
''Laporkan kepada Yang Mulia, bahwa Kaisar Zing dan Permaisurinya, telah dalam pengaruh obat.'' Perintah kasim tua dengan suara pelan, kepada kasim junior disampingnya.
''Baik tuan.'' Jawab kasim muda singkat, sebelum akhirnya ia membungkuk sejenak, dan berjalan meninggalkan aula perjamuan.
......................
Sementara itu, di sebuah paviliun istana dalam, tepatnya di kediaman milik selir Gu qianxue.
Seorang wanita cantik, dengan pakaian penari melekat di tubuhnya, tengah mengumbar kemarahan di hadapan selir Gu.
Di samping sang wanita, seorang pria tampan tengah berusaha membujuknya.
''Selir...Hentikan!, semuanya tidak seperti yang kau lihat.'' Ucap sang pria, dengan nada agak tinggi. Ia berusaha merengkuh tubuh wanita itu.
Dengan harapan, ingin menenangkan wanita tersebut, dan menghentikan ucapan buruknya kepada selir Gu.
Akan tetapi, seolah terdapat penekanan yang besar untuk sang wanita, agar terus melakukan tindakan kemarahan yang dimilikinya.
Ucapan memang seolah melarang, namun bermakna provokasi besar, serta dukungan untuk wanita itu, agar terus melanjutkan aksinya.
Dan ibarat sekali tiga uang. Wanita dengan pakaian penari tidak mengindahkan penjelasan pria itu.
Justru, ia semakin berapi-api dengan setiap aksinya.
Seakan, baginya tak pernah ada kesalahpahaman apapun.
Di sisi lain pria tersebut terus saja berusaha menjelaskan, bahkan beberapa kali ia menarik wanita dengan pakaian penari kearahnya.
Namun, dengan hempasan tangan kuat, wanita itu melepaskan diri sembari berkata. ''Saya tidak mengira bahkan, setelah sekian lama, anda masih memikirkan wanita ini.''
Mendengar ucapan sang wanita, Pria yang tak lain adalah pangeran ke 4, kekaisaran Bai yang terkenal berbudi luhur, dan mencintai kedamaian tersebut, menariknya paksa, sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan, dan hampir terjatuh.
''Yang Mulia...'' Pekiknya dengan tatapan tajam, serta penuh keterkejutan kearah pangeran Bai.
''Anda melakukan kekasaran ini kepada hamba?.'' Sambungnya lagi.
Wanita itu mulai berkaca-kaca, seakan ia tidak percaya bahwa pangeran Bai suaminya, tega menariknya dengan kasar. Bahkan hingga menyebabkan dirinya hampir terjatuh.
Dengan statusnya sebagai kesayangan dari pangeran Bai. Sang wanita, tak memiliki ketakutan sama sekali, bahkan ia nekat berbuat keonaran disana, tanpa mencari kebenaran terlebih dahulu.
Tak sedikitpun, dirinya memberikan muka, kepada selir keagungan Gu, sebagai nyonya rumah pemilik perjamuan.
Bahkan, ia juga tidak menghiraukan perkataan pangeran Bai.
Hal itu, berarti ia juga tak memandang status selir Gu, yang pada dasarnya, telah ia ketahui dengan baik.
Banyak ucapan-ucapan Kasar dan kotor, keluar dari mulutnya. Ia juga mengarahkan jari telunjuk / menuding kepada selir Gu, serta mengangkat tangan beberapa kali, hendak memukul wanita Gu.
Seolah, pada diri wanita itu tak pernah di berikan pengajaran tata krama, serta budi pekerti dalam hal berucap, serta atas norma kebaikan tindakan seorang wanita.
Selir Gu menatap keduanya (pangeran Bai dan wanita yang ia paham sebagai salah satu selir dari Bai) dengan penuh kebingungan.
Wanita itu, masih belum memahami apa yang tengah diributkan, oleh kedua orang di depannya.
__ADS_1
Dengan status mereka sebagai tamu perjamuan, selir Gu tak bisa dengan gegabah, meminta prajurit untuk mengusir keduanya.
Ia tak ingin melakukan kesalahan dengan menyinggung tamu kekaisaran.
Oleh karena itu, Selir cantik itu masih tetap diam di tengah keributan, dan kebingungan yang ia rasakan.
Ia menunggu, serta mencari jeda dari pertengakaran keduanya, sebelum menjelaskan dari segi dirinya, serta meminta penjelasan kedua orang itu, dari kejadian saat ini.
Karena sejak beberapa saat yang lalu, ketika selir Gu mempersilahkan masuk seorang pelayan, yang ia ketahui dari kasim penjaga pavilliunnya, sebagai utusan dari Kaisar Canzuo.
Seorang pria masuk kedalam paviliun miliknya, dengan nampan berisi dua kotak kue-kue kesukaannya.
Sebenarnya, selir Gu merasa aneh dan asing dengan pelayan tersebut.
Karena ia tak mengenal sama sekali pelayan pria yang kini membawa nampan kue untuk dirinya.
Bukan hanya dari segi tampilan sang pelayan, namun sikap dan tindakan sang pelayan, menurutnya memiliki aura seorang bangsawan.
Akan tetapi, karena itu adalah pelayan yang di kirim kaisar, wanita tersebut menepis keraguaannya.
Sempat juga terlintas di benaknya, ingin menanyakan beberapa hal kepada pria pelayan tersebut.
Akan tetapi, sebelum ia mengatakan sesuatu.
''Braaaakkk.''
Tiba-tiba saja, seorang wanita ikut menyeruak masuk, tak berseleng waktu lama, dari sang pelayan pria.
Selir Gu, merasa ada yang janggal dengan semuanya. Bahkan, ia juga tak mengenal wanita itu sama sekali.
''Lancang!." Ucap pria kasim disamping sang selir, ketika melihat wanita dengan pakaian penari, memaksa masuk.
Kasim itu ingin melakukan sesuatu, kepada wanita yang terlihat kurang sopan tersebut.
''Dimana penjaga?, mengapa mereka membiarkan wanita ini masuk?.'' Lanjut kasim lagi.
Wanita Gu semakin keheranan, disaat ia melihat sang pelayan pria tampak akrab, dan berusaha menenangkan sang wanita dengan pakaian penari.
Selir Gu, tersenyum tipis, dan mengangkat tangan, seraya berkata. ''Kasim...''
Sebuah panggilan singkat, dengan maksud menghentikan tindakan orang yang ia sebut.
Mendengar hal itu, kasim yang masih tergolong muda itu, kembali mundur dan menunduk sejenak.
''Baik yang mulia.'' Jawabnya singkat.
''Ada apa ini?, mengapa aku merasa akan ada sesuatu yang buruk.'' Pikir selir Gu.
Sementara di dalam kebingungan dan ketidak tahuan yang ia miliki, Wanita Gu mendengar hal-hal buruk untuknya dari wanita dengan pakaian penari.
Dan pada akhirnya, di batas kesabaran yang ia miliki, wanita Gu ingin memanggil beberapa orang pelayan, dan penjaga.
Ia hendak memerintahkan, agar keduanya di bawa keluar dari paviliun miliknya.
__ADS_1
Akan tetapi, sebelum ia membuka mulut, sebuah suara bariton terdengar. ''Apa yang kalian ributkan?, apakah istana dalam milikku, adalah tempat bisa bebas, berbuat kericuhan?.''
......................................
Sesaat sebelumnya.
Setelah mengatakan kepada semua tamu kekaisaran, tentang keperluan mendesaknya, Kaisar Canzuo bersama beberapa kasim, dan tiga pengawal peribadi kepercayaan meninggalkan aula pesta.
Dengan wajah yang masih tidak menunjukan expresi, Canzuo bertanya kepada sang kasim penjaga paviliun selir Gu.
''Apa yang terjadi kasim?, mengapa pria itu bisa ada disana?.''
Pertanyaan di sela langkah kaki menuju paviliun selir Gu tersebut, seperti sebuah kebimbangan bagi sang pelayan. Akan tetapi, tetap saja ia tidak menampilkan sesuatu pada wajah itu.
Di sela langkah kakinya, yang terus bergerak menuju paviliun sang selir. Kaisar Muda Canzuo menuntut sebuah jawaban singkat, jelas, dan lengkap, dari pelayan pria, yang tengah mengikuti langkah lebarnya.
''Ampun Yang mulia, sepengetahuan hamba. Secara tiba tiba pangeran Bai, berada di depan pintu paviliun yang mulia selir.'' Lanjutnya.
Kasim pelayan pribadi selir Gu, menjelaskan, seperti apa yang ia ketahui. Ia tidak ingin membuat sebuah kekacauan untuk kejadian hari ini, dan tidak ingin menutupi apapun.
Hanya kejujuran, dan sesuai apa adanya yang kini tengah terjadi.
Akan tetapi, di tengah ketakutan yang ia rasakan, pelayan itu merasa akan ada sebuah keburukan untuk majikannya.
Ia ingin menjelaskan dengan detil, dan berusaha sebisa mungkin, menghilangkan prasangka buruk yang mungkin akan tercipta, dari kejadian saat ini.
Baginya, keselamatan, dan kepentingan sang majikan, adalah segalanya.
Terlebih lagi, dibalik kejanggalan, serta keanehan dari kejadian di paviliun Gu,
Kasim itu merasa seolah telah derencanakan dengan baik.
Dan ia tahu dengan pasti, bahwa selir Gu majikannya, tidak melakukan keburukan apapun.
''Bahkan, pangeran Bai membawa nampan kue-kue kesukaan selir keagungan Yang mulia .'' Sambung kasim muda itu lagi, apa adanya.
Ada ketakutan dari getaran nada suara sang kasim. Namun, ia harus tetap mengatakan semuanya.
Ia berhenti sejenak, sebelum akhirnya pria pelayan itu, kembali berkata. ''Selir Keagungan, dan para pelayan mengira, beliau (pangeran Bai)adalah penjaga yang mengirimkan, makanan atas perintah paduka.''
Mendengar hal tersebut Canzuo berhenti. Tanpa berbalik kearah sang kasim.
Bibirnya menyunggingkan senyum sinis sejenak, sebelum akhirnya ia kembali bertanya. ''Apakah maksudku, pangeran Bai bersalah?, dan selir Gu bersih?.''
''Bruuuuk...'' Kasim muda itu reflek menjatuhkan tubuhnya, di atas tanah jalanan menuju paviliun.
Dengan wajah pias ia kembali berkata. ''Ampun yang mulia, ampuni pelayan ini.''
''Jika selir Gu tidak bersalah, lalu mengapa wanita pangeran Bai, juga bisa datang dan berbuat ricuh di sana?, ataukah hubungan tersebut sudah lama dilakukan?, dan mungkinkah sang tikus, telah tercium jejaknya.'' Lanjut Canzuo, dengan wajah datar yang masih sama.
''Aku pastikan kali ini akan terbebas darimu. Dan Keluargamu juga akan menanggungnya.'' Lanjut pria itu kembali dalam diam.
Ada sebuah senyum sekilas, pada wajah itu.
__ADS_1