Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 92 Merengkuh Hati.


__ADS_3

Di kekaisaran Zing...


Sebuah tandu tengah berjalan, bergelayutan seirama gerak langkah keempat pemanggulnya.


Ada suara deritan lirih, dari gerakan penyanggahan beban dalam tandu. Seorang wanita dengan pakaian mewah, tengah berada didalamnya. Sementara keempat pelayan wanita mengikuti perjalanan, dengan langkah cepat disamping tandu tersebut.


''Nona sepertinya kita sudah sampai, apakah perlu kita umumkan kedatangan anda.'' Tanya salah seorang pelayan dengan sopan.


Tampak jelas, bahwa pelayan tersebut, bukanlah pelayan biasa seperti tiga yang lainnya.


Hal itu jelas terlihat dari pakaian, serta kedekatan dengan sang nona majikannya.


Mendengar ucapan wanita pelayannya, seorang dari dalam tandu yang dipanggil sebagai nona tersebut menjawab.'' Jangan... aku ingin membuat kejutan untuk kakak Jing.''


Wanita itu, tersenyum dengan binar matanya yang jernih. Seolah sebuah laut dalam, yang membuat semua orang ingin menyelaminya.


''Kakak...apa Kau merindukanku, aku sudah menunggumu lama, namun kau tak pernah lagi datang menemuiku, jadi aku yang mengunjungimu sekatang.'' Ucapnya lirih, dengan sebuah senyuman yang merona.


Wanita yang tak lain, adalah Nona kedua dari keluarga Yan, salah satu dari ketiga keluarga terpandang di kota Zing, yang memperoleh dukungan serta hak istimewa dari Kaisar Jiang jing wei.


Tuan bersar Yan, adalah Pria yang telah mengajari ilmu berpolitik, serta seseorang yang telah merelakan lengan kirinya hampir putus, untuk melindungi Kaisar Jing, dari serangan pembunuh, ketika masih muda dulu.


Oleh karena itu, hingga sekarang Kaisar menganggapnya sebagai keluarga dekat.


Namun, hati manusia memang tak dapat ditebak, hingga hari ini, sang putri kesayanganya datang berkunjung ke istana.


Sementara itu didalam pavilliun Phonix, Ziaruo nampak kebingungan, dengan kehadiran seorang wanita muda, beserta beberapa pelayannya.


Jelas terlihat, sebuah kesombongan di wajah serta sikap wanita tersebut.


''Jadi kau adalah selir yang menempati, pavilliun ini?.'' Tanya wanita itu, dengan penuh arogan, bahkan ia hampir tak melihat kearah Ziaruo yang kini tengah kebingungan.


''Saya memang yang menempati pavilliun ini, apakah itu ada urusanya dengan anda nona?, dan jika boleh tahu siapa kah anda?.'' Tanya balik nya dengan nada tenang.


Akan tetapi, setiap ucapan yang keluar dari mulutnya, berbeda makna dan pengertian di pendengaran wanita tersebut.


''Kenalkan nama ku Yanrui, calon Permaisuri di kekaisaran Zing ini, jadi aku ingin pavilliun ini, oleh karena itu bereskan semua barang barang milikmu.'' Ucapnya kembali, dengan suara yang seolah dialah paling berhak disana.


Mendengar perkataan tersebut, Ziaruo tersenyum dan mengangkat tangannya, memerintahkan pelayan, serta penjaganya untuk tidak melakukan apapun.


Ziaruo berjalan mendekati wanita yang beberapa saat lalu, tiba tiba saja menerobos masuk kekediamannya, ia menyadari bahwa wanita ini bukahlah salah satu dari selir kaisar, Nona Yan juga dengan mudah masuk kesana, bahkan penjaga pavilliun diluar tidak menghentikan.


'Siapa wanita Yan ini?.'' Pikirnya sembari, menatap lekat kearah wanita tersebut dan berkata.'' Apakah anda masuk ke ruangan yang benar nona?, dan apakah Yang Mulia Kaisar sudah menyetujui ucapan anda barusan?.''

__ADS_1


Wanita itu, menatap lekat kearah Ziaruo, manakala ia mendengar setiap ucapan dari wanita yang ia anggap sebagai seorang selir tersebut.


Mata Yanrui membola sesaat, ia merasa sebuah tamparan di wajah serta


hatinya.'' Mengapa ada wanita secantik ini, pantas saja kakak Jing, begitu menyayanginya bahkan, membiarkannya memasuki pavilliun Phonix.'' Gumam dalam hati Yanrui.


Dengan suara yang agak gugup wanita itu, kembali berkata.'' Apapun yang ku ingkan, kakak Jing pasti akan menuruti, jadi cepatlah kemasi barangmu, aku ingin menempatinya besok.


''Benarkah..?'' Jawab Ziaruo singkat, sembari melangkahkan kakinya mendekati wanita Yan tersebut, mata Permaisuri Yun tampak tenang dan tak menunjukan sebuah kemarahan sama sekali.


Akan tetapi, entah mengapa suasana di ruangan tersebut, menjadi mencekam serta teras berat.


Pelayan serta penjaga pavilliun Phonix menjatuhkan diri mereka, dan bersujud sembari berucap secara bersamaan.'' Yang Mulia.... Mohon redakan kemarahan anda.'' Wajah mereka ketakutan, seolah mereka hendak menemui sesuatu yang menakutkan.


Yanrui merasa keheranan atas tindakan pelayan pavilliun Phonix , ia berpikir semua pelayan Ziaruo, serta penjaga mengatakan hal tersebut untuk dirinya, dan menganggap bahwa semua kecemasan di Wajah mereka di tujukan untuk melindungi sang Permaisuri, yang ia anggap sebagai selir tersebut.


Ia semakin kebingungan ketika ucapan ucapan itu di ulang beberapa kali, bahkan ia belum melakukan apapun kepada Nyonya mereka, dan semua pelayannya sudah ketakutan.


''Aku tak akan melakukan apapun sekarang, oleh karena itu cepat bantu Nyonyamu untuk berkemas.'' Ucap Yanrui kembali, masih tidak menyadari apa yang tengah ia hadapi sekarang.


Sementara itu, Kaisar Jing dengan langkah cepatnya, menuju ke pavilliun milik ziaruo, rasa cemasnya semakin memuncak ketika ia melihat para penjaga pintu, serta pelayan tengah menunduk dan bersujud di lantai ruangan.


Sementara disana seorang wanita dengan wajah pucat, tengah terduduk dilantai dengan lelehan air bening, yang mengalir dari sudut matanya.


Dengan cepat ia meraih tangan sang Kaisar, sembari berkata ditengah isak tangisan.'' Kakak..dia telah melukai pelayanku, bahkan mengancamku...selir bodohmu itu berani mengancamku, lihatlah...bahkan, dia hendak menghancurkan kepalaku seperti pot bunga itu.''


Perkataan wanita tersebut, membuat Jing membulatkan matanya, ia melihat kearah yang ditunjuk oleh Nona Yan, dan yang ada disana hanya tumpukan debu halus saja.


Kaisar Jing, menoleh kearah Ziaruo dengan tatapan yang sulit diartikan, ia mendekati wanita yang kini tengah duduk sembari menyeruput tehnya dengan tenang.


''Apakah kau yang melakukannya Yun?'' Tanya Jing dengan suara lembut khas miliknya.


Suara lembut yang hanya ia tunjukan untuk sang Permaisuri Yun saja.


Mendengar pertanyanyaan itu, Ziaruo meletakkan cangkir tehnya, dan hendak memberikan jawaban atas pertanyaan sang suami.


Akan tetapi, Yanrui menyahut dengan sebuah pembelaan atas dirinya sendiri.'' Benar kak dia yang melakukannya, bahkan pelayanku sepertinya tidak akan selamat, ia terluka parah kak...beri keadilan untuknya, meskipun dia seorang pelayan, tapi Ayah telah mengangapnya seperti anaknya.''


Wanita itu, masih saja tak mengerti serta memahami, dengan apa yang akan terjadi kepadanya, serta masalah apa yang tengah ia hadapi.


Kaisar Jing seolah tak menghiraukan ucapan Yanrui, ia kembali bertanya kepada Ziaruo.''Yun...apakah benar kau yang melakukannya?.''


''Heeemmm.'' Ziaruo mengiyakan pertanyaan sang Kaisaran dengan bahasa singkatnya, dan menyesap teh miliknya kembali.

__ADS_1


''Kau dengar itu kak, ia telah mengakuinya...jadi hukum dia dengan berat kak.'' Sahut nona Yan kembali, dan tampak sebuah senyum tipis tersungging dari bibirnya.


''Habislah kau, siapa suruh kau melawanku, secantik apapun dirimu, kakak Jing tetap tak akan mengabaikanku.'' Gumamnya dalam hati.


Ziaruo tersenyum sekilas mengetahui pemikiran wanita itu, ia benar tentang perasaan wanita, yang bertingkah sebagai adik manis untuk Jing tersebut.


''Mengapa kau mematahkan tangan pelayan itu?.'' Tanya Kaisar itu kembali, namun kali ini ia memegang tangan Ziaruo, dan membaliknya beberapa kali, seolah ia tengah meneliti sesuatu pada tangan tersebut.


''Aku hanya tak ingin mereka menyentuhku, tapi tangan tangan itu tetap melakukannya, jadi aku hanya memijatnya sedikit Yang Mulia, apakah itu salah?.''Jawab Ziaruo dengan nada suara yang masih tenang, serta tidak tampak ketakutan sama sekali.


Mendengar ucapan tersebut, baik Kaisar Jing ataupun Wuhan yang berada didepan pintu ruangan, menampilkan wajah masam. Mereka mengingat kembali, kejadian yang pernah dialami oleh Wuhan di pondok hutan barat.


"Yang Mulia Permaisuri....bahkan aku yang hanya menyentuh saja, sudah mengalami kesakitan hebat, bagaimana mereka akan bertahan jika anda memijatnya.'' Guman dalam hati Wuhan.


''Bahkan Wuhan yang hebatpun, kau menjatuhkannya tanpa melakukan gerakan tak berarti, bagaimana kau memijat mereka Yun?.''Pikir Jing dalam hati.


Kaisar Jing menghela nafas dalam, ia mulai meraih tubuh Permaisuri Yun, membawanya ke atas pangkuannya, dan kembali bertanya.


''Lalu mengapa kau begitu kesal, dan engan menatap kearahku sekarang?, bahkan jika kau menghancurkan semua orang tanpa alasan, aku akan tetap mendukungmu, jadi lihatlah kearahku sekarang Yun.''


Mendengar ucapan Kaisar Jing, Ziaruo mengangkat wajahnya dan menatap Jing lembut, ia melihat ketulusan serta kejujuran dari ucapan pria itu.


Namun, bagi wanita yang kini terduduk di lantai ruangan(Yanrui). Ucapan Jing, ibarat sebuah hantaman keras, didada serta perasaan Nona kedua Yan tersebut. wanita itu kini mulai menapaki realita nyata dihadapannya.


''Heeeeehhh...'' Ziaruo mendesah kasar, dan kembali berucap. ''Wanita ini hanya kesal saja, saat ada wanita lain, yang mengatakan akan menjadi permaisuri kekaisaran Zing anda. Bahkan meminta memindahkan semua barang barang milik saya Yang Mulia.''


Permaisuri tersebut menghela nafas kembali, setelah meletakkan kepalanya, diatas dada sang kaisar.


''Yang Mulia....'' Panggilnya dengan suara pelan.


''Ternyata...aku memiliki sebuah kecemburuan, atas diri anda Yang Mulia. Bahkan hati ini, merasa tidak nyaman ketika mendengar, akan ada Permaisuri yang lainnya.'' Lanjut Ziaruo kembali, masih dengan posisi meletakkan kepalanya di dada sang Kaisar.


''Degub.....degub...degub...degub'' Debaran jatung Kaisar Jing tak beraturan, mendengar ucapan Ziaruo. Seolah sebuah genderang yang tengah ditabuh dengan tenaga kuat.


''Yun...benarkah?....benarkah semua itu yang kau rasakan terhadapaku?, katakan sekali lagi aku ingin mendengarnya.'' Jawab Jing dengan raut wajah tak percaya.


Ziaruo semakin menekan kepalanya di dada bidang sang Kaisar, ia mendengar jelas apa permintaan pria tersebut.


Ziaruo masih menyandarkan kepala, di dada sang Kaisar, wajahnya menuduk, serta debaran jantung yang ikut bergelora, Ziaruo mengulang perkataanya.'' Sepertinya, aku tak ingin membagi anda dengan orang lain. Sepertinya...saya mulai memiliki perasaan terhadap anda, dan sepertinya....''


Belum lagi ucapan Ziaruo terselesaikan, Kaisar Jing mengangkat wajahnya, ia menatap wanita itu sesaat, sebelum akhirnya ia m**ci*m bibir sang Permaisuri, dengan penuh gelora, serta debaran jantung yang tak lagi dapat ia kontrol.


"Yuuunn......hari ini aku bahagia, bahkan sangat bahagia Yun.'' Ucap Jing lirih, sebelum kembali m*nc**m bibir Ziaruo.

__ADS_1


__ADS_2