
Jika buih mampu memilih..
ia mungkin berpikir untuk menjadi batu, agar dapat tenggelam didasar lautan, menemani pasang surut dalam satu kesatuan selamanya.
Jika buih dapat memilih...
Ia ingin menjadi karang kokoh, yang sulit di hancurkan, tidak cepat menghilang, dan digantikan dengan buih buih yang baru.
Karena setidaknya, ia akan bersama sang lautan meski dalam kebungkaman.
Dan ibarat buih di lautan, disanalah letak hati Yongyu yang mencintai dalam diam, menjaga serta menikmati kebersamaan, dengan topeng kasih sayang persaudaraan.
Yongyu bukanlah buih di lautan yang dapat menari seirama deburan ombak.
Namun, ia juga mengarungi kehidupan bersama dengannya.
Dirinya ibarat seorang pujangga pencinta, dalam kabut bayangan.
Bahkan, terkadang ia berfikir buih mungkin jauh lebih beruntung dari dirinya, yang dapat mengalun bersama dalam deburan ombak, melaju dalam gelora kebebasan yang menyatu, meskipun hanya sejenak.
Di sela kemelut, serta pertempuran di tengah perbatasan hutan kekaisaran Tang, Yongyu tiba di sana tepat ketika, Ziaruo berdiri di atas tebing.
Ia mencemaskan wanita itu disana, terlebih setelah mendengar ucapan pangeran Murongyu tentang kutukan menjadi lebur, jika ia membunuh serigala di tangannya.
Ia ingin melesat menuju keatas tebing, menggantikan sang adik membunuh serigala, yang menjadi titik kekuatan kawanan yang lainnya.
Akan tetapi, ia menarik diri, mana kala sang kakak (Jing), berjalan mendekat, serta berusaha membujuk Ziaruo, untuk melepaskan serigala tersebut.
Dan lagi lagi ia diliputi kecemasan, ketika Ziaruo turun dari tebing dengan menggendong serigala perak. Yongyu reflek, kembali melangkahkan kakinya mendekati Ziaruo.
Akan tetapi, Pria itu lantas mengurungkan niatnya, ketika Suami dari wanita yang telah menjadi adiknya tersebut, lebih dulu sampai, serta memberikan perhatian.
Jujur ada kemarahan, serta kecemburuan hebat di dalam hatinya. Ia menarik diri dan berjalan menjauh menuju deretan kereta.
Yongyu tak ingin, kemarahan dan kegundahannya di ketahui oleh orang lain.
Pria tersebut berjalan menuju kebalik kereta kuda, dimana disana beberapa penjaga bayangan, dengan kemampuan dalam pengobatan, yang bergabung diperjalanan kali ini, tengah mengobati beberapa prajurit yang terluka.
Yongyu hanya ingin menghindari sesuatu, yang dapat merubahnya jadi orang dengan kepribadian tidak rasional.
''Apakah kau hanya akan berdiam diri, dan tidak membantu kami?.'' sapa seorang pria, dengan intonasi yang datar kepadanya.
Pria yang tak lain adalah Wuhan tersebut, tampak tengah memperoleh perawatan dari salah satu bawahannya.
Mendengar hal itu, Yongyu merasa seolah telah tetangkap basah sedang melamun, pemuda tersebut menjadi gugup sejenak.
Dan pada kenyataannya, Wuhan tidak menyadari, bahwa pria yang ia kenal sebagai saudara ipar sang Kaisar itu, tengah gelisah atas sebuah kecemburuan.
Wuhan mengira bahwa pria tersebut, sedang merasa bersedih atas kejadian buruk, yang menimpa para prajurit disana.
''Jangan merasa ini buruk, bagi kami dapat menjaga serta melindungi kaisar, dan Permaisuri adalah sebuah kehormatan.'' Lanjut Wuhan penuh dedikasi.
__ADS_1
''Bahkan aku bersedia mengorbankan nyawa untkuk mereka.'' Gumam Wuhan dalam hati.
Wuhan menatap Yongyu dengan pandangan tak tebaca, ada banyak hal yang ia pikirkan tentang pria di depannya tersebut.
''Mengapa setiap kali aku berbicara dengannya, perasaanku selalu aneh, seolah kami telah mengenal satu sama lain dalam jangka yang lama.'' Gumam pria tersebut kembali.
"Aku tidak mengerti pengobatan, namun jika hanya sekedar membalut luka saja mungkin, pria ini jauh lebih baik darimu.'' Sahut Yongyu, sembari mengambil kain, yang di gunakan untuk membalut luka, di lengan Wuhan.
Pria tersebut, dengan cakatan membantu Wuhan, yang sedari tadi berusaha membalut lukanya sendiri, karena tabib yang mengobatinya, harus memeriksa prajurit yang lain.
Mendapat bantuan itu, Wuhan merasa enggan untuk menatap wajah di depannya.
Dengan sebuah deheman sebagai pengusir kecanggungan, Pria itu berkata. ''Mheeem....Tentu saja anda jauh lebih baik dari saya, jika tidak.....pasti Permaisuri akan merasa dipermalukan.
Yongyu mendengar semua ucapan dari Wuhan, sebuah perkataan dengan makna sindiran, atas kebanggaan diri yang dimiliki oleh Yongyu, pujian atas keterampilannya semua hanya untuk sang adik.
Bagaimanapun, meski bukan dirinya yang memperoleh sanjungan, ia tetap akan bahagia.
Bagi Yongyu, setiap kebaikan(pujian) untuk Ziaruo, adalah kebaikan untuknya juga.
Pemuda tersebut hanya menghela nafas sejenak, sebelum ia kembali menyelesaikan balutan kain ke lengan Wuhan.
''Ini..sudah selesai, sepertinya kau akan memiliki ukiran indah di sini.'' Ucap Yongyu tenang, yang mengacu pada luka di lengan kanan Wuhan, yang terbilang cukup dalam.
Mendengar hal itu, Wuhan hanya tersenyum sesaat sebelum menjawab. ''Apakah akan ada perbedaan untukku dengan bekas luka ini?.''
''Heeeh....''
Dengan suara yang penuh ketenangan, ia kembali berkata. ''Aku lebih menyukai luka ini tetap disana.''
''Setidaknya ketika melihat luka ini, aku akan mengingat hari dimana kami masih berada di dunia yang sama.'' Pikir dalam diam Wuhan.
''Heeeh..sudahlah, anda pasti tidak akan memahami apa yang kukatakan." Lanjut Wuhan kembali.
Pria yang menetapkan diri sebagai, penjaga bayangan sang kaisar itu, tak ingin menjelaskan apapun, kepada pria yang terbilang cukup dekat, dengan wanita yang kini tengah menguasai pikiran, serta hatinya.
''Lakukan semaumu...'' Jawab Yongyu dengan datar.
Dan benar saja, bagi Yongyu tak ada hal apapun, yang menarik perhatiaannya tentang permasalahan orang lain. Karena tak ada keuntungan apapun, untuk melakukan hal tersebut.
Mendengar jawaban itu, Wuhan tertawa lebar sembari berucap kembali. ''Hahaha...hahaha...Anda memanglah pantas menjadi saudara Permaisuri kami, bahkan keacuhan anda pun sama.''
''Heeeeh...Kau benar, aku memang pantas menjadi saudaranya.'' Sahut Yongyu dengan perasaan yang berkecamuk.
Ia berpikir menjadi apapun/siapapun boleh, asalkan itu bisa membuatnya tetap berada disamping sang wanita.
''Hanya saudara dan tidak lebih.'' Lanjutnya dalam hati.
''Apakah kita akan menginap di sini malam ini?.'' Tanya Yongyu, mengalihkan pembicaraan tentang dirinya.
Wuhan mengganguk perlahan, sebagai jawaban atas pertanyaan pria yang kini duduk di sampingnya tersebut.
__ADS_1
Ia menatap wajah Yongyu tanpa sepengetahuan pemuda itu, entah apa yang tengah dipikirkannya, sehingga tak menyadari ada sepasang mata yang tengah menatapnya lekat.
''Pangeran.'' Panggil Wuhan singkat.
Mendengar hal itu, reflek Yongyu menjawab tanpa menoleh kearah Wuhan. ''Heeem.''
Mendengar jawaban tersebut, seakan sebuah hantaman keras tengah mengenai tubuhnya, mata Wuhan membulat penuh, tubuhnya bergetar hebat.
Namun, di tengah reflek yang tiba tiba meluncur dari bibir Yongyu, Pria itu juga terperanjat kaget, ketika menyadari sebutan apa yang di gunakan oleh Wuhan, untuk memanggilanya beberapa saat yang lalu.
Sejenak, raut wajah itu berubah menjadi berbeda, ada kecemasan pada sorot matanya.
Sebuah ketakutan akan terbongkarnya, rahasia besar tentang kehidupan dimasa lalunya.
Sebuah status dan kedudukan tinggi, yang membuatnya terkubur diantara tahta, kebencian serta kepalsuan.
Dengan secepat mungkin ia berusaha untuk tenang, otaknya berkerja keras mencari bantahan untuk jawaban sepontannya tadi, hingga pada akhirnya ia menemukan sebuah ide.
''Meskipun aku saudara dari Permaisuri, tapi aku bukanlah keluarga kekaisaran, jangan menyebut dengan sebuah gelar yang bukan milikku dan tidak ingin kumiliki.'' Ucap Yongyu, dengan raut wajah, yang di buat setenang mungkin.
''Pangeran...'' Panggil Wuhan kembali, kali ini wajah itu tampak penuh kesenduan.
Yongyu hanya diam, ia melihat wajah itu dengan tatapan tak terbaca, seolah ia ingin mendirikan tembok tinggi di antara wajahnya dan wajah Wuhan.
Agar tak ada apapun, atau siapapun yang dapat menembus pikiran, serta mengungkap rahasiannya selama ini.
Akan tetapi, dengan kalimat jawabannya yang singkat sebelumnya, ia telah membuat Wuhan yakin, bahwa dirinya adalah pangeran kecil dari kekaisaran Zing.
Seorang adik dari kaisar yang di anggap telah meninggal.
''Mengapa kau masih memanggilku pangeran, aku tidak menggilai kedudukan atas hak orang lain, hentikan atau kau ingin membuat sebuah kegemparan.'' Ucap Yongyu.
Pria itu, beranjak dari duduknya, ia hendak berjalan meninggalkan Wuhan yang tengah di liputi perasaan bersalahnya.
Pria dengan status tinggi di kekaisaran Zing tersebut, tampak dipenuhi penyesalan.
Dengan suara bergetar, Wuhan kembali berkata. ''Yang Mulia...Yang Mulia menyesali semuanya, beliau berkali kali mencari keberadaan anda, bahkan mengutus perajurit elit untuk menyusuri hutan Mistis.''
''Benarkah?.'' Jawab Yongyu lirih.
''Bukankah, seharusnya ia bahagia dengan kematianku?, dan lagi pula, ia tak perlu menyianyiakan obat obatan mahal miliknya, hanya untuk mengancamku.'' Lanjut Yongyu kembali.
Suasana menjadi hening, Baik Wuhan dan Yongyu, seolah tak ada keakraban sebelumnya di antara keduanya.
Wajah Wuhan menunduk, ia tak mengerti harus menjelaskan dari mana. Karena pada kenyataannya, apapun yang terucap dari bibir pangeran Jiang jing yun, segalanya adalah benar.
Dan dirinyalah salah satu orang yang paling mengerti segalanya saat itu. Akan tetapi, penyesalan sang kaisar Jiang jing wei, juga adalah sebuah kebenaran.
Namun, jika ia diharuskan untuk menempati posisi pangeran kedua(Yongyu/ Jiang jing yun) saat itu, mungkin ia juga akan bertindak yang sama, ragu bahkan tidak lagi dapat mempercayai mereka lagi.
Wuhan tetap terdiam di tempat, hingga suara seorang wanita memecah keheningan di sana.
__ADS_1
''Kak...anda sudah datang.''