
Masih di Negri Tang.
Canzuo juga ingin meredakan kemarahan sang Jendral besar, atas kejadian tragis yang menimpa sang putra dan cucunya (kematian Gutingye dan Gutingyan), agar tidak melakukan tindakan pemberontakan.
''Hormat hamba Yang Mulia kaisar, semoga anda selalu sejahtera.'' Ucap seorang wanita, dengan suara lembut serta tenang.
............................
Seorang Pria dengan kesibukan yang nenumpuk didepannya, tengah membuka sebuah kotak penting dengan segel kekaisaran dari negri lain, tampak kecemasan pada wajah tegas serta tampannya.
Namun, pada wajah itu juga terlihat jelas rasa ingin tahu yang besar.
Canzuo perlahan membuka penyegel, menggerakan tangannya meraih sebuah anak kunci yang terselip di balik kotak.
''Kletek..kletek..clak.''
Dua putra pelan, berhasil membuka pengunci kotak.
Kaisar Canzuo mengambil nafas dalam sejenak, sebelum mulai membuka benda tersebut.
Dengan hati yang berdebar, ia mulai menggerakan tangan, mengangkat penutup kotak, serta melihat isi di dalamnya.
Matanya terbelalak sejenak, ketika kotak itu telah terbuka. Perlahan tangan besarnya meraih salah satu, dari 4 buah benda lainnya yang berada di dalam kotak tersebut.
''Ternyata, ini benar seperti yang aku pikirkan.'' Gumamnya lirih.
Ada senyum pada wajahnya, seolah ia telah menemukan benda paling berharga di dunia ini.
Tanpa ia sadari, wajah penuh kebahagiaan terukir jelas di sana, Kaisar muda tersebut tidak dapat menggambarkan kebahagiaan di dalam hatinya.
''Ternyata aku tidak sendirian di dunia ini....kita adalah orang dari dunia yang sama, aku harus berbicara denganmu, harus...'' Lanjut Canzuo masih dengan suara pelan.
''Hormat Yang Mulia, hamba kasim Yu, ingin mengabarkan bahwa selir keagungan sedang berkunjung.'' Ucap seorang kasim, yang baru saja memasuki ruangannya.
''Bangunlah... Izinkan ia masuk.'' Jawab Canzuo.
''Baik Yang Mulia, hamba undur diri.'' Jawab sang kasim, dengan penuh penghormatan.
''Sungguh kebetulan, aku memang sedang ingin menemuinya, bukankah dia adalah orang yang tepat untuk mendekatimu?, dia adik dari suamimu dulu, dan aku rasa kau pasti tidak akan menolak permintaannya.'' Pikir dalam hati Canzuo.
''Hormat hamba Yang Mulia kaisar, semoga anda selalu sejahtera.'' Sapa seorang wanita, dengan suara lembut serta tenang.
Wanita yang tak lain adalah selir keagungan tersebut, memberi hormat dengan tubuh sedikit di rendahan.
Kaisar Canzuo segera berdiri dari duduknya, serta mendekati sang selir.
''Sudahlah, ketika kita sedang berdua, jangan lakukan formalitas ini lagi.'' Ucapnya sembari membantu sang selir mengangkat tubuh, serta membawanya berjalan menuju kursi pada ruangan tersebut.
''Apa yang membawamu datang hari ini selir?, mengapa kau membuat dirimu lelah dengan datang kemari?.'' Tanya Canzuo dengan suara lembut, seolah ia tengah menyayangkan kedatangan sang wanita.
__ADS_1
Yang pada dasarnya ia tengah merasa senang, karena tak perlu repot repot datang menemui wanita Gu, tersebut.
Canzuo telah memiliki rencana kedua, yang jauh lebih efektif untuk mendekati Ziaruo, dan kali ini ia ingin memanfaatkan wanita di depannya saat ini.
Mendengar perhatian dari kaisar, selir Gu merasakan kebahagiaan yang berlipat lipat ganda.
Hingga sebuah senyuman, tercetak jelas pada wajah cantiknya tanpa ia sadari.
''Wanita ini sengaja datang menemui paduka, karena memang ingin memberi salam Yang Mulia.'' Jawab sang selir dengan suara lembut.
''Oohhh...... Benarkah hanya itu saja?.'' Sahut Canzuo dengan nada sedikit menggoda.
Selir Gu menatap sejenak kearah sang suami, dan segera menunduk kembali.
Melihat sang selir tersipu malu, Kaisar Canzuo kembali berkata. ''Ada apa?, katakan. Aku yakin ada sesuatu yang ingin kau sampaikan Selir.'' Tanya Canzuo lagi, Ia merasa ada sesuatu yang membawa wanita tersebut, datang menemuinya.
''Eemm...Paduka benar yang mulia, ada kabar gembira yang ingin wanita ini sampaikan kepada anda.'' Jawab selir Gu dengan binar mata yang cerah.
Kaisar Canzuo mengernyitkan keningnya sejenak, ia berjalan mendekati Selir Gu.
Tangan besarnya meraih tubuh sang selir, dan membawanya ke atas pangkuan.
''Benarkah?, kabar gembira apa yang kau bawa selir?, cepat katakan kepadaku.'' Ucap sang Kaisar kembali.
Mendengar antusias Kaisar Canzuo dengan ucapannya, selir Gu menyandarkan kepala di dada pria tersebut, sebelum kembali berucap. ''Wanita ini tengah membawa calon penerus kekaisaran di tubuhnya Yang Mulia.''
Dengan suara yang di buat setenang mungkin, ia kembali bertanya. ''Apakah itu benar selir?, sudahkah hal itu di pastikan?.''
''Eemmm...'' Jawab singkat selir Gu, sembari mengangukan kepala pelan.
Wanita tersebut, nampak bahagia, dengan posisi yang masih sama, bersandar pada dada bidang sang kaisar.
Ia tidak mengetahui perubahan wajah dari sang pria, yang kini tengah menggelap, dan tampak menakutkan di atas kepalanya.
Bahkan kasim pendamping sang Kaisar, yang berada di sana mulai merasakan ketakutan yang besar.
''Kapan kau memastikannya selir?, dan tabib mana yang memeriksamu?.'' Tanya Canzuo kembali.
''Pagi ini Yang Mulia, dan yang memeriksa adalah tabib dari balai pengobatan. Bahkan ia juga menyarankan untuk tidak banyak bergerak, karena ini baru diawal kehamilan.'' Jawab sang selir lagi.
''Apakah Yang Mulia bahagia?.'' Tanya balik selir Gu, masih dalam posisi yang sama.
Mendengar pertanyaan dari sang selir, hati Canzuo bergemuruh, ada kemarahan yang sangat besar disana.
Namun untuk saat ini, ia tak ingin membuat masalah dan memancing kemarahan sang jendral.
Bagaimanapun lebih dari setengah pasukan kekaisaran, berada di bawah komando mertuanya, dan ia bukanlah orang yang bod*h.
''Bagaimana aku bisa bahagia, bayi itu adalah ancaman untukku, terlebih lagi jika dia seorang pangeran.'' Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Kaisar Canzuo berpikir bayi yang ada di dalam kandungan sang selir, merupakan kemalangan atas tahta dan kedudukannya.
Karena kekuasaan Jendral Gu akan semakin mengakar, jika putrinya melahirkan seorang pangeran.
Dimana, hingga sekarang ia belum memiliki seorang putra mahkota.
Kaisar Canzuo hanya memiliki 4 orang putri dari wanita wanitanya, dan jika selir Gu melahirkan seorang putra, maka secara tidak langsung gelar Permaisuri dan putra mahkota jatuh kepadanya.
Dan secara tidak langsung, kekuasaan keluarga Gu tidak akan tergoyahkan lagi.
Sementara selama ini, Kaisar Canzuo tengah berusaha menekan kekuasaan sang Jendral.
Akibat, hubungan mereka yang kini tengah merenggang.
Ia mengetahui dengan jelas, bahwa Jendral Gu tengah kecewa dengan dirinya, semenjak kematian Gutingye dan cucunya Gutingyan.
Bahkan, Jendral Gu sempat beberapa kali, melontarkan ketidak puasan, atas beberapa keputusan dari Kaisar Canzuo.
Akan tetapi, Kaisar Canzuo tidak menyadari, bahwa itu sengaja di lakukan oleh sang jendral, karena memang ia merasa kurang puas dengan keputusan yang diambil, bukan karena alasan pribadi.
Jendral Gu memang terkenal sangat kejam, bahkan ia pernah membumi hanguskan satu desa tanpa pandang bulu, baik itu wanita ataupun anak anak.
Selama itu perintah sang Kaisar, meskipun bertentangan dengan hatinya, ia akan tetap melaksanakannya.
Oleh karena hal inilah, jendral Gu memperoleh sebutan sebagai Jendral kejam dari n*r*ka.
Namun sebuah ketakutan akan kesalahan, ternyata membutakan mata hati seseorang, kesetian dan pengabdian sang jendral, dianggap sebagai upaya pelampiasan atas ketidak puasannya.
Terlebih lagi, ada beberapa pihak yang sengaja memperkeruh kerenggangan diantara mereka.
Dengan wajah serta suara yang di buat setenang mungkin, Canzuo menjawab. "Apa yang kau pikirkan?, tentu saja aku senang selir, dan jika nanti yang lahir adalah seorang pangeran, bukankah itu kabar gembira." Jawab Canzuo, seolah ia ikut bahagia atas kehamilan sang selir.
"Oh ya..kau juga harus bersiap siap untuk ikut menyambut tamu dari kekaisaran, apakah itu tidak masalah untukmu?, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada bayi kita." Lanjut Canzuo datar.
Mendengar ucapan tersebut, selir Gu merasa di perhatian oleh sang kaisar, ia merasa seolah segalanya indah saat itu.
Akan tetapi, sejauh apa langkah kaki, dan sebesar apapun mencoba memahami, tetap tak dapat mengukur kedalaman hati.
Canzuo layaknya seekor rubah dalam kulit sang pujangga cinta di depan selir Gu.
Akan tetapi, dengan sebuah rencana licik, serta keji tengah di persiapkan oleh pria terkasih di dalam benaknya.
"Lagi pula, bukankah kau juga harus mulai bersikap sebagai seorang Permaisuri, karena aku yakin bahwa bayi yang kau kandung adalah seorang pangeran." Ucap sang Kaisar lagi, ia ingin membawa angan dan hayalan sang selir, membumbung tinggi.
Dan benar saja, bagi wanita tersebut tidaklah di pungkiri lagi, angan angannya kini telah bersanding dengan awan awan dilangit biru.
Ia tidak menyadari, akan bahaya yang siap menariknya ke dasar lembah kehancuran, bahkan sebuah kekacauan yang akan ikut menyeret seluruh keluarganya masuk ke jurang tersebut.
Sungguh hati manusia tiada bandingan untuk kedalamannya, berbaik hati bukan jaminan akan berimbas sama dari hati yang lainnya.
__ADS_1