
Dibalik setiap kegelapan, pasti ada pengharapan akan cahaya mendekat.
Seperti malam yang memendam kerinduan akan bintang bintang di langit gelapnya.
Layaknya, sebuah relung hati yang mengubur penderitaan, ia akan tetap menyisakan sebuah kenangan, meskipun hanya sebuah luka.
Karena tak selamanya hitam adalah sebuah keburukan, begitupun kepedihan dan luka tak selalu sebuah penyiksaan.
Terkadang kegelapanlah yang menuntun kita menemukan cahaya, meskipun hanya sebuah titik saja.
Dan bahkan, karena sebuah luka serta kepedihan, kita mampu menghargai hal kecil yang tampak biasa sebelumnya.
Mungkin hanya dengan kegelapan dalam hidup, kita akan menghargai terang yang menyapa, mungkin dengan kepedihan akan luka, kita menjadi diri yang bijak dan bersiaga.
Segalanya adalah bagaimana kita menyikapi keadaan, karena semuanya adalah warna warna pembentuk kehidupan.
Tanpa gelap, tak akan ada perbedaan antara siang dan malam, begitupun juga tanpa luka dan penderitaan, bagaimana kita memahami arti kesedihan serta kebahagian.
Kaisar Murongxu mulai mengerti akan hal itu, ia mulai memahami akan kesakitan yang pernah ia timbulkan untuk orang lain.
Dirinya dengan kekuatan, kekuasaan, kekayaan serta kemampuan luar biasanya, selalu melakukan apapun sesuai keinginan dihati.
Sekalipun ia tak pernah memikirkan akan perasaan orang lain, sedikitpun tak pernah terlintas kepedulian tentang pemikiran tentang tindakannya, dari mereka di sekitarnya.
Baginya, segalanya tentang dirinya, hatinya, serta kebahagiannya.
Bahkan, mengingat segala hal yang telah ia lakukan untuk Ziaruo sang permaisuri, ia kini mengerti.
Meskipun segalanya untuk wanita tercintanya, namun apakah itu yang di inginkan oleh wanita itu?, apakah segalanya sesuai dengan hati sang permaisuri.
Dalam kebingungan serta awal pemahaman, segalanya mulai terasa salah.
''Tidak....aku tidak salah, semuanya untuk dirinya, aku melakukan segalanya untuk melindunginya, dari orang orang dengan pikiran serta niat ko**r itu." Gumamnya lirih.
Bibirnya meluncurkan sebuah kepastian, namun ia memahami hatinya yang mulai mengerti, menyangkal segalanya.
Ada gundah disana yang kian membesar.
Di dalam kegusarannya ia kembali bergumam. ''Ruoer...apakah selama ini kau tersiksa bersamaku.''
Murongxu bangkit dari tidurnya, dan duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Ia mengingat kembali setiap tindakan, yang pernah ia lakukan untuk menjaga sang permaisuri.
Sejak awal hingga, berakhir dengan menerima hukuman dari Baixio, ia mulai bimbang.
Setiap tindakannya memang untuk Ziaruo, bahkan ia rela melakukan apapun untuk wanita tersebut, namun mengapa pada kenyataannya justru menyakiti sang permaisuri.
Ia mengingat setiap tindakan yang di lakukan oleh sang permaisuri, baik itu sekedar meminta maaf kepada orang lain secara diam diam( tanpa sepengetahuannya, meskipun pada akhirnya Murongxu tahu, dari penjaga bayangan), hingga merasakan kesedihan dan di hukum oleh sang Guru.
Semuanya akibat dirinya yang terlalu egois, memaksakan pemikiran pribadinya, mengambil keputusan tanpa pertimbangan dari sang permaisuri, bahkan terkadang tanpa mengetahui kebenaran dari yang bersangkutan(Ziaruo).
''Ternyata semua menyakitimu, dan aku yang selalu mengatakan ketulusan hati ini, justru akulah yang paling melukaimu.'' Lanjutnya lagi, kali ini jelas terdengar suara penuh penyesalan dari bibirnya.
Murongxu di tengah keterpurukannya, menyadari setiap kesalahan yang ia perbuat.
Di tengah titik terendah kehidupannya di dunia fana, ia menemukan tangga penghubung hati dan pengertian diri tentang wanitanya.
Di tengah kegelapan takdirnya sekarang, Murongxu menemukan titik terang, yang menerobos relung hati terdalam.
Ia menyadari segalanya tidaklah selalu tentang ia dan Ziaruo saja, di sana masih ada banyak hati, serta perasaan selain milik mereka.
Dan di dalam hati bukan hanya tentang cinta, serta kasih wanita dan pria saja.
Murongxu mulai memahami makna dari kasih sayang dengan berbagai makna.
Cinta Wangde dengan kepatuhan dan kepedulian, tanpa mengharap balasan yang sama.
Kasih sayang pelayan toko Wenxing, berawal sebagai penghormatan serta ucapan terimakasih atas bantuan yang di berikan.
Semuanya memiliki alasan serta caranya sendiri, namun satu hal yang pasti, tak ada diantara mereka yang akan menolak, jika diminta berkorban untuk permaisurinya.
Mengingat hal itu, Murongxu merasa ada sesuatu yang kini tengah menekan kuat hatinya, ia kembali mengingat, entah sudah berapa banyak tangannya mengambil kehidupan orang orang seperti mereka.
Dengan kepribadian sang permaisuri, yang ringan tangan membantu orang lain, serta penuh ketulusan, tentu saja akan banyak orang yang memberikan kepedulian untuk wanita tersebut.
Bukankah ia dulu mencintai Ziaruo juga karena kebaikan serta letulusannya.
Perasaan kebencian untuk dirinya sendiri mulai menampakan kuncup daun di hatinya. Mengakar perlahan seiring setiap ingatan yang telah ia lakukan di kehidupan terdahulu.
Dengan menekan dadanya kuat, ia kembali bergumam. ''Ruoer...apakah kau malu dan tersiksa bersamaku dulu?.''
Tampak jelas gambaran penyesalan di mata pria tersebut, dengan mata yang mulai berkaca kaca, ia kembali berucap lirih. ''Aku sungguh tak menyadari segalanya, aku sungguh tidak mengerti tentang semuanya.''
__ADS_1
''Apakah kau memilihnya(Jiang jing wei) karena kebodohanku?, apakah kau tak ingin kembali bersamaku lagi Ruoer?.'' Lanjut Murong dengan suara menyedihkan.
Semakin ia mengingat setiap tindakannya, semakin kecil kepercayaan diri yang ia miliki.
Hatinya merasakan kegundahan, penyesalan, serta ketakutan.
Bagi Murongxu yang hebat, ini adalah kali pertamanya merasakan hal itu, ia mungkin akan memilih terluka di tubuhnya dengan ribuan bilah bilah pedang, di banding merasakan perasaan seperti sekarang.
Sebuah perasaan bersalah, menyesal, sekaligus perasaan malu yang bercampur aduk, dengan rasa takut kehilangan sang permaisuri untuk selamanya.
Seolah meluruhkan semua kesombongan, serta kearogannannya selama ini.
Namun, siapakah yang akan mampu melukainya, hingga ribuan luka pedang di tubuh sang kaisar Awan, hal itu tidaklah mungkin akan terjadi.
Dia adalah salah satu kaisar dengan kemampuan tak tertandingi, pria dengan penyembuhan pada lukanya dengan keajaiban dewa.
Bahkan Baixio, sang Guru yang memiliki gelar titisan dewa agungpun, belum tentu mampu melakukannya.
Murongxu adalah sosok yang di takuti, oleh seluruh penghuni keempat kekaisaran Awan.
Oleh karena hal tersebutlah, tak ada yang pernah menegur ataupun menyatakan ketidak puasan, atas setiap tindakannya.
Dan hal itu, menjadikan ia sebagai sosok seperti yang sekarang.
Tanpa terasa, air matanya meleleh membasahi pipi.
''Aku...tak menyangka, bahwa semuanya akan seperti ini, aku hanya ingin membahagiakanmu, menjaga dan melindungimu Ruoer, aku tidak tahu bahwa semuanya seburuk ini.'' Ucap Murongxu dengan tangisan yang tak lagi ia tahan.
............................
Sementara itu, di dalam sebuah kereta, yang kini tengah bergerak semakin menjauhi, perbatasan timur kekaisaran Xili.
Seorang wanita dengan mata yang berkaca kaca, tengah merasakan kepedihan di dalam hatinya, ada kegetiran pada wajah cantik yang kini tengah bersanding, bersama seorang pria disana.
Ziaruo mendengar setiap kepiluan dari sang kaisar Awan, ia juga memahami apa yang tengah terjadi di Nancang.
Sejujurnya, ia ingin pergi dan menjumpai pria tersebut. Namun ia segera mengurungkan niatnya.
Ziaruo mengerti dan tahu benar, bahwa di kehidupan ini, tak ada penyatuan diantara keduanya.
Takdir tak berpihak kepada dirinya dan Murongxu.
__ADS_1
Dan sekarang ia juga istri dari pria yang kini tengah tertidur sembari meletakan kepala, di atas pangkuannya.
Dengan bulir bening di pipi, ia menengadah menatap langit langit kereta, dan bergumam dalam hati. ''Mengapa begitu lama anda menyadarinya?, mengapa harus menunggu hingga terbentang jarak panjang diantara kita?.''