
Aku meninggalkan pelabuhan hati yang menderu, rasaku bergemuruh dan mengepul, sepanas api yang membara.
Menggayuh asa yang kian pilu serta membelenggu, atas pekat rasa kasih, yang penuh luka.
Disini kuputuskan, dikaki ini kubebankan langkahku.
Meraih hari hingga nanti....saat kita bersua kembali.
Hatiku berteriak menolak, rasaku menggeliat ragu.
Masihkah kita bersama, diakhir masa dalam waktu yang abadi nanti.
Aku berjalan diantara helaian surai kasih kerinduanmu.
Mengoyak hati menggores rasa, bukti cinta yang membesar.
Aku tetaplah cintamu, wanita pemilik hati yang rindu.
Berlagu riang dengan kebahagiaan, topeng luka tanpa dasar.
Pantaskah aku menderita?, pantaskah anda berduka?, dan mengapa kita saling merindu diantara luka yang tak terobati.
Ini Rinduku.... dan aku tahu, begitupun juga hatimu..
Kekasih yang tak direstui takdir, hanya saling menyakiti dengan hati memangku derita.
Maafkan aku...maafkan cintaku...
Maafkan atas luka yang kutorehkan.
Berjalanlah menjauh dari diri ini, menjauh hingga kau tak lagi dapat tertembus luka, atas bilah tajam keegoisan.
Hingga nanti....saat waktu tak lagi mengahalangi, Rasa hati yang saling mengasihi.
Hingga nanti... sang takdir, mengayuh tangan memayungi cinta kita.
Ketahuilah hatiku memilu, dengan luka yang membara.
Menatap sendu atas kesedihan pada hayalan tentang dirimu.
Akan tetapi, tetap harus kucapkan, sebait kata permohonan menyakitkan.
Izinkanlah hari ini, kujalani hari baru tanpamu.
Kutitipkan penghormatan, tiga kali kepada sang angin, kepada sang waktu dan kepada sang cakrawala.
...''Bersabarlah...hingga nanti elegi tak lagi menari diantara luka, bersabarlah...sampai saat dedaunan mengumpulkan bulir embun pagi melepas dahaga, Ziaruo selalu mencintaimu.''...
Agar dapat tersampaikan dimanapun kau berada.'' Gumam dalam hati seorang wanita, dengan pakaian pengantin sembari membungkuk 3 kali, seolah memberi hormat kepada seseorang, sebelum berjalan keluar dari kediamannya menuju tandu pengantin.
Air mata mengucur dari sudut kelopak mata.
Ia tak dapat membendung perasaan yang saat ini menghimpit hati dan pikirannya.
__ADS_1
Ditengah hiruk pikuk para pengiring, serta penduduk daerah tempat tinggalnya, ia masih merasa kesepian yang mencekam.
Ada keraguan tentang kebenaran, atas keputusan yang ia tetapkan.
Banyak kegundahan yang menyeruak, menampar keras, wajah cantik dengan tudung merah didalam tandu.
Perlahan dan pasti, isak tangis lirih mulai terdengar dengan ritme yang lembut.
"Apakah kau menyesali pernikahan ini Yun?." ucap dalam hati seorang Pria, yang tengah duduk diatas kuda, dengan pakaian yang senada di depan tandu pengantin.
"Meskipun kau menyesalinya saat ini, tak akan membuatku melepaskanmu. Menyesalah sebanyak yang kau inginkan, tapi akan kupastikan bahwa keputusanmu menikah denganku, adalah yang terbaik untuk kita.'' ucapnya kembali, masih dalam gumaman hatinya.
''Dengan cinta dan segala yang kumiliki, akan kupastikan pula, kebahagiaan untukmu. Aku berjanji atas nama diri dan tahtaku." lanjut Pria yang tak lain, adalah Kaisar Jiang jing wei, atau mempelai pengantin pria saat ini.
Acara pernikahan hari ini, tergolong upacara istimewa, dimana seorang kaisar yang menjemput mempelai wanita, layaknya keluarga biasa lainnya.
Dalam tradisi di kekaisaran Zing, calon permaisuri akan datang keistana, serta disambut oleh kaisar, di depan pavilliun mereka saja.
Sementara untuk seorang selir, mereka hanya akan memperoleh kunjungan, saat malam pernikahan, sebagai penerimaan atas setatus, bukti wanita milik sang kaisar.
Akan tetapi, keistimewaan yang ia peroleh saat ini, tidak disadari oleh Ziaruo.
Wanita itu masih berkutat dengan hati, pikiran serta kebimbangannya.
Banyak hal yang diungkapkan oleh para penduduk, disenpanjang perjalanan menuju keistana kekaisaran.
Banyak pula decak kagum yang terucap saat iring iringan pengantin melewati mereka.
Para wanita menggumamkan, Kaisar Jing tampak tampan, kaisar Jing sangat mencintai permaisuri, bahkan tak jarang yang mendamba menempatkan diri mereka, sebagai Ziaruo yang berada didalam tandu.
Semua hanya terdiam, dan bergumam dalam hati serta pikiran mereka masing masing, menatap lekat kearah tandu yang rapat tertutup, serta menyaksikan rombongan berlalu, tanpa mampu melakukan apapun.
Sementara itu di sebuah ruangan didalam istana kekaisaran Zing.
Seorang pelayan dengan gaun khasnya, berjalan mendekat kearah meja utama, dimana telah tersaji hidangan spesial untuk sang kaisar dan permaisuri Ziaruo.
Pelayan tersebut tampak merapikan, dan menata ulang hidangan, dengan cermat dan hati hati.
''Apa yang sedang kau lakukan?.''tanya seorang kasim dari belaakang sang pelayan.
Kasim tersebut menatap pelayan wanita itu dengan tatapan tajam serta menyelidik.
Melihat wanita didepannya, tampak gugup dan ketakutan, kasim itu melirik kearah hidangan, dan beberapa peralatan yang telah disentuh oleh pelayan wanita tersebut.
''Katakan apa yang telah kau lakukan, atau aku harus membawamu keruang interogasi?.'' ucap sang kasim kembali, sembari mencengkeram pergelangan tangan, dari pelayan yang kini dipenuhi dengan rasa takut.
''Ti...tidak kasim...a..ku tidak melakukan apapun, aku hanya merapikannya.'' jawab sang pelayan dengan suara terbata bata.
Tampak jelas rasa khawatir serta kegugupan pada mata yang kini mulai berkaca kaca.
Sedangkan, kasim itu masih menampilkan wajah curiga.
Akan tetapi, entah apa yang dipikirka oleh sang kasim, perlahan pria itu mulai melepaskan pegangan tangannya.
__ADS_1
Bagi sang kasim, semakin ia menaruh rasa curiga, semakin baik baginya melepaskan tangan pelayan wanita itu saat ini.
''Kau boleh pergi, jangan melakukan hal yang bukan menjadi tanggung jawabmu, atau kau akan menerima akibatnya.'' ucap kasim itu, ketika melepaskan tangan wanita pelayan.
''Te..terimakasih tuan.'' jawab wanita itu sebelum beranjak pergi dari sana, terlihat jelas rasa lega pada wajah pucat, yang hampir saja tumbang, karena dicekam rasa takut.
Oleh karena itu, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, wanita pelayan istana tersebut, bergegas pergi dari ruang perjamuan.
''Yanxun..ikuti wanita itu, dan laporkan setiap gerak geriknya.'' perintah sang kasim kepada salah satu penjaga bayangan kekaisaran Zing.
Mendengar ucapan pria paruh baya itu, sebuah bayangan datang mendekat dengan cepat.
Sesosok tubuh tegap, dengan balutan penutup disekujur tubuhnya, hanya bagian mata saja yang tetap terbuka.
Penjaga itu menunduk, memberi hormat kepada sang kasim dan berkata.'' Baik tuan, akan saya lakukan.'' sebelum melesat pergi dari hadapan pria yang di panggil kasim tersebut.
''Pasti ada yang telah dilakukan oleh pelayan itu, akan lebih baik bagi pihak dapur istana, mengganti dan mempersiapkan ulang hidangan untuk Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri.'' gumam kasim tersebut, sebelum melangkah pergi menuju dapur istana.
Berbeda lagi dengan keadaan diistana kekaisaran Zing, yang sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk acara pesta pernikahan bagi Junjungan mereka.
Di sebuah kedai dekat pintu masuk istana, tampak empat orang pemuda, tengah duduk menikmati teh yang mereka pesan.
''Apakah semuanya telah siap?.'' tanya salah seorang dari mereka. Dan memperoleh perhatian serta tatapan, dari ketiga orang yang lainnya dengan serius.
Terlihat jelas, bahwa ketiga orang disana, memiliki penghormatan yang tinggi untuk pria itu.
''Semua telah siap dan seperti yang anda perkirakan, wanita itu melakukannya dengan baik.'' jawab salah satu dari keempat orang tersebut.
Mendengar hal itu, sebuah senyuman tersungging pada bibir merah sang pemuda.
''Ziaruo..maafkan aku jika harus membuatmu menjadi janda kembali, namun percayalah bahwa status itu, tidak akan lama kau sandang.'' ucap pemuda itu dalam hati, sebelum kembali menyeruput teh miliknya, tampak jelas rona wajah cerah dan penuh keyakinan.
Sementara itu, di sebuah pinggiran kota kekaisaran Zing.
Di sebuah gubuk sederhana, seorang pria paruh baya tengah duduk berdiam diri, dengan mata tertutup rapat, menengadah kearah langit.
Sebuah angin sepoi, mebelai lembut wajah yang masih menunjukan ketampan itu.
Seakan angin sepoi tersebut, mengerti kegundahan dan penderitaan hati sang pria.
Perlahan terdengar sebuah suara lirih dari bibir pria tersebut.'' Ziaruo...Ziaruo.'' panggilnya, dengan penuh kepiluan.
Kembali angin dari pepohonan disekitar pondok, membelai lembut wajah tersebut, berbisik perlahan namun jelas terdengar.
''Bersabarlah...hingga nanti elegi tak lagi menari diantara luka, bersabarlah...sampai saat dedaunan mengumpulkan bulir embun pagi melepas dahaga, Ziaruo selalu mencintaimu.''
Sebuah bait ucapan, yang menghujam kuat kedalam hati sang pria, hingga membuatnya meneteskan air mata, yang tak dapat lagi ia bendung, tubuhnya bergetar, dan sontak saja ia meneriakan nama wanita tercintanya berulang ulang kali.
''Ziaaaruuuooo....Ziaaaruuuooo...'' disela isak tangisan.
''Aku akan hidup dengan baik, kau jangan khawatir, hixs ..hixs...aku akan makan teratur, serta tidak bertindak bodoh... kau dengar itu, kau dengarkan!" lanjut sang pria kembali, dengan berteriak teriak disela tangisannya.
''Dan aku akan pastikan, selama anda baik baik saja, maka wanita anda akan baik baik juga disana.
__ADS_1
Namun, jika terjadi sesuatu kepada anda, maka tepat untuknya, menemani anda dengan kejadian yang sama.'' ucap lirih seorang pria tua( kasim Di), yang sedari tadi mengawasi Pria itu, dari kejauhan dengan penuh kecemasan.