
"Itu karena putra anda...,''
Jawab Ziaruo, sembari menoleh kearah orang yang mengajaknya bicara.
Akan tetapi, ucapannya terhenti saat ia sadar, melihat orang orang itu kini membulatkan matanya, dengan mulut yang agak terbuka, dan ia faham mengapa hal tersebut terjadi.
Hal Itu di karenakan, Ziaruo lupa memasang cadar pada wajah cantiknya.
Wanita tersebut segera berbalik, dan menutup wajahnya, dengan sebuah cadar yang ia ambil dari keranjang kecilnya.
''Ya dewa..'' Gumam beberapa pria, dengan mata membulat dan bibir terbuka.
"Apakah dia jilmaan hewan mistik hutan ini?.'' Gumam yang lainnya lagi.
"Yan yan ..siapa kakak ini?.'' Tanya pria dengan topeng, yang berdiri di samping ayahnya.
"Dia calon istriku paman.'' Jawab sang bocah, dengan percaya diri.
Mendengar ucapan putranya, pria yang memeperkenalkan diri sebagai ayah mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka bahwa putranya akan mengatakan hal yang begitu berani.
Padahal dia saja yang pernah menikah, masih gugup untuk berbicara, dan menyapa gadis cantik didepannya tersebut, dengan suara tenang ia berucap. "Nona, maafkan putraku, dia belum mengerti apapun."
Mendengar perkataan ayah bocah kecil itu, Ziaruo hanya tersenyum.
Akan tetapi, senyumannya mungkin tidak terlihat oleh mereka karena tertutup cadar.
Ziaruo, mendekat ke arah sang bocah, yang dipanggil Yanyan oleh ayahnya.
"Jadi namamu Yanyan?.'' Ucapnya, kepadanya, sembari mengelus lembut pipi cuby Yanyan.
"Ini, adalah hadiah yang aku janjikan tadi, jika kau kedinginan makanlah satu,
mungkin awalnya akan terasa pedas, namun akan terasa hangat ditubuhmu.'' Lanjut Ziaruo, sambil merapikan bajunya, yang kini menutup tubuh bocah kecil tersebut.
''Maaf tuan tuan, saya masih harus mencari beberapa tanaman herbal lagi, jadi saya permisi dulu.'' Ucapnya sopan, sembari membungkukkan tubuhnya sedikit, tanda pemghormatan untuk mereka, sebelum melangkah pergi dari tempat tersebut.
Namun, baru saja ia berbalik hendak pergi, sebuah ucapan menahannya. "Maaf nona, bisakah anda memperkenalkan diri dulu?, mengapa begitu tergesa gesa?.''
Ziaruo menganggap pertanyaan itu, tidaklah penting untuk di jawabnya.
Akan tetapi, ia tak ingin menimbulkan masalah yang tidak perlu sekarang, dengan penuh ketenangan Ziaruo memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Ziaruo, saya tinggal di pondok di sebelah sana, dan saya juga mengerti sedikit pengobatan, jika anda memerlukan tanaman obat herbal, silahkan datang kepondok saya tuan.''
Wanita itu mencoba menutupi jati diri, dengan tampilan orang biasa.
"Adhik....ada apa?, mengapa anda begitu lama, mencari tumbuhan herbalnya?.'' Suara pria dari arah depan Ziaruo datang mendekat, pria tersebut yang tak lain adalah Yongyu.
"Dan siapa anak kecil ini?.'' Tanya Yonyu lagi, sembari menatap kearah Yanyan, sebagai pengalihan atas tatapan semua orang yang disana kearahnya.
Mendengar ucapan Yongyu, Ziaruo mengerti maksudnya, dan menjawab. "Ia adalah anak yang kutemukan terhanyut di sungai kak, dan ini adalah ayahnya Yanyan, dan mereka ....
__ADS_1
Ziaruo mengatakan semua, dengan telapak tangan kanannya yang terbuka kearah mereka.
"Kami adalah tetangga dari Yanyan, yang berusaha mencarinya nona.'' Jawab pria bertopeng yang dipanggil King tersebut.
"Maaf tuan tuan, kami masih ada beberapa urusan yang harus dikerjakan, jadi kami mohon pamit dulu.'' Lanjut Yongyu sopan, sebelum melangkah pergi dari sana bersama Ziaruo.
Selang beberapa saat setelah kepergian Ziaruo dan Yongyu dari sana.
"Yanyan, katakan kenapa kau bilang bahwa dia, adalah calon istrimu.'' Tanya King kepada bocah kecil tersebut, dengan nada menggoda bocah itu.
"Karena dia memang harus menikah denganku paman, dia harus bertanggungjawab padaku.'' Jawab bocah kecil itu lagi, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Mendengar hal tersebut, semua orang merasa semakin tertarik.
Namun, bukan tertarik kepada bocah tersebut, akan tetapi tertarik dengan cerita yang disampaikannya tentang Ziaruo.
"Bertanggung jawab?.'' Memangnya, apa yang ia lakukan padamu, bocah nakal. Hardi sang ayah, sembari mengangkatnya dan meletakkan dipundak, ( gendong gaya leher jerapah) sebelum berjalan pergi dari tempat itu, dan di ikuti oleh yang lainya.
"Ayah ..bajuku ...belum diambil, tadi....(terpotong).'' Teriak bocah kecil itu, mengingat bajunya yang dijemur Ziaruo di atas batu besar.
''Sudah ...... itu dibawa paman Yun, cepat ceritakan lagi tentang kakak cantik itu.'' Jawab sang ayah tenang, dan penuh perhatian.
"Bagaimana ada gadis yang begitu cantik didalam hutan?, sejak kapan dia tinggal disana?, aku harus menyelidikinya.'' Gumam King dalam hatinya.
Akan tetapi, sepertinya bukan hanya King saja yang memikirkan hal tersebut, hampir semua yang disana memiliki pemikiran sama, tidak terkecuali ayah Yanyan.
* flash back off *
"Hormat hamba yang mulia, semoga anda selalu sejahtera.''
ucap kasim Di dengan penuh hormat.
"Ampuni hamba yang mulia, di depan ada pelayan dari istana lotus, ia hendak mengabarkan bahwa, nyonya Sujin ( permaisuri Sujin ) tengah sakit, dan ingin bertemu dengan yang mulia.'' ucap kasim Di menjelaskan.
Mendengar kabar itu, Kaisar Murongxu menghela nafas panjang, sebelum meletakkan gulungan laporan diatas mejanya.
"Aku tidak ingin menemuinya kasim, katakan padanya, jika memang ia ingin m*ti, tidak usah terlalu lama, untuk merepotkan orang lain, semakin cepat semakin baik.'' Ucap Murongxu dengan nada datarnya.
Kaisar Murong tahu, bahwa sujin yang sudah lengser dari kedudukannya sebagai permaisuri tersebut, tengah mencari perhatian serta rasa iba dari dirinya.
Akan tetapi, Sujin tidak mengetahui bahwa, kaisar Murongxu yang sekarang, bukanlah suaminya yang dulu.
Murongxu yang sekarang, justru tengah berusaha untuk mengosongkan istana selir( harem) miliknya, setiap ada kesalahan dari selir selirnya, meskipun itu hanya kesalahan kecil, tetap akan berakhir dengan pemulangan mereka, kembali kekeluarganya.
Padahal dulu, mereka hanya akan dihukum pengurungan di kediamanyay ( pavilliun untuk intropeksi diri), atau
hukumam pukulan
__ADS_1
*( untuk kesalahan berat, dalam artian bukan untuk kesalahan pembunuhan ataupun penghianatan terhadap kekaisaran)*
Jadi, untuk menarik perhatian dan simpati dari pria tersebut akan sulit, terlebih lagi, bagi seseorang yang telah melakukan kesalahan besar, seperti nyonya Sujin.
Sebenarnya permaisuri tersebut, sudah di jatuhi hukuman mati oleh kaisar, akan tetapi karena dia adalah ibu dari putra mahkota Muronghui, hukumannya diganti menjadi, hukuman pengurungan seumur hidupnya, tanpa status dan tanpa gelar apapun.
Selang beberapa saat...
Semoga yang mulia panjang umur.'' ucap sebuah bayangan yang tiba tiba muncul didalam ruang kerja kaisar tersebut.
"Apa yang kau ketahui?'' Tanya kaisar Murongxu, sembari meletakan kembali gulungan laporan diatas mejanya.
"Ampuni hamba yang mulia, seperti apa yang anda duga, beberapa hari ini, nona Ziaruo kembali kepondok dihutan barat, dan ...(menghentikan ucapanya ).''
"Kaisar Jing, juga datang berkunjung ketempat tersebut, bersama Wuhan, yang mulia.''
lanjutnya lagi, dengan ragu ragu .
"Kaisar Jiang jingwei berkunjung kepondok Ziaruo.'' Sahut kaisar Murongxu, penasaran dengan nada suara sedikit tinggi.
"Benar yang mulia, sepertinya nona Ziaruo juga pernah menolong kaisar Jiang, seperti yang ia lakukan kepada pangeran ke-2 murongyu yang mulia.'' Tambahnya lagi, dengan penuh hormat.
Mendengar hal itu, ada rasa tidak suka dan kesal dalam hatinya, bahkan dapat dikatakan sebagai sebuah kemarahan, atau mungkin bahkan bisa dikategorikan sebagai sebuah kecemburuan.
Akan tetapi, masih pantaskah dirinya memiliki perasaan kemarahan serta cemburu untuk gadis tersebut, sedangkan kini ia sendiri memiliki banyak istri, selain dirinya.
"Baiklah kau boleh kembali, dan laporkan kepadaku secepatnya, jika terjadi sesuatu yang mencurigakan.'' Perintah kaisar Murongxu dengan tegas.
Sejujurnya jika bisa, sekarang juga ia ingin berlari untuk memeluk sang istri yang sangat ia cintai ( versinya ),
Akan tetapi, ia masih belum menemukan alasan yang tepat untuk berkunjung atau datang kepadanya.
ia masih menebak nebak, apakah Ziaruo mengingatnya sebagai suaminya, yang sekarang tengah berkh**nat atas cinta dan janji mereka berdua.
Ataukah, ia melupakan dirinya karena lintasan waktu kehidupan reinkarnasi, sebagaimana dirinya dulu yang melupakan gadis tersebut, dan akhirnya menikah dengan banyak istri seperti sekarang.
Akan tetapi, dari pemikiran tersebut, keduanya memang memiliki sisi baik dan sisi buruknya.
Namun, yang paling dia takutkan dan ia tahu dengan jelas satu poin pentingnya adalah, baik dia ingat, ataupun tidak ingat tentang hubungan mereka, tetap saja disini, dirinyalah orang yang bersalah.
Bersalah sebagai seseorang yang mengkh*n*ti cinta dan janji mereka, untuk tetap saling setia serta menjaga tubuh dan hati masing masing.
Menyadari kenyataan itu, hati dan pikirannya kembali diliputi kekalutan, banyak penyesalan atas sikap serta tindakannya.
Namun, mau tidak mau, ia harus secepatnya menemui sang wanita tercinta, yang dia ingat sebagai istrinya tersebut.
Karena bagaimanapun juga kaisar Murongxu tetap tidak rela, jika Ziaruo bersama orang lain.
"Aku memang telah bersalah, akan tetapi, aku tidak melakukannya dengan kesengajaan, dan karena aku sudah mengetahuinya, maka sebisa mungkin akan aku cegah, kau melakukan kesalahan yang sama seperti diriku, karena kau adalah istriku, dan akan selalu menjadi milikku.'' Ucapnya dalam hati. *"Murongxu "*
__ADS_1