
''Selamat beristirahat Baginda.''
Kasim tua tersebut, membungkuk sejenak, dan mundur beberapa langkah, sebelum berbalik dan berseru agak lantang.
''Berikan kabar, Paduka Yang mulia kaisar, akan bermalam di pavilliun Meili.''
Setelah menyerukan hal tersebut, kasim kembali mendekati meja kerja kaisar.
Dengan setia membantu kaisar Jing merapikan diri, dan berjalan mengikuti sang junjungan dari belakang, bersama beberapa orang lainnya.
Bagi kasim tua, berada di bawah bayangan sang tuan adalah sebuah kehormatan.
Hingga beberapa saat kemudian, Jing beserta iringan telah sampai di depan sebuah pavilliun, dengan pagar yang megah serta berdiri kokoh.
Ada senyum sinis, dalam lengkung bibirnya ketika menatap pavilliun tersebut.
''Paduka kaisar memasuki pavilliun.'' Seru sang kasim.
Dan tak menunggu waktu yang lama, pintu secara otomatis di buka dari dalam.
Seorang wanita dengan gaun indah berwarna pink persik, menyambut kedatangan sang kaisar.
''Menyambut kaisar, semoga Paduka selalu panjang umur.'' Ucapnya lembut.
Wanita yang tak lain adalah Fengjiu tersebut, menampilkan senyum cantik dengan kelembutan manja yang menggoda.
Layaknya seekor kupu-kupu indah diatas bunga, yang menari riang dengan sihir klasik yang memabukan.
Kaisar Jing, menatap wanita di depannya dengan datar.
Wajah agung miliknya tak menunjukan perubahan apapun.
Namun, jika di lihat secara seksama, akan di temukan sudut mata tajam sang pria yang sedikit menyipit sejenak.
''Bagngunlah, tak perlu formalitas.'' Jawab Jing, sembari melangkah masuk kedalam ruangan.
Selir Fengjiu, adalah satu diantara 40 selir yang masih bertahan di istana dalam.
Dan hanya dirinya saja, yang sering menerima kunjungan dari kaisar Jing, diantara semua selir tersebut(Ke-40 selir lama).
Oleh karena hal inilah, selir Fengjiu adalah selir yang paling sering menerima perlakuan khusus(dalam artian keburukan) dari para selir lain.
Karena bukan hal baru jika di istana dalam, adalah sebuah pertarungan, serta persaingan terselubung diantara para wanita kaisar.
Terlebih lagi, dengan posisi permaisuri yang tidak tampil, ataupun menunjukan diri diantara mereka.
Bahkan, semenjak munculnya desas-desus tentang di gulingkannya Permaisuri, dan kini dinyatakan dalam pengasingan, persaingan diantara semua wanita Jing kian memanas.
Intrik, polemik, dan saling menyerang secara diam-diam, semakin marak terjadi.
Dan dari semua wanita itu, selir Fengjiu-lah yang menjadi pemeran utama tokoh bidikan.
Dalam kajian semua wanita Jing, selir di pavilliun Meili adalah wanita kesayangan dari Jing, yang kembali memperoleh kasih sayang besar, setelah pengasingan Permaisuri Yun.
..................
Kaisar Jing melangkah masuk kedalam pavilliun, dengan ekspresi masih sama.
__ADS_1
Ia mendudukan tubuhnya pada sebuah kursi, sebelum kembali menatap sang selir.
Fengjiu yang telah lama berkecimpung di istana, segera menyuruh semua pelayan untuk pergi.
Berjalan mendekati sang kaisar, dengan senyum terpasang lembut pada bibir.
Namun, tampilan kontras seakan terlihat jelas, menggantung pada kedua kaki miliknya.
Langkah kaki itu, seakan tengah membawa beban berat yang tak terhitung jumlahnya.
Dengan pelahan mengangkat teko kecil di atas meja, dan menuangkan teh kedalam cangkir kecil.
''Yang mulia...hari ini teh krisan telah dikirim, dan dapur istana khusus mengirimkan kepada selir.'' Ucap Fengjiu.
Perkataannya memang tampak sangat tenang, dan lembut.
Namun, tangan yang nuangkan teh, jelas bergetar atas sebuah kemelut hati yang tak dapat di tutupi.
Kaisar Jing melengkungkan ujung bibir dengan reflek, dan meraih tangan yang kini tengah memegang teko, seraya berucap. ''Apakah menakutkan bertemu dengaku?.''
Mendengar hal itu, Fengjiu buru-buru menjatuhkan tubuhnya dan berkata. ''Selir bersalah, mohon kemurahan hati Baginda.''
Dalam kerling mata saja, kening selir Fengjiu telah mengucurkan keringat dingin yang tidak sedikit.
''Bersalah?.'' Jing.
Kaisar menundukan tubuh sedikit lebih rendah, untuk mendekat kearah wajah fengjiu.
''Mengapa kaisar ini tidak mengetahui apa kesalahan selir Feng?.'' Tanya kaisar Jing, sembari mengangkat dagu Fengjiu.
Dan tak ayal, menerima perlakuan yang demikian, keringat dingin menguncur dari seluruh tubuh sang selir.
Satu hal yang ia pahami, bahwa menyenagkan pria disana adalah hidupnya sekarang, dan seluruh masa depan keluarga Feng miliknya.
Jikapun harus mengakui kesalah yang tidak ia lakukan, bukanlah hal yang buruk. Misalnya seperti sekarang ini.
Kaisar Jing tampak semakin geram, ketik ia masih belum membuka mulut, untuk menjawab pertanyaan dari pria tersebut.
Sehingga dengan kasar kaisar Jing menghentakan tangan, yang memegang dagu sang selir.
''Baiklah....cepat berdiri.'' Jing.
Kaisar tersebut mengibaskan pakaian bawahnya, dan kembali memperbaiki postur duduk kembali.
Ia menatap Fengjiu yang mulai berdiri di depannya, dan berkata. ''Buka pakaianmu!.''
Mendengar perintah canggung tersebut, Fengjiu membulatkan mata sejenak, dan secara cepat kembali menundukan wajah.
''Kenapa?, apa kau akan berpura-pura sebagai gadis yang belum tersentuh di depanku?.'' Sarkas Jing, tanpa menoleh kearahnya.
Pria tersebut, meraih cangkir teh diatas meja dan menyesapnya pelan.
''Huh...bahkan teh inipun menjadi buruk di sini.'' Lanjut jing lagi.
Melihat kaisar menghentakan cangkir dengan kasar, Fengjiu tak lagi membuang waktu menambah kemarahan Jing.
Dengan keberanian yang ia kumpulan, serta membuang harga dirinya, Fenfjiu mulai membuka pakaian.
__ADS_1
Hingga pakaian itu benar-benar terlepas dari tubuh giok Fengjiu, dan menyisakan pakaian dalam darinya, kaisar Jing mulai menatap wanita itu lagi.
''Bahkan jika pakaian kalian sama, hati dan orangnya jelas berbeda.''
Jing meraih pakaian di tangan Fengjiu, dan berhalan kearah penerangan ruang.
Ia dengan sengaja membakar pakaian tersebut bbb langsung diatas penerangan tersebut, sembari berucap. ''Jangan pernah menyamakan dirimu denganya, ataupun berusaha menjadi dirinya.''
Perkataan Jing dengan serta merta menyadarkan Fengjiu.
Ia menatap lekat kearah pakaian, yang perlahan berubah menjadi tumpukan abu.
Fengjiu mengutuk diri sendiri, karena telah melupakan tentang warna itu.
Sebuah tampilan warna kesukaan, dari sang permaisuri ternyata mampu menarik kemarahan Jing.
''Kau pikir siapa dirimu, sehingga berani mengenakan warna kesukaannya?.''
''Wanita ini bersalah Yang mulia, mohon kemurahan hati paduka.'' Ucap selir Feng, sembari menjatuhkan diri kembali, di atas lantai.
Fenjiu semakin ketakutan dengan pengertiannya sekarang, ia meruntuki diri atas kebodohannya saat ini.
''Mengapa kau begitu bodoh selir?, bangunlah apakah pria ini sekejam itu terhadap wanitanya?.'' Jing.
Ia membatu selirnya berdiri, dan memapahnya kearah sudut ruang.
''Aku tidak sekejam itu, mengapa selir begitu ketakutan.'' Ucapnya lagi.
''Bukan...Paduka bukan orang yang kejam.'' Sahut Fengjiu dengan nada suara bergetar.
''Lalu?.'' Jing.
''Selir bersalah, dan pantas menerima hukuman.'' Ucap Fengjiu lagi.
Ia berharap dengan pengakuannya menyalahkan diri sendiri, kaisar Jing akan melunak dan melepaskannya saat ini.
''Oh...Jadi kau memaksa untuk hukuman?.'' Tanya Jing.
Suara Jing terdengar lebih lebut, bahkan tangan di pundak yang semula mencengkram kini sedikit longgar.
Hati Fengjiu lebih tenang, dan kembali berkata. ''Paduka adalah pria dengan kebijakan, serta memahami kebenaran dengan baik.''
Perkataan Fengjiu di susun sedemikian rupa.
Menyanjung Jing, dengan bait-bait permohonan terselubung, mencari pembebasan untuk kesalahannya.
Namun, yang tidak ia ketahui bahwa sejak awal Jing melangkah kesana, ia telah memutuskan untuk menganiaya dirinya.
Bukan, bahkan sejak ia kembali dipulihkan gelarnya, nyatanya Jing telah memiliki rencana tersendiri untuk dirinya.
Bagaimana mungkin dengan perkataan konyol itu, Jing akan melepaskan Fengjiu. Mustahil.
Mendengar perkataan Fengjiu mata Jing menyipit sejenak, dan melepas tangan di pundak wanita tersebut.
''Kau memang wanita berbudi dan menjunjung keadilan.'' Jing.
''Baiklah, untuk mendukung karaktermu yang berbudi, kau bisa berdiri di sana hingga fajar.'' Lanjut Jing, sebelum melangkah menuju ranjang untuk beristirahat.
__ADS_1
Meninggalkan Fengjiu di ujung ruang, berdiri mematung dengan kebingungan dan sedikit pakaian melekat di tubuh.