Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 54 Kebersamaan.


__ADS_3

Pagi diistana kekaisaran tang.


'' Apa?, jadi mereka bersembunyi, di negri Zing?.'' Tanya pangeran Canzuo dengan senyum mengembang dibibirnya.


''Benar yang Mulia, hamba mengikuti kakaknya, dan benar bahwa tuan muda Yongyu, mendirikan sebuah rumah makan, dan penginapan di beberapa kota, mereka juga memiliki rumah besar di tengah kota, sebagai tempat tinggal untuk anak anak malang.'' Ucap penjaga bayangan tersebut, dengan penuh hormat.


''Baiklah, tetap awasi pergerakan mereka, laporkan setiap detilnya, segera!.'' Perintahnya lagi sebelum menyuruh penjaga bayangan tetsebut pergi dari sana.


''Anak anak malang?, mengapa ia harus peduli dengan anak anak tersebut, sebaik apa dirimu Ziaruo, setiap kali kau selalu mengejutkanku.'' Gumamnya lirih.


''Mengapa, ia harus pergi ke negri Zing?, dan mengapa ia selalu menghindar dari kaisar negri Xili itu, dan ada hubungan apa diantara mereka?'' Lanjut gumam pangeran mahkota negri Tang tersebut, dengan banyak hal yang ia anggap membingungkan.


''Tidak mungkinkan bahwa kaisar tua itu, juga menginginkan Ziaruo?, haha...haha..benar sekali?, itu tidak mungkin?,'' Ucapnya lagi, sembari mondar mandir didalam ruanganya.


Pangeran canzuo berfikir dengan serius, sesekali berhenti dari gerakannya kesana kemari yang tak beraturan, namun tetap dengan pikiran yang bergulat, akan sebuah pertanyaan, sebuah jawaban, yang berusaha ia ciptakan sendiri, sesuai dengan pikiran serta, versi yang ia inginkan.


Sementara itu di kekaisaran Zing.


Berbeda dengan pangeran mahkota tersebut.


Seorang Pria muda dengan pakaian agak lusuh miliknya, terbangun di atas Ranjang besar yang indah dan elegan.


Tampak senyum tersungging di wajah tampan pria tersebut.


Sejak ia sampai di kediaman dan membaringkan tubuh gagahnya diatas ranjang indahnya, ia hanya tersenyum dan sesekali berguling guling disana.


Entah apa yang merasukinya, seolah banyak hal yang ia bayangkan dan seakan akan tengah bermimpi hal indah, dengan mata terbukanya.


Detik, menit, dan hingga akhirnya, waktu menunjukan hangatnya mentari pagi yang menyerobot masuk, melalui celah celah jendela yang tidak tertutup dengan rapat.


''Haha..haha.. bahkan aku bisa melewatkan istirahatku malam ini, aku benar benar sudah gila.'' Ucapnya lirih, dengan senyum yang masih terpasang diujung bibirnya.


''Aku ingin melakukannya lagi, bahkan aku ingin lebih dari yang kami lakukan semalam?.'' ucapnya lagi, sambil mendudukan tubuhnya, sebelum melangkah, menuju kearah ruangan disamping tempat tidurnya.


''Pelayan.'' Panggilnya dengan suara khas tenangnya.

__ADS_1


'' Kriiieeekk'' Suara pintu terbuka. ''hamba yang mulia.'' jawab sang pelayan wanita.


''Bantu aku berganti pakaian.'' Perintahnya, sembari meletakkan kain kecil basah, yang selesai ia gunakan untuk menyeka wajah dan beberapa bagian tubuhnya.


'' Baik yang mulia.'' Jawab lagi pelayan itu, dengan wajah menunduk hormat.


Sudah menjadi kebiasaan baginya, bahwa segala sesuatu yang ia kerjakan, hampir semuanya ada yang membantu.


Bahkan ketika ia mandipun, ada yang akan menggosokkan punggung serta kakinya, bila perlu dan ia izinkan, mungkin makanpun ia bisa minta untuk disuapi.


Menyadari, akan pelayanan dari para pelayan di istananya, ia kembali tersenyum mengingat apa yang ia lakukan semalam bersama Ziaruo.


Suatu hal yang bahkan jika diceritakan, orang akan mengalami pingsan dadakan dalam kondisi yang sehat bugar.


''Flash back on''


''Ayo turun kita sudah sampai.'' ucap pria yang menjadi kusir di sampingnya, dengan nada pelan dan tenang.


Dan hanya dijawab ber 'Oh' ria saja oleh kaisar Jing, seolah ia ingin mengatakan, bahwa ia sudah tahu, Rayyan hanya tersenyum melihat kelakuannya.


'' Tenang saja, bahkan untuk menulis nama mereka yang menyukai nyonyaku, lembaran gulungan di Negri kalian tidaklah cukup, tapi percayalah beliau tidak akan memandang tinggi orang lain, melalui kedudukan ataupun kepemilikannya.'' Tambah Rayyan, sebelum berjalan mengikuti, langkah kaki Ziaruo kedalam sebuah bangunan besar, sembari menenteng bawaan yang ia ambil dari dalam kereta.


''Ibunda.....'' Suara beberapa bocah bocah kecil yang berlari dari dalam rumah, menyambut kedatangan mereka.


Mendengar hal tersebut, kaisar Jing terperanjat kaget dan heran, lagi lagi Rayyan tertawa melihat reaksi dan reflek sang kaisar, ia terkekeh pelan.


Namun berbeda dengan kaisar Jing, Ziaruo justru merentangkan kedua tanganya, dengan posisi agak merendahkan tubuh rampingnya.


''Apa kalian merindukan Ibunda sayang?.'' Tanya Ziaruo sembari menyambut serta mengangkat dua bocah kecil, yang menyeruak masuk kedalam pelukan, membawa mereka kedalam gendongannya, sebelum kembali melangkah masuk dan diikuti oleh tiga bocah lainnya.


''Ibunda, mengapa hanya Ke'er dan Bin'bin yang digendong?, aku juga mau, aku mau di gendong.'' Rengek seorang bocah yang lainnya, dengan tangan menarik narik gaun yang di kenakan oleh Ziaruo.


Melihat hal tersebut, Ziaruo menatap kearah kaisar Jing, dengan gerakan kecil kepalanya, seolah berkata, ''bantu aku gendong dia'' Akan tetapi, karena memang ia tidak mengerti, Jing tetap diam serta kebingungan.


Sementara itu, sang bocah kecil mulai melakukan mode jitunya, ngambek.

__ADS_1


'' Apa?, aku tidak mengerti.'' Ucap kaisar Jing, ketika lagi lagi memperoleh tatapan dari Ziaruo.


Melihat hal tersebut, Rayyan memanggil pelayan dan menyerahkan barang bawaannya.


''Binbin dan Ke'er ikut paman saja, nanti kita main kuda kudaan ya.'' Ucap Rayyan sembari mengambil alih kedua bocah dari gendongan Ziaruo, matanya menatap tepat, kearah mata wanita cantik tersebut.


Dalam hati Rayyan ada sesuatu yang hendak memberontak keluar, sesuatu yang telah lama tersimpan jauh di dasar. Akan tetapi, ia sadar sepenuhnya, bahwa ia hanya dapat melihatnya saja.


Rayyan tersenyum sejenak untuk Ziaruo, dan ia menerima sebuah senyuman, sebagai imbalan atas senyumananya serta kesigapannya kali ini.


''Berapa kalipun terlahir, anda tetaplah wanita itu.'' Pikir Rayyan dalam hatinya.


Namun, berbeda dengan apa yang difikirkan oleh pria tersebut.


Disana tak jauh dari tempat mereka, kaisar Jing merasakan ketidak sukaannya, atas pemandangan yang baru saja ia lihat.


Entah mengapa, ia tidak nyaman akan hal tersebut, banyak hal yang ia lewati, namun perasaan kesal ini, dan kemarahan ini, bukanlah sesuatu yang ia dapat deskripsikan sebagai kemarahan.


Disana juga ada keinginnan, untuk menempatkan dirinya sebagai Rayyan, bahkan ia ingin mengulang kejadian tersebut, tentu saja, dengan dirinya, sebagai pria yang mengambil alih bocah bocah itu.


''Apakah anda akan tetap berdiam diri disana tuan muda Jing.'' Tanya Ziaruo, sebelum melangkah masuk dan mengendong bocah kecil yang merengek tadi.


Mereka berjalan masuk, kedalam kediaman tersebut, tampak disana sekitar 12 bocah kecil 3 remaja pria, serta 7 orang pelayan yang menyambut kedatangan mereka.


''Mengapa kau lama sekali Ruoer?.'' Terdengar suara datar seorang pria, dari pintu kanan ruangan.


''Kakak, ternyata anda sudah sampai.'' Jawab Ziaruo, dengan senyum senangnya, karena ia memang selalu menghawatirkan Yongyu, jika mereka terpisah untuk melakukan sebuah urusan.


'' Maaf aku tidak menjemputmu, Yingying sakit, jadi aku langsung datang kemari, bagaimana keadaanmu selama aku pergi?.'' Tanya Yongyu kepada sang adik.


''Salam tuan muda, sudah lama tidak bertemu.'' Sapa Rayyan kepada Yongyu, dengan hormat.


Rayyan tahu bahwa, Yongyu adalah adik dari kaisar Jing, namun baginya kedudukan dari Yongyu lebih tinggi dari sang kakaknya (Jing), karena ia adalah saudara angkat dari majikannya, menyaksikan keterasingan antara Yongyu dan kaisar Jing, ia terkekeh kecil.


'' Rayyan, hentikan.'' Ucap Ziaruo dengan nada seolah memerintah, sembari meletakkan telapak tangannya diatas tangan sang kakak.

__ADS_1


Sebagai ungkapan meminta Yongyu untuk berbesar hati kepada Rayyan, dan terutama kepada sang kakak, kaisar Jing.


*( Ingatkan bahwa Ziaruo dapat mengetahui isi hati serta pikiran orang lain)*


__ADS_2