
'' Rayyan, hentikan.'' ucap Ziaruo dengan nada seolah memerintah, sembari meletakkan telapak tangannya diatas tangan sang kakak.
Sebagai suport, serta memintanya untuk berbesar hati kepada Rayyan dan terutama kepada kakaknya, kaisar Jing.
*( Ingatkan bahwa Ziaruo dapat mengetahui isi hati serta pikiran orang lain)*
''Baik nona, anda memang hebat, hal yang tak terlintas dipikiran orang lain, kini dapat terlihat langsung didepan mata, bahkan di satukan dalam kurun masa dan waktu yang sama.'' jawab Rayyan, sambil berusaha menahan kekehan kecil miliknya.
Sementara itu, kaisar Jing hanya menatap mereka, tanpa dapat mahami, apa yang mereka bicarakan.
Namun tidak bagi Yongyu, secara garis besar, ia dapat menyimpulkan maksud dari ucapan kedua orang di depannya, ia hanya menunduk dan menikmati secangkir teh, yang baru saja disajikan pelayan disana.
''Jangan hiraukan Rayyan, dia memang seperti itu kak.'' Ucap Ziaruo lirih.
'' Maaf tuan muda, mohon jangan menyimpannya didalam hati.'' Rayyan menimpali ucapan Ziaruo, mencoba untuk meminta maaf dengan caranya, sebelum ia ikut menyeruput juga tehnya.
''Benar sekali, pantang bagi laki laki untuk mendendam, tuan Yongyu.'' kaisar Jing mencoba membaur dan memahami ucapan mereka.
Namun, justru ucapan dari kaisar Jing, tersebut semakin membuat Rayyan, tergelak dengan tawa lebar yang tak dapat ia tahan lagi.
Ziaruo mengelengkan kepalanya, sementara Yongyu tampak semakin kesal dengan ucapan sang kaisar.
'' B*doh.'' Ucap kasar Yongyu untuk Jing, namun tentu saja hal itu diabaikan oleh sang kaisar, karena sejak awal ia tahu, bahwa Yongyu tidak menyukainya.
''Jika kamu tahu, kitalah yang di tertawakan oleh Rayyan, kau pasti akan muntah darah( kesal).'' Gumam Yonyu dalam hatinya.
Dan pada akhirnya, hari itu adalah hari dimana, ada banyak perbincangan, antara mereka( Ziaruo, Yongyu, Rayyan, Jing dan anak anak).
''Flash back off.''
Di kekaisaran Zing..
''Salam hormat yang mulia.'' Ucap seseorang dari luar ruangan.
''Masuklah.'' Jawab kaisar Jing dengan suara tenangnya.
''Ada apa?, mengapa kau terlihat cemas?.'' Tanyanya lagi, ketika kasim tersebut sudah masuk.
''Ampuni hamba yang mulia, sepertinya selir Yu hendak melahirkan, dan secara kebetulan tabib kekaisaran sedang tidak didalam istana.'' Jawab sang kasim, berusaha menjelaskan kecemasannya.
'' Benarkah?.'' Jawab kaisar kembali, datar.
Ada gurat tegas dan tatapan mata dingin pada wajah itu.
''Benar yang mulia. Namun, sepertinya ada sedikit masalah, dengan kondisinya dan kehamilannya.'' Jawab kasim itu lagi.
''Baiklah, kau cari tabib terdekat untuk menolongnya.'' Titah kaisar masih dengan nada yang sama.
''Segera kabarkan padaku saat bayi itu telah lahir.'' Lanjutnya lagi, untuk sang kasim.
''Baik yang mulia, hamba akan laksanakan.'' Jawab Kasim itu, sebelum undur diri dari ruangan tersebut.
__ADS_1
''Mengapa, seolah yang mulia kaisar tidak senang dan mengabaikan kelahiran dari bayi selir Yu?, seolah itu bukan darah dagingnya saja.'' Gumam kasim tersebut, di dalam hatinya disela langkah kaki, meninggalkan ruangan tersebut.
''Heeh...setelah bayi itu lahir, kau juga harus pergi menyusul kekasihmu itu, dasar wanita lia*r.'' Ucap lirih kaisar Jiang jingwei.
''Wuhan.'' Jing memanggil penjaga bayangan setianya.
''Hamba yang mulia.'' Jawab Wuhan setelah hadir di sana secepat kilat.
''Kerjakan, apa yang harus dilakukan!.'' ucap kaisar Jing dengan suara khasnya.
''Hamba mengerti yang mulia, pelayanmu ini undur diri.'' Jawab Wuhan penuh hormat, sebelum pergi dari sana.
''Apa yang harus aku lakukan terhadap bayi itu?, apakah harus kul*ny*pkan juga?.'' gumamnya lirih kembali.
Namun, setelah termenung dan berfikir beberapa saat, wajahnya seolah memeperoleh inspirasi.
''Heeemmmzzz.....Ziaruo.'' Pikirnya dalam hati, ada senyum tersungging diwajah tampannya tersebut.
Sementara itu di pavilliun janda permaisuri.
''Apa, benarkah?, Ayo... antar aku kesana.'' Jawab janda permaisuri Lexiu, dengan wajah bahagianya, ia merasa senang dengan kelahiran putra dari kaisar jingwei.
Karena baginya, itu adalah sebuah keberkahan dari langit, dimana setelah kesalahan, yang ia lakukan terhadap sang putra, atas racun yang ia berikan secara diam diam tersebut.
Kini ia masih dapat melihat keturunan dari kaisar Jing.
Tentu saja kebahagiaan itu tercipta, setelah ia mengetahui, bahwa putra keduanya Jiang jingyun sudah meninggal.
Atau dapat di katakan kelahiran bayi itu menjadi ancaman lain bagi keinginannya.
Dengan langkah kaki ringan, serta wajah penuh kebahagiaan, janda permaisuri datang berkunjung ke pavilliun milik selir Yu, ia sudah banyak memikirkan rencana, untuk keduanya ( selir Yu dan pangeran kecil) kedepannya.
Namun, ketika ia sampai di depan paviliun milik selir Yu, yang pertama kali ia lihat disana adalah, wajah wajah sedih dari para pelayan kediaman pavilliun tersebut.
''Ada apa ini?, mengapa kalian memasang wajah muram?.'' Tanya janda permaisuri, seraya melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut.
''Hormat hamba janda permaisuri.'' Jawab mereka bersamaan, setelah mendengar suara yang mengejutkan bagi mereka semua.
''Ampun yang mulia.''
( terdiam sejenak, menyeka air matanya, serta menata ucapan dan hatinya, yang kini tengah bergetar karena rasa sedih)
Yang mulia selir Yu, telah berpulang.'' Jawab salah satu pelayan, yang merupakan bibi asuh dari selir Yu sejak kecil.
Tampak dari ucapan dan raut wajahnya, wanita tua itu, kini tengah berduka atas meninggalnya sang selir, majikannya.
Mendengar hal tersebut, ia merasa ikut berduka, bagi janda permaisuri wanita tersebut telah berjasa besar, ia telah mengorbankan nyawanya, untuk memberikan penerus bagi kekaisaran Zing mereka.
Matanya melihat sekeliling ruangan, janda permaisuri merasa heran, disana ia tidak melihat sang kaisar, putranya.
''Apakah kaisar belum datang?, ataukah kaisar belum mengetahui tentang kondisi selir Yu?.'' Tanyanya lagi kepada kasim pavilliun tersebut.
__ADS_1
''Ampuni hamba yang mulia, hamba sudah mengabarkannya.'' Jawab singkat sang kasim, ia tidak berani mengatakan apapun, baginya menjawab seperlunya, adalah suatu upaya bertahan hidup di lingkungan istana.
Lagi lagi, janda permaisuri dibuat bingung, dengan sikap sang putra.
''Baiklah, kau ( mengacu kepada sang kasim) panggilkan beberapa pelayan lain, untuk membantu, persiapan upacara pemakaman untuk selir Yu, lakukan sebaik mungkin untuknya.'' ucapnya kepada sang kasim.
Dan kau...Ikutlah denganku, bawa sekalian pangeran kecil bersamamu.'' perintahnya lagi, kali ini janda permaisuri melihat kearah pelayan wanita, yang kebetulan sedang menggendong putra dari selir Yu.
Namun, belum sempat mereka melangkah pergi dari sana, tampak seorang pria gagah, dengan beberapa orang dibelakangnya berjalan mendekat.
''Hormat ananda ibunda permaisuri, semoga anda selalu sehat dan di mulyakan.'' Ucap pria yang tak lain adalah kaisar Jing bersama Wuhan dan beberapa kasim miliknya.
'' Bangunlah, aku kira anda tidak akan datang kemari yang mulia eeheeeeehh......janda Permaisuri menentukan dan ucapannya, menghela nafas panjang, berupaya meredakan amarahnya, atas ketidak pedulian sang kaisar, terhadap putranya yang baru saja lahir, bahkan kini sudah kehilangan ibunya.
''Sudahlah...sekarang lihat putramu, ia begitu tampan, dan matanya begitu mirip dengan milikmu.'' Ucap janda permaisuri, berusaha mendekatkan sang bayi kearah putranya, ia merasa bahwa kaisar seolah enggan untuk melihat bayi itu,
''Ibunda benarkah bayi itu, benar benar mirip denganku?.'' Tanya kaisar Jing dengan nada datarnya.
Mendengar ucapan Kaisar, yang seolah mempertanyakan ke absahan ucapannya, janda permaisuri menjadi kesal.
''Apa maksud anda yang mulia?.'' Tanya janda permaisuri kembali.
''Apakah, ibunda benar tidak tahu, ataukah ibunda lupa, bahwa kehamilan selir Yu sangat aneh, bukankah ibunda sendiri mengetahui kondisiku, lalu bagaimana selir yu bisa hamil ibunda?, dan bagaimana mungkin bayi itu bisa mirip denganku?.'' Jawab kaisar Jing tajam.
Memperoleh jawaban tersebut, sontak saja tubuh janda Lexue menjadi bergetar, ada hawa panas dalam tubuhnya, hawa yang mewakili perasaan keterkejutan yang hebat, rasa kecewa, rasa penyesalan, serta rasa getir yang bercampur aduk didalam hatinya.
''Lalu, mengapa ibunda harus berpura pura bahagia atas kelahiran bayi ini, apakah anda tidak lelah ibunda, berpura pura menjadi anggun dan bijaksana.'' Lanjut kaisar Jing dengan nada sinis miliknya, ia tidak perduli, perasaan sang ibu saat ini.
Kaisar Jing, mengambil bayi selir Yu, dan membawanya pergi dari sana.
''Masihkah itu sebuah kasih sayang, jika itu memiliki banyak alasan?.''
Tidak bisakah, anda menyayangiku, karena aku juga putramu, meskipun ada anak anda yang lainnya?.''
Akankan sebuah ketulusan, benar benar nyata, jika disana adalah keterpaksaan karena tak ada pilihan yang lain?.''
Dimana kasih sayangmu ibu?, mengapa kau membedakan kasih sayang dari putra putramu?.''
Akankah kau bahagia dengan kelahiran putraku, jika putra lainmu masih hidup?.''
Akankah kau bahagia sekarang atas kelahiran putraku, jika kau tahu bahwa akulah penyebab kematian putramu yang lainnya.
Dan asal anda tahu, aku juga tidak bahagia.
Namun, karena andalah, aku menghilangkan nyawa putra anda yang lainnya.
Semua ucapan, yang ingin Kaisar Jing tanyakan kepada janda permaisuri, sejak ia mengetahui perbuatan wanita itu terhadap dirinya.
Namun, ia tetap tidak mengutarakannya, masih tersimpan rapat di dalam hati, berjalan menjauh hingga tubuhnya tidak terlihat dari ruangan tersebut.
''B*nuh semua yang berada di ruangan ini!.'' Perintah datar janda permaisuri, setelah ia menenangkan diri dari keterkejutannya, dan berjalan pergi dari sana, seolah mereka semua bukahlah seseorang yang baru saja, memperoleh simpatinya beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
Hanya dalam hitungan detik saja, beberapa bayangan berkelebat masuk kearah ruangan tersebut, dan tak membutuhkan waktu yang lama, semua pelayan dan kasim diruangan itu, telah terjatuh di lantai tak bergerak kembali.