Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 126 Sebuah kebencian.


__ADS_3

Masih di hutan perbatasan kekaisaran Tang.


Akan tetapi, tanpa ia sadari sebuah seringaian tipis, tercetak dari bibir sebuah bayangan, dibalik pepohonan hutan.


Bayangan tersebut merasa, segala sesuatu akan mudah baginya, ketika melihat sikap serta keputusan dari Wuhan.


Dengan wajah yang tersamar di balik gelapnya malam, ia bergumam lirih. ''Kau menganggap remeh mereka. Maka.... jangan salahkan takdir jika segerombolan semut, mampu memakan habis seekor gajah.''


....................................


Sesosok tubub wanita, dengan kemampuan tingginya, tengah menyepi di hutan barat kekaisaran Xili.


Ia menghabiskan waktu bermeditasi, di tengah kesunyian dan kedamaian hutan.


Baginya, segala yang disana sangatlah sempurna, untuk semua aktivitas yang tengah ia kerjakan.


Tepat di saat saat akhir tapanya yang ke-100 tahun, ia mendapat sebuah gangguan dari pertempuran tak jauh dari tempatnya berada.


Secara perlahan, Wanita itu membuka mata dengan sorot penuh kegeraman, matanya yang tajam mulai menyusuri tempat disekelilingnya.


Ia ingin mencari sumber suara, yang telah menghancurkan jerih payahnya selama ini.


Dan tak membutuhkan waktu yang lama, ia melihat tak jauh dari dirinya, sesosok tubuh wanita tengah berdiri tegak.


Di belakang serta depannya, ada banyak tubuh yang tergeletak tak berdaya.


Ia merasa kesal, kepada sosok wanita yang ia anggap, sebagai penyebab kegagalan tapanya itu.


Baginya wanita tersebut, telah menyia nyiakan waktu, serta usaha yang ia lakukan selama 100 tahun.


Dengan hati yang di penuhi kemarahan, ia hendak menghancurkan sumber kegagalan, atas jerih payahnya selama ini.


Akan tetapi, sebelum ia bergerak mendekat, tiba tiba saja tubuh wanita di depannya menghilang secara cepat, membawa dua tubuh yang lain.


Dengan kegagalan atas tapanya, wanita itu merasakan kekecewaan serta amarah yang besar.


Ditambah lagi, sekarang dengan kepergian seseorang yang menjadi penyebab segalanya, dan tanpa ia ketahui kemana ia harus menemuinya.


Wajah wanita itu mulai menggelap, ia menatap tajam tubuh tubuh tak berdaya di depannya, dan dengan suara yang melengking, ia menjerit kearah langit malam.


''Aaaauuuuuuwwww....''


Suara lengkingan yang memecah keheningan malam itu.


Sebuah suara dengan kalkulasi 99,99 persen menyerupai lolongan serigala hutan, menampilkan aura yang mematikan serta mencekam.


''Habisi mereka semua, habiskan tubuhnya hingga tak bersisa.'' Ucapnya lagi, ketika disana telah berkumpul puluhan pasang mata yang lapar, dengan kebuasan pada pancaran sorot mata tersebut.


Dan tak membutuhkan waktu lama, di sana tengah terjadi suatu gambaran kengerian, atas tubuh serta wajah mereka yang tertinggal.


Pergerakan para pemilik pasang mata itu, mewarnai setiap dedaunan dengan percikan percikan merah di sekitarnya.

__ADS_1


Bahkan, bau anyir menyeruak pekat, diantara udara yang menyapa tempat tersebut, serta membawanya hingga mencapai sebuah pondok di tengah hutan.


''Aku akan membuat perhitungan denganmu....'' Lanjut sang wanita dengan tatapan mata yang berkilat tajam.


Dan sejak hari itu, wanita tersebut selalu mencari di mana keberadaan Ziaruo, ia ingin mengamati setiap tindakan serta gerak gerik dari wanita itu.


Karena ia tak ingin bertindak gegabah, dengan melakukan tindakan tanpa mengetahui siapa lawannya.


Mengingat, dengan kekuatan serta kultivasinya yang telah puluhan, bahkan sudah menginjak seratus tahun.


Dirinya masih tidak dapat mendekteksi, pergerakan sosok yang ia incar, bahkan ia terkejut ketika secara tiba tiba, tubuh Ziaruo menghilang dari pandangan matanya.


(Kejadian saat Ziaruo, selesai menyelamatkan pangeran Murongyu di hutan barat, dan membawanya menuju pondok, pada episode 17, karma dan budi.2).


Hingga pada suatu ketika, ia mengetahui tempat tinggal sang wanita, yang sangat ia benci tersebut, ternyata masih di lingkup yang sama dengan tempat di mana ia berada.


Hatinya semakin merasa tidak suka, upayanya mencari keberadaan sang wanita, hingga masuk ke negri Xili dan beberapa perkampungan di sekitar hutan, tidak membuahkan hasil.


Dan pada kenyataannya selama ini, orang yang di carinya justru berada tak jauh dari tempatnya berada.


Wanita yang tak lain, adalah mahkluk jelmaan dari hewan mistis hutan barat itu, Semakin geram dan merasa di permainkan.


Sesungguhnya ia telah seratus tahun ini, tak lagi menuruti hawa nafsu serta kemarahan.


Bahkan, ia juga telah berhenti memakan daging dari manusia.


Dengan segala kekuatan ia berusaha untuk mensucikan diri, dengan tidak melakukan sesuatu yang di anggap sebagai dosa, dan pantangan dalam tapanya.


Akan tetapi, ketika segalanya hampir terwujud, bahkan dapat di katakan, hanya kurang beberapa saat saja. Sebuah kejadian mengusik, serta mengacaukan semua jerih payahnya selama ini.


Ia berpendapat bahwa Wanita itulah (Ziaruo), yang telah menjadi penyebab kegagalan dirinya, untuk dapat naik ke negri Awan serta menjadi dewi di sana.


Disaat ia mengetahui tempat keberadaan Ziaruo, Niang semakin intens mengawasi kegiatan wanita itu.


Bahkan dari pengamatannya, ia juga berhasil mengetahui tentang kisah dari wanita incarannya tersebut.


(Episode 38/39 Rindu dan benci)


Niang juga sempat bergidik, manakala mengetahui kejadian, di pondok dekat sungai perkampungan merah.


Disana ia melihat dengan jelas, bahwa Ziaruo telah membunuh beberapa orang hanya dengan satu kibasan tangannya saja.


(Episode 40. Awal yang baru)


Akan tetapi, karena kekuatan petir yang besar, menyambar di atas pondok di tepian sungai, ia melesat pergi dengan luka yang parah.


Beruntung baginya, di saat itu Canzuo yang masih berstatus pangeran, dan secara kebetulan juga berada disana, memberikannya bantuan.


Pangeran negri Tang itu, membawanya meninggalkan tempat kejadian, dan tidak mengetahui apa yang terjadi disana selanjutnya.


Keduanya berpikir, bahwa petir yang menyambar di gubuk tepi sungai, adalah salah satu kekuatan yang di miliki oleh Ziaruo, wanita yang tengah mereka awasi.

__ADS_1


Pada kenyataannya, kilatan petir petir tersebut, adalah sebuah ujian bagi Ziaruo untuk menuju tingkatan yang lebih tinggi.


Niang kehilangan pancaran aura dari Ziaruo semenjak malam itu(disaat Ziaruo kehilangan ingatan dan menjadi manusia biasa).


Dan ia menemukan aura energi tubuh incarannya kembali, di saat acara pernikahan sang wanita, dengan kaisar Jiang jing wei.


Karena di saat itulah, kaisar Murongxu dari kekaisaran Awan, yang tengah terbaring di hutan keagungan, sedang marah dan terbakar kecemburuan. Sehingga hal itu membuat aura dari tubuh Ziaruo melonjak pesat.


Niang merasa ada banyak keanehan, serta menaruh kekaguman, atas setiap kemampuan yang dimiliki oleh Ziaruo.


Akan tetapi, ketika dirinya mengingat kembali, kegagalannya untuk menjadi seorang dewi. Wanita jelmaan tersebut membuang jauh jauh perasaan kagum, serta pemujaannya untuk Ziaruo.


Bahkan, ia kembali memupuk kebencian, dengan sebuah kemarahan.


Kebenaran tentang Niang, yang tengah berusaha untuk menyempurnakan tapanya adalah mutlak.


Wanita ras klan serigala itu, berkeinginan agar dapat menjadi dewi di kekaisaran Awan.


Meskipun, ia nantinya hanya akan menjadi pelayan ren**han di sana, itu sudah cukup baginya.


Setidaknya ia akan dapat bertemu, dengan satu satunya pewaris, serta penerus keturunan Klan bulan yang tersisa.


Karena bagi klan serigala, dewi dari klan bulan adalah salah satu tuan yang harus mereka hormati, di samping penguasa dari negri kegelapan.


Dan dengan keyakinan serta keteguhan hati, selama seratus tahun ini, Niang sebagai penguasa klan serigala, sama sekali tidak menyentuh daging, ataupun menyakiti manusia.


Bahkan, ia juga tidak memakan makanan dari jenis daging yang lainnya.


Oleh karena itu, entah sebuah keberuntungan, bukti keberhasilan tapanya, atau Dewa agung memang sengaja mempertemukannya dengan seseorang yang sangat ia kagumi, lebih awal dari waktu yang ia ketahui.


Bahkan, ia juga tak harus datang ke negri Awan secara langsung, untuk dapat menjumpainya.


Namun, lagi dan lagi sebuah kemarah selalu berakhir dengan ketidak baikan.


Bahkan, dalam kejadian ini kemarahan Niang menjadi dasar sebuah kegagalan.


Dengan emosi, serta kemarahan yang berusaha ia tanam dalam hati, wanita itu sekarang, justru membenci orang yang menjadi alasan dirinya melakukan tapa selama ini.


Dan seolah mata, hati, serta pikiran logisnya tertutup, ia hanya tersenyum sinis, dan menatap tanpa ekspresi, serta tidak mencermati, setiap ucapan dari kedua orang di halaman pondok di kala itu.


Padahal di dalam percakapan mereka, sempat menyebutkan tentang Kaisar Murongxu, dan dewi Ziaruo dari negri Awan yang menjadi tujuannya selama ini.


(Percakapan Murongxu dan Ziaruo, ketika bertengkar di depan pondok di tengah hutan barat episode 39, masih dengan rindu dan benci.)


Dan seiring berjalannya waktu, Niang bahkan berkerja sama dengan kaisar Canzuo, untuk menyakiti Ziaruo.


Meskipun, dengan sedikit kekecewaan, karena kaisar Muda itu justru menginginkan wanita tersebut, dalam keadaan yang baik tanpa luka sekecil apapun.


Dalam artian, Niang boleh membunuh kaisar Jing beserta pengikutnya, bahkan ia juga dapat menguasai kekaisaran Zing, untuk dirinya sendiri.


Akan tetapi, dengan satu syarat ia harus menyerahkan Ziaruo sang permaisuri dari Jing, dalam keadaan yang baik baik saja.

__ADS_1


Oleh karena hal tersebut, Niang memilih melakukan segalanya sendiri, ia tak memerlukan bantuan ataupun kerjasama dengan kaisar Canzuo orang yang pernah menolongnya tersebut.


Dan disinilah, di hutan perbatasan antara kekaisaran Xili dan Tang, ia melancarkan aksinya.


__ADS_2