Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 189


__ADS_3

Wuhan yang kebetulan masih dapat berdiri, meski dengan luka parah di tubuhnya, menatap sejenak kearah manik mata milik Jing.


Di dalam hati Wuhan, serta tatapan manik mata Kaisar tuannya, seolah telah tercapai sebuah kesepakatan final.


Banyak perasaan bercampur aduk. Pria tersebut memahami dengan benar, bahwa Kaisar Jiang Jing wei, sedang dalam keseriusan yang tak terbantahkan.


Tanpa mengatakan apapun, Wuhan menggeser tubuhnya kesamping, memberi jalan untuk Jing maju ke depan, sembari menjawab singkat. ''Baik Yang mulia.''


Dan tanpa perintah dari siapapun, semua prajurit serta para penjaga bayangan yang masih mampu bangkit, ikut melakukan hal yang sama.


Melihat tindakan itu, Mahkluk setengah serigala menyeringai penuh kepuasan.


''Seharusnya sejak awal kau lakukan, lihatlah ini semua adalah salahmu.''


Sosok tersebut, menunjuk kearah para korbannya hanya dengan ujung mata saja.


Ia tidak merasa risih, ataupun terganggu dengan beberapa tubuh korban, yang tak lagi utuh.


Seakan, disana ia tidak bersalah, dan terpaksa melakukan pembantaian, untuk menarik kaisar Jing agar langsung berhadapan dengan dirinya.


''Baiklah, bukankah pria ini yang kau inginkan.''


Jing maju kearah sang Jelmaan.


Dalam hati ia tidak benar-benar yakin, mampu mengalahkan mahkluk di depannya itu.


Namun, jika ia tidak segera mengambil keputusan ini.


Maka seluruh pasukan, penjaga elit, dan pada akhirnya ia juga akan mati secara sia-sia.


Jing berpikir, jikapun ia harus terluka parah, atau menjadi tak berguna. Setidaknya ia telah mengorbankan diri untuk sesuatu yang berarti untuk hidup ini.


Dalam hati Jing tidak pernah meragukan kemampuan tempur, serta ilmu bela diri dari mereka.


Namun, ketika dihadapkan pada sosok kejadian seperti sekarang, ia menjadi ragu.


Jiang Jing wei telah memutuskan sesuatu yang sebenarnya ia ragukan.


Namun, mengingat tak ada cara lain, untuk mengalahkan musuh di depannya saat ini, ia hanya dapat bertaruh dengan kemujurannya.


Perlahan Jing menyelipkan kembali pedang ditangannya. memejamkan mata, serta merapalkan sebuah kalimat dengan suara pelan.


''Dragon sword''


Tak banyak orang disana, mendengar apa yang di ucapkan oleh Jiang .


Namun, mereka yang berada tak jauh darinya, membulatkan mata, serta reflek mengulang ucapan Jin.


''Dra..dragon sword''

__ADS_1


Mendengar hal itu, Wuhan, jendral Feng, dan Yongyu berteriak secara bersamaan.


''Tidak...jangan lakukan!.''


Bahkan Wuhan secara reflek berlari kepada Jing, sembari meneriakan kalimat yang sama.


''Tidak yang mulia...jangan lakukan itu.''


Ia ingin mencegah sang tuan, untuk memanggil pedang yang telah dianggap tabu, atau di larang oleh mendiang raja terdahulu.


Akan tetapi, tekad Jing telah bulat.


Sejak awal ia telah memperhatikan bahwa mahkluk itu bukanlah jelmaan pada tingkatan biasa.


Dalam tatanan kultivasi untuk clan serigala, pria jelmaan disana telah hampir sempurna, dalam perwujudan manusia untuk bentuk tubuh sendiri.


Hal ini tidaklah sama dengan wajah sebelumnya, yang menyerupai Jingyun.


Untuk perubahan wujud aslinya, adalah sebuah tingkatan kekuatan, kultivasi, serta tapa puluhan bahkan mungkin ratusan tahun, yang telah ia lakukan.


Atau bisa juga dapat di katakan, tak membutuhkan waktu yang lama lagi, bagi mahkluk itu untuk mampu masuk ke negri Awan.


Wuhan, tersentak dan terpental beberapa jengkal dari tubuh Jiang jing wei.


Namun, ia segera melesat kembali untuk mendatangi sang Kaisar.


Wuhan telah memutuskan, meski ia harus mati di tangan mahkluk jelmaan disana, ataupun demi menyelamatkan kaisar sekarang, senjata itu tak harus di panggil.


Semakin lama cahaya tersebut semakin membesar, dan membentuk sebuah senjata panjang.


''Dragon sword.'' Pekik seorang pria, yang baru saja sampai disana.


Mendengar suara tersebut, semua orangmenoleh kearah sumber suara.


Sebuah ucapan jelas, serta dengan nada cukup untuk dapat di dengar oleh semua orang, dan secara cepat menyadarkan mereka, tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan hendak di lakukan oleh kaisar.


''Dragon sword.'' Seru mereka hampir bersamaan.


Sebuah pedang yang melegenda, serta menjadi bahan pembicaraan, serta perebutan bagi semua orang beberapa puluh tahun yang lalu.


*Flash back on.*


Pada masa itu di kisahkan, bahwa saat Jiang jing wei di lahirkan, sebuah fonomena muncul menjadi pemandangan, serta kisah, yang menggemparkan.


Di samping ranjang bayi kaisar Jiang jing wei, tiba-tiba saja hadir kabut keemasan, yang melingkupi tubuh mungil Jing.


Di saat yang bersamaan, sebuah pedang panjang dengan ukiran naga, mengambang diatas ranjang bayi dengan posisi horizontal.


Senjata tersebut, memiliki aura yang kuat, dan memancarakan cahaya serupa dengan kabut di tubuh bayi Jing.

__ADS_1


Aura serta kemisterusan pedang tersebut, memancing banyak orang untuk milikinya.


Akan tetapi, dari setiap orang yang mencoba mengambil, ataupun menyentuh senjata yang di juluki sebagai dragon itu, tak satupun dri mereka yang selamat.


Bahkan, jika sejak awal mereka memiliki niatan buruk, dan datang kepavilliun bayi Jing, mereka akan segera terpental kembali, menjauh dari sana.


Tentu saja hal serupa terjadi pada bayi kecil Jing.


Tak ada yang mampu mendekati, mengambil, menyentuh, Jing kecil jika mereka memiliki niatan buruk.


Hanya mereka para dayang terpercaya, serta anggota keluarga terdekat saja, yang dapat menjaga dan merawat bayi itu.


Bahkan, meski istana bertepatan dengan kemelut, pemberontakan atas saudara imperial kaisar Jing rong, tepat di usia Jing yang ke 3 tahun, bocah kecil Jing, tetap tak tersentuh.


Ia juga menjadi pelindung, bagi orang-orang yang berdekatan dengannya.


Kabut, serta senjata itu juga telah menyelamatkan Kaisar Jing rong, yang hampir terkena sabetan pedang dari pangeran ke-7, saudara kaisar Jing rong, yang tengah melakukan pergolakan atas tahta.


Hal inilah yang membuat mendiang kaisar Jingrong, menobatkan Jiang jing wei sejak bayi, sebagai putra mahkota penerusnya.


Meski di masa itu, belum di resmikan dalam upacara yang sah.


Bukan hanya itu saja, ketika menginjak usia 6 tahun kaisar Jing yang masih bergelar pangeran, mengalami bahaya dalam acara perburuan kerajaan.


Dimana kereta yang ia tumpangi, di kepung oleh orang bercadar dengan kemampuan tinggi.


Tujuan mereka tak lain dan tak bukan, adalah untuk menangkap Jian jing wei, dan juga mendapatkan Dragon sword.


Karena menurut rumor yang beredar, siapapun yang mendapatkan keduanya, ataupun salah satu diantaranya, dapat menggengam dunia di telapak tangan dengan mudah.


Oleh karena hal itulah, kejadian hari iti terjadi, dan bukan kali pertama di alami oleh Jiang jing wei kecil.


Kaisar Jing rong yang tiba di sana sedikit lebih lama, mendapati bahwa semua orang yang mengepung kereta sang putra telah terbunuh.


Namun, ia juga melihat bahwa tak ada satupun penjaga bayangan Jing yang selamat.


Entah itu perbuatan para pembunuh, atau perbuatan dari putranya sendiri. Yang jelas Jing rong tak ambil pusing.


Ia hanya terfokus pada kondisi Jiang jing wei kecil.


Karena di saat itu juga, putra yang ia banggakan tersebut terlihat cukup menakutkan.


Jing kecil dengan kedua tangannya memegang erat senjata, yang telah di simpan rapat oleh kaisar Jing rong di istana.


Bahkan, senjata tersebut diletakkan di ruang rahasia dengan, segel, keamanan bangunan, serta penjaga kuat.


Akan tetapi, tetap saja senjata berupa pedang, dengan ukiran menyerupai naga tersebut, nyatanya telah datang kepada Jing, ketika bocah tersebut dalam bahaya.


Namun, bukan hal itu yang membuat Jingrong cemas sekaligus bergidik.

__ADS_1


Disana tepat di depannya, sang putra tengah memegang erat senjata, dengan mata yang menampilkan sorot mengerikan.


Dan kaisar Jing rong tahu, itu bukanlah aura sang putra.


__ADS_2