Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 137 Kecemasan


__ADS_3

Masih di kediaman Yun, kota Diwei kekaisaran Tang.


Melihat Ziaruo tampak bahagia, serta berusaha bangun dari tidurnya, Jing segera membantu, sembari berkata. ''Aku tidak mengatakan sebuah kesedihan, aku hanya ingin kau tahu, bahwa semuanya bisa kau lalukan. Dan biarkan aku saja yang mencintai, serta menjagamu Yun.''


''Mengapa anda bicara demikian?, apakah wanita ini tidak memiliki hati?.'' Sahut Ziaruo.


Permaisuri Zing, membalikan tubuhnya perlahan, menatap sang suami yang kini tengah menatapnya juga.


''Saya bahagia, bahkan sangat bahagia.


Sejak lama, saya menginginkan kehamilan ini, hingga tak dapat mengatakan apapun, ketika mendapatkannya Yang Mulia.''


Dan ucapan tersebut adalah sebuah kejujuran.


Bagi Ziaruo, ini adalah impiannya sejak lama.


Meskipun, ia mengandung buah cinta dari Jing, dan bukan dari Murongxu suaminya terdahulu. Ziaruo tetaplah bahagia.


Karena, bayi itu tetaplah putra diantara keduanya, mereka adalah pasangan suami istri sah di dunia ini.


Meskipun, dengan perbedaan status Ziaruo yang pada kenyataannya, adalah seorang dengan sejarah tak biasa pada umumnya.


Namun, dengan tubuh manusia yang di ciptakan oleh Murongxu, serta putaran hidup sekarang ini, ia adalah manusia biasa.


Justru di sini, dihadapan pandangan orang awam. Ziaruo hanyalah manusia dengan kedudukan biasa, dan hanya memiliki kecantikan, kekayaan, serta kebaikan hati.


Baginya, bayi yang ada di dalam kadungan saat ini adalah cintanya, impiannya, dan segalanya bagi wanita itu.


Terlepas dari siapa ia memperoleh kasih, atas jiwa didalam rahim itu sekarang.


''Dia anakku..dan akhirnya aku memiliknya.'' Ucap Ziaruo dalam hati.


Tampak jelas rona kebahagian dari wajah cantiknya, bahkan sangat-sangat jelas.


Jing yang mengetahui akan hal itu, menjadi jauh lebih bahagia dan bersemangat.


Hingga untuk beberapa saat, ia melupakan hal buruk yang tengah dialami, oleh sang istri, atas tubuhnya.


''Yun..mulai hari ini, kau tidak boleh melakukan apapun. Apakah kita harus kembali kekaisaran Zing sekarang?.'' Tanya sang kaisar antusias.


Seolah apapun, serta dengan tujuan apa ia kesini, tak lagi ia pedulikan.


''Aku ingin mengadakan perjamuan besar untuk kehamilanmu, bagaimana?.'' Tanya pria itu kembali.


''Atau kau..''


Ziaruo menghentikan ucapan sang suami, dengan sebuah kecupan lembut dib**ir.


''Anda mengemaskan jika seperti itu Yang Mulia. Bisakah anda menghentikannya?.'' Ucap Ziaruo, setelah melepas kecupan singkat, dari sang pria.


Mendapati perlakuan yang demikian, Jing terdiam sejenak, dan bergumam pelan. ''Yuun...''


Ada semburat merah dipipi itu, ketika ia menyebut nama Permaisuri.


''Jangan lakukan apapun, cukup temani saya ketika anda luang. Dan tidak ada jamuan, ataupun pesta sambutan untuk kehamilan ini.'' Lanjut Ziaruo lagi.


Mendengar perkataan Ziaruo, Jing merasa heran, dan bertanya. ''Mengapa?, apakah kau tidak menyukainya?.''


Ziaruo mengelengkan kepala sejenak. Ia menatap sang suami, dan berucap kembali ''Bukan seperti itu, hanya saja saya tidak ingin mengotori tangan ini, serta memancing kedengkian, akibat kecemburuan di istana dalam.''


Sejenak ruangan menjadi senyap, Jing mengernyitkan dahinya, dan memahami perkataan wanita itu.


''Kau benar, apa aku harus memulangkan mereka semuanya?, atau aku...''


Ucapan Jing lagi-lagi tidak terselesaikan, saat ia mendengar tawa kecil dari sang istri.


''Mengapa kamu tertawa, aku benarkan?, jika mereka dipulangkan, maka kau tak perlu khawatir.'' Sahut Jing dengan brengusan kecil, pada wajahnya.


''Bukan begitu...'' Ziaruo.

__ADS_1


''Lalu...'' Jing.


''Saya sudah menduga anda akan memikirkan cara itu, dan ternyata benar.'' Jawab Ziaruo di sela kekehan kecilnya.


''Jika anda melakukannya, maka anda akan dikenal dengan sebutan, kaisar yang berada di bawah kekuasaan Permaisurinya.'' Ziaruo menjelaskan.


''Dan aku tidak ingin hal itu.'' Lanjutnya lagi, sembari menampilkan senyum kecil dibibir.


Mendengar perkataan Ziaruo, Jing semakin tersentuh dengan ketulusan wanita itu.


Ia tak menyangka, bahwa sang Permaisuri berpikir untuk kebaikannya, hingga ke hal yang demikian.


Jing menatap Ziaruo lekat, ada sebuah perasaan yang tak dapat ia ungkapkan, di dalam hati.


Hingga ia mendengar kembali, ucapan dari wanita tersebut.


''Lagi pula, anda tak perlu khawatir, Permaisuri ini masih bisa mengatasi mereka.''


''Baiklah...baiklah...apapun itu, tapi ingat jangan terlalu memaksakan.


Aku ingin, kau menjaga diri dan dia baik-baik.'' Sahut pria itu, sembari kembali membawa Ziaruo kedalam dekapannya.


..............................


Sementara itu, diluar kediaman Yun.


Yongyu dengan cepat menyusul sang penjaga elit, yang telah memeriksa kondisi dari Ziaruo.


Ia ingin menanyakan kondisi dari adiknya tersebut.


Akan tetapi, disana ia telah kehilangan jejak dari sang penjaga.


''Bodoh, harusnya aku menanyakan namanya.'' Gerutu pemuda itu.


Ia berjalan meninggalkan halaman kediaman, dan mulai masuk kearea pertokoan.


Secara...


Dan baru beberapa saat kemuadian, mata Yongyu fokus menatap kearah pintu masuk toko.


Disana seorang pria gagah, dengan pakain penjaga berjalan masuk.


''Hormat saya tuan Yun.'' Sapa sang penjaga, dengan penuh hormat.


''Heemm...''


Jawab Yongyu singkat.


''Apakah anda mencari saya?.'' Tanya penjaga itu lagi.


''Kau benar, ada yang ingin kubicarakan denganmu, ikutlah denganku.'' Jawab Yongyu, masih dengan nada datarnya.


Mendengar hal itu, sang penjaga dengan cepat mengikuti langkah pemuda yang ia kenal, sebagai saudara dari Permaisuri.


Hingga beberapa saat kemudian, keduanya telah sampai di sebuah ruangan, yang berada di lantai dua toko.


''Jangan biarkan orang lain mengganggu kami.'' Ucap Yongyu kepada pekerja toko.


''Baik tuan.'' Jawab Pria perkeja dengan lugas.


Keduanya masuk kedalam ruangan, dan penjaga itu tanpa di perintah menutup pintu rapat.


''Maaf jika telah membuat tuan menunggu.''


Penjaga memulai percakapan.


Ia tahu, bahwa sang ipar kaisar, tengah diliputi kecemasan.


''Kau benar, aku sedang mencari dan ingin penjelasan darimu.'' Jawab Yongyu.

__ADS_1


''Apa yang terjadi dengan adikku.''


Yongyu mulai menelisik, tentang kondisi Ziaruo.


Pria penjaga sekaligus tabib tersebut, menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya menjawab.


''Yang Mulia Permaisuri, dalam kondisi yang kurang baik Tuan. Beliau dalam kesehatan yang buruk.''


Sebuah ucapan yang sejak awal telah ia duga. Dan nyatanya kini terbukti sudah.


Kecemasan akan kondisi wanita itu, memanglah benar adanya.


Akan tetapi, mendengar ucapan dari pria di depannya, Yongyu masih tidak bisa menerima begitu saja.


Dengan nada yang agak berat ia kembali bertanya. ''Seberapa buruk kondisinya?, dan adakah yang bisa kau lakukan?.''


Pria penjaga itu, menggeleng sejenak mendengar pertanyaaan dari Yongyu.


Dengan suara pelan ia kembali menjawab. ''Mungkin dapat dikatakan sangat buruk.


Bahkan, saya belum pernah melihat orang dengan kondisi seperi itu, dapat bertahan hingga sekarang.''


Mendengar perkataan sang penjaga elit, Yongyu terkejut.


''Apa maksudmu?.'' Yongyu.


''Saya tidak dapat berbuat banyak tuan, sepertinya Yang Mulia permaisuri sudah mengalami cidera itu sejak lama.''


''Sejak lama?, apa kau yakin?.'' Tanya Yongyu kembali.


Dan hanya di jawab anggukan saja, oleh sang penjaga.


''Namun, saya pernah mendengar. Bahwa di kekaisaran Tang ini, ada seorang tabib yang mempuni. Bahkan, dapat menyembuhkan orang yang tak memiliki harapan sama sekali.''


Penjaga elit tersebut, merujuk pada pria misterius, yang telah menyembuhkan kaisar Canzuo, dari wabah misterius yang menyerang Tang, beberapa tahun yang lalu.


Yongyu mendengar penuturan itu dengan seksama, ada sebuah pemikiran yang aneh di dalam kepalanya saat ini.


''Jika Ruoer sakit sejak lama, mengapa baru sekarang ia melihat gejala ini?.'' Gumam dalam diamnya.


"Baiklah, kau boleh pergi." Ucap Yongyu kembali.


Ia masih ragu dengan penjelasan dari pria tersebut.


Akan tetapi, ketika Ziaruo memuntahkan darah, pemuda itu juga melihat dengan mata kepala sendiri.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Ruoer?, mengapa kecemasanku tak bisa kuhilangkan.'' Ucap lirih Yongyu.


Ia selalu merasa, bahwa apapun yang berhubungan dengan Ziaruo, segalanya tidaklah sederhana.


Bahkan, untuk masalah kali inipun, ada sebuah kejanggalan dari segalanya.


Di tengah kegelisahan, serta kebingungannya, pemuda itu berjalan keluar dari sana.


Yongyu memutuskan untuk bertanya lebih detil, tentang apa yang terjadi kepada sang adik secara langsung.


Dan dengan langkah lebarnya, ia kembali menyusuri toko, menuju kediaman yang berada dibalik bangunan besar pertokoan keluarga Yun.


Namun, belum sempat langkah kakinya masuk kedalam kediaman, sebuah suara menghentikan langkahnya.


''Apakah penjaga itu mengatakan sesuatu?.''


Sebuah suara yang sangat ia kenal dengan baik, menghentikan langkah kakinya.


Dan beberapa saat kemudian, ia melihat sang kakak, kaisar Jiang jing wei berjalan dari dalam kediaman, mendekat kearahnya.


Ada raut kecemasan tercetak pada wajah itu.


Namun, sebisa mungkin ia tampil setenang mungkin.

__ADS_1


''Benar, dan karena itulah aku ingin kita bicara.'' Jawab Yongyu datar.


__ADS_2