Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 201 Manusia biasa.


__ADS_3

Dengan gerakan agak kasar, ia menepis tangan sang kasim yang memapahnya berjalan.


''Aku tidak membutuhkan bantuan, terlebih lagi dari orang-orang seperti kalian.''


Yunsang berjalan setengah berlari kearah pavilliun, setelah mengatakan hal tersebut.


Ia tak lagi menghiraukan tatapan tak percaya, dari pria dewasa yang kini berada di belakang, serta berusaha menyusul langkahnya.


''Orang-orang seperti kami?, memangnya seperti apa kami?.'' Gumam lirih kasim penuh kebingungan.


Pria itu terus melangkah, mengikuti tuan muda kecil di hadapannya.


Ia tak menghiraukan sikap kasar, yang baru dilakukan oleh Yungsang beberapa saat yang lalu.


Siapa suruh dirinya hanya seorang pelayan saja.


Pemikiran itulah yang selalu di katakan hatinya, sebagai penghibur diri sendiri ketika menerima perlakuan kurang mengenakan, dari orang lain di istana.


Namun, ia tak juga serta merta melupakan perkataan buruk tersebut.


Dalam hati kecil, kasim itu beberapa kali mengulang perkataan Yungsang.


Sang kasim mulai menghentikan langkah kaki, dan berbalik kembali menyusuri jalan yang sama, ketika ia melihat Yunsang telah memasuki pintu utama kediaman.


''Selamat datang tuan muda''


Sebuah sambutan sopan dua penjaga gerbang, di dengarnya dari jauh nenyapa Yunsang disana.


Namun, sang kasim tidak tertarik untuk mendengar percakapan diantara mereka.


Ia terus melangkah menjauh dari tempat tersebut, dengan langkah kaki lebar.


...........................


Sementara itu.


Di sebuah tempat dengan gambaran suasana meriah dan tampak indah.


Seorang wanita berjalan dengan sedikit kegetiran hati.


Matanya yang bening kecoklatan, tampak sedikit menyipit dengan rasa sakit yang terpusat pada perut kecilnya.


''Aku tak boleh kehilanganmu.'' Gumamnya lirih.


Wanita yang tak lain adalah Ziaruo tersebut, bergerak perlahan dan terlihat lemah.


Tubuhnya yang masih terlihat sama seperti semula, tampak sedikit terseok dan ringkih.


''Mengapa jalan ini seolah jauh lebih panjang dari sebelumnya?, ataukah tubuhnya yang semakin melemah.'' Lanjutnya masih untuk dirinya sendiri.


''Anda kembali dewi.''


Sebuah suara dengan nada ringan dan jelas, menyeruak dari balik punggung Ziaruo.


''Oh...sepertinya keadaan anda jauh lebih buruk dari sebelumnya.'' Lanjut suara itu lagi.


Dan Ziaruo tidak merasa terkejut, ataupun heran dengan kehadiran pemilik suara itu.


Ia tahu dengan jelas, apapun dapat di lakukan oleh Yaksa di dimensi Yincang ini.


''Anda benar, wanita ini telah ceroboh sesaat.'' Jawab Ziaruo.


Pemilik suara yang tak lain adalah Yaksa tersebut, tidak menduga bahwa wanita Yun akan berterus terang kepadanya.


Bahkan, secara rendah hati mengakui kesalahan yang telah di ketahui oleh dirinya.


Yaksa dengan sengaja memberikan Giok untuk Ziaruo, bukan sekedar untuk alat jalan datang kepadanya.


Namun, benda itu juga akan memantau setiap kejadian dan hal-hal yang di lakukan oleh sang pemegang.

__ADS_1


Yaksa memantau Ziaruo.


''Baiklah...karena anda merasa itu akibat tindakan sendiri.''


Yaksa menggeliatkan tubuh, dan datang mendekat kearah Ziaruo.


Sulur lidah panjangnya menjulur, hendak mencapai leher wanita itu.


Akan tetapi, ketika jarak hanya tinggal satu inci saja, lidah bercabang tersebut berhenti.


''Apa yang ingin anda lakukan?, katakan kepada wanita ini?.'' Ucap Yaksa.


Wanita Yaksa, seolah sosok yang tengah menunggu perintah dari Ziaruo.


Dirinya ibarat pelayan di hadapan wanita itu, namun dengan kearoganan yang tinggi atas diri sendiri.


Tetapi, sebelum Ziaruo memberikan jawaban untuk pertanyaannya, ia kembali meliukan tubuh dan bergerak kedepan Ziaruo, seraya berkata.


''Anda kesakitan?, apakah perlu wanita ini meredakannya terlebih dahulu?.''


Mendengar pertanyaan itu, Ziaruo terkejut sejenak.


Namun, dengan cepat ia menstabilkan perasaan itu, dan menggelengkan kepala pelan.


''Hanya pastikan saja dia baik-baik saja.'' Jawab wanita Yun.


Yaksa yang mendengar jawab tersebut, tak dapat memahami pemikiran wanita di hadapannya, dan tertawa.


''Hahaha...hahaha...hiiiizzzssss.''


''Sungguh tak dapat di mengerti.''


''Baiklah itu adalah hal mudah, namun...''


Perkataan Yaksa tidak terselesesaikan, ia menatap lekat kearah Ziaruo.


Dan sebaliknya hal yang sama dilakukan oleh wanita Yun tersebut.


Ziaruo bukan tidak memahami kondisinya saat ini.


Sejak awal ia telah di peringatkan untuk berhati- hati, serta tidak menggunakan kekuatan magis miliknya.


Hatinya bergejolak dengan kecemasan, ia merasa segalanya akan di renggut dari tubuh itu.


''Bukan sulit, namun tidak juga mudah.''


Lahi-lagi Yaksa meliukan tubuh panjangnya, ia seolah tengah mengamati tubuh fana Ziaruo dengan seksama.


''Lakukan apapun, asalkan dia selamat..... itu sudah cukup.'' Ziaruo.


''Haaiiiizzzzzsss.''


Yaksa kembali mendesis, mendengar perkataan wanita Yun.


Seolah dari ucapan itu, wanita di sana telah benar-benar siap untuk segala hal.


''Anda harus melepas setiap kultivasi dan magis itu sendiri.''


Yaksa mengatakannya, dengan wajah serta nada, seolah ia menyangkan akan sesuatu.


Namun, justru hal tersebut di hadapi dengan mudah oleh wanita Yun di depannya.


''Hanya itu?.'' Jawab Ziaruo.


''Hanya itu?.'' Sahut Yaksa keheranan, menirukan perkataan Ziaruo.


Namun, belum sempat keberaniannya tercerna lengkap, sebuah ucapan lain kembali ia dengar.


''Maka lakukanlah.'' Ucap Ziaruo lagi.

__ADS_1


''Tapi, sebelum itu bisakah kau membantuku untuk tinggal beberapa hari lagi di sana (di dunia manusia), ada yang harus kuselesaikan.''


''Baiiikk.'' Pekik Yaksa dengan sedikit hentakan pada suaranya.


Dalam hati ia ingin mencegah tindakan dari wanita Yun, yang ia anggap bodoh.


Ia merasa sayang, dan menyesalkan untuk tindakan Ziaruo.


Dimana dirinya dengan status dan kultivasi tinggi, yang banyak di dambakan semua orang, begitu mudah mengambil keputusan.


Yaksa juga sempat berpikir apakah dirinya yang salah mengerti.


Akan tetapi, berapa kalipun ia mencerna segalanya, jawaban tetaplah sama.


Yaksa tetap saja, menganggap wanita Yun bodoh.


Tapa, pelatihan, pembelajaran, penahanan, magis serta kemampuan istimewa luar biasa akan di tukar untuk janin manusia fana, yang bahkan masih belum berbentuk dalam rahim itu.


Yaksa menyerah dan memundurkan tubuh perlahan.


''Apakah ini sudah di putuskan?.'' Tanya Yaksa untuk kesekian kalinya, sembari menatap mata wanita itu.


Dan ia hanya mendapat sebuah senyuman lembut sebagai jawaban dari Ziaruo.


''Haaaaiiiissszzz..'' Wanita Yaksa semakin inten menatap, sebelum akhirnya menghela nafas dalam.


''Setelah ini, anda akan menjadi wanita fana biasa, dan tak akan pernah mampu berdiri di jalan anda sendiri, tanpa perlindungan dari orang lain.'' Ucap Yaksa.


''Dan aku yang akan menjaga anda kedepanya'' Sambung Yaksa dalam pikiran.


Yaksa mulai menggerakan tangan, dan merapatkan bait-bait mantra.


Dalam sekejap saja, kemeriahan disana sirna, dan berganti dengan kesunyian yang mencekam.


Suara-suara tangisan, seru ketakutan, gambaran kelaparan, kelahiran, penderitaan, serta kematian menyeruak di sekeliling Ziaruo.


Sebuah pemandangan yang membuat siapapun, mengucurkan keringat dingin serta perasaan ngeri.


Tubuh Ziaruo bergetar hebat, nafasnya tersengal seolah tercekat di tenggorokan.


Waktu bagi Ziaruo semakin melambat, ia hanya merasakan nafasnya berjalan kearah rahim, yang kini sedikit menebal.


Hangat, perasaan hangat perlahan mengalir dari jantung serta hatinya, dan menjalar kearah perut.


Tubuh itu kembali bergetar hebat.


Dan diatas sana, dengan serta merta langit menghitam, petir menggelegar berulang- ulang kali, tepat di atas kepala Ziaruo.


Dalam hitungkan kedipan mata, tubuh wanita Yun terseret kedalam kabut tebal, dengan lubang dalam tak berujung.


''Apa, apa yang kau lakukan?.'' Teriak Ziaruo, dengan nada sedikit panik.


Namun, ia tak memperoleh respon apapun dari wanita Yaksa.


''Selamatkan putraku, selamatkan putraku...kumohon selamatkan putraku.'' Ucap Ziaruo lagi.


Ia melihat wanita setengah ular itu, tetap pada posisi semula. Seakan tak ada keinginan, untuk membantunya sama sekali.


Justru wanita itu memberikan senyum singkat, dan berkata. ''Ingat anda harus kembali setelah 7 hari mendatang, tidak lebih.''


Namun, dengan kecemasan untuk kondisinya saat ini, Ziaruo tak mampu mendengar dan memahami dengan baik apa yang disampaikan oleh Yaksa.


Yang ia dengar hanya 7 hari, 7hari itu saja.


''Tidak..selamatkan putraku, selamatkan putraku.'' Panggil Ziaruo lagi, sembari memeluk perutnya sendiri.


Ia terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang kali, hingga sebuah panggilan menyadarkannya.


''Yun...Yun...bangunlah, bangunlah Yun...tidak akan ada yang terjadi kepada putra kita.''

__ADS_1


''Yun...Yun...bangunlah.''


__ADS_2