
Dengan agak kasar, ia menarik tangan Ziaruo dari atas meja, dan bertanya. ''Apakah dia menunggumu disana?.''
Jing sesungguhnya ingin mengetahui apakah Murongxu sudah tahu perihal itu.
Akan tetapi, entah mengapa justru kalimat tersebutlah, yang mengalir keluar.
Tangan itu menarik kuat, namun dengan suara Jing hanya terdengar lirih.
Dan entah apa yang menjadi pertimbangan pria itu, ketika mengecilkan suaranya.
Jika ia marah, marah saja mengapa harus peduli dengan telinga lain disana.
Toh dia adalah kaisar, siapa yang akan sembarangan mencuri percakapan diantara keduanya.
Jing tetap memelankan suara, ketika ia bertanya.
Meski demikian, selirih apapun ucapan tersebut. Nyatanya makna dari klise kata yang tersirat, sungguh sangatlah besar.
Perasan Ziaruo seolah terhantam benda keras dan besar.
Secara reflek wajahnya berubah tegas.
Dan kali ini, ada senyum tipis tersungging di ujung bibirnya, ketika ia membalas tatapan Jing.
Sebuah senyum yang menyiratkan kekecewaan, serta kemirisan perasaannya kini.
Ziaruo tidak menyukai kekesalan hatinya saat ini.
Wanita itu, kesal kepada Jing atas pertanyaan tersebut.
''Bahkan jika wanita ini ingin memiliki pria lain, anda akan di bersihkan terlebih dahulu (Melepas/ menyelesaikan hubungan mereka).'' Jawab Ziaruo, dengan tatapan tajam kearah Jiang jing wei.
Sejak Ziaruo memutuskan untuk bercerita, ia telah siap menerima kemarahan dari Jing suaminya.
Karena ia tahu dengan benar, bahwa hal ini memang akan menyakiti pria tersebut.
Namun, apakah Ziaruo juga tidak menderita?.
Dan tentu saja, bahwa ia menderita juga kenyataan.
Dengan ia mengetahui, bahwa kedatangannya ke dunia untuk melalui ujian serta penderitaan.
Reinkarnasi Dewi klan bulan Ziaruo, telah lama bersiap untuk datangnya saat seperti sekarang.
Oleh karena kesadaran itu, Ziaruo bersedia dan berusaha mengambil langkah terbaik, dengan dampak terkecil untuk orang-orang di sekitarnya.
Tidak terkecuali Jiang jing wei dan sang putra.
Bahkan, Ziaruo juga bersedia menempatkan diri sebagai yang dipersalahkan, jika itu memang baik untuk mereka.
Namun, ketika ia mendengar perkataan dari Jing, yang menyangkutkan integritas dan kemurnian dirinya, Ziaruo kecewa dengan pria tersebut.
Bayangannya tentang kejadian yang sama, di kehidupan terdahulu kembali terlintas.
Baik dirinya sebagai Ziayun atau Ziaruo, ia kembali di pertanyaan tentang kemurnian dirinya kembali.
Dan masih dengan pria yang sama (Murongxu), serta oleh pria yang serupa (Jing/ Zhanglei).
Mata itu bukan lagi berkaca-kaca, kini bulir bening turun dengan cepat dari kedua ujung matanya.
Melihat hal tersebut, hati Jing semakin sakit. Ada penyesalan atas ucapan yang baru ia keluarkan.
Namun dibalik itu, Jing juga ingin tahu dengan jawaban dari sang istri.
Hatinya sakit, dan tidak tenang dengan kecemburuannya.
Namun semuanya, kini semakin tidak nyaman ketika melihat air mata tersebut.
Jing kebingungan harus bagaimana bersikap.
__ADS_1
Menyimpannya Jing gelisah, serta di penuhi kemarahan.
Sementara, mengatakan apa yang kini dipikirkan, nyatanya menyakiti wanita itu.
Dan dengan hanya melihatnya bersedih serta kecewa, hati Jing juga kembali merasakan sakit seperti teriris bilah-bilah pisau tajam.
Jiang jing wei semakin kebingungan, serta bimbang.
Di tengah perasaannya yang bercampur aduk, ia tak tahu harus berbuat apa.
Hingga, suara wanita itu kembali di dengar.
''Kita sudah hingga tahap seperti sekarang, lalu apakah anda ingin wanita ini menjelaskannya lagi?.'' Ziaruo tidak mengakui, atau menyangkal atas pertanyaan dari suaminya.
Wanita juga tak ada keinginan untuk menjawab, ataupun menjelaskan.
Bukankah Jing mengenal dirinya?, dan masihkan itu dipertanyakan?.
Ziaruo ingin Jing suaminya meminta maaf, atau menarik ucapan, atas sebaris perkataan yang telah meragukan kemurnian tubuh, serta pengabdiannya sebagai seorang wanita dan istri.
Ziaruo benci ketika di ragukan.
Namun, dibalik kegelisahan itu Jing menanggapinya dengan wajah dingin, dan tatapan yang sama tajamnya kearah Ziaruo.
Kemarahan yang sedikit mereda akibat penyesalan beberapa saat yang lalu, kembali berkobar.
''Baguuus!.
Jing mengatakan itu, dengan nada yang di tekan.
Pria tersebut juga berdiri dari duduk, dan mengibaskan baju dengan kasar, sebelum akhirnya keluar ruangan sembari membanting pintu dengan keras.
Ia tidak mendengar panggilan ataupun reaksi dari permaisuri Yun.
Langkah kakinya yang lebar, semakin mempercepat tubuh itu menghilang dari sana.
''Masih bisa kulalui...'' Ucap Ziaruo lirih.
''Kesalahpahaman ini mungkin lebih baik.
Ketika kita membenci seseorang, maka kehilangan orang tersebut bukanlah sebuah rasa sakit.'' Sambungnya, dalam diam.
............................
Dari gelap menuju pagi, dan dari pagi merambat ke siang menyambut sore, dan kembali bertemu dengan sang malam.
Tanpa terasa sudah hampir 2 hari berlalu, sejak kejadian di siang itu.
Jing tak pernah mengunjungi, ataupun bermalam di paviliun permaisuri Yun.
Pria tersebut hanya sibuk dengan segala aktifitas pemerintahan.
Maklum, negri Zing baru saja mengalami goncangan yang tak dapat di anggap remeh.
Jing bahkan sempat turun secara langsung memberikan bantuan, serta kompensasi bagi warga yang terdampak.
Khususnya bagi keluarga para prajurit, yang telah meninggal ataupun terluka parah, akibat pemberontakan beberapa hari yang lalu.
Tindakannya tersebut, mampu menarik hati dan simpati dari seluruh rakyat kekaisaran.
Bahkan tak jarang, ada penduduk yang mengganggap Jing sebagai titisan dewa yang hidup di bumi.
Akan tetapi, yang tidak di ketahui oleh semua orang, pada kenyataannya Jiang jing wei sedang berlari dari kenyataan hidupnya saat ini. Ia menyibukkan diri, serta menghindari pertemuannya dengan Ziaruo.
Seandainya saja waktu selalu siang, dan semua orang tetap bertugas di pemerintahan, Jing tak akan menyadari kesakitan hatinya seperti sekarang.
Di kala hari menjelang malam, Jing akan menyuruh semua pelayan dan kasim, meninggalkannya sendiri disana.
Ia akan membaca laporan hingga pagi menjelang, atau tidur meringkuk di balik selimut diatas ranjang, di dalam ruang kerjanya yang sunyi.
__ADS_1
Tak ada bagian tubuhnya yang terlihat, seluruh tubuh tertutup rapat oleh selimut tebal dan halus.
Sejak perselisihannya dengan Ziaruo, ia memusatkan pikiran dan berdiam diri di ruang kerjanya.
Bahkan, Jing juga tidur disana hingga hari kerja berikutnya.
Sosok Jing yang kejam dan dingin juga kembali lagi, di dalam setiap sidang pemerintahan.
Dan hal ini terbukti hanya dalam 2 hari saja, ia telah menjatuhkan hukuman penggal, untuk 3 keluarga beserta keturunannya.
Padahal dalam satu tahun terakhir, kesalahan yang sama seperti mereka masih di tolerir oleh kaisar tersebut, dan hanya di jatuhi hukuman pembuangan, perbudakan, serta penarikan harta kekayaan.
Wuhan yang menyadari perubahan tersebut, tak dapat berbuat apapun.
Karena hatinya kini juga tengah gelisah, setelah mendengar perbincangan di antara keduanya.
Sebagai penjaga setia dan tangan kanan sang kaisar, sudah barang tentu Wuhan mengetahui hal itu.
Bahkan, ia mendengar sendiri secara langsung ketika kejadian tersebut terjadi.
Seperti biasa, ia adalah yang paling protektif untuk menjaga kedua majikannya tersebut.
Dan seperti saat kejadian perselisihan diantara Jing dan Ziaruo.
Malam-malam yang lainpun, Wuhan memang sering berada disana(di sekitar paviliun peristirahatan kaisar),
Dan disaat malam kejadian, kebetulan Wuhan sedang berada di atas dahan pohon, yang memayungi atap paviliun Ziaruo.
Dengan indra pendengaran yang terlatih, serta kanuragan tinggi, Wuhan tak bisa menghindar dari kejadian itu.
Dalam etika sebagai penjaga bayangan, ada hal yang boleh dan tak di izinkan untuk di dengar, pria Wuhan selalu objektif dalam memilah.
Akan tetapi, ia memberikan pengecualian untuk kejadian di hari itu, dan tetap memasang telinga.
Wuhan mendengar, dan mengetahui segalanya.
.........................
Dari atas ranjang, Wuhan tak mendengar keanehan apapun.
Ia hanya melihat gerakan kecil dari tubuh dibawah selimut secara kontinyu, seperti gerakan wajar tubuh beralih posisi ketika tidur. Hingga, sebuah suara membangunkan Wuhan dari keterpakuaannya.
''Ambilkan aku arak.'' Ucap Jing lirih.
Pria itu perlahan membuka selimut.
Dan dari balik kain tampak sebuah wajah kelelahan, dengan mata memerah serta sedikit membesar menyembul keluar.
Wuhan terhenyak sejenak, dan kemudian menjawab. ''Baik.''
Wuhan melesat keluar dengan cepat, meninggalkan Jing yang mulai bangun dari tempat tidur, dan berjalan kearah meja dengan tiga kursi mengitari.
Tak menunggu waktu yang lama, Wuhan telah datang kembali dengan 3 guci arak ditangannya.
''Letakan!, temani aku minum.'' Ucap Jing, tanpa menoleh kearah Wuhan.
Jing juga tak melihat ataupun ambil pusing, jenis arak apa, Atau seberapa banyak guci arak, yang kini berada di tangan pria setianya tersebut.
''Baik.'' Jawab Wuhan sembari mendudukkan tubuhnya.
''Krucuk..Cuuur...'' Arak di tuangkan oleh Wuhan.
Ia juga mengisi cangkirnya sendiri, meminumnya, dan kembali menuangkan arak untuk mereka berdua.
Ruangan masih sunyi, tanpa percakapan.
Hingga, seluruh isi guci pertama habis di tuang, barulah Jing mulai membuka suara.
''Dia sangat menderita bersamaku.''
__ADS_1