
Disebuah hutan barat kekaisan Xili.
Sebuah hutan penuh misteri dan banyak kejadian mengerikan disana. Menurut kebanyakan orang, adalah sebuah tempat menakutkan, dengan banyaknya hewan buas pemakan manusia serta tempat tinggal bagi para per*mp*k kejam.
''Ha..ha...ha...ha...'' suara tawa yang meriah, yang bersahut sahutan, menandakan disana tengah berlangsung sebuah kegembiraan.
Disana ditepi sungai terdapat sebuah acara perjamuan, dengan api unggun sebagai pusat cahaya.
Ada daging bakar ikan bakar, buah buah hutan serta, minuman keras.
Tak jauh dari tempat itu, terdapat bangunan bangunan sederhana, layaknya perkampungan di desa desa kecil, ada sekitar kurang lebih 70 banguna rumah sederhana.
Tampak seorang pria berambut panjang, diikat gaya ekor kuda, tengah duduk diatas kursi besar di belakang meja.
Sebuah meja yang terbuat dari batuan gunung yang besar, dengan hidangan yang lumayan banyak tertata diatasnya.
Sesekali ia akan tertawa, untuk menyambut saudara saudaranya( teman teman) yang lain.
Seorang wanita mendekat, berbisik pelan kepadanya, tampak jelas ia tengah mencermati apa yang disampaikan oleh wanita tersebut.
"Baiklah, aku mengerti kau boleh kembali.'' Perintahnya, kepada wanita tersebut sembari beranjak meninggalkan kursi nyamannya,
mendekati kerumunan saudara saudara di depan api unggun.
"Silahkan King, silahkan anda duduk disini.'' Ucap salah satu orang, yang duduk melingkari api unggun dengan sopan sembari berdiri, pria itu bermaksud memberikan bantalan duduk miliknya, kepada pemuda yang di panggil King tersebut.
Mendengar hal itu, King menjawab. "Tidak perlu, aku hanya memastikan bahwa kalian menikmati pestanya malam ini.''
Bahkan, King juga mendudukan kembali tubuh pria itu, pada bantalan duduk didepan api unggun.
"Nikamatilah pestanya, aku akan pergi sebentar.'' Lanjutnya lagi, sebelum melesat kearah kegelapan hutan.
Dengan lincah, King menapaki setiap dahan dahan pohon hutan, tangannya yang kokoh sesekali meraih saham pohon dan membawa beban tubuhnya disana, bergelayut indah seolah ia adalah primata, penguasa dahan hutan itu.
Hanya dalam waktu beberapa saat saja, tubuhnya tak lagi terlihat, menghilang di antara rimbunnya pepohonan hutan.
Hingga, dia menghentikan langkah kakinya, pada sebuah pohon besar disamping sebuah pondok.
King berdiri disana, memandangi sesuatu yang menarik baginya, dan bergumam lirih. "Apa aku harus menyapanya?, atau seperti mereka mencari belas kasian darinya, dengan berpura pura sakit.''
Dari atas dahan pohon itu, ia selalu melakukan hal yang sama, pertanyaan serta gumaman yang hampir sama pula.
Entah sudah berapa kali, ia melakukan hal tersebut. Namun hingga sekarang, King belum memutuskan pilihan dari kelanjutan tindakannya.
* flash back on *
Disebuah pagi dihutan, dengan udara yang masih berkabut, menghembuskan hawa dingin diantara pepohonan.
Seorang wanita tengah menyusuri tepian sungai yang berada di bagian tepi selatan hutan, dengan membawa keranjang kecil dipunggung, wanita itu ingin semua bawaannya akan amanbterkumpul disana.
__ADS_1
Langkah kakinya tenang, dan penuh ketegasan. Mungkin akan terlihat aneh bagi orang lain yang menyadari akan hal itu, seorang wanita cantik, dengan ketenangan ditengah hutan mistik barat?. ''Heemmzz....''
Perlahan namun pasti terdengar, isak tangis
seorang bocah kecil. Wanita itu menghentikan langkahnya, mempertegas pendengaran berkali kali lipat.
Dan benar saja, disana ditepian sungai yang berlawanan darinya, pada tepian sungai di seberang, tampak seorang anak kecil tengah berpegangan erat, pada sebuah ranting dahan pohon yang menjulang ke arah sungai.
Tanpa berfikir lama, Ziaruo menggerakan tangannya.
''Sreet...sreeet.''
Kabut tebal putih keluar dari tangannya, menyelubungi tubuh kecil itu dengan erat.
''Sreet...sreet...''
Ziaruo kembali menggerakan tangannya pelan, dan dengan cepat kabut putih itu, kembali masuk ke ujung baju miliknya, menarik tubuh kecil dari permukaan air menuju kearahnya.
Ziaruo Zorro dengan keduan tangan terbuka menangkap tubuh itu, sembari berucap. "Haap...tenang kau sudah kutangkap.''
Seorang bocah laki laki kecil, dengan kisaran usia 6-8 tahunan dengan tubuh basah kuyub, bibir yang membiru, mata kecilnya menatap kearah Ziaruo, tampak jelas tubuh kecil itu menggigil, dengan penuh ketenangan Ziaruo kembali berucap. "Apa kau takut kepadaku?.''
Dan hanya dijawab gelengan kepala oleh bocah tersebut.
"Apa boleh aku melepaskan bajumu dan mengggantinya dengan baju milikku ini?.'' Tanyanya lagi, sambil mengeluarkan sebuah baju wanita, dari dalam keranjang kecil di punggungnya.
*sesungguhnya, baju itu baru saja ia ambil dari rajah phonix miliknya, ia bisa saja langsung mengambil baju dengan ukuran bocah itu, namun itu akan mengundang pertanyaan aneh nantinya, ia harus lebih teliti dan hati hati.*
"Tenang saja, kau memakai ini sementara saja, setelah bajumu aku keringkan kau bisa memakainya lagi.'' Lanjut Ziaruo menjelaskan, saat dilihat bocah kecil itu, hanya diam dan tak menjawab pertanyaannya.
Perlahan lahan, Ziaruo melepaskan baju bocah kecil itu, ikat pinggang, baju atas luar, serta baju bagian dalam atasnya.
Hingga, tepat ketika saat Ziaruo hendak melepas celana bocah tersebut, sebuah tangan kecil dengan jejak kejutan pucat pada jari jarinya menghentikan tangan wanita itu.
Bocah kecil tersebut, tampak malu dan menatap sekilas wajah Ziaruo, ia kembali menunduk, dengan suara lirih ia bertanya. "Kakak, apakah kau sudah menikah?.''
"Belum, memangnya kenapa?, apakah kau mau menikahiku?.'' Tanya Ziaruo dengan candaan, bibirnya terus memberikan senyum indahnya, apalagi sekarang ia tengah tidak mengenakan cadarnya.
Ziaruo berfikir, bahwa dia sekarang akan aman aman saja, dan tidak akan ada yang melihatnya, karena berada di tengah hutan.
Mendengar jawabannya, bocah kecil itu, melepaskan tangan dan membiarkan Ziaruo melepas celananya.
*Karena kau belum menikah, dan kau sangat cantik, bahkan mengalahkan wanita tercantik didesaku, aku mengizinkanmu menggantikan bajuku, dan tunggu 7 tahun lagi aku akan menikahimu.'' Ucapnya dalam hati.*
Namun, tetap saja di wajah cuby imut miliknya itu, menyembulkan rona merah, bahkan tubuh kecil tersebut bergerak tidak singkron dengan ucapan hatinya.
Beberapa saat setelah pakaiannya terlepas semua, dan kini tubuhnya itu dibungkus dengan baju wanita, barulah sikapnya kembali normal.
( Tidak di pakai, hanya di kenakan ibarat selimut untuk menutup tubuhnya )
"Tunggu disini dulu, aku akan menjemur bajumu diatas batu besar itu, aku yakin sebentar saja nanti pasti sudah kering.''
Ucapnya masih dengan kelembutan .
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggumu di sini, cepat kembali, hutan ini berbahaya untuk wanita sepertimu." Jawab bocah kecil, dengan penuh arogan, sebuah sikap dewasa yang ia paksakan.
Namun, bagi Ziaruo itu sangat lucu dan menggemaskan, bahkan sikap tersebut benar benar membuat wanita itu, merasa gereget dan ingin memeluknya.
Namun, jika tiba tiba ia mememluknya, menilik, dari sikap sang bocah ia pasti gelagapan.
Oleh karenanya Ziaruo hanya tersenyum dan menjawab. "Ia ..aku akan menjemur bajumu ini saja, itu ..disana diatas batu besar."
"Apakah kau kedinginan?.'' Tanyanya setelah ia kembali dari menjemur baju, Ziaruo melihat bocah itu menggigil di balik baju miliknya.
"Kau pasti kedinginan, memangnya sejak kapan kau berpegangan disana?.'' Gumamnya lirih, sembari mengangkat tubuh bocah kecil itu keatas pangkuannya.
Ia juga mengambil sebuah bubur ayam, hangat lembut dalam sebuah mangkuk keramik, serta sebuah sendok dari keranjangnya.
*Tentu saja dari rajah phoniex, ia menciptakan bubur buatan sang ibunda dari dunia moderen, bubur ayam buatan nyonya Ranti*
"Ayo makanlah bubur ini dulu, setelah itu aku akan memberikan sebuah benda ajaib untukmu.'' Bujuk ziaruo, dengan nada yang tetap lembut seperti sebelumnya.
Bocah itu mendongak keatas, menatap lekat tepat dimata Ziaruo dan bertanya. "Apa kau akan menyuapiku?, dan mengapa kau memangku tubuhku?.''
"Apa kau malu, jika aku menyuapimu, dan memangku tubuhmu seperti ini?.'' Jawab Ziaruo, dengan nada gemasnya sembari, mencubit pipi cuby bocah tersebut.
"Kenapa harus malu...aaakkkk.'' Jawab bocah kecil dengan ekspresi di buat secuek mungkin, sambil membuka mulutnya.
"Oh ya kau tinggal di mana? mengapa kau bisa hanyut di sungai?.'' Tanya Ziaruo, sembari menyuapkan bubur ke mulut bocah tersebut.
"Nanti kau juga akan tahu.'' Ucapnya ketus, dengan gaya yang di buat buat seolah ia adalah pria dewasa.
Satu suapan, dua suapan, hingga beberapa kali suapan, bocah itu tetap tidak menjawab sebagaimana jawaban sebenarnya, atas pertanyaan dari Ziaruo.
"Jika kau tidak memberi tahuku bagaimana, aku akan mengantarkanmu pulang?.'' tanyanya lagi.
Kau kan nanti akan kubawa pulangy jadi bersabar saja.'' Dalam pikiran bocah kecil.
"Kami tinggal didesa tepi hutan nona.'' Suara tegas seseorang dari balik pepohonan menyahuti.
Mendengar hal itu, Ziaruo menoleh dari arah sumber suara, disana ada sekitar 14 orang pria, mereka berjalan mendekat kearah Ziaruo dan bocah kecil tersebut.
Melihat begitu banyak orang mendekat, Ziaruo hanya melihat mereka sekilas, dan kembali menyuapkan bubur kemulut bocah tersebut.
"Ayo... ini yang terakhir, dan aku akan memberikanmua sebuah hadiah.'' Ucap Ziaruo lagi, dan bocah itu menurut padanya, membuka mulut serta kembali mengunyah suapan terakhirnya.
Ziaruo kembali merapikan mangkok dan sendoknya, ia memasukan semuanya dan meletakan kembali kedalam keranjang kecil bawaanya.
Wanita itu, hanya memperdulikan bocah kecil tersebut.
Didalam hatinya, ia ingin cepat cepat pergi dari sana. Bukan karena takut, namun karena ia malas mengotori tangannya.
"Nona terimakasih, karena sudah merawat putraku, namun mengapa dia berpakaian seperti itu?.'' Tanya seorang Pria, yang keheranan karena putranya, mengenakan pakaian wanita sebagai selimut.
"Itu karena putra anda...,''
Jawab Ziaruo, sembari menoleh kearah orang yang mengajaknya bicara.
__ADS_1
Akan tetapi, ucapannya terhenti saat ia sadar, melihat orang orang itu kini membulatkan matanya, dengan mulut yang agak terbuka, dan ia faham mengapa hal tersebut terjadi.
Hal Itu di karenakan, Ziaruo lupa memasang cadar pada wajah cantiknya.