
Didalam sebuah ruangan, seorang wanita tengah duduk diantara kedua lutut, sebagai bantalan tubuh.
Wanita itu menundukkan wajah, sembari terus melanjutkan ucapan.
''Guru, bisakah bayi ini terlahir dengan selamat?, aku tak ingin tubuh kecilnya mengalami suatu keburukan.''
Mendengar ucapan sang wanita, pria yang di panggil sebagai guru, menghela nafas panjang.
Ada raut tak terbaca, dari sorot wajah tampan miliknya.
''Kau tahu dengan jelas, bahwa semuanya telah tergaris, serta apa makna dari perjalananmu kali ini.'' Jawab Pria yang dipanggil guru tersebut.
''Tapi guru....'' Sahut reflek wanita itu, yang seolah merasa kurang puas, atas jawaban dari sang Guru.
Mendengar ucapan dari wanita itu, pria tersebut kembali menghela nafas panjang.
Dari raut wajah, sekilas terlihat kecemasan untuk sosok di depannya.
''Ruoer...kau melupakan jati dirimu. Ingat semua ini tak akan berakhir, hingga kalian memahami segalanya.'' Ucap sang Guru lagi.
''Guruu...'' Panggil wanita tersebut sendu.
Ia masih tetap pada tempatnya, tak mengubah posisi sama sekali.
Wanita itu juga masih berharap, sang Guru memberikan bantuan kepadanya, atau sekedar memberikan titik pencerahan, untuk secercah harapan pemecahan masalahnya kini.
''Pergilah, keberadaanmu disini smakin memperburuk kondisinya.'' Ucap pria tersebut, yang mengacu kepada bayi dirahim sang wanita.
Wanita yang tak lain adalah Ziaruo tersebut, tampak kecewa.
Akan tetapi, ia tahu dengan jelas bahwa sang guru tak akan pernah, meninggalkannya begitu saja.
Pria yang ia hormati itu, pasti miliki alasan, serta kesulitan tersendiri.
Dengan wajah yang dia buat setenang mungkin, Ziaruo bersujud di depan sang Guru sejenak, dan bangkit dari duduk.
''Murid mengerti....mohon undur diri dulu.'' Ucap Ziaruo di sela- sela gerakan sujudnya, memberi hormat kepada sang Guru.
''Jika dia lebih penting dari hidupmu, kau bisa datang ke bukit Yincang, dan menukarkan sesuatu yang berharga milikmu untuknya.''
Sebuah ucapan yang mengalir datar, keluar dari bibir Baixio ketika melihat Ziaruo, hendak melangkah pergi.
Perkataan dengan informasi, yang seakan tak memiliki makna apapun, tentang wanita ini di dalam kehidupannya.
Namun, pada kenyataan yang sesungguhnya, hatinya tengah berkecamuk hebat dalam pergulatan.
Bahkan, ia menyesali bibir bodohnya, yang telah menunjukan jalan penuh racun kehidupan, dan bahaya, untuk sang murid tercinta.
Sebuah tempat, dimana orang dapat memperoleh apapun yang mereka inginkan, bahkan suatu hal yang dianggap mustahil bagi ketiga dunia, disana merena akan menemukannya.
Namun tentu saja, dengan bayaran yang tidak mudah. Mereka yang mengambil, atau meminta sesuatu di sana, juga akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini.
Wanita tersebut tertegun sejenak di posisi yang sama.
Ia tidak menoleh kembali kearah sang Guru.
Bagi kaum suku negri Atas awan, Ziaruo memahami betul, tempat seperti apa bukit Yincang tersebut.
__ADS_1
''Murid mengerti, terimakasih Guru.'' Jawabnya singkat, sebelum melangkah keluar dari sana.
Ziaruo meninggalkan ruang demensi, setelah memberi hormat kepada sang Guru.
Ia melesat, menuju sebuah bangunan sederhana, di tengah kolam teratai.
Melihat kedatangan wanita tersebut, seorang wanita cantik dengan gaun putih menghampirinya.
''Selamat datang Yang Mulia, apakah Anda akan melihatnya?.'' Tanya wanita dengan gaun putih, penuh hormat.
Ia mengetahui bahwa hampir setiap kedatangan sang majikan kesana, adalah untuk melihat seseorang yang kini tengah terbaring, di atas ranjang Giok dengan tenang.
''Heemz...kau boleh pergi dulu, tinggalkan kami.'' Jawab Ziaruo dengan suara tenang.
''Baik Yang mulia.'' Jawab wanita itu, patuh.
Setelah mengatakan hal tersebut, ia melesat pergi dengan cepat, meninggalkan Ziaruo bersama tubuh kaku diatas ranjang Giok es abadi.
Sementara itu...
Sepeninggal Ziaruo, Baixio memejamkan mata perlahan, pria itu menepuk dadanya beberapa kali.
''Dada ini telah kosong, rasa ini juga telah mati. Tapi.....'' Gumamnya pelan, dalam kesendirian.
Diwaktu yang bersamaan, namun pada tempat yang berbeda.....
Dua bayangan tengah menajamkan mata, serta penglihatan mereka.
Bayangan-bayangan hitam itu, berdiri diatas cabang pohon, menyamarkan diri, dibalik rimbunnya dedaunan.
Dengan bantuan suasana yang kian gelap, keduanya hampir tak terlihat sama sekali.
''Sepertinya, cukup disini saja. Lihatlah disekeliling kediaman Gu telah terpasang Aray yang kokoh.'' Sahut bayangan dua pelan.
''Kau benar, dan ku rasa kemampuan mereka tidak jauh lebih rendah dari kita berdua.'' sahut bayangan satu.
''Heeemmzz....'' Bayangan dua.
''Setidaknya dari sini kita tidak akan diketahui, dan tetap bisa mengawasi pergerakan mereka.'' Sambung bayangan dua lagi.
Akan tetapi, tanpa mereka sadari, pembicaraan lirih mereka telah di dengar oleh pihak lain, dan dengan gerakan yang tidak terdeteksi, beberapa benda tajam mengarah tepat, kepada keduanya.
''Sreeet...sreet...clang''
Suara beberapa pisau terbang, bergerak melesat cepat kearah keduanya.
Menyadari kedatangan benda- benda tersebut, kedua bayangan hitam meraih pedang panjang milik mereka, dan menangkis dengan cepat.
''Clang...clang''
Suara benturan logam di keheningan malam.
Mendapati posisi mereka telah di ketahui, kedua bayangan saling menatap, dan secepat kilat beranjak dari tempat mereka berada.
Akan tetapi, baru saja tubuh mereka bergerak hendak pergi dari sana, sebuah tendangan tepat bersarang di dada bayangan dua dengan keras.
''Buughk...''
__ADS_1
Memperoleh serangan yang begitu cepat, bayangan dua tak dapat menghindar lagi, tubuhnya terpental diatas semak, tak jauh dari halaman belakang kediaman.
Ia merasakan sakit yang hebat pada ulu hati, serta memuntahkan darah segar dari bibirnya.
Dengan kesadaran yang tersisa, bayangan dua berusaha bangun dan hendak pergi dari sana.
Akan tetapi, sebuah tenaga kuat kembali menekan tubuh sang bayangan dua.
''Dengan kemampuan kalian yang rendah, beraninya mengacaukan tugas kami.'' Ucap sarkas seseorang, dengan kaki menginjak kuat punggungnya kini.
Bayangan dua tak dapat berbuat apapun, ia hanya tertelungkup, dengan mulut yang kembali memuntahkan darah segar.
''Brughk...''
Suara benda dijatuhkan dengan keras.
Bayangan kedua melihat kearah suara berada.
Disana, terlihat rekannya dengan kondisi yang tak jauh berbeda dari dirinya.
''Kakak, sepertinya kita terlalu memandang tinggi orang-orang ini, belum juga tubuhku memperoleh pemanasan, mereka sudah babak belur, mengecewakan.'' Ucap seorang wanita, yang telah melemparkan bayangan satu dengan keras.
Mendengar hal itu, dan melihat kondisi bayangan satu, bayangan dua bergidik ngeri.
Meskipun bayangan satu bukanlah master dari bela diri, namun dia dan dirinya juga bukan orang biasa.
Bahkan, di kekaisaran Tang yang Agung, jarang mereka memperoleh lawan yang seimbang.
Akan tetapi, bahkan kemampuan luar biasa mereka, belum bisa dianggap sebagai pemanasan oleh keduanya. Apakah mereka masih manusia?.
Bayangan dua kembali memuntahkan darah segar, akibat kegeraman hatinya kini.
''Kau benar, lihatlah bahkan aku hanya memukulnya sekali, dia bahkan sudah berkali-kali muntah darah, Cih...'' Sahut pria yang di panggil kakak tersebut.
''Kalian berdua hentikan, jangan membuat keributan.'' Sebuah suara dengan intonasi tenang, namun penuh penekanan terdengar.
Suara itu berasal dari dalam kediaman, dan tidak terlihat pemiliknya.
''Baik tuan..'' Jawab kedua penjaga secara bersamaan.
Seolah, kedua penjaga itu mengenali pemilik suara sebagai majikan mereka.
''Apakah kami harus membunuhnya, atau membawanya untuk penyelidikan tuan?.'' Tanya penjaga pria, dengan penuh hormat.
''Lakukan sesuai yang kalian inginkan, jangan membuat istriku terganggu.'' Jawab suara dari dalam kediaman.
''Kami mengerti.'' Jawab keduanya dengan penuh hormat.
''Adik sepertinya kita memiliki kesenangan malam ini.'' Sambung sang pria penjaga, dengan tatapan sinis kearah kedua penyelinap.
''Anda benar kakak, dan ada ramuan baru yang perlu di uji, bukankah ini waktu yang sempurna?.'' Sahut penjaga wanita.
Dan setelah mengatakan hal itu, keduanya mengangkat tubuh bayangan penyelinap, menuju pondok belakang kediaman jendral tua Gu.
Sementara keduanya sibuk dengan mainan baru mereka, diatas sudut-sudut pengintaian kediaman Gu, penjaga kediaman tampak acuh melihat kesibukan keduanya.
Mereka tetap berjaga pada pos masing-masing dengan siaga.
__ADS_1
''Semoga dewa mempercepat kematian kalian, karena itu jauh lebih baik....'' Gumam lirih, salah satu penjaga kediaman yang lain.