun, ia tak dapat melakukan keinginan itu. Ia menjadi kesal dan geram untuk diri sendiri.


Yaksa kembali meliukan tubuh menyelam kedalam telaga, dan beberapa saat kemudian, menyembulkan kepalanya kembali, sembari bertanya.


''Apa yang anda inginkan?.''


Murong tidak langsung menjawab pertanyaan dari Yaksa.


Ia merogoh lengan bajunya, dan mengulurkan sebuah benda kecil untuk wanita ular tersebut.


Yaksa yang di garis dengan nafsu keserakahan serta keingin tahuan, secepat kilat ia meraih benda di tangan Murong, dan kembali bertanya.


''Apa ini?.'' Kening wanita ular mengernyit.


Tampak jelas ada keingintahun yang besar, dari wanita itu.


Melihat gerakan dan gelagat wajah Yaksa, Murong menarik garis bibirnya tajam.


Tak ada jawaban untuk pertanyaan dari penguasa Yincang.


Murong hanya menanggapinya, dengan senyum sinis serta singkat.


Entah mengapa memperoleh perlakuan yang demikian, Yaksa merasa seolah bahaya tengah mengancam keselamatannya.


Dengan reflek ia meliuk, memundurkan tubuh, beberapa jengkal


''Jangan mencoba sesuatu yang bodoh disini.'' Ucap Yaksa, sedikit ragu.


Naluri ularnya, memberi alaram atas ketidak normalan pria disana.

__ADS_1


Dan dengan cepat, Yaksa memasang kewaspadaan tinggi terhadap Murongxu.


Namun, meski demikian ia justru lupa hal mendasar dari kehadiran sang pria.


Di dalam genggaman tangan Yaksa, benda asing milik Murong tengah ia pegang dengan erat.


Waspada dan takut terhadap dirinya, namun menerima serta menggenggam erat, benda yang ia berikan.


Murong kembali menegaskan sisi wajah rupawannya, sembari melangkah maju lebih mendekat kearah telaga.


''Apa yang akan anda lakukan?.'' Tanya Yaksa dengan raut cemas.


Di tengah kegelisahan dan kecemasannya, Yaksa memang sering kesulitan mengatur tubuh bagian bawahnya (ekor).


Dan alhasil, keheningan serta ketenangan air telaga berubah menjadi beriak-riak kecil.


''Ingat, Yincang adalah wilayah wanita ini.''


''Sekuat apapun anda di luar, di sini bukan dunia anda.'' Ucap Yaksa lagi.


Entah mengapa, Yaksa masih merasa terancam dengan tindakan Murong.


Mungkin, indra ke tujuhnya yang terlalu sensitif, atau memang pria di depannya bukanlah hal baik.


Sementara, Murong yang menyaksikan tindakan gegabah dari Yaksa, kembali tersenyum.


Namun, dengan kilatan tajam dari mata itu, senyuman tersebut menyalurkan kengerian yang dingin dan menusuk.


Layaknya seringaian tipis dari pemangsa, dengan hawa yang mengerikan.


''Kau telah lancang mencampuri urusanku, dan ini baru permulaan saja.''


Murong kesal terhadap Yaksa, karena telah mengubah tubuh Ziaruo.


Dan hal itu menyebabkan, Murongxu kehilangan pengendalian atas tubuh fana sang Permaisuri.


Bahkan, ia juga sempat kehilangan setengah dari kekuatan yang tersisa, setelah bertukar tubuh dengan kaisar Murongxu kekaisaran Xili.


Karena Murongxu selalu menggaris bawahi, antara memberi dan meminta.


Dan seperti sekarang ini, ia harus meminta pertanggung jawaban dari wanita ular Yaksa, atas kelancangannya mengubah tubuh Ziaruo.


Jika itu masih dirinya yang dahulu, mungkin Yincang dan penguasanya Yaksa telah lama menghilang.


Namun, mengingat Ziaruo masih memerlukan keberadaan dari Yaksa dan Yincang, Murongxu saat ini hanya ingin memperingatinya saja.


Dengan perlahan dan pasti, Ia meletakan telapak tangan kedalam telaga Yaksa, serta memberikan tekanan atas permukaan air di sana.


''Apa yang kau lakukan?.'' Yaksa meneriakan pertanyaan itu lagi.


Namun, dengan sifat Murong yang acuh, serta keputusan yang telah di buatnya, teriakan wanita itu tak berpengaruh sama sekali.


Belum juga mencapai 3 ketukan jari, tiba-tiba saja air telaga berubah menjadi riak-riak besar, dengan hawa panas yang kian menyengat kulit Yaksa.


''Apa yang kau lakukan?, kau br*ngs*k.'' Teriak Yaksa lagi, dngan umpatan untuk Murong.


Tubuh Yaksa menggeliat kesakitan, dengan kemarahan untuk pria tersebut.


''Aaahkk...aaahhkkk...panas.''


Teriak wanita ular Yaksa dengan keras.


Ia seolah tengah di rebus hidup-hidup, di dalam telaga miliknya sendiri.


Khususnya dengan tubuh bagian bawah Yaksa yang selalu berada di dalam telaga, wanita itu merasa seolah hendak di jadikan sup ular.


Yaksa menggeliat dan mendesis kepanasan.


Di hadapkan pada keadaan yang demikian, wanita setengah ular tanpa manik mata itu, menggebrak air kolam untuk menyerang Murong.


Namun dengan mudah itu di hindari oleh pria tersebut.

__ADS_1


''Aku tahu, wanita ini bukan lawan anda.''


''Namun anda lupa, bahwa di sini Yincang.'' Teriak Yaksa, dengan nada tinggi.


Setelah mengatakan itu, Yaksa meliukan ujung ekor kecilnya, menyentuh bola mata di tangan kanan.


Dan...


''Zeblaaar.....''


Sebuah keajaiban terjadi, tiba-tiba saja, waktu di sana terhenti.


Yincang menjadi kota patung dalam hitungan sekian detik.


Hanya Yaksa saja, yang masih dapat bergerak tanpa pengaruh apapun.


Menyadari musuhnya diam tak bergeming, dengan cepat ekor Yaksa memukul telak tubuh Murong.


Dan dalam sekian detik berikutnya, Murongxu terpental hingga beberapa jengkal dari tempatnya berdiri semula.


Murongxu tersungkur di tanah, dan memuntahkan seteguk darah segar, dari bibir.


''Ini hanya memberi sedikit pringatan, jika wanita ini ingin membunuh anda, itu bukanlah hal yang sulit.'' Ucap Yaksa tegas.


Sebanyak apapun Yaksa berucap, nyatanya pria di sana tak menanggapi dirinya serius.


Murongxu tak menghiraukan perkataan itu, ia hanya sibuk untuk bangkit dari tanah, dan menyeka mulutnya.


Sejenak, ia melirik kearah Yaksa, dan sejenak kemudian ia kembali menebah-nebah baju, menghilangkan debu tanah yang menempel ketika ia terlempar.


''Menurutmu, kau bisa membunuh pria ini?.'' Ucap Murong datar.


Tubuh gagahnya, kini telah berdiri kokoh kembali.


Seolah, tak pernah ada tubuh yang terhempas dan jatuh di atas tanah, beberapa saat yang lalu.


''Apa kau pikir Yincangmu ini akan mampu menahan murka para dewa, dengan wajah kematianku?.'' Ucap Murong lagi.


Mendengar perkataan pria di hadapannya, Yaksa kembali terdiam.


Ia mengingat betul bahwa apapun bisa dilakukan di sini, dan tak akan ada sangkut pautnya dengan dunia luar.


Dan tak terkecuali negri atas awan, tentang tindakannya di sana.


Akan tetapi, tak ada yang sempurna dari suatu kepemilikan di dunia, tidak juga dengan kekuasaannya


Dirinya memiliki hak istimewa atas Yincang beserta isinya, dan tak ada campur tangan siapapun, selama ia tidak mengambil, mengusik, dan ikut campur hal-hal di luar wilayahnya.


Tidak menyentuh dan tak akan tersentuh.


Tidak mencampuri, dan tak akan dicampur tangani.


Yaksa menatap lekat kearah Murongxu, hatinya bertanya-tanya tentang sosok jati diri, pria dihadapannya kini.


''Aku bisa melakukan apapun, selama itu berada di wilayahku, termasuk anda.''


''Bukankah anda yang datang, dan itu atas kemauan anda sendiri.'' Lanjut Yaksa.


Dengan kata lain, Murong-lah yang mencari masalah dengan datang kepadanya.


Dan selama itu masih di wilayah dimensi miliknya, segalanya akan sah-sah saja.


Mengingat hal itu, tubuh wanita Yaksa kembali tenang.


''Dan siapa diri Anda, hingga membuat mereka repot-repot datang untuk menagih wanita ini?.''


Mendengar perkataan tersebut, Murong kembali melengkungkan garis bibir, dan menjawab.


''Kau bahkan tak memiliki kepantasan untuk mengetahui identitas pria ini.''


''Bahkan, jika kau ingin membunuhku lihat diri sendiri dulu, apakah kau memiliki kemampuan itu?.'' Ucap Murong.

__ADS_1


''Yang perlu kau ingat, di sini kau hanya penguasa dari Yincang, dan akulah pemiliknya.'' Lanjut Murong lagi.


__ADS_2