
Murongyu yang mendengar kata-kata tajam, serta bernada peringatan tersebut menjadi mengerti.
Bahwa sang Ayah menemuinya saat ini, adalah untuk memperingatkannya sebagai seorang pria.
Dan bukan datang untuk menemui dirinya, sebagai seorang putra.
''Ayah tak perlu merasa cemas, Ananda telah melepas keinginan tersebut.'' Murongyu.
''Bahkan jikapun masih berharap, takutnya wajah ini akan membuatnya kembali memiliki rasa sakit, atas kesalahan Anda di masa lampau, lalu mengapa harus repot untuk melakukan itu?.'' Lanjutnya dalam hati.
Mendengar jawaban tersebut, entah mengapa ada sedikit rasa tak nyaman di hati Rongxu.
Akan tetapi, dengan segera perasaan itu di buangnya.
Suasana sedikit hening sejenak, dengan mentari yang kian meninggi di atas sana, halaman kedai tempat mereka berbincang semakin terasa panas.
Akan tetapi, seolah mereka tak merasakan perubahan suhu, keduanya dan juga para penjaga masih tetap tak bergeming untuk beranjak ketempat lain.
Bahkan mereka tak mengindahkan tawaran pelayan kedai, untuk berpindah kedalam beberapa saat lalu.
Karena sang Ayah hendak mengatakan sesuatu kepada dirinya, Murongyu memesankan beberapa cemilan, serta teh untuk menemani perbincangan diantara keduanya.
..............................
Sementara itu, Ziaruo yang telah sampai di depan toko pakaian, menghentikan langkah kaki sejenak, dan menoleh kearah bocah kecil di sampingnya.
''Ayo kita masuk dan memilih beberapa pakaian untukmu.''
Mendengar serta melihat ekspresi wanita itu, bocah yang di panggil sebagai Ge'er tersebut merasa canggung.
''Kakak...Aku baik-baik saja dengan pakaian ini.''
Bocah itu mencengkeram pakaian lusuh yang melekat di paha kanannya.
Dalam hati kecilnya, ia juga sangat menginginkan pakaian baru yang layak pakai.
Meski baju di tubuhnya tergolong masih dapat di kenakan, namun dengan beberapa jahitan dan tambalan beda warna di sana, ia sedikit risih untuk berjalan keluar.
Terlebih lagi, di tempat ramai seperti sekarang ini.
Akan tetapi, mengingat apa yang telah di lakukan serta di berikan oleh wanita itu, Cangge merasa ia tak pantas menerima lebih banyak lagi.
Bocah Cangge sedikit banyak, menyayangkan penolakannya sendiri beberapa saat yang lalu.
Wajah itu menunduk dan tak berani melihat kearah Ziaruo.
''Cangge...Baju ini memang masih bisa kau kenakan, tapi lihatlah di sini tak ada yang mengenakan pakaian seperti milikmu.''
Ziaruo berusaha menjelaskan kepadanya, dengan pemilihan kata yang usahakan untuk tidak melukai perasaan sang bocah.
Dalam pertimbangan pemikiran Ziaruo, ada banyak aspek yang ia berusaha jaga terhadap bocah disana.
Meski tujuannya baik, namun setelah perjalanan kehidupannya yang panjang, Ziaruo memahami banyak hal baik yang harus di lihat dari berbagai sisi.
Baik untuknya, baik tujuannya belum tentu baik untuk diri dan pikiran orang lain.
Ia berpikir mungkin saja pakaian tersebut memiliki kenangan atau kisah khusus untuk pria kecil Cangge.
__ADS_1
Namun, dengan kehidupan di kota yang serba kamuflase ia harus tetap mengharuskan bocah tersebut, untuk mengubah penampilan.
Jika itu tidak ia lakukan, dengan kehidupan di kota yang mengutamakan penampilan dari pada ketulusan.
Penampilan Cangge sekarang akan memberikan bocah tersebut masalah kedepannya.
Wanita itu berjongkok di depan Cangge, dan meloloskan tangan kecil yang mencengkram ujung pakaian miliknya.
Membawa tangan kecil itu pada telapak tangan putih miliknya, seraya berkata.
''Kakak memang tak pernah mempermasalahkan apapun tentang dirimu, karena hanya pikiran dan kebaikan hati Cangge yang terpenting.''
Ziaruo memegang dan mengusap perlahan tangan kecil tersebut sejenak, sebelum kembali melanjutkan perkataan.
''Namun, kita akan hidup diantara mereka. Coba Ge'er lihat apakah mereka terlihat berbeda?.''
Ziaruo menunjuk para pejalan kaki yang berlalu lalang di jalan tersebut. Ia tidak ingin bocah kecil di sana merasa di paksa, untuk berganti pakaian olehnya.
Namun ia juga tetep harus membuat Cangge melepas pakaian di tubuhnya tersebut.
Cangge menoleh kearah yang menjadi pusat fokus mata Ziaruo.
Dan benar saja, di antara banyaknya orang yang hilir mudik, tak satupun dari mereka yang mengenakan pakaian sama seperti miliknya.
Mereka berpakaian layak, meski bukan dari bahan yang indah dan mewah.
Namun, pakaian semua orang tak memiliki banyak jahitan, ataupun tambalan.
Memang ada beberapa yang terlihat mengenakan pakaian lusuh dan sedikit jahitan.
Bocah Cangge juga sempat melirik seorang pengemis di ujung jalan, yang tak jauh dari tempat ia berada. Seorang pria paruh baya, dengan mangkuk retak di letakan di depannya.
Meski pria tersebut tidak mengenakan pakaian bagus, namun di sana tak ada tambahan kain beda warna seperti pakaian yang ia kenakan.
Cangge kembali menunduk sejenak, dan sebuah suara pelan meluncur dari bibir bocah Cangge. ''Mengerti kak.''
Melihat wajah Cangge yang sedikit suram, Ziaruo kembali menegaskan bahwa disini ia tak menginginkan dirinya di aniaya.
Terlebih, jika itu akibat dari penampilannya yang dianggap kurang layak.
Cangge memahami setiap maksud dan penjelasan Ziaruo.
Akan tetapi, semakin ia memahami kebenaran disana, semakin menunduk kepala sang bocah.
Bahkan, ia tanpa sadar telah meloloskan beberapa bulir bening yang berusaha ia tahan sejak tadi.
''Eemmmh..'' Cangge mengangguk tegas, dengan tatapan wajah mengarah pada ujung sepatu jeraminya..
''Aku akan melakukan apapun, yang kakak katakan.'' Lanjut Cangge lirih terdengar di telinga Ziaruo.
Perkataannya sedikit terjeda, akibat berusaha menahan rasa yang meluap serta bergemuruh di dalam hati.
''Terimakasih....terimakasih untuk perhatian kakak.'' Sambungnya lagi.
Dalam pemahaman Cangge, sekarang bertambah sebuah pengertian, bahwa bukan hanya perasaan penderitaan saja yang dapat mengalirkan air mata, dan kenyataannya perhatian dan kebahagiaan juga mampu membuat hati sang bocah kecil itu ingin meraung dengan tangisan yang keras.
Ziaruo berpura-pura tidak melihat air mata yang sempat lolos di ujung mata Cangge. Ia berdiri dan mengusap lembut pucuk kepala kecil di depanya, sambil menarik lengan itu untuk memasuki toko pakaian.
__ADS_1
''Selamat da..tang.''
Sapaan itu terjeda, dengan tatapan sedikit mengernyit dari penjaga toko pakaian.
Pria dua puluh tahunan tersebut, menampilkan rasa keengganan ketika melihat Cangge.
Terlebih ketika melihat apa yang di kenakan oleh bocah itu.
Ziaruo menatap pria penjaga toko sejenak, dan kembali menarik lembut tangan Cangge, membawanya masuk.
Dalam Kalayak era tersebut, seorang wanita mengenakan cadar sudah barang biasa. Dan banyak dari mereka memang sengaja menyembunyikan wajah.
Namun, untuk taraf pakaian yang biasa di kenakan adalah sebuah pertanda status, serta poin layanan apa yang akan mereka terima.
Dan di sini pakaian Cangge, telah membuat sang penjaga toko meremehkan kehadiran keduanya disana.
Namun sebagai pelayan dalam bidang jasa penjualan, pria tersebut tetap berusaha sebaik mungkin untuk melayani.
Seburuk apapun penampilan orang yang datang, uang tetaplah uang.
''Apa yang bisa saya bantu?.'' Lanjutnya.
Mendapati masih di perlakukan selayaknya pembeli, Ziaruo berhenti dan menoleh kepadanya dan menjawab. ''Bisakah merepotkan Anda, untuk memilihkan beberapa baju untuk adik saya tuan.''
Mendengar kosa kata dan tutur bahasa lembut Ziaruo, sang penjaga terkesiap sejenak.
Ia tak mengira bahwa wanita di sana akan menggunakan tutur bahasa yang baik, layaknya wanita kalangan bermartabat.
Ia sedikit gugup dan tertegun sejenak. ''Oh...silahkan, itu ada di ujung sana nona.''
Mendengar itu, Ziaruo kembali membawa Cangge menuju tempat yang di tunjukan oleh sang pria.
''Cangge kau boleh memilih beberapa yang sesuai dengan keinginanmu.'' Ziaruo.
Cangge masih tampak ragu-ragu, ia menatap kearah deretan baju yang di tata rapi di atas rak-rak toko, dan berbalik melihat kearah penjaga yang mengikuti keduanya.
Melihat gelagat tersebut, sang penjaga toko maju lebih mendekat, sembari berucap. ''Tuan muda ini ingin memilih baju yang seperti apa?.''
Perubahan sikap sang penjaga toko, sungguh semudah membalik telapak tangan sendiri.
Ia bahkan menambahkan titel, sebagai tuan muda kepada bocah Cangge.
Dan itu bukan tanpa alasan.
Pria penjaga toko merubah sikapnya, karena ketika Ziaruo menarik tangan Cangge beberapa saat yang lalu, ia melihat perhiasan di lengan wanita tersebut.
Dan dari pengalaman yang ia miliki, benda itu bukanlah sesuatu yang dapat di miliki oleh orang kalangan bawah.
Bahkan setelah melihat perhiasan itu, ia lebih mengamati setiap detil ornamen yang tampak sederhana yang tergantung di pinggang Ziaruo.
Meski dalam hati ia masih menyangsikan identitas keduanya, khususnya Cangge. Namun, Kebenaran ornamen di lengan dan pakaian Ziaruo adalah nyata.
Ia tak lagi takut mereka tak dapat membayar pakaian yang akan di beli.
Dan meskipun itu terjadi, ia telah mengantisipasi cara lain pembayarannya nanti.
Dalam sekejap, wajah keengganannya telah berubah menjadi senyum tipis.
__ADS_1