Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 237. Menyesal.


__ADS_3

Dan ketika tubuh tersebut sedikit menunjukan gerak, Jiang Jing wei kembali mengeratkan pelukan, sembari berbisik lirih di telinga Ziaruo. ''Tidurlah lagi...hari masih siang, jangan pikirkan apapun.''


Ketika perkataan tersebut sampai di telinga Ziaruo, wanita itu merasakan sebuah ketenangan yang telah lama di rindukan.


Namun, saat mata itu terpejam, kegundahan mulai menyelimuti.


Kejadian beberapa bulan yang lalu di kekaisaran Zing, kembali melintas di benak


Ingatan itu masih jelas dalam pikiran, bahwa pria yang kini mendekapnya erat, adalah sosok ketampanan Flamboyan, yang di kelilingi banyak kecantikan di harem istana miliknya sekarang.


Mengingat hal tersrbut, mata coklatnya terbuka perlahan.


Dengan posisi yang masih sama, dalam kehangatan pelukan Jing yang berada di belakang tubuhnya, hati Ziaruo merasakan ketidak nyamanan.


Ia hanya diam dan tak bergeming, pikiran itu mulai beriak dengan gambaran yang tak jelas.


Akan tetapi, dengan pemahaman yang melekat di tubuh itu, ia berusaha kembali tenang.


Bagaimanapun Jing tetaplah seorang pria dengan tubuh sehat, serta kebutuhan biologis.


Dan mengingat statusnya yang istimewa, mana mungkin ia akan bertahan tanpa seorang wanita di sisinya, untuk kurun waktu itu.


Memahami dan berdamai dengan kenyataan itu, adalah suatu sisi yang bertolak belakang.


Wanita manapun, akan setuju bahwa segalanya memang mudah di ucapkan, namun sulit untuk di lakukan.


Entah itu sengaja ataupun tidak, Ziaruo bergerak menjauh dari tubuh Jing dengan perlahan.


Ia ingin membawa tubuh polosnya menghilang dari sana, dan tak terjangkau oleh tubuh pria itu dalam sekejap.


Namun, tarikan serta pelukan dari sepasang tangan kokoh dari belakang, kembali membawanya ke dalam hangatnya sentuhan dada bidang.


''Tidurlah...''


Suara itu masih terdengar dalam dan lembut, layaknya rayuan kekasih yang mengalunkan perasaan yang mendalam.


Dengan tanpa menyadari, sebuah keengganan akibat kilas kenangan yang mengusik tak nyaman, untuk tubuh di bawah pelukan.


Ziaruo masih meringkuk dalam dekapan Jing. Bagaimanapun ia berusaha untuk menjauhkan diri, tubuh di belakangnya tak mengijinkan itu terjadi.


''Bagaimana keadaan istana selama kepergian saya Baginda?.''


Pada akhirnya pertanyaan itu meluncur, sebagai pengalih kegagalan menjauh dari Jing.


Namun, di detik berikutnya Ziaruo menyesali apa yang telah ia ucapkan.


Ia merasa seperti istri tua, yang berusaha menyelidiki sang suami, atas aktifitasnya bersama wanita-wanita lain.

__ADS_1


Saat ini, ada keinginan besar untuk memukul bibir bodoh, dan otak kecilnya seketika itu juga, serta mencari lubang untuk bersembunyi.


Ziaruo benar-benar merasa malu atas perkataan sendiri, yang di rasa kurang rasional.


Akan tetapi, tidak dengan wajah di atas kepalanya, yang secara reflek menampilkan senyuman kecil.


Dalam benak dan hati Jing, ada kebahagiaan untuk pertanyaan tersebut.


Sang istri, tengah cemburu untuk dirinya.


Namun, senyum itu tak bertahan lama ketika ia kembali mendengar apa yang di ucapkan oleh tubuh dalam dekapan.


''Saat itu...Saya berpikir sesuatu tengah terjadi kepada Anda, dan dengan buru-buru wanita ini kembali.''


Suara Ziaruo tampak biasa, ketika mengucapkan hal tersebut. Seolah, tak ada yang aneh untuk ucapan tersebut.


Namun berbeda dengan Jing.


Pria nomer satu di kekaisaran Zing itu, berusaha mengingat serta memahami arti dari ucapan sang istri, sembari mengulang kata "saat itu" di benaknya.


Namun, sebelum ia bisa mengingat kapan dan dimana terfokus titik untuk kata tersebut, sebuah perkataan lain terdengar lagi.


''Tapi untunglah...Baginda baik-baik saja, serta dalam suasana hati bahagia untuk menerima banyak selir baru.''


Zeeeeblaaaarrrr....


Matanya membulat penuh, dan dalam darahnya yang mengalir seolah ada hawa panas ketakutan yang menguasai.


"Ia kembali saat aku memilih para selir?.'' Ucapnya dalam diam.''


Jing seakan membeku seketika.


Dan entah karena dorongan hati yang takut kehilangan, atau karena reflek atas keterkejutan yang ia dapatkan, pergelangan tangan Jing semakin kuat memeluk tubuh Ziaruo.


''Tapi aku tak pernah sekalipun menyentuh mereka Yun, itu hanya untuk tampilan saja.''


Jing ingin mengucapkan pembelaan tersebut. Agar wanita dalam dekapannya saat ini, tidak memiliki kesalahpahaman terhadap dirinya.


Akan tetapi, suara itu tak dapat meluncur keluar dengan mudah.


Seolah ada dinding kuat yang tiba-tiba terbentuk, pada pangkal tenggorokan.


Sementara itu, suara di bawah sana terjeda sejenak, seakan tengah mengatur suatu ritme yang akan meluap.


Dan Jing telah menebak, bahwa hati sang istri saat itu dan sekarang ini, sedang dalam suasana yang gundah dan kecewa.


Jing telah menyebabkan Ziaruo-nya kecewa.

__ADS_1


Pernyataan itu, tergaris cepat dalam pikiran Jiang Jing wei.


Ia ingin menjelaskan apapun itu dengan benar. Namun belum sempat suaranya terucap, lagi-lagi perkataan lain dari dalam pelukannya kembali mengalir.


''Dan dengan bodohnya, wanita ini kembali ke Yincang, tanpa menyapa Baginda terlebih dahulu.''


Ziaruo melanjutkan perkataan dengan suara pelan serta sedikit berat.


Di sana, wanita itu mungkin terdengar seolah menyalahkan diri sendiri. Namun pada kenyataannya, ucapan tersebut berbaur dengan sebuah kekecewaan yang besar terhadap dirinya.


Ketika Jing mendengar perkataan itu, hati dan jiwanya meronta dengan rasa bercampur aduk.


Ziaruo telah salah paham untuk kejadian tersebut. Dan yang lebih buruknya lagi, ia bersedih dan kecewa di hari itu.


Ada kemelut hebat yang mengetuk keras di hati Jiang Jing wei.


Kegundahan serta penyesalan, atas gambaran peristiwa di hari pemilihan selir, seakan tengah merobek jantungnya detik ini.


Jing masih terdiam, ia tengah mengatur ketenangan hati untuk merangkai kata terbaik, dan menjelaskan apa yang terjadi.


Namun, sebuah perkataan lain ia dengar kembali.


Dan tentu saja, hal itu semakin membuatnya cemas serta takut.


''Jika boleh jujur....Di hari itu ada perasaan tak nyaman yang hebat di hati wanita ini. Oleh karenanya, saya kembali tanpa menyapa Paduka.''


''Tidak Yun....'' Sahutnya reflek, dengan tangan dan suara yang bergetar. Jing semakin mengeratkan pelukan, dan hanya mampu mengucapkan bait pendek tersebut.


Sebab, Ziaruo masih melanjutkan perkataannya, seakan ia tak mendengar perkataan Jiang Jing wei barusan.


''Hanya saja, untuk menenangkan hati ini sedikit membutuhkan waktu agak lama.


Jadi bisakah paduka memaafkan, karena wanita ini telah menutup cermin air bulan?.''


Ziaruo memang tak lagi membuka cermin air bulan, untuk dua bulan berikutnya, setelah kejadian hari itu.


Namun, pada bulan ketiga ia ingin pria di sana menjelaskan, tentang kehadiran selir baru di istana dalam kekaisaran Zing.


Dalam hati ia masih mengingat, serta meyakini tentang janji diantara mereka.


Bahwa Jiang Jing wei tak akan menyentuh wanita manapun di istana dalam, dan tak akan lagi menambah jumlah mereka kedepannya.


Akan tetapi, di saat itu Jing masih mengunci rapat Cermin air bulan dalam sebuah peti.


Sehingga yang terpampang dalam tampilan cermin air di Yincang, hanya kegelapan tanpa kehadiran tampilan sosok yang ingin ia temui.


Ziaruo kecewa dan mengambil kesimpulan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2