
Di dalam sebuah kehidupan, melangkah dengan pasti bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan, terlebih lagi ketika kita mengetahui bahwa di depan sana, sesuatu hal yang buruk tengah di persiapkan untuk kita.
Namun, seburuk apapun hal yang tengah menunggu di depan sana, bukanlah suatu alasan untuk bersembunyi ataupun berlari.
Dan seperti itulah perasaan yang di rasakan oleh kaisar Jing.
Ditengah langkah kakinya, menapaki ruang aula pesta, Kaisar Jing merasa bahwa tak akan mudah ia menenangkan hatinya kini, untuk tidak menghawatirkan Ziaruo.
Terlebih lagi, dengan kondisi sang istri yang tengah berada di awal kehamilan.
Entah itu karena kecemasan yang berlebihan, atau karena ia mengetahui bahwa Kaisar Muda Canzuo, telah mempersiapkan sebuah rencana dibalik acara hari ini.
*Flash back on.*
Di sebuah kamar kediamanYun.
Kaisar Jing tampak tengah menyuapi Ziaruo, dengan semangkuk bubur yang sengaja di siapkan oleh juru masak, atas perintah dari Yongyu.
Beberapa kali, terlihat senyuman mengembang dari bibir sang Kaisar.
''Sudah...saya sudah kenyang yang mulia.'' Ucap Ziaruo, sembari mendorong pelan, mangkuk ditangan Jing, menjauh dari hadapannya.
''Jangan seperti itu, ini baru sebagian saja, kau harus memakannya hingga habis, demi kesahatanmu dan anak kita Yun.'' Jawab Jing lembut.
Mendengar hal itu, Ziaruo menghela nafas panjang sejenak, dan mengagguk sembari berkata. '' Baiklah....''
Ziaruo mengerti, bahwa berdebat dengan pria di depannya saat ini, tidak akan pernah membuahkan hasil apapun.
Sementara, mendengar jawaban dari sang Permaisuri, yang menuruti perkataannya, Jing kembali tersenyum dan berucap singkat. ''Bagus...''
Secepat jawaban dari pria tersebut yang penuh antusias, suara nyaring dari luar ruangan juga terdengar jelas.
''Tok..tok..tok..''
Suara pintu di ketuk.
''Yang Mulia, Pan'an ingin menghadap.'' Ucap seorang penjaga bayangan, dari balik pintu ruangan.
Mendengar hal tersebut, kaisar Jing seolah tidak terpengaruh. Ia masih tetap tenang, serta kembali mengangkat sendok, sembari berucap lagi. ''Ayo...ini hanya tinggal beberapa suapan lagi.''
Kaisar Jing kembali menyuapi Ziaruo, dengan rona kebahagian yang tak jauh berbeda dari sebelumnya.
Akan tetapi, dengan ketenangan apapun yang berusaha di tampilkan, pada kenyataannya Ziaruo mampu mengetahui, apa yang tengah ia pikirkan saat ini.
Dengan senyum terpasang di wajah itu, Ziaruo kembali membuka mulutnya. Ia melihat sang suami dengan sedikit hentakan tangan, pada ujung baju pria tersebut.
__ADS_1
Ziaruo ingin segera menyelesaikan sarapan paginya, serta memberikan alasan bagi Jing, untuk menemui Pan'an.
Seorang penjaga bayangan kepercayaan, sekaligus orang yang telah di perintahkan oleh sang Suami, untuk menyelidiki situasi di kekaisaran Tang, jauh-jauh hari, sebelum keberangkatan mereka kemari.
Sementara itu, mendapati sang Permaisuri yang begitu patuh, Jing merasa segalanya seolah, tengah berada di dalam genggaman telapak tangan kokohnya.
Baik itu kebahagiaan, kejayaan, bahkan, serasa ia tak lagi membutuhkan yang lainnya sekarang.
Tanpa ia sadari, dirinya telah berulang kali menyembulkan rona bahagia, serta senyuman pada wajah tegas itu.
''Bagus....'' Ucapnya lagi, sembari menyuapkan kembali, bubur yang tengah ia bawa.
Bagi kaisar Jing, wanita ini adalah segalanya.
Terlebih lagi, setelah ia mengetahui bahwa Ziaruo, adalah Ziayun kekasihnya, yang telah di ambil secara paksa, pada kehidupannya terdahulu.
Ditambah lagi, darah daging, serta bukti kasih sayang terbesarnya, juga telah tumbuh di dalam tubuh sang wanita.
Sungguh, Dewa tengah memberikan sebuah kopensasi besar-besaran, untuknya pada kehidupan ini.
''Yaaang Muuuliaaa....'' Seru lagi seseorang dari balik pintu ruangan, dengan nada suara tetap di buat setenang mungkin.
Akan tetapi, jelas terdengar suara itu seolah tengah mencari perhatian, dari orang yang tengah dipanggilnya.
Sementara mendengar hal itu, kaisar Jing mengerutkan kening, ia merasa terganggu dan hendak meluapkan ketidaknyamanan, atas gangguan sang penjaga.
Suara kaisar Jing terhenti dengan segera, ketika sebuah hentakan kecil terasa pada lengannya.
Ia menatap wajah tenang, yang kini tengah tersenyum lembut, bak kuncup bunga mereka.
''Temui dia paduka, mungkin ada hal yang sangat mendesak.'' Pinta Ziaruo pelan.
Melihat senyuman itu, serta ucapan tersebut, kemarahan yang mulai berkecambah didalam hatinya, menghilang scara perlahan. Terkubur didalam keindahan, serta ketulusan sorot mata sang Permaisuri.
''Heeeh...Baiklah.'' Jawab kaisar itu lirih, setelah menghela nafas kasar sejenak.
Menyadari sang permaisuri, tak ingin dirinya marah, dan bahkan berharap dirinya, menemui pemilik suara di balik pintu itu, Jing berdiri dan kembali berkata. ''Baiklah, pria ini akan menemuinya.''
''Kalian, bantu Permaisuri untuk bersiap, kita akan segera berangkat.'' Perintahnya, kepada kedua pelayan wanita, yang sedari tadi berdiri menunduk, tak jauh dari keberadaan mereka.
''Eemmmm....'' Jawab Ziaruo singkat.
Kaisar Jing, mengecup kening, dan mengusap perut rata Permaisuri Yun singkat, sebelum akhirnya ia berjalan menjauh, serta menghilang di balik derit lirih, suara pintu yang kembali di tutup rapat.
Kaisar tersebut, tidak memperdulikan kekehan kecil Ziaruo, yang seakan menggodanya, karena semakin possesif terhadap Ziaruo.
__ADS_1
Pria dengan wajah yang semakin menegas itu, terus berjalan keluar menjauh dari pintu, dimana sang permaisuri kini berada.
Di belakang tubuh pria no1di Zing tersebut, seorang pria dengan tubuh tegap, mengikuti langkahnya.
Langkah kaki yang kian cepat, seolah tengah menuju sebuah tempat, yang akan membawa kedua tubuh tersebut, pada suatu keadaan yang sangat mendesak.
Wajah kaisar Jing, masih tetap sama, hingga ia telah mendudukan tubuhnya, dan mulai membuka suara.
''Apakah semuanya seperti yang diperkirakan?.'' Tanya Jing dengan suara yang tegas.
''Benar Yang Mulia, segalanya seperti yang anda perkirakan.'' Jawab Pria yang tak lain adalah Pan'an.
Mendengar jawaban dari Pan'an, kaisar Jing mengepalkan tangannya kuat.
''Dan sepertinya, semua mengarah utuk Yang Mulia Permaisuri Yang Mulia.'' Lanjut Pan'an kembali.
''Beraninya dia.!" Geram kaisar Jing, dengan kepalan tangan yang semakin kuat.
Seakan, pria yang di kenal sebagai penguasa kejam dari kekaisaran Zing itu, telah terbangun kembali dari tidur panjangnya.
Hatinya seolah tengah berada di atas kepulan bara, yang tersiram dengan minyak panas.
''Lalu, bagaimana dengan persiapan kita?.'' Tanyanya kembali.
Mendengar pertanyaan sang tuan, Pan'an sedikit mengangkat kepala, dan menjawab. ''Saya telah menyusupkan beberapa orang kita, diantara para pelayan didalam perjamuan Yang Mulia.''
Sebuah jawaban lugas namun masih dengan sikap hormat, meluncur cepat dari bibir sang pria penjaga.
Pan'an kembali menundukan kepalanya, ia mnyembunyikan senyuman didalam hatinya, ketika pria itu, melihat sedikit ketenangan di antara helaan nafas panjang sang kaisar.
Bahkan, dirinya kini memiliki kebahagiaan, serta kepercayaan diri karena, berhasil meredakan sedikit kecemasan kaisar tuannya.
''Bagus, kau bersiaplah kita akan segera berangkat....'' Sahut kaisar Jing lagi.
''Canzuo...lihat apa yang akan aku lakukan, jika sampai kau berani berulah. Bahkan, jika itu di dalam sangkarmu sendiri.'' Gumam dalam diam kaisar Jing.
*Flash back off*
''Yang di muliakan kaisar dan permaisuri negri Zing, memasuki Aula.'' Seorang kasim menyerukan kehadiran mereka, dengan suara lantang.
Mendengar hal tersebut, semua orang yang disana berdiri tertegun, menatap lekat kearah pintu besar, dengan hiasan mewah.
Selain untuk memberikan hormat, diantara parautusan, ada banyak perasaan, serta pemikiran lain dibalik tatapan-tatapan itu.
Karena bukan hal yang rahasia lagi, bahwa permaisuri dari negri Zing, adalah wanita yang terkenal paling cantik, seantero daratan di kelima kekaisaran.
__ADS_1
Baik pria ataupun wanita, semua para tamu udangan yang hadir, saakan tengah diliputi antusias yang sangat tinggi.