
Kali ini Rayyan mengarahkan pukulan cambuk, tepat kearah leher sang jelmaan.
Ia berpikir dengan cara ini setidaknya binatang itu, akan berhenti melolong untuk memanggil kawanan.
Dan di sisi lain, Jiang jing wei yang mendengar seruan dari Rayyan, memahami arah ucapan tersebut.
Dengan cepat, Jing melesat kearah Jingyun seraya mengayunkan pedang.
Jiang jing wei berharap, bahwa kali ini dengan titik sasaran yang sama, serta kekuatan keduanya yang tergabung akan dapat menumbangkan Jingyun.
''Mati kau...'' Pekik Jing wei dengan suara keras.
''Boooom....blaaar...boom...''
Kedua serangan mengarah kearah yang sama, dengan kekuatan yang cukup besar.
Akan tetapi, sungguh di luar dugaan kedua serangan bukan hanya tak menyentuh tubuh Jingyun.
Justru saling berbenturan, dan menciptakan sebuah gemuruh ledakan, dengan suara cukup keras.
''Zeblaaaar....jeblaar...booom.''
Pendaran kekuatan menghempaskan tubuh keduanya, dan juga berimabas bagi hampir sebagian orang yang berada dalam jarak dekat dari pertarungan.
Yang lebih mengejutkan lagi, tubuh dari serigala jelmaan disana, menjadi transparan.
Seolah kejadian itu, memang telah sengaja di rencanakan oleh mahkluk Jingyun.
Tubuh Jing dan Rayyan terpental lumayan jauh.
Baik Jing, ataupun Rayyan yang terlempar, memuntahkan darah segar dari bibirnya.
''Yang mulia....'' Pekik hampir semua orang, penuh kekhawatiran.
Menyaksikan hal tersebut, Jendral besar Feng, Song yesu, dan Wuhan segera berlari kearah Jing, sembari meneriakan namanya dengan wajah kecemasan.
Dan beberapa prajurit bayangan yang masih mampu berdiri, segera membentuk barikade lingkaran pelindung untuk Jing.
''Yang mulia....''
Sementara Rayyan yang terpental tak jauh dari tempat Yongyu, segera memperoleh bantuan dari pria tersebut.
Meskipun, tubuh Yongyu tengah terluka, akan tetapi melihat sahabat dari sang adik yang demikian, ia tetap berusaha datang membantu.
''Jangan membuat adikku sedih dengan kematianmu.'' Yongyu.
Ucapan pemuda itu memang mengejutkan bagi sebagian orang, akan tetapi tidak untuk Rayyan.
Ia tahu dengan jelas, bahwa pemuda tersebut tak memiliki maksud buruk dalam ucapannya.
Hanya saja, ia masih tetap merasa jengkel dengan mendengar nada kasar perkataan itu.
''Bodoh...'' Jawab Rayyan singkat, sembari meraih uluran tangan Yongyu, untuk membantunya berdiri.
''Aku bukan seseorang yang memiliki sedikit kemampuan, dan berlagak hebat.'' Sahut Rayyan sarkas.
Dan Yongyu hanya merespon perkataan tersebut, dengan tatapan singkat.
''Apakah tak ada cara lain untuk membunuhnya?.'' Yongyu.
__ADS_1
Rayyan hanya menggelengkan kepala perlahan.
Entah itu bermakna tidak untuk jawaban atas pertanyaan dari Yongyu, ataukah ia bermaksud mengatakan dirinya tidak tahu.
Yang jelas, Yongyu menjadi pesimis melihat gerakan dari pria Rayyan.
''Apakah Ruoer juga tidak bisa mengalahkannya?.''
Yongyu hendak menanyakannya kepada Rayyan.
Akan tetapi, suaranya tercekat di tenggorokan, ketika ia mengingat kondisi dari sang adik saat ini.
Ia tak akan mungkin, membiarkan Ziaruo mengahadapi mahkluk buruk di depannya saat ini, dan berkemungkinan untuk terluka.
Lebih baik, ia saja bersama yang lain disana meskipun, harus berakhir dengan kemungkinan buruk.
''...Aaawwwwwwuuuuooooo....''
Sebuah lolongan panjang, dengan kengerian yang membangkitkan bulu kuduk pada semua orang, terdengar nyaring serta keras.
Mahkluk jelmaan di hadapan mereka, berdiri kokoh dan melengkingkan kenyaringan kuat, kearah langit malam.
Jiang jing wei, Rayyan dan hampir semua orang mengetahui makna dari tindakan jelmaan tersebut.
Dan dalam hitungan detik saja, arena pertempuran telah dipenuhi dengan mahkluk- mahkluk menyerupai anjing, dalam kehidupan keseharian mereka.
Akan tetapi, dari sorot mata, serta taring pada mulut yang terlihat menampilkan perbedaan cukup besar.
Mata-mata itu seolah tengah menangkap jiwa-jiwa disana, dan taring- taring pada moncong itu, seakan memang dipersiapkan untuk ukuran dari tubuh, daging dan tulang mereka.
''Kali ini kita pasti mati.'' Ucap salah satu orang dengan reflek.
Namun, ditengah keheningan malam yang mencekam, serta letakutan yang besar, nyatanya perkataan tersebut ibarat sebuah senjata pemangkas nyali, untuk semua orang yang mendengarnya.
''Habislah kita..'' Sahut pria lainnya, sembari tersimpuh di tanah.
Ia seakan telah kehilangan harapan untuk selamat, kakinya melemas atas ketakutan besar di hati.
''Kalian adalah prajurit, kesatria pelindung negri ini, mengapa begitu kecil nyali kalian.''
Song yisu geram atas perkataan, serta ketakutan dari pria disana, yang pada kenyataannya adalah prajurit dari pasukan dibawah komando miliknya sendiri.
Meskipun jika boleh jujur, dalam hati Song yisu juga tengah merasakan kengerian dari pihak lawan.
Bahkan, jendral muda itu juga sempat berpikir pesimis, ketika melihat jumlah jelmaan disana yang hampir mencapai ratusan itu.
Namun, mendengar ucapan yang melemahkan semangat prajurit lainnya, ia menjadi geram.
''Jika kalian menyerah sekarang, apakah kalian yakin mahkluk-mahkluk itu tidak akan datang kepada anak istri kalian.'' Song yisu.
''Bangun dan lawan sekuat tenaga, atau mati dengan tanpa integritas, pilih jalan kalian masing-masing.''
''Akan tetapi, kalian boleh pastikan, jika kali ini kami mampu mengalahkan mereka, maka aku sendiri yang akan mengambil nyawa kalian.''
Ucapan Song yisu menggema dengan lantang.
Dan semua orang memahami, bahwa ancaman itu di tujukan untuk semua prajurit, yang memutuskan untuk menyerah.
Mendengar perkataan tersebut, semua yang hendak menyerah dengan cepat menegaskan, akan sekuat tenaga berusaha melawan.
__ADS_1
Toh, pada akhirnya mereka akan mati.
Mereka berpikir mungkin dengan melawan, setidaknya masih memiliki sedikit harapan untuk hidup.
''Maafkan kami jendral, kami bersalah.'' Ucap beberapa diantaranya.
''Bagus.'' Sahut Song yisu tegas.
Dirinya juga menyadari, bahwa ketakutan disaat ini memanglah besar, bahkan ia sendiri juga merasakan hal tersebut.
Namun, akankah ketakutan itu membantu disaat seperti sekarang?.
Berjuang dan berjuang hanya itu yang dapat dilakukan.
''Yang mulia, apakah anda masih dapat bertahan?, sebaiknya paduka segera menjauh dari sini.'' Song yisu.
Pemuda tersebut mengatakan apa yang ada di benak.
Baginya kelangsungan negri Zing, berpusat pada sang kaisar.-
Dan untuk prajurit seperti dirinya dan yang lain, akan ada serta datang lagi di kemudian hari, selama negri Zing mereka masih terjaga.
Dan pikiran serta pemahaman dari Song yisu, dipahami hampir semua pengikut Jing disana.
Jiang jing wei merasa tersentuh, dan bangga akan perkataan, serta kesetiaan dari mereka.
''Apakah Zing masih sebuah kekaisaran tanpa kalian?, jika memang harus berakhir disini maka biarkan raja ini bersama kalian hingga akhir.'' Sahut Jing dengan raut wajah tegas.
''Hahahaha...bahkan kalian masih saling mendukung..bagus...bagus, aku sungguh tersentuh.''
Jelmaan Jingyun melangkah maju, ia berdiri paling depan diantara para mahkluk serigala disana.
Dan tampak empat mahkluk lainnya, yang lebih menyerupai dirinya dalam sosok manusia tak sempurna, berjalan dan berdiri berjajar dengan Jingyun.
''Oleh karena itu, aku akan tetap menyatukan kalian didalam perut klan milikku secara bersamaan, bagaimana bukankah itu bagus?.'' Lanjut Jingyun lagi.
''Kalian semua berpestalah malam ini, sisakan dia dan dia untukku.'' Ucap Jingyun jelmaan, sembari mengarahkan jari kearah Jiang jing wei dan Rayyan.
Ia ingin mengahadapi keduanya sendiri.
Atau lebih tepatnya memakan jantung, dan hati kedua orang tersebut.
Jingyun menyadari bahwa dari keduanya, ia menangkap kekuatan yang di miliki kaum dari suku awan.
Ia juga berpikir dengan darah, jantung, serta hati keduanya, maka kemampuan yang di miliki akan meningkat dengan cepat.
Dan pemikiran itu tidak salah sama sekali, khususnya untuk Rayyan.
Pria tersebut, memanglah salah satu orang yang berasal dari suku Awan.
Bagi orang-orang dengan kultivasi tinggi, serta keinginan memiliki kehidupan abadi, taka akan melepas Rayyan dngan mudah.
Dan bahkan mungkin akan segera melakukan perburuan untuk darah, daging di tubuh itu.
Akan tetapi, untuk Jiang jing wei ia adalah manusia biasa pada umumpnya.
Namun dengan kelahiran yang istimewa, jantung yang berdetak milik pangeran kegelapan ditubuh itu, serta senjata magis Dragon sword, menjadikan sang jelmaan mengaitkan dirinya, dengan suku Awan.
''Jika ada yang menyentuh keduanya, maka aku sendiri yang akan membunuhmu.'' Lanjut Jingyun lagi.
__ADS_1