Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 30 Pergolakan 2.


__ADS_3

Murongxu menarik kuat anak panah tersebut, dan membidik tepat pada pria yang tengah meminta uang, serta menendang perut si penjual.


''Sreeeett...syyuuuutt..jleeb.''


Melihat temannya terkena anak panah, ke-6 pria lainya menarik pedang mereka.


"Beraninya kau membunuh teman kami, apa kau tahu kami adalah para petugas dari kediaman mentri pertahanan.'' Pekik mereka dengan tatapan menelisik, mencari orang yang telah membunuh rekan mereka.


Namun belum sempat ia melakukan penyerangan, tiba-tiba saja, pria gagah yang tadi diam memperhatikan dari dalam kedai, menyerang semua orang tersebut.


"Jangan biarkan wajah mereka terlihat lagi.'' perintah kaisar Murongxu tegas.


"Baik yang mulia.'' sahut sang pria misterius tersebut, sebelum ia menghabisi, ke-6 orang tadi.


''Mengapa kita tidak menginterogasinya Yang mulia, dan menangkap pimpinan mereka?.'' tanya Muronghui, dengan penekanan pada kata pimpinan.


"Untuk apa?, mereka akan tetap lolos dari perkara kecil ini, lebih baik kita diam dulu, hingga menemukan kesempatan yang tepat.'' Jawab kaisar Murong kepada putra mahkota.


''Mungkin kebanyakan orang berpikir, sebagai seorang kaisar pria ini mampu melakukan apapun.''


Akan tetapi, segalanya tak semudah pemikiran itu sendiri, akan selalu ada pembelaan dan memerlukan bukti-bukti untuk menghancurkan kelaliman mereka.''


''Ingatlah putra mahkota, jika kita mengusik mereka dengan hal kecil atau tanpa bukti otentik, itu sama saja memberi mereka persiapan.''


''Dan lebih baik menghabisi mereka langsung ke akar-akarnya.''


''Dan karena bukan hal mudah untuk mencabut akar pohon yang besar, kita harus memerlukan alat yang besar juga.'' Lanjut sang kaisar, dan dijawab anggukan sebagai tanda mengerti, dari sang putra mahkota.''


.................................


Sepasang kaki melangkah perlahan dan tenang, namun tetap dalam ritme langkah kaki panjangnya.


Kaisar itu, melihat sebuah bunga yang tertancap di atas pilar aula pertemuan.


Dua hari lalu, ruangan tersebut ia gunakan sebagai, ruang perjamuan sementara, untuk menyambut tamu dari negri( kekaisaran )sahabat.


Serta menjamu orang orang kepercayaan, dan para abdi kekaisaran yang berjasa bagi kekaisaran Xili.


Kaisar Murongxu, menatap lekat sebuah pilar, dengan mata tepat, pada sebuah bunga dengan warna kemerahan, yang masih terlihat segar.


Tubuh tegapnya, ia dudukan di atas singgasana, sebuah kursi besar dengan tampilan mewah.


Sebuah kursi lambang kekuasaan, yang sudah menyanggah tubuhnya bertahun tahun, ketika ia menyampaikan titah, serta mendengarkan aspirasi, dan juga menerima keluhan-keluhan dari wakil rakyatnya.


Akan tetapi, saat ini di atas kursi megahnya itu, serta dari wajah aslinya, tampak sebuah ke piluan, serta ketidak berdayaan.


Didalam mata hitam pekat miliknya, sebuah tatapan nanar nyata terlihat.


Meskipun begitu, mata itu masih fokus kearah bunga tersebut.


Dalam pertemuan kemarin, mereka (kaisar Murongxu dan kasim Di), adalah 2 dari 7orang yang tidak menghirup aroma penghilang / penghapus ingatan.


"Apa maksudnya, bahwa ia akan memberikan hadiahnya hari ini, gonggong ( kasim Di )?.'' Tanyanya kepada sang kasim, pelayan yang setia menemani dirinya, bahkan seperti sekarang.


Saat ia tak bisa lagi, dapat memejamkan matanya. Dan hanya ingin sekedar berjalan-jalan keluar, menghirup udara malam. Sang pelayan setia, sudah siap didepan pintu,


mengikuti setiap langkah kaki tenangnya, dengan sabar dan telaten.

__ADS_1


"Ampuni hamba yang mulia. Mungkin, nanti siang pertanyaan anda akan terjawab. Dan sepertinya, dia bukan seseorang yang mudah melepaskan ucapan bualan saja." Jawabnya dengan sopan.


Sebuah jawaban, dengan pembahasan yang mengacu, pada sebuah bunga di pilar ruangan. Yang tentu saja, juga mencakup perihal tentang Ziaruo.


"Kau benar .., tapi justru semakin dekat waktunya, mengapa aku semakin gugup. Seolah, nanti siang akan ada sesuatu hal besar, yang akan terjadi,'' Sambungnya lagi, dengan nada yang tampak tetap tenang.


Akan tetapi, pria di sampingnya tersebut, seolah memahami kekhawatiran sang tuan.


"Gonggong ..apakah aku sudah terlalu tua sekarang ini?.'' Tanyanya pelan.


Kaisar Murong menghela nafas panjang, seakan tengah berusaha mengeluarkan sesuatu, yang menjadi ganjalan di hatinya.


"Maksud paduka yang mulia?.''


Jawab reflek sang kasim.


Ia memang benar-benar tidak faham, akan maksud pertanyaan sang tuan.


Dirinya mendengarnya jelas, namun ia takut apa yang di terima pendengarannya salah.


"Ha..haa...ha.., lihatlah bahkan kaupun sangat terkejut dengan pertanyaan ku.'' Ucap Murongxu lagi, dengan senyuman.


Namun, senyum tersebut berarti sebuah ejekan, yang mengarah kepada dirinya sendiri.


''Bagaimana mungkin di usiaku yang tidak lagi muda sekarang ini, aku bisa jatuh cinta. Dan dia adalah gadis belasan tahun yang bahkan, dia pantas untuk menjadi putriku. Dewa manakah, yang bercanda denganku kali ini?.'' Gumamnya dalam hati, di sela helaan nafas panjang.''


"Ampuni ketidak tahuan, pelayan tua ini yang mulia kaisar.'' Ucap spontan sang kasim, dengan tubuh yang di jatuhkan, pada lantai ruangan.


"Sudahlah...ayo, bantu aku bersiap siap untuk pertemuan sebentar lagi.'' Sahut tenang kaisar Murong, sebelum berdiri dari duduknya.


Pria penguasa itu, berjalan dengan senyum sarat makna, ketika keluar dari ruangan tersebut.


..................................


Sementara itu, disebuah kediaman dipinggir kota Wey.


Sebuah kota dengan keramaian yang tak pernah tertidur. Tata letaknya yang strategis, berbatasan langsung dengan dua kota besar, sebagai jalur utama perlintasan, antara kota Wey, dan kota Nanjing.


 


''Mengapa kau masih ingin membantunya?, biarkan saja, toh siapapun kaisar yang memimpin, kita tetaplah rakyat jelata.'' Ucap Yongyu, dengan nada kesal.


Ketika melihat sang adik, hendak pergi ke istana lagi.


Dan mau tidak mau, dengan hati berat dan penuh kekesalan, ia tetap harus pergi juga ke istana.


"Kak, ini karena aku melihat sang kaisar memiliki kepedulian kepada rakyat kecil, dan ia memiliki seorang calon penerus yang bijak ( putra mahkota).


Mungkin, di kehidupan terdahulu ia memiliki banyak kebaikan, dan kedudukan istimewa di suatu tempat." Jawab ziaruo.


Wanita itu, berusaha menjelaskan alasanya ingin membantu kaisar saat ini.


''Asal kakak tahu saja, ini untuk mereka kak.'' Ucapnya lagi, sambil menunjuk kearah orang orang diluar rumah, yang berlalu lalang di jalan depan kediaman mereka.


"Lihatlah dan dengarkan mereka. Bahkan, didalam kesederhanaan, serta penderitaan, mereka masih dapat menyebut nama kaisar Murongxu, dengan mata yang berbinar, serta senyum bahagia.


Bukankah mempertahankan senyum mereka, juga suatu perbuatan yang baik kak?.'' Lanjutnya lagi, menjelaskan.

__ADS_1


''Jika mengingat amarah, mungkin aku lebih banyak memiliki alasan untuk semua itu, karena kemarahan ku jauh lebih besar untuknya.'' Sambung wanita itu, dalam hati.


''Haaiiisss...baiklah! ...baiklah!, kau ini ...jika sudah memutuskan sesuatu, pasti ada seribu alasan dibalik alasan.''


Sahut Yongyu dengan nada kesal.


"Lalu mana bajuku?, bukankah aku juga memakai baju yang sama denganmu?,'' Tanyanya lagi, sambil menjulurkan tangan meminta sesuatu, sembari memasang wajah, yang ditampilkan seolah, dengan keterpaksaan.


"He..he..he..aku tahu, pasti kakak tersayang, dan terbaikku ini, tentu tidak akan membiarkanku sengsara, serta kesulitan sendirian.'' Ucap Ziaruo dengan nada imut, sembari menyerahkan setelan baju hitam, serta penutup wajah dan kepala.


"Kak...nanti jika ada seseorang yang tidak dapat kau sakiti, ( b*n*h), dan aku terpaksa harus melakukannya, apakah kau akan maafkan aku?.'' Tanya Ziaruo.


Sebuah pertanyaan ringan, seolah menegaskan suatu kemungkinan, yang akan terjadi ketika nanti di istana.


''Lakukanlah, apa yang harus kau lakukan. Di duniaku sekarang, hanya ada dua orang saja yang tidak akan aku sakiti. Dan salah satunya adalah kau.'' Jawab Yongyu tegas, sebelum masuk ke kamar untuk berganti pakaian.


Ziaruo menunggunya di tempat semula ( ruang tengah ), dengan perasan hati yang tenang, serta puas dengan jawaban dari saudaranya tersebut.


..........................


Di istana kekaisaran. 


Hari ini adalah hari perayaan festival bunga, sengaja acara dimulai pada saat senja hari.


Dan karena festival ini bertepatan dengan hari lahir kaisar Murongxu, maka istana akan menyumbangkan 2000 tail emas, serta 1000 karung beras, dari dana pribadi kaisar Murongxu, untuk rakyat yang terkena imbas, bencana banjir di selatan kota Siwu.


Namun seolah alam mengetahui, sesuatu yang buruk hendak terjadi, mentari enggan menampakan wujudnya.


Sejak hari mulai bergulir pagi, awan tampak mendung. Kabut-kabut hitam di langit berarak-arakan.


Seolah ingin memuntahkan semua air didalam tubuh mereka. Menyapu semua orang-orang serakah serta culas, untuk menghindari terjadinya sebuah pertumpahan darah, antara keluarga kekaisaran.


Namun, lagi-lagi garis takdir yang sudah terlukis, tak dapat dihindari.


Hampir semua orang, yang setiap harinya berkumpul bersama, makan, serta minum bersama, bergembira, menikmati sajian hidangan, serta tarian-tarian bersama, seolah menampilkan keharmonisan dan keakraban diantara mereka.


Akan tetapi, hanya segelintir diantaranya, yang memiliki ketulusan antara hati, pikiran, perkataan, serta tindakan mereka.


Sungguh memang menyakitkan, bagi mereka yang tulus, dan terjebak diantara orang-orang dengan topeng wajah tersenyum, dan bersahabat, dibalik tampilan asli wajah liciknya.


"Mengapa anda begitu bahagia hari ini yang mulia?.'' Tanya menteri pertahanan, dengan nada seolah mereka adalah teman.


Padahal tidak ada bahasa pertemanan, untuk seorang kaisar, dan bawahannya.


Dan itu bukan hal yang aneh baginya, atau tidak ia ketahui.


Namun, entah apa yang merasuki pikiran menteri pertahan, dia yang notabene sebagai mertua kaisar (Murongxu), dan sekaligus kakek dari putra mahkota (Muronghui), melakukan kesengajaan tersebut.


Tentu saja, ia lebih paham dari siapapun tentang tata cara, peraturan-peraturan, serta adat-istiadat kekaisaran Xili.


Namun hari ini, seakan sayap kekuatan dewa tengah menaunginya, ia begitu berani berucap tidak sopan, dan bisa dianggap sebagai sebuah kelancangan.


Seakan disini, dialah sang kaisar, dan pria di dapannya itu, bukan siapa-siapa.


Padahal sudah hampir separuh dari hidupnya, ia gunakan untuk menyembah, serta melayani pria disampingnya tersebut.


Namun, berbeda dengan hampir semua orang yang disana, kaisar Murongxu tersebut, justru menyunggingkan senyum sinis yang seolah menyiratkan makna menakutkan.

__ADS_1


"Ternyata hari ini datang juga perdana mentri. Aku sudah menunggumu lama.'' Ucap kaisar Murong, dengan penekanan pada setiap kata katanya.


__ADS_2