
Masih di Nancang...
Sebuah kabar dari pelayan dapur, membuat Yongyu dan beberapa pelayan, berjalan dengan cepat menuju pavilliun, di tengah danau yang bertempat di belakang kedai, serta penginapan Nancang. Sebuah tempat khusus yang hanya dijaga, serta dirawat dengan baik oleh semua orang dikedai tersebut, tanpa ada yang berani menempatinya.
Bangunan tersebut berdiri diatas lahan dengan ukuran kurang lebih seperempat hektar, dengan dua bangunan utama berada di tengah danau buatan ( kolam besar), sebuah jembatan kayu hutan yang kokoh sebagai penghubungnya.
Meskipun pavilliun itu berada di lingkungan penginapan, akan tetapi dengan tata letak yang dikelilingi dengan kolam besar, menimbulkan sebuah perasaan yang terpisah dari kedai dan penginapan itu sendiri.
Di depan pintu masuk jembatan, terdapat sebuah pondokan kecil, sebagai tempat tinggal bagi mereka, yang bertugas berjaga di pintu masuk kedalam pavilliun.
Bukan hanya itu saja, bahkan pelayan yang bertugas membersihkan pavilliun tersebut juga dipilih, dengan kata lain tidak semua pelayan bisa, dan diizinkan memasuki tempat itu. Oleh karenanya mereka sering menyebutnya sebagai pavilliun Yincang (tempat rahasia/ tersembunyi).
Yongyu dengan langkah cepat, melesat mendahului semua pelayan yang disana, membuka pintu pavilliun dengan wajah yang bersemu bahagia.
''Ruoer...kau didalam?, kapan kau sampai?, apakah kau baik baik saja?.'' Yongyu.
Pria tersebut, selalu antusias ketika berhubungan dengan Ziaruo, hingga ia lupa bahwa sang adik kini telah memiliki status yang berbeda darinya.
Yongyu melangkah menapaki lantai dua dan. '' Braaak...'' Pintu terbuka dengan agak keras.
Disana sepasang suami istri, tengah menikmati teh pagi mereka, dengan beberapa cemilan diatas mejanya.
Melihat kedatangan Yongyu, keduanya terkejut.
''Kapan kau datang?, mengapa kau tak mengabariku kalau kau merubah jadwal keberangkatamu?, kau ini....''
Yongyu berkata dengan tanpa memberikan kesempatan sang adik, untuk menyela dan mejawabnya. dan hal itu sudah biasa bagi Ziaruo, namun bagi seorang Pria di sana, itu seolag sebuah kelancangan.
Pria disamping adiknya itu, mengeryitkan keningnya serta menampilkan raut wajah ketidak sukaan. Tapi apakah itu penting bagi Yongyu?. Tidak sama sekali, pria itu tidak memperdulikan sang suami dari Ziaruo.
Bahkan, tanpa di minta ataupun dipersilahkan, Yongyu ikut mendudukan tubuhnya, bergabung bersama mereka, sembari berucap kepada dua pelayan, yang baru saja masuk dan memberi hormat kepada kedua orang yang didalam ruangan tersebut.
''Siapkan sarapan untuk kami.'' Ucap Yongyu kepada sang pelayan.
''Maaf tuan, untuk berapa orang?.'' Jawab pelayan penuh hormat.
__ADS_1
''Tiga orang..'' Yongyu.
''Baik tuan..'' Pelayan.
Akan tetapi, sebelum kedua pelayan itu pergi, Ziaruo menyahut pelan. ''Tambah satu lagi, tapi di antar terpisah, ada tamu lain dilantai bawah ruangan pertama dari pintu tengah.''
''Baik Nona, akan segera disiapkan.'' Jawab pelayan, sembari membungkuk, memberi hormat sebelum pergi.
''Siapa lagi yang datang bersamamu?.'' Yongyu
Sementara itu, Kaisar Jing juga menunggu jawaban, atas pertanyaan dari kakak iparnya tersebut dengan fokus.
''Siap lagi yang ikut bersama perjalanan kami semalam.'' Pikir Jing, penasaran.''
'' Wuhan.'' Jawab Ziaruo singkat.
'' Wuhan.'' Sahut keduanya hampir bersamaan.
Melihat kekompakan keduanya wanita itu terkekeh dan berkata. '' Hehe..hehe..ternyata kalian kadang kadang bisa kompak juga.''
''Apa kau juga...'' Pertanyaan Jing terhenti, ketika Yongyu menatapnya, menunggu sebuah ucapan yang hendak keluar dari bibirnya.
Mendengar hal itu Yongyu menatapnya sinis dan berdecih, sembari berkata dengan nada yang biasa ia gunakan untuk pria tersebut.
''Ciiih, jika kau tidak bisa bicara, diam saja.''
Mendengar ucapan sang kakak yang dianggap kasar, Ziaruo menepuk punggung tangan Yongyu dan berucap lembut. ''Kak...hentikan, dia telah menjadi suamiku sekarang, dan bukankah itu juga atas dukunganmu?.''
Perkataan Ziaruo membuat Kaisar Jing, menatap lekat kearah sang kakak ipar penuh rasa tak percaya. Baginya pria tersebut adalah seseorang yang sangat membencinya, namun mengapa ia justru mendukung sang adik menikah dengannya?.
Dan Jing juga tahu dengan jelas, bahwa pria Yongyu tersebut, tak pernah berkeinginan untuk kekuasaan. Lalu dengan alasan apa ia mendukungnya?. Kaisar Jing tampak tak percaya, dan meragukan pendengarannya.
''Mengapa kau menatapku dengan wajah bo**hmu itu, apa kau sekarang juga mencintaiku hah?.'' Ucap Yongyu kasar.
Pemuda itu, merasa malu dengan tatapan, serta merasa gengsi, karena telah diketahui perihal dukungan yang telah ia berikan, untuk Kaisar Jing, saudara sedarahnya(seibu)tersebut.
__ADS_1
Mendengar perkataan kasar itu, Jing tersenyum dan mengabaikannya, dalam hati ia bergumam. ''Ternyata anda hanya kasar di ucapan saja, dan aku senang mengetahuinya.''
Entah mengapa suasana ruangan, menjadi menghangat, seolah tak ada lagi kecanggungan dan perasaan kebencian.
Meskipun, Yongyu masih dengan ketidak pedulikan, serta kasar pada ucapan.
Akan tetapi wajah bahagia terlihat sempurna dimata sang Kaisar.
Bahkan ketika hidangan sarapan disajikan dan berpindah kedalam perut, semua masih terlihat sama. Kaisar Jing masih menampilkan senyuman, menanggapi penuh kesabaran setiap ucapan sinis sang kakak ipar.
Sampai ketika, Yongyu mulai menyinggung perihal pekerja Wangde.
''Oh ya Ruoer, Wangde ditahan pihak istana, atas tuduhan menghina serta merendahkan keluarga kekaisaran.'' Ucap Yongyu, setelah mereka menyelesaikan makan.
Tampak jelas ada kernyitan didahi sang adik, dengan perasaan heran ia bertanya. ''Menghina keluarga kekaisaran?, apakah itu mungkin kak?.''
''Mengapa tidak mungkin, bahkan jika orang biasa tidak berani melakukannya, namun ketika, keluarga kekaisaran datang membuat masalah, apakah kita hanya diam saja?, dan sesungguhnya, akulah yang memerintahkan Wangde melakukan tindakan itu, tapi Kaisar b*d*h itu ....''
Ucapan Yongyu terhenti, ia menatap wajah Jiang jing wei sesaat. Pria itu menghela nafas panjang.
''Tapi apa kak..?.'' Ziaruo.
Melihat ada kecanggungan ucapan pria didepannya, Jing mengerti arah pembicaraan sang kakak ipar.
''Mungkin ia tidak berniat menghukum Wangde, ia hanya merujuk kearahmu, Kaisar Xili itu ingin menggunakan masalah ini, untuk bertemu denganmu.'' Sahut Jing datar, suara pria tersebut tampak masih tenang.
Akan tetapi, dengan gemuruh kekesalan yang siap meledak didalam hati. Tangannya mengepal kuat dibawah meja, namun dengan senyum terpasang diwajah tampannya, ia kembali berkata.'' Tentunya dia menitipkan sesuatu kepadamukan?, sepucuk surat barang kali?.''
Ucapan Jing masih tampak tenang, bahkan pria tersebut masih sempat menyeruput teh hangat miliknya.
''Sial...sial kau Murongyu, lihat saja nanti, aku akan membuat perhitungan denganmu.'' Ucapnya sarkas dalam hati, dengan umpatan serta kutukan untuk sang Kaisar Xili.
" Ini..." Jawab Yongyu, sembari menyerahkan sebuah gulungan, yang ia ambil dari balik bajunya.
"Ia bilang akan menunggu hingga kau datang, sebagai pertanggung jawaban tak bisa mengatur dan mendisiplinkan perkerja." Lanjut Yongyu.
__ADS_1
"Kau pasti sekarang sedang kebakaran kak, menilik dari kepribadianmu, mungkin kemarahanmu itu, sudah bisa meledakan seisi kota, bahkan aku saja geram dibuatnya, bagaimana mungkin kau bisa setenang ini...hehe..menarik." Gumam Yongyu dalam hati.
''Heeeh...'' Dan hanya helaan nafas saja, yang terdengar dari bibir wanita cantik itu.