
Di istana kekaisaran Xili.
Langkah kaki Chang yeon semakin berat, dan seolah ia hendak terjatuh disana. segalanya telah terjadi dan penyesalannya tak akan berarti apapun sekarang.
Kesombongan, arogan, kelicikan bahkan kebohongan yang di tanamnya beberapa saat yang lalu, sebentar lagi ia akan memetik hasilnya.
Keesokan harinya di kekaisar Zing.
Tampak Ziaruo tengah selesai bersiap untuk perjalanan ke negri Tang, Kaisar Jing juga berada disana bersamanya. Maklum saja semenjak pernikahannya dengan sang Permaisuri, dia seolah tak memiliki tempat lain untuk pergi, dan selalu menghabiskan malam malamnya hanya bersama sang kekasih hati.
Melihat Ziaruo tampak cantik, ia tak bisa menahan perasaannya yang semakin besar setiap harinya.
Meskipun Kaisar Jing memiliki banyak wanita sbelumnya.
Akan tetapi, bagi pria tersebut hanya wanita itu saja yang membuatnya seperti ini.
Pria yang berkuasa di kekaisaran Zing sejak usia masih muda tersebut, seakan baru saja menemukan sesuatu yang berharga didalam hidupnya. Hingga dengan alasan apapun ia tak ingin berada jauh dari sang Permaisuri.
''Yun...jangan teresa gesa, lakukan semaumu, bahkan jika kita harus telat menghadiri acara itu, bukan masalah buatku. atau jika kau malas pergi, kita bisa tidak datang.'' Ucap Jing sembari menarik narik, gaun yang dikenakan dan baru saja dirapikan oleh Ziaruo.
Pria tersebut membuat Ziaruo, merapikan serta menata gaunnya sia sia. Dengan lirikan mata tajam,
Ziaruo menoleh kearah Kaisar Jing dan berkata.'' Hentikan...anda ingin membuatku berlama lama dengan baju ini?.''
Melihat wanita itu merasa kesal, Kaisar Jing tersenyum, ia mendekat kepada Ziaruo dan memeluk wanita yang kini tengah duduk di depan meja hias.
''Mengapa kau harus berhias secantik ini, hanya untuk duduk di dalam kereta?, kau tak perlu melakukannya.'' Ucap Jing kembali kepada sang Permaisuri, ia merasa wanita itu terlalu cantik jika harus berhias.
Kaisar Zing tidak suka, jika nanti orang lain melihat wajah cantiknya. Padahal Ziaruo hanya merapikan rambutnya dan mengenakan pemerah bibir saja.
Mendapat ucapan yang demikian, Ziaruo menghela nafas pelan, ia berbalik dan menghadap tepat kepada sang suami.
''Saya melakukannya untuk anda suamiku...agar anda tidak bosan selama perjalanan nanti.'' Jawab Ziaruo sembari tersenyum kearah Kaisar Jing.
Mendengar jawaban tersebut, Jing merasa sebuah kebahagiaan yang besar. Ia menyukai panggilan ''Suami'' dari bibir Permaisuri Yun.
Pria tersebut berdiri, dan meletakkan telapak tangannya di belakang leher Ziaruo, membawa wajah wanita itu menempel tepat ke hulu hatinya( perut bagian atas).
Dengan suara lembut dan lirih, Kaisar itu berkata.'' Jika bisa aku ingin berapa kalipun dilahirkan, kita selalu menjadi pasangan Yun..., aku ingin selalu hanya menjadi suami dari Janda Yun, kekasih hati dari dewi Ziaruo yang baik serta cantik.''
Ziaruo merasakan keterharuan yang mendalam, mendengar semua ucapan sang Suami, dengan kedua tangannya yang melingkar dipingggang pria tersebut, wanita itu mengeratkan pelukannya.
''Terimakasih Yang Mulia telah menjadikan Janda ini, sebagai Permaisuri di kekaisaran Zing yang tersohor, terimakasih Karena pria tampan Jiang jing wei bersedia mempersunting Ziaruo sebagai kekasih dan istri tercitanya dan terimakasih telah memberikan perlindungan, kepada pengembara waktu yang terhukum ini, percayalah saya merasa bahagia Yang Mulia.'' Ucap lembut serta penuh perasaan dari bibir Ziaruo.
Kaisar Jing melepas pelukan Ziaruo, ia merendahkan tubuhnya sesaat, mengecup pelan kening Permaisuri Yun, membawanya berdiri serta memeluknya kembali.
__ADS_1
Dengan gelora dihatinya yang berkobar sekarang, ia berkata lirih di dekat telinga sang istri.'' Kau menyiksaku Yun...''
Mendengar hal itu, Ziaruo mengernyitkan dahinya, ia mendongak keatas menatap lekat wajah Jing, seraya bertanya.'' Menyiksa anda?, kapan saya melakukannya Yang Mulia?.''
Kaisar Jing semakin mengeratkan pelukannya, ia tersenyum dan menjawab.'' Sekarang Yun...sekarang kau sedang menggodaku dan membangunanya, padahal kita sudah akan pergi, melakukan perjalanan.''
Ziaruo merasa malu, ketika mendengar perkataan sang Kaisar, terlebih lagi saat pria tersebut menatap kearah bawah bagian tubuhnya, dan dengan reflek ia mengikuti arah tatapan mata sang suami( Mengacu kearah bagian sensitif Kaisar Jing yang kini tengah unjuk gigi dibawah sana).
''Bluuuuusshhh...'' Ziaruo membulatkan matanya, dalam sekejap rona merah, tercetak dikedua pipi putih wanita itu.
Buru buru ia mendorong tubuh sang suami menjauh, sembari berkata.'' Hentikan Yang Mulia, kita harus segera berangkat.''
''Hahaha...hahaha...haha...'' Gelak tawa Jing terdengar hingga diluar ruangan. Membuat semua orang yang mendengarnya ikut tersenyum.
Semenjak menikah dengan Ziaruo, banyak tersebar berita, bahwa Kaisar kejam mereka, jauh lebih sering tertawa dan terlihat bahagia.
Bahkan, penguasa yang dulu dikenal tanpa ampun itu, kini sering memberikan kesempatan kedua kepada bawahannya yang melakukan kesalahan.
Namun tiba tiba saja, suara Wuhan dari luar ruangan, menghentikan tawa sang Kaisar.
''Yang Mulia...pelayan dari selir Feng, ingin menyampaikan berita kepada anda.''
Mendengar hal tersebut, Kaisar Jing merubah raut wajahnya menjadi datar, seakan tak terlihat sebuah jejak kebahagiaan disana.
"Baik Yang Mulia." Jawab Wuhan kembali.
''Krieeeettt....''Suara pintu terbuka, seorang wanita pelayan, dengan tubuh membungkuk memasuki ruangan.
''Hormat hamba Yang mulia, Semoga anda sela...'' Ucapan pelayan wanita tersebut tak terselesaikan.
Wajah jengah Kaisar Jing tampak jelas, ia merasa kesal dengan kedatangan sang pelayan, terlebih lagi hal itu berhubungan dengan sang selir, wanita miliknya yang lain.
Bagi Jing, ia tak ingin mendengar apapun tentang selir selir miliknya, terlebih lagi ketika ia berada didekat Ziaruo. Jing tak ingin ada perasaan kecewa diwajah Ziaruo. ataupun mengingatkan dirinya, bahwa ia pernah bersama wanita wanita lain sebelum bersama Ziaruo.
Seandainya bisa, jing ingin hanya memiliki kenangan bersama sang Permaisuri tercintanya saja. Akan tetapi sebuah pengandaian tak akan pernah membantu, karena pada kenyataannya, ia telah melalui waktu dan kebersamaan dengan banyak wanita, sebelum bertemu dengan Permaisuri Yun.
Oleh karena itu, tanpa menatap sang pelayan ia kembali berkata.'' Katakan ada apa?.''
''Yang Mulia selir dalam kondisi buruk Yang Mulia, beliau telah diracuni oleh seseorang.'' Jawab pelayan tersebut dengan posisi masih menunduk.
''Mendengar hal tersebut Ziaruo tersenyum sekilas, ia berjalan mendekat dan bertanya.'' Apakah Nyonyamu mengatakan agar kau datang kemari?, dan apakah ia juga sudah tahu siapa yang telah meracuninya?.''
Pelayan wanita itu reflek mengangkat kepala, matanya membulat, tiba tiba saja ia merasakan ketakutan di hadapan sang Permaisuri.
Ziaruo kembali duduk dan mengajak Kaisar Jing bersamanya. Wanita itu berbisik ditelinga sang Kaisar.
__ADS_1
Wajah penguasa itu, memerah sesaat setelah Ziaruo menyelesaikan bisikannya. Bukan merasa tersipu atas bisikan dari Permaisuri Yun, akan tetapi seolah ia akan meledak karena kemarahan yang tengah ia tahan.
''Wuhan...'' Panggilnya dengan nada tinggi.
Sementara itu, yang mempunyai nama merasa keheranan, mengapa tuannya yang baru saja tertawa penuh bahagia, tiba tiba sekarang tampak sedang marah, akan tetapi ia hanya bisa menjawab dengan cepat atas panggilan tersebut.'' Hamba Yang Mulia.''
Wuhan bergerak dengan cepat, di sela keheranannya.
''Katakan dengan jelas, tanpa ada yang kau tutupi, atau kau ingin dilayani oleh Wuhan?.''
Ucap Kaisar Jing, dengan penuh penekanan serta tatapan tajam.
Mendengar hal itu, wajah sang pelayan, menjadi pias dan memucat, ia tak mengerti mengapa justru Kaisar marah kepadanya, dan tidak mengkhawatirkan selir feng?, seingatnya meskipun, sekarang Kaisar tersebut telah menikah(memiliki permaisuri), namun selir Feng adalah wanita yang paling ia pedulikan sebelumnya.
''Cepat katakan...atau Kau memang memilih Wuhan.'' Tanya Kaisar itu kembali, dengan bentakan yang cukup keras.
Lagi lagi, pelayan wanita tersebut semakin ketakutan. Dengan tubuh bergetar serta nada yang terbata ia berucap.'' Yang Mulia selir berkata bahwa beliau...te..lah..telah dicaruni oleh..oleh..''
Mendengar penjelasan yang bertele tele, Wuhan mendekat, pria itu mencengkram dagu wanita pelayan tersebut, sembari bertanya.''Oleh siapa?, katakan yang jelas, atau aku akan mer*m*kan rahangmu ini.''
Mendapat perlakuan yang demikian, pelayan wanita itu, tubuhnya semakin menggigil ketakutan, air matanya mulai mengalir.
Dengan suara yang tak sempurna, akibat cengkraman Wuhan pada rahang bawahnya, ia kembali berkata.'' Yang Mulia ..se..lir ..diracuni..oleh or..orang suruhan Permaisuri Yun...Yang Mulia.''
Mendengar jawaban tersebut, Kaisar Jing semakin geram, tangannya mengepal kuat, dan.......''Hahaha...haha...haha..Bagus...bagus...kalian berani melakukannya...bagus.''
Kaisar berkata dengan penuh kemarahan di sela tawanya, sebuah tawa yang mengandung makna berbeda, dengan tawa yang sebelumnya didengar oleh orang orang yang berada sekitar pavilliun Permaisuri.
Ziaruo menghela nafas dalam, mendengar serta melihat kejadian didepannya. Ia tahu bahwa kehidupan bahagiannya disini, hanyalah sebuah awal untuk polemik yang terselubung, serta pertempuran keji diantara wanita wanita Kaisar dan kekuasaan.
Dengan suara yang masih tenang, Ziaruo berkata.'' Yang Mulia...bisakah anda memerintahkan pengawal dan penjaga bayangan yang akan kenegri Tang, untuk berangkat lebih dahulu, katakan kepada mereka, bahwa kita akan menunggu di penginapan Nancang.''
Kaisar Jing merasa kebingungan dengan ucapan Ziaruo, bagaimana dia dan permaisuri akan menunggu di Nancang?, jika semua pengawal serta penjaga bayangan berangkat terlebih dahulu, bukankah itu berarti merekalah yang akan ditunggu.
Akan tetapi, melihat ada kesedihan di wajah sang Permaisuri, Kaisar Jing hanya bisa meminta Wuhan melakukan semua yang diminta Ziaruo.
''Wuhan lakukan yang diminta oleh permaisuri, dan bawa pelayan ini pergi dari hadapanku.'' Perintah Kaisar Jing kepada Wuhan.
Wuhan mendengar permintaan sang Permaisuri dengan jelas, bahkan sebelum Kaisar Jing memerintahkannya, namun dengan keberanian yang ia kumpulkan, sebelum pergi ia berkata.'' Yang Mulia..Izinkan hamba mengawal anda, hamba tidak akan berangkat bersama rombongan.''
Mendengar hal tersebut, Kaisar Jing mengibaskan tangannya sembari berkata.'' Lakukan sesukamu.''
Terimakasih 😍😍 sudah mampir dan membaca.
Mohon bantuanya, meninggalkan jejak like dan komen, untuk membantu author menjadi lebih baik lagi...SEMANGAT!.
__ADS_1