Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 181


__ADS_3

Langit remang keemasan, memayungi cakrawala senja di ujung timur kekaisaran Zing.


Warnanya yang elegan tampak indah, dengan temaram mentari yang kian meredup menuju peraduan.


Dibawah keanggungan lukisan sang pencipta tersebut, barisan prajurit di tepi hutan misteri berarak meninggalkan tempat persembunyian.


Semangat yang membara, serta jiwa patriotis untuk negri tercinta, membuat mereka tegas melangkah menuju sebuah medan pertempuran.


Seolah tak ada sedikit pun keraguan, atas tindakan serta keputusan yang diambil.


Terlebih lagi, sang Kaisar junjungan sendirilah, yang memimpin dalam penyergapan kali ini.


Keteguhan hati, serta keyakinan para prajurit semakin kokoh tertanam kuat, dan mendarah daging sempurna, didalam jiwa dan raga.


''Prajurit memberi hormat Yang mulia.'' Ucap seorang pria, dengan pakaian tampak seperti penduduk jelata, pada umumnya.


Pria yang menyebut dirinya sebagai prajurit duduk diatas punggung kuda, dengan sedikit membungkuklan punggung, dan menundukan kepala sejenak, setelah ia berada di dekat kuda sang Kaisar.


Ia juga memutar balik arah laju tunggangannya, serta kian melambatkan derap langkah kuda yang di tunggangi, mengikuti ritme kuda kaisar Jing.


''Hemz...katakan.'' Jawab Jing singkat.


Pria penguasa itu tetap menatap ke depan, dan tidak menghentikan derap kaki kuda miliknya.


.......................................


Kaisar Jiang Jing wei memerintahkan prajurit gabungan, untuk bergerak menuju kota kekaisaran, setelah menerima kabar dari setiap mata-mata (tiga kekaisaran) melalui burung pembawa pesan.


Bahwa pasukan dari masing-masing kekaisaran telah ditarik mundur, kembali kekerajan mereka.


Dan hal itu, membuat Jing menjadi lebih optimis, untuk memenangkan pertempuran kali ini.


Ia juga telah mengirim selir Gu bersama 2 penjaga terpercaya, untuk menyusul permaisuri Yun, yang telah lebih dulu pergi menggunakan cara khas miliknya.


Dan hal inilah, yang menjadikan Jing semakin antusias untuk segera menumpas para pemberontak.


Di dalam hati, tak lagi ada kekhawatiran yang akan mengganggu kosentrasi, serta menjadi beban pikiran, untuk melakukan penyergapan sekarang.


Prajurit khusus miliknya, bersama rombongan pasukan merah Gu, yang kini telah tergabung dalam pasukan bayangan.


Rombongan tidak akan langsung kembali keistana, ataupun barak militer.


Melainkan, mereka akan langsung bergerak menuju pusat perkemahan para pemberotak, di sisi timur kota.


Atau lebih tepatnya, berada di perbatasan pintu masuk kota kekaisaran Zing, yang tak jauh dari sisi tepi hutan misteri, dimana mereka berangkat sekarang.


Akan tetapi, belum jauh rombongan meninggalkan pinggiran hutan. Seorang pria berkuda tampak mendekat dari arah depan.


''Prajurit memberi hormat Yang mulia.'' Pria berkuda.


''Hemz...katakan.'' Jing.


''Jendral besar Feng, dan jendral Song telah menempati posisi mereka Yang mulia.''

__ADS_1


Pria prajurit menyampaikan berita dengan lugas. Ia juga masih tetap berada diatas punggung kudanya.


Bahkan, ia masih disana dan menstabilkan langkah si hitam yang ia tunggangi, sejajar dengan kaisar Jing.


Sementara mendengar laporan tersebut, senyum kembali tercetak pada wajah penguasa tersebut.


Baginya, kabar itu adalah tambahan keyakinan ganda, untuk kemenangan penyergapan kali ini.


''Bagus'' Ucap Jing, dengan wajah penuh kepuasan.


''Apa masih ada yang lainnya?.'' Sambung Jing kembali, ketika melihat sang pria yang tak lain adalah prajurit pembawa pesan, masih tetap mengikuti langkah kuda miliknya.


Ia menangkap sedikit kebingungan, dari wajah sang prajurit.


''Lapor Baginda, diantara para pemberontak ada sebagian dari mereka yang telah masuk kedalam istana, dan...''


Ucapan sang prajurit tidak dapat terselesaikan. Tiba-tiba saja, ia merasakan aura tidak nyaman, serta ketakutan menyeruak dari balik punggung.


Dan hal itu benar adanya. Prajurit tersebut tidak menyadari bahwa Jing dengan reflek, menghentikan langkah kaki kuda, serta menatap kearahnya.


''Apa katamu?, bagaimana kecerobohan sebesar itu terjadi?.'' Pekik Jing, dengan nada suara yang mulai meninggi.


Mendengar pertanyaan yang senada dengan gelegar petir di senja tersebut, sang prajurit melompat dari atas punggung kuda, serta merta bersujud di tanah.


Bahkan, para prajurit yang berjalan tak jauh dari sang Kaisar, juga ikut menjatuhkan tubuh, serta menundukkan wajah mereka dalam.


''Ampun paduka, ampuni ketidak mampuan prajurit, mohon redakan kemarahan paduka.'' Ucap sang prajurit, dan beberapa baris prajurit lain, yang mendengar kemarahan kaisar.


Jing tidak menyangka, bahwa para penjaga miliknya telah dengan mudah, meloloskan para penyusup dan masuk kedalam istana.


Pikiran Jing semakin diliputi kecemasan, ketika mengingat permaisuri Yun telah mengirimkan sinyal beberapa saat yang lalu, bahwa ia telah sampai di istana.


''Wuhan...'' Pekiknya dengan suara keras.


Hatinya berdetak tak beraturan, jari-jari tangan kananya mengepal kuat.


Perasaan dan hatinya berkata, ia akan melompat dan terbang sekarang juga, untuk kembali ke kota kekaisaran, jika ia memiliki kemampuan layaknya seperti sang permaisuri.


Sementara, Wuhan yang berada pada barisan tengah para prajurit, dalam sekejap saja telah berpindah di hadapan Kaisar Jing.


''Kita kembali keistana.'' Ucap Jing, tanpa menunggu Wuhan mengatakan apapun.


Melihat sikap, serta kecemasan dari kaisarnya tersebut, Wuhan menatap sang prajurit yang kini bersujud di tanah.


''Panglima, beberapa puluh pemberontak telah menerobos masuk istana.'' Ucap sang pria prajurit, dengan suara gemetar.


Wuhan mengernyitkan kening mendengar hal itu, baginya itu sangatlah mustahil.


''Apa maksudmu?, apa kau pikir penjaga bayangan Zing, akan mudah dikalahkan oleh puluhan orang saja?.'' Ucap Wuhan dengan tanda tanya besar.


Atau lebih tepatnya, ia menyangsingkan perkataan dari sang prajurit pembawa pesan.


Wuhan berjalan lebih mendekat kearah Kaisar Jing.

__ADS_1


Ia menatap sejenak kearah mata sang Kaisar.


Dan entah mengapa, Kaisar Jing menjadi sedikit lebih tenang.


Seolah Wuhan telah membantunya, menemukan kembali ke-rasionalan yang sempat menghilang, beberapa saat yang lalu.


''Sebutkan integritas dan plakat kode milikmu!.'' Lanjut Wuhan kembali.


Pria yang di kenal sebagai sahabat, sekaligus tangan kanan Kaisar itu, berbalik dan berdiri di depan sang pria prajurit.


Ia juga telah mempersiapkan serangan pukulan, yang ia pusatkan di dalam gegaman tangan.


Sementara, mendengar perkataan dengan nada yang ia pahami, sebagai penyangsiang atas laporannya. Pria prajurit tersebut, memasukan tangan kana kedalam pakaian yang menutup dada.


Dan tentu saja, Wuhan lebih memfokuskan lagi tenaga didalam genggaman.


Ia tak ingin lengah barang sedikitpun.


Bagi Wuhan, baik itu pemberontak yang akan mereka sergap kali ini, ataupun jika yang berada di depannya sekarang bagian dari mereka, hanya kematian yang akan ia berikan.


Bahkan, beberapa prajurit bayangan juga telah berkumpul untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.


''Pasukan elang merah memberi hormat.''


Namun, suasana kembali tenang setelah pria yang bersujud ditanah itu, mengangkat tangan dan menunjukan plakat pengenal, serta menyebut identitas tugas yang ia miliki.


Melihat keabsahan tanda pengenal plakat, serta kode etik milik pria prajurit.


Kini, justru Wuhan yang mulai merasa cemas, serta hampir kehilangan rasional.


Bagaimanapun, ia mengetahui kemampuan para pasukan bayangan milik Jing, yang diperintahkan menjaga istana bukanlah penjaga biasa.


Mereka adalah para prajurit pilihan, dengan kemampuan yang hampir setara dirinya.


''Mungkinkah, mereka(para pemberotak) menyewa orang berkemampuan tinggi?.'' Gumam dalam diam Wuhan.


Mendengar hal itu, Wuhan perlahan merilekkan tubuh serta gegaman tangan, seraya berkata. ''Jelaskan secara detil.''


Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, sang prajurit segera menyimpan plakat kembali, dan menjawab. ''Mereka masuk bersama selir Fengjiu, dan kami tidak berani menghentikan mereka.''


Dan tentu saja, mereka yang belum mengetahui polemik serta status selir Fengjiu dimata Jing, akan menganggap wanita itu masih sebagai kesayangan kaisar Jing.


Mengingat sifat dan karakter sang junjungan, siapalah para penjaga istana, dan apa status mereka sehingga berani, serta lancang menghentikan wanita favorit sang kaisar tersebut.


Dan tentu saja mereka tak akan pernah mencoba akan hal itu.


Sementara, Jing yang mendengar nama dari salah satu wanita harem di istana dalam, atau lebih tepat mantan selirnya itu, ia membulatkan mata.


''Fengjiu?.''


Kaisar Jiang Jing wei tak lagi membutuhkan pertanyaan, ataupun jawaban apapun. Ia telah memahami semua.


''Wuhan....kirim berita!. Siapapun yang menerobos masuk, dan pihak mana saja yang terkait, harus ditangkap.

__ADS_1


Dan jika mereka melakukan perlawanan, lakukan tindakan yang dianggap perlu.''


__ADS_2