
"Terimalah salam hormatku guru.'' Ucap Ziaruo tenang dan lembut, dengan tidak mengurangi rasa hormatnya untuk sang guru.
Untuk permaisuri cantik tersebut, selain kaisar Murongxu, orang yang berharga baginya, adalah guru Baixio.
Hanya guru besar Xio, yang ia anggap serta hormati layaknya orang tua.
Karena, sejak seluruh klan suku bulan suku asli keluarganya dihancurkan, guru besar Xio-lah yang merawat serta mendidiknya.
Sebab itu, meski kini kemampuannya bisa dikatakan sebanding, bahkan mungkin lebih hebat dari sang guru.
Ia tetap menaruh rasa hormat dan patuhnya kepadanya, seperti saat pertama ia dibawa gurunya kesana.
"Aku membawamu kembali, karena sebentar lagi kau akan menjalani ujian kedewian.''
''Dan untuk persiapan, olah kultivasimu selama satu setengah purnama di sini.''
( 45 tahun di dunia manusia ).
''Berkutivasilah di dalam gua Penyucian, dan menetaplah disana hingga kau menemukan sebuah perubahan." Baixio menjelaskan.
"Jika di izinkan, bisakah murid tahu perubahan seperti apakah itu?.'' Tanya Ziaruo, namun tetap dengan posisi yang menunduk penuh hormat.
Dalam perkataan, ia jelas tak banyak berharap bahwa Baixio gurunya, akan bersedia memenuhi keingin tahuannya.
Dan benar adanya.
Ketika mendengar pertanyaan wanita tetsebut, Baixio tak menghentikan langkah.
Ia hanya menjawab pelan, disela langkah kaki meninggalkan muridnya tersebut.
"Pada saat itu terjadi, kau akan mengetahuinya.''
Banyak hal yang Ziaruo pikirkan. Dan salah satunya adalah tentang kehidupan yang baru saja ia jalani.
Pertemuannya dengan seorang pemuda, yang memiliki wajah mirip dengan suaminya.
Serta pertanyaan kebingungan, tentang keberadaannya yang sudah kembali ke Negri Awan lebih awal.
Dan bahkan, tentang tubuh pengganti yang kini masih ia miliki, bukankah seharusnya telah terkubur di dunia sana. Mengapa itu masih melekat pada jiwanya sekarang.
Apakah ujian kehidupan pertamanya sudah terlewati atau belum?, lalu apakah perubahan yang dimaksud oleh gurunya tersebut?.
Namun, dengan diamnya sang guru, semua menjadi misteri baginya.
Dalam hati, ia hanya bisa menghibur diri sendiri.
Bahwa jika memang sudah di takdirkan untuk terkuak, maka tidak akan ada yang dapat disembunyikan.
Ziaruo juga percaya bahwa, segala sesuatu pasti ada waktunya sendiri.
Oleh karena itu dengan langkah tegas dan tanpa ragu, ia masuk kedalam sebuah gua sesuai dengan perintah sang guru.
Ziaruo akan melatih kembali kultivasi, serta tenaga dalam untuk beberapa waktu ditempat tersebut.
Hingga batas yang di tentukan, untuk kembali menjalani ujian selanjutnya.
..........................
Sementara itu.
Disebuah rumah sakit, seorang wanita paruh baya tengah terbaring lemah, dengan selang infus masih menempel pada pergelangan tangan.
Sesekali, bulir bening air mata membasahi pipi putihnya.
Wanita yang tak lain adalah nyonya Ardi, ibu dari Rahartika tersebut memperoleh perawatan disana, sejak 5 hari yang lalu.
Tepat sejak putri tercintanya Ziaruo, dinyatakan meninggal dunia.
*Disaat Yang bersamaan, ketika sang permaisuri kembali masuk ke dalam gua penyucian, di saat itulah Rahartika di dunia manusia moderen meninggal dunia *
Entah karena apa, ujian penderitaan, penghianatan, rasa sakit, serta kegagalan yang seharusnya ia lewati hingga usianya menginjak 26 tahun, sudah berakhir lebih cepat 10 tahun.
Setiap rangkaian ujian( hukuman) baginya, sama sekali belum ia rasakan.
Lebih tepatnya hanya untuk ujian, kelahiran, sakit serta kematian sajalah yang telah ia lewati,
¤( Rasa sakit akibat tubuh pengganti, yang di ciptakan oleh suaminya kaisar Murongxu. karena keegoisan hatinya, yang tak ingin ada orang lain selain dirinya, menyentuh tubuh sang istri. Kaisar Murong rela melepas 30 tahun (waktu dunia Awan )kultivasinya, hanya untuk menciptakan tubuh baru bagi jiwa Ziaruo.
Namum, karena tingkatan ilmu serta kemampuan permaisurinya yang jauh di bawah kemampuannya, maka tubuh tersebut justru menjadi bumerang, dan sumber masalah bagi Ziaruo di dunia moderen (Rahartika).
***Bahkan tanpa ia sadari, tindakannya tersebut merupakan suatu pelanggaran akan hukum langit (suatu kecurangan).
Dan hal itu juga, akan menambah deretan penderitaan bagi*** wanita tersebut.) ¤
Tepat pada usia 16 tahun, Rahartika Rahmawan menutup usia.
__ADS_1
Ranti yang tak kuasa menerima duka, jatuh terkulai tak sadarkan diri.
¤ flash back on ¤
Beberapa saat sebelum kepergian Rahartika.
Rasya tersenyum, melihat wanita yang ia cintai datang mendekat ke arahnya.
Dimana ia sedang duduk di sebuah balkon indah, dengan temaram lampu malam.
Meski demikian, sebuah kejanggalan mengusik hatinya.
Bahkan, ia juga merasa sedih secara tiba-tiba.
Jelas itu berbanding balik, dengan senyum di bibirnya, melihat kedatangan wanita itu.
"Mengapa kau bisa tahu aku ada disini?.'' Tanyanya dengan heran.
Karena gadis tersebut, tiba-tiba saja berada di sana.
Rahartika tak menjawab pertanyaan Rasya, gadis itu hanya tersenyum.
"Bagaimana kau bisa masuk?.''
Tanyanya lagi, masih penuh keheranan.
Rasya, menatap pintu kamar yang berada di belakang Rahartika.
Dan Rasya semakin kebingungan, karena pintu tersebut masih rapat terkunci dari dalam.
Namun lagi-lagi, gadis itu tetap diam dan kembali hanya tersenyum.
Melihat hal tersebut, Rasya buru-buru melongok ke bawah. Seolah tengah mencari sesuatu di bawah sana, dan dari sorot mata tersebut terlihat jelas, bahwa apa yang dia cari tidak di temukan.
"Dengan apa ..maksudku kau naik apa kesini?, siapa yang mengantarkanmu?." Tanyanya lagi.
Kali ini, Rasya memegang kedua pundak gadis tersebut, dan mengharapkan sebuah jawaban.
Namun lagi dan lagi, wanita yang belum lama ini ia akui sebagai satu-satunya orang, yang dapat menarik hatinya tersebut, hanya tersenyum.
Rasya semakin kebingungan.
Namun belum sempat ia mengucapkan sesuatu, Rahartika memeluknya erat, dan menyandarkan kepala pada dada bidang miliknya.
Rasya terdiam mematung. Banyak hal yang tidak dia mengerti, dan banyak hal pula yang mengejutkannya malam ini.
Rasya hanya diam, dia masih dalam keadaan bingungnya.
Akan tetapi, ia seolah familiar dengan panggilan, serta suara lembut dari Rahartika.
Seakan, hal itu ucapan yang sering ia dengar.
"Permaisuri ini sudah menepati janji kita, untuk tidak bersama pria lain" Lanjut wanita itu lagi, dengan posisi masih bersandar pada dada bidang miliknya.
Seolah ada kekuatan yang menghentikan Rasya, serta mengontrol gerak tubuh dan ucapannya, Rasya diam mematung dan tak bergerak.
Meski demikian, hati, fikiran, serta jantungnya, memiliki reaksi tersendiri.
Ia hanya tidak dapat bergerak, ataupun berkata-kata seperti yang ia inginkan.
"Tinggal satu ujian lagi Yang mulia, saya akan menjaga hati dan fikiranku untuk anda, selama paduka melakukan yang sama.''
Wanita Rahartika kembali melanjutkan ucapan.
Wanita itu, menghela nafas pelan sesaat sebelum kembali berkata. ''Bisakah anda juga menjaga hati dan fikiran anda?, hanya pikirkan wanita ini saja suamiku, bisakah itu?.''
Wanita tersebut diam sejenak, sedikit menekan kening kedada bidang Rasya. ''Jangan bertindak ceroboh, saya mohon.''
Rasya masih mematung, dan tak bergeming.
''Karena, wanita ini takut tidak akan dapat memaafkan anda nantinya.''
Perkataan tersebut, tampak tenang serta terdengar lembut.
Namun, seolah memiliki pengaruh yang kuat bagi hatinya.
Ada bulir bening pada ujung mata sang wanita, sebelum akhirnya perlahan melepas pelukan, dengan penuh ke engganan.
Wajah cantik tersebut menatap lekat, tepat kepada Rasya.
Dan dari tatapan itu, Rasya merasakan sebuah kelembutan, teduh, bahkan juga ketenangan.
Namun, itu tak berlangsung lama.
Sesaat kemudian, kesenduan hebat mulai meliputi kecantikan di depannya tersebut.
__ADS_1
Melihat hal itu, Rasya terhenyak dan berusaha meraih tubuh sang gadis.
Rasya ingin memeluknya kembali, dan menghilangkan keraguan serta kepedihan disana.
Akan tetapi, yang ia dapati dirinya kini terbangun di samping tubuh Rarhartika, di ruang perawatan.
Rasya tertegun, serta kebingungan. sejenak ia mengingat-ingat kembali kejadian yang baru saja di alami.
Namun, ia kembali dikejutkan saat menatap layar monitor elektrokardiogram, yang tidak menampilkan tanda-tanda detak jantung milik Rahartika.
Dengan segera, ia tekan tombol pemanggil disana, untuk meminta bantuan.
Dan tak butuh waktu lama,
beberapa orang petugas medis datang, menyeruak masuk keruan perawatan.
Meraka bergerak cepat, mengecek kondisi gadis tersebut, serta meminta Rasya untuk menunggu di luar.
Dengan berat hati Rasya meninggalkan ruangan, ia ingin selalu berada di sana.
Tapi, ia bukanlah ahli medis.
Dia juga bukan keluarga sang pasien.
Dirinya hanya seorang pemuda, yang mencintai, serta berencana untuk menghabiskan hidup bersamanya.
Dan hari inipun, ia memperoleh kesempatan menjaga Rahartika, karena izin dari Ardi ayah gadis itu, yang akan mengantar sang istri untuk membeli makan malam di kantin sebentar.
Ketika ia baru saja keluar, tampak Dr. Ardi dan nyonya Ranti, dengan cepat berjalan kearahnya.
"Bu, tunggu di sini bersama Rasya.'' Pinta Dr.Ardi dengan tegas.
Sebuah perkataan yang tidak membutuhkan jawaban, ataupun penolakan dari sang istri.
Rasya terduduk lemas di samping nyonya Ranti, yang juga terlihat panik seperti dirinya.
Hati Rasya seolah berkata, bahwa malam ini adalah kali terakhir, ia bersama Rahartika.
Pikirannya mencoba menepis perasaan tersebut. Namun tetap saja hatinya kalut, mata Rasya berkaca-kaca, seolah ia telah kehilangan seluruh pijakan di dunia.
"Bisakah, jangan memasang wajah seperti itu, kau membuatku kehilangan kepercayaan dan keyakinanku.''
Tegur nyonya Ranti, dengan mata yang juga sudah siap menangis.
Rasya terdiam sejenak, banyak kekalutan yang tak dapat ia tutupi.
Namun, ketika melihat wajah wanita di depannya ia menyadari bahwa orang di depannya itu, mungkin jauh lebih takut dari dirinya.
"Maafkan saya tante.'' Jawab Rasya pelan, dan menundukan wajah.
Rasya tak berani menatap wanita di depannya, dengan wajah yang penuh buliran air mata.
Entah mengapa, ia yakin bahwa kekasih hatinya itu telah pergi.
Dan kejadian yang dialaminya tadi, adalah ucapan perpisahan darinya untuk dirinya.
Pundak lebarnya bergetar pelan tanpa suara, ataupun tangisan terdengar dari bibir itu.
Rasya tetap menunduk dan membisu.
Namun, mata kelamnya terus mengucurkan bulir-bulir kristal bening, yang tertutup kedua telapak tangan.
"Aku juga akan menjaga hatiku hanya untukmu, hingga kita kembali bersama. "Gumamnya dalam hati.
Hatinya sakit dan hancur, dengan tangis yang ia tahan.
Karena, Rasya tak ingin semakin membuat nyonya Ardi putus asa.
Setidaknya hingga sang suami, mengatakan sendiri tentang kabar duka tersebut kepadanya.
Selang waktu beberapa menit, Ardi keluar dari ruangan tersebut.
Ia menatap lekat, wajah wanita yang sudah18 tahun itu mendampinginya.
Adi berjalan mendekat, dan langsung memeluk sang istri, tanpa mengatakan apapun.
Bahkan dalam setiap gerak, ia semakin mengeratkan pelukan.
"Apa?, ..hehh...ada apa hixs? katakan padaku!..hixs.." Tanya Ranti, sambil berusaha melepaskan pelukan erat sang suami.
Ranti meronta dan berusaha keras, terlepas dari dekapan Ardi.
Mengetahui usahanya tidak membuahkan hasil.
Dengan air mata yang bercucuran, ia mendongakkan wajahnya ke atas. Di tatapnya lekat wajah sang suami.
__ADS_1
Dalam diamnya Ardi, mata tajam Ranti yang basah, seolah berkata.
"Ia tak membutuhkan pelukan ini, namun ingin sebuah penjelasan. Atau lebih tepatnya, ia ingin sebuah kabar yang mengatakan, bahwa saat putrinya baik-baik saja.''