
''Ciklak...ciklak...ciklak..''
Suara tapak kaki kereta kuda memecah keheningan malam. Ringkik kuda yang mendapat tarikan sedikit kuat, terdengar memekik di antara kesenyapan.
Seorang kusir dengan bergegas, menarik tali kekang kereta ketika, ia telah sampai di sebuah kediaman.
''Yang Mulia...kita sudah sampai di kediaman Gu.'' Ucap sang pria dengan penuh penghormatan.
''Baiklah...kau tetap disini, bersama yang lain, kami hanya sebentar.'' Jawab seorang pria yang baru saja turun, dari dalam kereta.
..............................
Kaisar Jiang Zing wei menatap wajah permaisuri Yun lekat, ia berfikir bahwa dirinya masih bermimpi memiliki wanita itu sekarang.
Bahkan, ia tak dapat mengukirkan, sebesar apa kebahagiaan yang kini ia miliki, setelah mengetahui wanita tersebut tengah mengandung keturunan keluarga kekaisaran Zing.
Di dalam pelukannya yang hangat, Ziaruo terlelap.
Sejak ia hamil, wanita itu mudah sekali tertidur dan cepat lelah.
Dan dengan ayunan langkah kereta kuda, yang kini tengah membawa tubuh keduanya menuju ke kediaman keluarga Gu, wanita itu semakin sulit untuk membuka mata.
Di tengah gejolak, dan kericuhan yang terjadi di kekaisaran Tang, sesungguhnya Jiang jing wei enggan membawa sang permaisuri, menemui Jendral Gu.
Akan tetapi, karena ia telah berjanji kepada Ziaruo, maka dengan setengah berat hati, Jing memenuhi perkataan yang telah ia ucapkan.
''Tidurlah lagi, jangan khawatir kita pasti akan tiba di kediaman Gu.'' Ucap Jing, ketika melihat sang istri membuka matanya.
Ia mengerti makna dari tatapan wanita tersebut, ketika melirik arah luar kereta begitu ia terbangun.
Seakan, sang istri tengah memastikan, arah dan tujuan laju kereta kuda.
''Aku tahu, anda pasti menepati janji.'' Jawab Ziaruo sembari menyematkan senyum lembut, untuk sang suami.
Ziaruo merasa bahwa dengan tatapan mata itu, sang suami tengah mendikte pemikirannya.
''Oh ya, dimana dia?.'' Tanya Ziaruo.
Mendengar sang istri bertanya dengan nada lembut, Jing tak dapat menolak dan menjawab malas. ''Di kereta belakang.''
''Mungkin membutuhkan 2 hari lagi baginya untuk sadar.'' Lanjut Jing lagi.
Mendengar jawaban tersebut, Ziaruo mengusap pelan pipi sang suami. ''Terimakasih..''
''Sudah...tidurlah lagi, masih seperlima batang dupa lagi, kita sampai di kediaman lama keluarga Gu.'' Sambung pria tersebut, sambil mengeratkan pelukannya kembali, pada tubuh Ziaruo.
''Jangan melakukan apapun untuk wanita itu, aku yang akan menyelesaikan segalanya.'' Jing mengatakan, apa yang ingin ia ucapkan.
Baginya, apapun itu jika bersangkutan dengan pria didalam kehidupan sang permaisuri tercintanya, ia tetap akan merasa jengkel.
__ADS_1
Meskipun keberadaan sang pria, yang kini telah berada di alam kematian.
Xiaruo memahami arah pembicaraan Jing, dan menjawab. ''Baik...wanita ini akan patuh kepada anda.''
Ucapan dengan gelayut manja milik sang istri, seolah minta untuk di manjakan, selalu mampu membuat kaisar Jing kelabakan. Dan wanita itu tahu, bahwa Jing suaminya tak dapat berkutik dengan jurus tersebut.
''Kau...selalu tahu bagaimana memenangkan segalanya.'' Gerutu Jing, dengan ekspresi di setel kesal.
Ziaruo tersenyum, sebelum akhirnya ia kembali merebahkan kepala, di atas pangkuan sang suami.
Mencari kenyamanan, dengan kasih sayang tulus pria yang kini menjadi suaminya itu.
''Aku menyayangimu, bahkan melebihi diriku sendiri.'' Ucap Jing dalam diam, yang terdengar oleh Ziaruo. Sebuah ketulusan yang semakin membawa wanita itu, dalam kebahagiaan tidurnya.
Ziaruo terlelap diatas pangkuan sang suami. Dibalik segalanya, Ia merasa beruntung, atas kasih sayang yang ia terima dari Jing.
Namun, Ziaruo juga masih bimbang, dengan apa yang akan terjadi kedepannya.
Kehamilan yang membutuhkan 9 bulan, dengan waktu yang semakin menipis untuknya.
Dibalik senyum lembut dan tenang Ziaruo, akhir kisahnya, serta ketidak pastian tengah ia pertanyakan.
Ia tak ingin membebani pikiran Jing, dengan sesuatu yang tidak ia ketahui jawabannya.
Diam dan memendamnya, akan jauh lebih baik menurut wanita tersebut. Dan berpura-pura sewajar mungkin akan tetap ia lakukan.
''Tidurlah, apa yang kau pikirkan?.'' Suara lembut Jiang jing wei, menghentikan kebingungan yang tengah ia pikirkan.
Ia melupakan bahwa disana juga ada Jing, yang sangat mencintainya.
Seorang suami dengan keturunan, yang kini tumbuh dan menyatu ditubuh manusia miliknya.
Mata coklat Ziaruo, menatap lekat tepat kearah manik mata Jing.
Dengan ragu, ia membuka mulut dan bertanya. ''Apakah anda akan bahagia ketika ia lahir nanti?.''
Jing mengernyitkan kening mendengar pertanyaan dari Ziaruo.
''Apa maksudmu?, tentu saja Pria ini bahagia.'' Jawabnya reflek.
Jing tidak percaya, bahwa Ziaruo menanyakan hal ynag menurutnya konyol.
''Aku adalah orang yang paling beruntung, bahkan setelah tubuhku berinteraksi dengan racun bod*h itu, masih dapat memiliki keturunan. Apa lagi yang lebih kuinginkan Yun?.'' Lanjutnya lagi.
Mendengar ketulusan serta kejujuran teraebut, Ziaruo mendudukan tubuhnya, ia kembali menatap lekat wajah itu.
''Aku mengerti.'' Ziaruo.
''Aku hanya ingin anda mengingat perasaan ini selamanya.'' Ucap Ziaruo penuh makna.
__ADS_1
Jing menggeser tubuh perlahan, membawa kehangatan miliknya untuk Ziaruo.
''Aku akan selalu mengingat hal itu, bahkan apapun tentangmu aku tak akan melupakannya.'' Jawab Jing apa adanya.
Mendengar hal itu, Ziaruo yang ingin mengatakan segala kebenaran tentang takdir kedepannya, kembali bungkam.
Semua ucapan yang telah ia susun lama, hanya berhenti hingga di pangkal tenggorokan.
''Bagaimana aku bisa menyakiti anda hingga demikian.'' Hanya perkataan itu, yang terlepas di bibir Ziaruo.
Jing meraih dagu sang istri lembut, membawanya hingga wajah itu lekat kearah wajahnya.
''Kau tidak menyakitiku sama sekali, justru bersamamu adalah kebahagian untukku yun.''
Ziaruo meringsekan tubuhnya semakin masuk kedalam pelukan kaisar Zing. ''Jika suatu hari nanti, wanita ini menyakiti an..''
Ucapan wanita itu tak dapat terselesaikan, Jiang jing wei menutup bibir Ziaruo, dengan bibirnya sejenak.
'' Tidak akan.. Yun-ku tak akan pernah menyakiti pria ini. Bahkan, jikapun aku kecewa dan merasakan kepahitan, itu pasti karena kaisar inilah, yang kurang mampu menjaganya.'' Sahut kaisar Jing, setelah melepaskan ciumannya.
Ziaruo menunduk mendengar perkataan itu, bahkan hatinya tak dapat lagi ia kontrol.
''Anda suami yang sempurna yang mulia. Namun, kesempurnaan tak pernah bertahan lama, dan dapat dimiliki di dunia ini.'' Ucap Ziaruo lirih.
Mendengar hal itu, Jing terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menjawab. ''Maka kita akan kembali keduniamu Yun.''
Ziaruo tersentak sejenak, ia menatap Jiang jiang wei dengan raut wajah tak terbaca.
''Kenapa?, apa ada yang salah?'' Tanya Jing.
Pria itu menyatakan segalanya dengan spontan.
Jika mimpinya benar, berarti ia juga adalah orang dari dunia Ziaruo sang permaisuri.
Lalu apa salahnya, Jika mereka kembali bersama disana.
''Yun....ada apa?, apa kau tak menginginkan lagi kebersamaan kita?.''
''Jangan bilang kau akan meninggalkanku, dan anak kita Yun.'' Sambung Jing lagi.
Bibir Ziaruo terkatup rapat, ia tak dapat menjawab, apa yang di tanyakan oleh kaisar Zing.
''Aku telah memiliki pernikahan disana, dan disini pernikahan ini adalah salah satu bagian dari takdir ujian, atas kehilangan, dan penderitaan yang akan membawanya kembali, kepada sang suami(Murongxu).''
Karena bagaimanapun, baik dan indahnya pernikahan di dunia ini (khususnya untuk Jing dan Ziaruo) tetap saja, akan terputus, atau berakhir, dengan sebuah perpisahan(kematian).
Ziaruo ingin menjelaskan semuanya kepada Jing. Akan tetapi, melihat wajah, serta ekspresi itu, ia tak dapat mengelurkan suara apapun.
''Jing .....'' Panggilnya sendu.
__ADS_1