
Masih di dataran tepi hutan misteri.
Namun dengan kelahiran yang istimewa, jantung yang berdetak milik pangeran kegelapan ditubuh itu, serta senjata magis Dragon sword menjadikan sang jelmaan, mengaitkan Jing dengan suku Awan yang melegenda.
''Jika ada yang menyentuh mereka, maka aku sendiri yang akan membunuhnya.'' Lanjut Jingyun lagi.
Dapat terlihat jelas bahwa Jelmaan Jingyun, adalah yang paling dominan diantara mereka.
Melihat ekspresi wajah Jingyun yang demikian, makhluk lain yang berada di sampingnya, mulai melolong dengan lengkingan nyaring.
Atau dapat di ungkapan sebagai perintah bergerak bagi kawanan. ''Bunuh....habisi mereka semua.''
Dalam hitungkan kerling mata saja, suara dentingan senjata milik para prajurit, raungan, gemertak tulang patah, serta pekik kesakitan memenuhi tempat pertempuran.
Entah itu suara dari mahkluk-mahkluk jelmaan, ataupun dari para prajurit milik Zing, yang jelas bagi yang masih bernafas berjuang, dan terus bertahan adalah pilihan.
''Bunuh mereka semua, jangan tinggalkan satu orangpun.'' Jingyun.
Mendengar perintah dari Jingyun untuk anggotanya, para prajurit bayangan, Jendral Meng, serta Jendral tua Feng, berdiri di depan Jiang jing wei.
Membawa tubuh Jing dibalik punggung mereka.
''Yang mulia..anda harus bertahan.'' Ucap Feng.
Sebuah perkataan, yang mungkin mewakili pemikiran hampir semua orang.
''Ya benar, keselamatan Anda adalah prioritas kami.'' Sahut salah satu penjaga bayangan.
Jiang jing wei adalah yang terhebat, diantara semua orang disana.
Namun, tidak untuk situasi sekarang.
Setelah pertempuran hari ini pemikiran tersebut, nyatanya membuat ia menyesal.
Bukan hanya Jing tak mampu mengalahkan mahkluk jelmaan Jingyun.
Baik secara langsung ataupun tidak, Jing-lah penyebab kehancuran kekaisaran Zing, dengan kehadiran mahkluk-mahkluk disana.
Dan mengetahui bahwa Jelmaan disana datang dari dunia yang berbeda, serta khusus untuk dirinya, Jing semakin merasa tak berdaya.
Dalam hati, kaisar Jiang jing wei mempertimbangkan menyerahkan diri, demi menyelamatkan semua pengikutnya, atau berjuang bersama hingga batas terakhir mereka.
Sementara itu, suara pekik kesakitan dari para pengikut yang tengah di bantai, semakin membuat ia memantapkan hati untuk mengambil keputusan dengan cepat.
Jing ingin menyerahkan diri kepada jelmaan Jingyun.
Terlebih lagi, mereka datang serta mengacaukan kekaisaran Zing, semata-mata hanya untuk menangkap dirinya.
Suara dentingan benda tajam masih terus terdengar.
Sebagai bukit, bahwa pertempuran masih juga berlangsung dengan sengit.
Namun, dari setiap waktu yang telah terlewati, tampak jelas bahwa kekuatan kekaisaran Zing semakin terpojok.
Jumlah pasukan Jing kian menipis.
Dan dengan jasad para pengikutnya dalam kondisi yang tidak utuh, seperti layaknya pertempuran di medan perang, hati Jing semakin di cekam kegetiran serta amarah.
Di sana, tubuh-tubuh yang terkoyak, organ bagian dalam yang keluar dan hilang, serta darah memuncrat dari tubuh yang terbaring, telah menjadi gambaran mimpi buruk panjang.
Jiang jing wei menggretakkan gigi kuat-kuat, di dorongnya Jendral Meng dan membuat jalannya sendiri, untuk maju kedepan.
Sekuat tenaga ia mengayunkan Dragon sword, ke arah tubuh Jelmaan pengikut Jingyun.
''Slash...slash ...slash...''
Dengan hanya beberapa kali hentakan tangan, tiga mahkluk jelmaan roboh di tanah dan tidak dapat bangkit kembali.
''Mati kalian.....'' Pekiknya penuh kegeraman.
Jiang jing wei terus mengayunkan senjatanya, dan tak jauh dari tubuh itu para penjaga bayangan, Wuhan dan kedua jendral miliknya, selalu memberikan perlindungan untuk memastikan keselamatannya.
__ADS_1
Jing seolah kalap mata.
3 jelmaan roboh, 2 jelmaan, 2 jelmaan, 3 jelmaan roboh..... jumlah jelmaan yang roboh ditanah, dalam satu kali sabetan senjata milik Jing wei.
Dan di sisi lain Rayyan yang dibantu oleh Yongyu, masih bergulat dengan jelmaan Jiangyun.
Namun, keadaan keduanya tak jauh berbeda dari kondisi Jing.
Karena, sehebat apapun kemampun kesuanya, tetap saja akan sia-sia.
Lawan mereka kali ini bukanlah manusia awam, melainkan mahkluk jejadian yang menginginkan darah, serta daging ditubuh itu.
Bahkan mungkin, semua jelmaan itu tak akan menyisakan tulang-tulang dari tubuh mereka.
Hingga....
''Beraninya kalian datang dan berburu di wilayahku.''
Sebuah suara menggema dan nyaring, terdengar di atas ujung kepala semua orang.
Sesosok wanita, yang tak lain adalah Ziaruo, kini melayang diatas medan pertempuran, dan bergerak turun dengan anggun.
''Yun...''
''Ruoer...''
''Dewi..''
''Yang mulia...''
Tampilannya yang cantik tanpa penutup wajah, sangatlah indah.
Sorot mata Ziaruo, menatap kearah kawanan jelmaan dengan tajam, dan mengintimidasi.
Seakan dengan tatapan tersebut, wanita disana tengah menyiapkan kematian untuk mereka semua.
''Bukankah kalian menginginkan keabadian?, lalu apa yang kalian lakukan sekarang?.''
''Mengotori diri dengan darah dan daging mereka.''
Di keluarkannya sebuah kotak seukuran telapak tangan, terbuat dari kayu hutan.
''Ambilah masing-masing satu untuk kalian, dan berikan sisanya untuk yang lain.''
''Telanlah paduka, untuk mengembalikan kondisi tubuh Anda.'' Ziaruo.
''Yun, apa yang kau lakukan?, cepat kembali...Disini bukan tempatmu.'' Jing meraih tangan Permaisuri Yun, dan hendak menariknya menjauh dari sana.
Akan tetapi, belum sempat kaki kokohnya melangkah, tangan lembut sang istri lebih dulu bergerak menghentikan tindakannya.
''Telanlah ini dulu Yang mulia.''
Ziaruo kembali meminta Jing untuk menelan butiran kecil, yang kini berada di ujung jarinya.
Tatapan mata lembut, namun juga tampak jelas kecemasan untuknya disana.
Jiang jing wei yang hendak membujuk Ziaruo untuk menjauhpun, lemah dihadapan sorot mata permaisuri.
''Glek..''
Jing mengambil butiran kecil di tangan sang istri, dengan cepat ia menelannya dan kembali berkata. ''Sudah kutelan, dan sekarang biarkan Wuhan mengantarkanmu ketempat yang aman.''
Jiang jing wei merasakan cemas yang berlebihan atas diri sang permaisuri.
Meski ia tidak memungkiri kehebatan, serta tentang siapa jari diri dari wanita disana.
Namun, sebagai seorang suami dan kekasih hati dari wanita itu, ia tetaplah pujangga pada umumnya.
Mencemaskan, dan berusaha melindungi sang wanita tercinta adalah suatu panggilan nurani yang absah.
Terlepas itu siapa, dan sehebat apapun dirinya.
__ADS_1
Ziaruo memahami perasaan serta perhatian dari Jing, akan tetapi ia juga telah memahami bahwa tak akan mudah untuk sang suami melewati kejadian kali ini.
''Aku akan menjauh, namun setelah kubereskan mereka untuk anda yang mulia.''
''Tidak Yun...''
Ucapan Jiang jing wei belum sempat terselesaikan.
Tubuh Ziaruo kembali melesat keudara, dan dalam hitungkan detik saja, disana telah muncul ratusan bayangan hitam dengan sebilah pedang kecil panjang, yang menyilaukan.
Jumlah yang telah di samakan dengan para jelmaan keseluruhan disana.
''Jangan kembali kepadaku sebelum semuanya selesai.'' Ucap Ziaruo dengan gerakan tangan singkat, kearah para bayangan.
Dan tanpa menunggu jawaban dari semua sosok bayangan, Ziaruo kembali melesat kearah tubuh Jingyun dan Rayyan.
''Rayaan...'' Panggilnya dengan nada suara yang dalam, setelah berada tak jauh dari keduanya.
Mendengar nama disebut, dan mengenal suara itu dengan baik, Rayyan yang tengah bertarung mengambil beberapa langkah mundur.
''Dewi...biarkan dia menjadi bagian saya.'' Jawab Rayyan ketika ia telah berdiri di dekat Ziaruo.
''Ada sesuatu yang harus kutagih kepadanya.'' Lanjut Rayyan lagi.
''Dia bukanlah seperti yang kau kira. Ada seseorang di balik ini semua yang bahkan, aku mungkin bukanlah lawannya.
Mendengar perkataan itu, Rayyan kini memahami satu hal, jika mahkluk itu bukan yang sebenarnya, lalu siapa dibalik tubuh jelmaan di hadapannya kini, yang memberikan bantuan dan sedang menginginkan kematian kaisar Jiang jing wei.
Rayyan menghela nafas sejenak.
Dari apa yang ia lakukan, Ziaruo mampu menebak bahwa Rayyan sudah menduga, siapa orang di balik kekacauan saat ini.
''Baiklan, silakan anda selesaikan permasalahan diantara kalian.''
Rayyan mundur beberapa jengkal kebelakang.
Ia memberikan tempat untuk Ziaruo berada disana.
''Namun, jika anda mengizinkan tolong sisakan jelmaan satu ini untuk saya Dewi.'' Sambung Rayyan dengan nada agak di tekan.
Ia takut menyinggung, ataupun membuat wanita di sana merasa tidak senang.
''Kita lihat nanti...'' Jawab Ziaruo singkat.
Wanita yang di kenal sebagai Permaisuri kekaisaran Zing itu, bergerak semakin mendekat kearah Jingyun.
Dan sosok di depannya tersebut, masih diam tak menunjukan ekspresi perubahan.
''Apakah anda masih bersikeras untuk membunuhnya baginda?.'' Ziaruo.
Ia mengatakan perkataan secara datar, dengan maksud di tujukan kepada sosok seseorang di balik kegelapan yang menjadi pendukung sang jelmaan.
Namun, di hadapan pandangan orang lain, saat ini Jiaruo tengah menyebut sang jelmaan sebagai orang yang ia muliakan.
Dan itu membuat semua yang mendengar terperanjat, tak percaya.
Sementara, Jiang jing wei yang bergerak menyusul kearah Ziaruo melesat tadi, juga telah sampai disana dan mendengar perkataan tersebut.
''Yun...'' Panggilnya.
Ia tidak habis pikir, mengapa permaisuri tercintanya, kini memanggil sang jelmaan dengan penuh keakraban.
''Yun...siapa dia?, apa kau mengenalnya?.''
Bagi Jing, siapapun itu dan apapun wujud disana, ia tetaplah memahami bahwa Ziaruo bukanlah wanita pada umumnya.
Dan mungkin juga ia telah mengenal mahkluk disana dengan baik.
Namun, yang membuat Jing gelisah bukanlah hal itu.
Wanitanya sekarang tengah berdiri berhadapan dengan sang jelmaan, serta memanggilnya dengan sebutan yang mengkritik hatinya.
__ADS_1
Dengan kata lain, disana seolah sang istri sedang berbicara dan berusaha membujuk rival cintanya.
''Yun...siapa dia?, dan mengapa kau seolah peduli kepadanya?.'' Jing.