
Namun, belum sempat masalah tersebut terselesaikan.
Dari luar, Zelan berlari dengan membopong tubuh Yanyan dengan kondisi yang serius.
Ada sebuah luka pada tubuh bocah kecil itu.
Dan melihat hal tersebut, Gutingye bergerak cepat mengambil tubuh putranya.
Tudak terkecuali, Ziaruo pun juga mendekat dengan cepat sambil meneriakan nama bocah kecil, yang baru beberapa saat lalu, resmi menjadi putranya.
"Yanyan!.'' Pekik Ziaruo, penuh keterkejutan.
Namun, sebelum tangannya sampai ketubuh kecil Yanyan, ia kembali dikejutkan dengan jatuhnya tubuh Zelan, di atas lantai ruangan.
"zelan ..'' Ucap ketiga pria yang disana, hampir bersamaan.
Tubuh Zelan terjatuh, dengan posisi tertelungkup sedikit miring, tampak luka lebar pada punggung pria itu.
"Tuan, ...nona Xioyu dan ..dan...di..''
Zelan berusaha mengatakan sesuatu.
Namun, nafas yang telah sampai di pangkal tenggorokannya, tak mengizinkan ia menyelesaikan ucapan.
Bahkan, dengan kekuatan terakhirnya, ia berusaha mengangkat tangannya, hendak menunjukkan sesuatu.
Dan takdir tak membantu usaha kerasnya, tubuhnya lemas, tangan yang setengah terangkat tersebut, kembali terjatuh diatas lantai bilik utama kediaman Sang tuan.
Zelan tidak lagi mampu berkata-kata.
Pria tersebut meninggal karena kehabisan d*rah, ketika berusaha membawa Yanyan kembali kekediaman Gutingye.
Dan benar saja, di sepanjang jalan menuju bilik utama, tampak darah Zelan mewarnai lantai-lantai disana.
Mereka merasakan keseedihan yang mendalam.
Namun, mengingat kondisi Yanyan yang kritis, Gutingye bersama Lusifeng bergegas keluar.
Satu dari mereka, bertugas mencari tabib ( Lusifeng) dan salah satunya lagi ( Gutingye ) menyiapkan pasukan, untuk mempertahankan diri atau jika mungkin dengan peralatan seadanya, melakukan perlawanan.
Akan tetapi, ketika mereka berdua sampai di depan kediaman, tampak dihadapan keduanya tubuh terg*l*tak di tanah.
Tubuh dari penduduk ( pengikut Gutingye ), dan ada juga tubuh dengan seragam prajurit istana kekaisaran Xili .
Namun, terlihat Jelas pengikut Gutingyelah yang jauh lebih banyak terbaring disana.
Sementara itu, di tempat yang tak seberapa jauh dari sana, sekump*lan wanita, dan anak anak kecil tengah dis*ndera, dan dijaga oleh beberapa prajurit kerajaan.
Dengan rasa ketakutan, wanita wanita tersebut, bersimpuh ditanah, tak sedikit dari mereka yang bahkan juga menangis, atas kematian orang-orang yang mereka sayangi ( suami, ayah ataupun saudara mereka ).
Tangisan anak kecil yang ketakutan, dan memanggil orang tua merekapun, juga terdengar sangat menyedihkan.
''Mengapa semua begitu cepat, bukankah ia baru saja menerima laporan dari Lusifeng tentang penyerangan ini?.
Akan tetapi, mengapa sekarang seluruh penduduk perkampungan merah( khususnya para pemuda, dan pria dewasa ) sudah terbunuh?.''
Pikiran Gutingye berkecamuk, kalut dan juga terkejut.
Namun, belum sempat ia melakukan sesuatu, tiba-tiba saja tubuhnya mematung dengan mata yang membulat.
Gutingye merasakan sakit dari pinggang belakangnya. Rasa sakit akibat tus*kan sebuah benda tajam yang dengan cepat, menjalar keseluruh tubuhnya.
Dengan sepontan, Gutingye berbalik dan melakukan gerakan tangan cepat serta keras.
Dan ...
__ADS_1
"Bruugh.'' Sebuah tubuh terjungkal dengan keras, membentur pintu pagar kediamannya.
"Kau ...kau...beraninya kau, ternyata benar..., ini ulahmu, kau menghianati kami semua.'' Ucap gutingye, ketika melihat sosok yang sangat ia kenal kini tersungkur di tanah.
Gutingye berusaha berdiri tegak, dengan menahan rasa sakit dipunggungnya.
Sebuah pedang kecil bers*rang telak, dari pinggang belakang, hingga men*mbus keperut depan.
Gutingye tahu, jika ia mencabutnya sekarang, maka dirinya tidak akan lagi bisa melihat istri, dan sang putra.
"Haha..haha...haha..'' Tawa Lucifeng, terdengar dengan keras.
Pria itu bangkit dari tanah, dan kembali berkata. ''Salahkan saja, nasib si*lmu yang membawa kalian kedalam bencana ini.''
Lucifeng mengatakan semuanya tanpa merasa enggan sama sekali.
Bahkan, disela pria tersebut mengusap cairan merah diujung bibirnya, ia tetap sempat menyunggingkan senyum sinis.
Layaknya pada wajah itu, tak pernah ada suatu penghormatan, dan keakraban atas sosok di depannya sekarang.
"Asal kau tahu, pedang itu sudah dilumuri racun pelemah otot.'' Lucifeng.
Dengan sikap arogan, serta kepuasan, terpancar pada sorot matanya, pria itu mendekat kearah Gutingye.
''Asal kau tahu, Yang mulia putra mahkota sendirilah(Putra mahkota kekaisaran Tang) yang mengoleskan racun itu, secara khusus untukmu. Beliau juga menyampaikan ucapan selamat atas pernikahanmu.''
Lanjut Lucifeng lagi, dengan suara lirih, serta masih diselangi seringaian tipis, pada bibirnya.
Dan benar saja, setelah beberapa detik Lusifeng mengatakan hal itu.
Tubuh Gutingye lemas, dan jatuh tersungkur ketanah.
Pria tersebut, merasakan sakit juga lemas secara bersamaan. Namun ia mengunci bibirnya rapat.
"Bagaimana, apakah ini yang disebut sebagai tuan besar Gutingye?.'' Tanya seorang pemuda tampan, dengan baju zirah perang sembari mendekat kearah tubuh Gutingye.
''Benar tuan, dia adalah tuan kami Gutingye.'' Jawab Lusifeng dengan segera, ketika pria tersebut yang tak lain, adalah pangeran ke-2 Murongyu, datang mendekat kearah keduanya.
"Baiklah, sekarang cabut benda itu dan balikan tubuhnya.
Aku ingin melihat dengan jelas dari dekat, wajah pria yang berani memanfaatkan ketidak berdayaan ( kehilangan ingatan ) Ziaruo." Ucap pangeran Murongyu, dengan nada datarnya.
Sementara, tak jauh dari tempatnya berada. Putra mahkota Muronghui hanya melihatnya dari kejauhan, dengan tatapan fokus kearah mereka.
Mata itu, lekat kearah pangeran murongyu, Gutingye, serta Lucifeng, ia tidak mendekat namun tetap menyimak pembicaraan disana.
Mendengar perintah tersebut, Lucifeng berjalan mendekati tubuh Gutingye.
Dan tanpa basa-basi lagi, ia mengambil sebuah benda tajam yang bersarang, ditubuh pria tersebut.
"Sreetttt...( imajinasikan sendiri ya )
Seketika saja dari tempat benda itu dicab*t, d*r*h mengalir lebih deras dari sebelumnya, tub*h gutingye bergerak-gerak tak beraturan.
Tangan kirinya mencengkeram tanah, dan tangan kanannya menutup luka ditubuh depan(per*t), yang juga mengalirkan d*rah seperti pinggang belakangnya.
Seolah tubuh itu, mengexpresikan kesakitan, yang tak diucapkan bibir Gutingye.
Melihat kondisi Gutingye yang demikian, namun tidak merintih kesalitan. Lucifeng menjadi kesal, tanpa rasa belas kasian, ia kembali melukai Gutingye.
"Slash..'' Pro tersebut kembali melakukan gerakan cepat, kearah tubuh Gutingye.
''Berteriaklah, jangan berpura pura kuat!.'' Pekik keras, Luxifeng, sembari melukai tubuh pria itu lagu.
"Jangan harap uhuuk...., anj*ng yang tak dapat mengenali tuanya seperti dirimu, uhuuuk...uhuuukk....tidak pantas mengetahui rasa sakit, dari luka gigitannya, dasar anj*ng pengecut!.'' Ucap sarkas Gutingye, dengan suara terbata-bata, serta beberapa kali mem*nt*hkan, cairan merah segar dari mulutnya.
__ADS_1
"Ziaruo, ..jaga Yanyan untukku, maafkan aku yang tak bisa melindungimu.'' Ucap Gutingye pelan, dengan mata menatap kearah langit tepat di depannya.
Ia kini tak dapat melakukan perlawanan sama sekali, tubuh gagahnya terbaring ditanah dengan, kondisi yang memprihatinkan.
"Kalau begitu kau m*ti saja.'' Ucap Lucifeng sembari mengayunkan senjatanya lagi, dan hendak menyerang Gutingye.
"Ruoer...'' Ucap pelan Gutingye, sembari memejamkan mata ketika melihat Lucifeng, mengayunkan pedang kearahnya.
"Slash......jleb"
Suara anak panah meluncur dan mengenai sasaran.
Lucifeng membulatkan mata, ia berbalik dan berkata dengan terbata. "Aahhkkk...yang mu..lia ... me..menga..pa anda me..mela..kukan.. hal ini ke..kepada..ham..hamba?.''
''Brughh...''
Tubuh Lucifeng terjatuh, tepat di samping tubuh Gutingye.
Dari punggung hingga dada depan sebuah anak panah, menembusi tepat di ulu hati pria tersebut.
"Maafkan aku adhik ke-2, ternyata aku sangat muak melihat anj*ng yang menggigit tangan majikannya sendiri.'' Ucap datar pangeran Muronghui.
Seorang pemuda gagah, yang masih duduk di atas kudanya, mendekat kearah pangeran Murongyu.
''Meskipun ia datang kepadaku dengan membawa sepotong daging. Tapi tetap saja, melihat anj*ng itu, perasaanku berubah menjadi sangat kesal.'' Lanjutnya datar.
Pria yang tak lain adalah pangeran Muronghui itu, menampilka ekspresi datar ketika melihat tubuh Lucifeng.
Dari tangan pangeran mahkota kekaisaran Xili, terdapat sebuah busur dengan ukiran indah, baru saja berperan sebagai pengeksekusi Lucifeng.
Mendengar ucapan, serta melihat kedatangan pangeran Muronghui, pangeran Murongyu hanya menoleh sejenak serta tak bereaksi.
Ia kembali melihat kearah dua tubuh di depannya, yang kini hanya terletak disana, tanpa ada suatu tindakan.
Hingga...
"Tingye ...Tingye ...''
Sayup-sayup terdengar teriakan seorang wanita ditelinga Gutingye, dan beberapa orang disana.
Perlahan mata Gutingye yang tertutup, terbuka kembali.
Sebenarnya ketika Lucifeng terjatuh tadi, Gutingye juga mendengar.
Bahkan, ia bisa menduga serta membayangkan, apa yang terjadi disana.
Namun rasa sakit di sekujur tubuh Gutingye, sudah tak tertahankan lagi.
Dan ia telah pasrah, jika harus mati disaat itu juga, serta mengabaikan semuanya.
Namun, ketika suara itu memanggil, Ia seolah memiliki kekuatan tersembunyi, dan kembali membuka mata.
Tampak dari arah samping, tempat tubuhnya tergeletak, seorang wanita dengan gaun pengantin lengkap, serta mamik-manik lengkap sebagai cadar menutup wajah, datang mendekat sambil, membopong tubuh kecil putranya.
Hatinya sakit, melebihi sakit disekujur tubuhnya. Manakala melihat wanita itu, tampak pucat dan putus asa, dengan wajah sama yang biasa tersenyum lembut.
Bahkan, kini wajah itu tengah dipenuhi dengan bulir air mata.
"Jan..ngan menangis la..gi, hari in..ni ada..adalah.. hari ba..hagia kit..ta." Ucap Gutingye, sembari menangkup pipi sang istri, dengan kedua tangan yang penuh dengan d*rahnya.
''Lihatlah dewa, bahkan jika kau membenciku, aku masih memiliki dia sebagai istriku, yang bersedih, dan merasa kehilangan atas orang hina ini''
*U*cap gutingye dalam hati.
"Ruo..er, bisa..kah kau men..menc*umku, dan ter..terse..nyum padaku.. seka..li lagi?.'' Pinta Gutingye dengan suara terbata, karena batuk serta d*r*h segar yang ia munt*hkan.
__ADS_1