Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 159


__ADS_3

Ziaruo ingin menjelaskan semuanya kepada Jing. Akan tetapi, melihat wajah serta ekspresi itu, tenggorokannya tak dapat mengelurkan suara apapun.


''Jing .....'' Panggilnya sendu.


Hanya nama sang suami saja, yang dapat lolos dari bibirnya.


Wanita itu tak dapat berkata-kata, wajah cantiknya memberikan tatapan yang kian sayu.


Seolah tengah menutupi sebuah kenyataan besar, suatu kebenaran yang menyakitkan.


Jing menyadari banyak hal yang tidak ia ketahui tentang sang istri.


Akan tetapi, sejak awal ia telah menetapkan pemikiran, bahwa dirinya akan puas, hanya dengan bisa bersamanya saja.


Menyaksikan hal tersebut,Jing meraih tubuh Ziaruo dan membawa tubuh itu, kedalam dekapan kokoh miliknya, seraya berkata. ''Jika tak ingin mengatakan, jangan ucapkan. Meskipun raja ini ingin mengetahui segalanya, percayalah tidak akan ada yang memaksa permaisuri untuk berbicara.''


Ucapan Jing meluncur begitu saja, seakan tak ada beban apapun di dalam hati, serta pikiran pria tersebut.


Namun pada kenyataannya, baik itu Jing ataupun Ziaruo, keduanya mengetahui apa yang kini tengah di rasakan oleh kaisar Jiang jing wei.


''Yang Mulia...'' Panggil Ziaruo lirih, sembari menyambut pelukan sang suami.


''Terkadang, sesuatu yang menyakitkan jauh lebih bijak tetap tertutup rapat, dan biarkan waktu menguburnya dengan hal-hal baru. Apakah Anda bersedia memaafkan wanita ini, atas kebungkaman sekarang?.''


Ziaruo mengatakan apapun yang terbaik dari yang ia pikirkan.


Namun, pada kenyataannya bagi Jing seburuk apapun, ia ingin mendengar, ataupun mengetahui, serta memahami segalanya tentang wanita itu.


Jing meletakkan dagu diatas pucuk kepala Ziaruo, dan memejamkan mata perlahan. Dengan iringan keheningan dalam ruang kereta, sesungguhnya hati Jing berkecamuk.


Namun sebesar apapun gejolak dan pemikirannya, pria tersebut hanya diam, serta tetap menutup mata.


''Aku ingin mengetahui apapun itu tentang dirimu. Hal baik, buruk, bahkan jikapun itu menyakitkan, aku ingin mengetahui semuanya.'' Gumam dalam diam Jing.


Ia ingin mengatakan semuanya dengan jelas kepada sang istri. Namun, entah apa yang dilakukan oleh kedua bibir bodohnya yang tetap terkatup rapat, dan tidak bergeming sama sekali.


Hingga beberapa saat kemudian. ''Apakah masih belum bisa menerimaku Yun?, Bahkan meskipun hanya sedikit saja.''


Pada akhirnya, Jing mengatakan apa yang sangat ingin ia ketahui. Meskipun demikian, tetap saja terlihat jelas ada keragu-raguan, dalam nada pertanyaan tersebut.


Mendapati wanita itu tidak menyahuti, Jing kembali berucap. ''Aku tahu..bahwa kau melayani keinginan raja ini, semata hanya karena kewajiban seorang istri, dan aku sudah bahagia dengan itu semuanya Yun...''


Jing masih menutup mata ketika ia mengatakan semuanya. Dengan setiap ucapan yang ia utarakan, posisi dagu, serta tubuhnya juga masih sama.


Bahkan pria tersebut, semakin mengeratkan pelukan terhadap tubuh sang istri.


''Yun...'' Panggilnya lembut.


''Jikapun kau tetap tidak bisa menerimaku, itu bukanlah masalah. Biarlah aku saja yang memberikan ketulusan, serta kasih sayang besar untukmu.'' Lanjut Jing lagi.


''Yun...'' Panggilnya lagi.

__ADS_1


''Tetaplah disisiku, bersama putra kita, apa kau bersedia?.'' Tanya Jing lagi.


Tak ada hal yang sangat ia harapkan selain bersama dengan wanita dalam pelukannya sekarang. Baik itu sekarang ataupun di hari-harinya mendatang.


Dalam keseharian Jing, dirinya selalu merasakan ketakutan bahwa di suatu pagi, ketika ia membuka mata dari tidur lelapnya, ia tak dapat menemukan sang istri disampingnya.


Dengan ia mengetahui semakin banyak tentang permaisuri Yun, semakin gelisah dan besar ketakutannya, hal inilah yang menjadikan Ziaruo, bungkam tentang kenyataan serta alasan keduanya bersama.


Ziaruo selalu berusaha menyakinkan, bahwa di kehidupan ini, ia adalah milik Jing. Wanita itu bahkan pernah mengatakan bahwa tak ada seorangpun yang dapat memaksakan sesuatu kepadanya.


Dan memilih dirinya (Jing), adalah mutlak karena keputusan yang ia ambil.


Dan jika Ziaruo telah menentukan, atau memutuskan sesuatu, ia akan melakukan yang terbaik untuk konsisten terhadap pilihannya.


Akan tetapi, sebanyak apapun wanita itu berusaha menjelaskan, pada kenyataan semakin banyak yang di ketahui oleh kaisar Jing, semakin besar pula ketakutan yang ia rasakan.


Oleh karena hal itulah, Ziaruo memutuskan untuk diam serta menyimpan rapat kebenaran tersebut.


Sebuah kenyataan, bahwa dirinya adalah pasangan orang lain di kehidupan immortal nanti.


Dirinya dan Jing hanya berjodoh di kehidupan mortal saat ini saja.


Dan itupun sebagai jawaban karma keburukan dari Murongxu, atas luka yang telah ia berikan di kehidupan terdahulu.


''Yun...Yun..''


Mengetahui tak mendapatkan respon apapun, Jing membuka mata perlahan.


Jing diam sejenak mata tajamnya menatap kearah tirai kereta, yang bergerak meliuk karena hentakan derap kuda, serta tiupan semilir angin malam.


''Tidurlah...dan bermimpilah tentang keindahan impianmu.'' Ucap lirih Jing, sembaru mengecup pelan pucuk kepala Ziaruo.


Pria itu meraih mantel bulu, nenyelimuti tubuh sang istri dengan hati-hati.


Akan tetapi, ia tak menyadari di sana, di dalam dekapan hangat tubuh kekarnya, pada sudut sepasang mata coklat yang tertutup, kini tengah mengalirkan bulir-bulir bening air mata.


''Maafkan aku Jing.'' Gumam dalam diam Ziaruo.


Wanita itu, tidak dapat mengungkapkan apapun, yang kini terdapat dalam pikirannya. Tidak juga bisa, ia meminta maaf atas kesedihan sang suami.


Baginya membuka suara saat ini, akan menimbulkan kesenggangan serta pertanyaan baru lagi diantara keduanya.


Memejamkan mata, dan berpura-pura tidur akan jauh lebih baik.


..........................


Keluarga besar Gu sedang dalam kemelut yang besar, beberapa saat yang lalu seluruh penghuni kediaman Gu, di kejutkan dengan kedatangan jendral tua dalam keadaan kacau.


Pria tua tersebut tampak lusuh, dengan beberapa percikan darah pada bajunya, terdapat luka sayatan di lengan, serta raut wajah yang suram.


''Tuanku...'' Panggil Nyonya Gu, ketika melihat sang suami, memasuki halaman kediaman.

__ADS_1


Wanita itu berjalan cepat kearah suaminya, ketika melihat kondisi pria tua tersebut, yang berbeda dari biasanya.


Dengan hanya melihat sekilas, Nyonya Gu dapat mengetahui, kejanggalan yang terjadi kepada jendral tua Gu.


''Apa yang terjadi, apakah Anda terluka?.'' Tanyanya penuh kecemasan.


Wanita itu meneliti hampir keseluruh tubuh jendral tua Gu, ketika manik matanya terfokus pada lengan sang pria, ia terkejut, seraya berkata. ''Anda terluka...bagaimana bisa?, apa yang terjadi Tuan?.''


''Jangan khawatir aku baik-baik saja.'' Jawab jendral Gu, sembari meraih tangan sang istri, yang bergerak mengabsen tubuhnya, dengan penuh kecemasan.


''Tapi...'' Ucap nyonya Gu.


Wanita paruh baya itu, tak dapat menghilangkan kecemasan pada wajahnya, ia tetap berusaha menelisik seluruh tubuh sang suami, untuk memastikan kebenaran dari ucapan jendral Gu.


''Ayo...bantu aku mengobati lenganku, kita bicara didalam.'' Sahut jendral itu lagi, sembari menggandeng tangan sang istri.


Jendral Gu tak ingin membuat wanita itu mencemaskan dirinya, dan kebetulan ia memang hanya mengalami luka yang ringan pada lengan kanannya saja, akibat sabetan senjata penjaga bayangan kaisar Tang.


Namun, baru beberapa langkah kaki keduanya meninggalkan halaman, seorang prajurit penjaga pintu depan mendekat.


''Hormat jendral, Yang mulia kaisar Zing beserta rombongan telah sampai di...'' Ucapan prajurit penjaga belum sempat terselesaikan, jendral tua Gu melesat cepat kearah pintu masuk kediaman.


Pria tersebut tidak mengindahkan sang istri yang kebingungan, bahkan tidak juga memperdulikan luka di lengan kananya kembali memerah, akibat darah segar yang masih merembes keluar.


''Istriku ayo cepat, orang yang kau tunggu sudah datang.'' Seru jendral Gu antusias.


Mendengar hal itu, Nyonya Gu langsung mengikuti langkah sang suami.


Meskipun, ia tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh pria tersebut.


''Siapa yang datang?, dan siapa yang ku tunggu?.'' Gumamnya dalam pikiran, di sela langkah kakinya mengikuti jendral Gu.


''Hormat hamba Yang Mulia kaisar Zing, hormat hamba permaisuri. Semoga selalu dimuliakan dengan penuh kesejahteraan.''


Sambut jendral Gu, dengan sedikit membungkukan tubuhnya.


Nyonya Gu, yang melihat hal itupun, tanpa di ketahui siapa tamu yang datang, juga ikut melakukan hal yang sama.


''Kaisar Zing?, permaisuri negri Zing?.'' Gumamnya lagi.


Namun kali ini, dengan cepat ia mengangkat wajahnya, menatap lepas kearah depan.


Wanita itu melihat kearah seorang wanita, yang kini tengah berdiri berdampingan dengan seorang pria tampan.


Menyaksikan pemandangan di depannya, dengan secara reflek wanita tua Gu bergumam. ''Permaisuri Zing, Ziaruo.''


Wanita tua Gu menyebut nama lain dari permaisuri, secara langsung. Dan hal itu di dengar dengan baik oleh seluruh orang yang berada di sana.


''Lancang..'' Pekik jendral Gu, menyadarkan sang istri.


Mendengar suara bariton yang sangat ia kenal, Nyonya Gu merasakan lututnya menjadi lemas, seakan tak mampu menopang tubuhnya. ''Hixs..hixs..Tingye..putraku.''

__ADS_1


__ADS_2