Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 223. Berdarah di jantung.


__ADS_3

Meninggalkan Jing yang berubah dan membuat kelabakan Wuhan, serta orang-orang terdekat, dan beralih menuju di mensi Yincang.


Seorang bocah berkulit putih, serta mata jernih, dengan usia 4-5 tahunan, yang tengah mengikuti mahkluk setengah ular di depannya.


Langkah kakinya yang ringan serta terkesan bermain-main, membuat siapapun tak dapat menghindar, untuk berpaling dan menikmati kelucuan tersebut.


''Weiyun, jangan terlalu jauh..atau kau akan tersesat.'' Ucap mahkluk yang tak lain adalah Yaksa.


''Tidak...Eiyun tidak tersesat.'' Jawab sang bocah, dengan perkataan cadel di bibirnya.


''Hemmmz...kau selalu menjawab yang kukatakan.'' Gerutu Yaksa.


Mahkluk setengah ular tersebut, sering di buat kesal oleh bocah tersebut.


Namun, jika sehari saja ia tidak melihat gembul kecil itu, hatinya akan kelabakan sendiri.


''Naiklah di ekorku, aku akan membawamu lebih cepat.'' Ucap Yaksa lagi.


Wanita itu berhenti sejenak, dan menunggu Jiang weiyun untuk menaiki tubuhnya.


Akan tetapi hingga beberapa saat, ia tak merasakan ada pergerakan di tubuh bagian belakang.


Yaksa menggerakan tangan pembawa manik mata untuk melihat keberadaan sang bocah.


Ia ingin melihat apa yang dilakukan oleh mahkluk kecil itu, yang membutuhkan begitu banyak waktu untuk baik naik ke ekor belakang miliknya.


''Bibi Eyun di sini.''


Bocah tersebut mengatakan hal itu dengan di iringi gelak tawa riang, seolah ia memperoleh kesenangan tersendiri untuk tindakannya usilnya.


Ia, Weiyun kecil telah berlari dengan cepat, kearah depan Yaksa. ketika wanita jelmaan tersebut, tengah memutar tangan dan membawa manik mata, kearah belakang tubuhnya.


Sementara itu, mendengar jawaban dengan suara renyah, serta nyaring sang bocah, dengan cepat Yaksa membalikan tubuh, dan membawa tangan dengan manik mata kearah sebaliknya.


''Eiyun lebih cepat dari bibi..haha..haha..''


Tawa tersebut menggema di seluruh kaki gunung Yincang.


Dan serta-merta, membuat wanita Yaksa menyembulkan senyum tulus di bibirnya.


Bagi Yaksa kecerian, serta tawa riang sang bocah, dapat dengan mudah menabur kebahagiaan yang telah lama tak dimiliki, oleh mahkluk setengah ular tersebut.


''Baik...aku akan menangkapmu.'' Sahut Yaksa, sembari meliukan tubuh, untuk mengejar bocah kecil yang berlari di depannya.


Ia hanya mengatakan perkataan itu sebagai jawaban untuk Weiyun.


Namun, pada kenyataan sebenarnya wanita Yaksa tidak menambah kecepatan secara bersunguh-sungguh.

__ADS_1


Ia hanya ingin terlihat sedang serius, dan hendak menangkap si gembul menggemaskan di depannya.


Yaksa ingin menciptakan kepercayaan diri serta selalu berharap bocah itu menampilkan senyum kebahagiaan.


Seperti saat ini, Weiyun tersenyum lebar penuh kecemerlangan, ketika ia merasa mampu mengalahakn kecepatan Yaksa.


''Dasar bocah bau.'' Gerutu Yaksa.


Nada itu seolah mencemooh, namun bibir yang berucap menyembulkan senyum lebar ketulusan.


......................


Jiang weiyun adalah putra dari Ziaruo dan Jing.


Di usianya yang relatif masih muda(5 tahun), ia telah terbiasa untuk mandiri.


Seperti halnya dengan ketidak hadiran Ziaruo, dalam jangka waktu tertentu.


Semenjak putra kecilnya menginjak usia 3 tahun, Ziaruo telah membiasakan pria kecil itu tidak tergantung pada dirinya.


Hal ini ia lakukan, untuk mempersiapkan perpisahan dirinya di masa mendatang.


Ia, Ziaruo telah memutuskan untuk mengantar Weiyun kembali kepada Jing.


Selama kepergiannya, entah itu sengaja atau sedang dalam kepentingan, Weiyun kecil akan di jaga, dan di asuh oleh Yaksa serta para penghuni Yincang.


Keputusan itu, juga bukanlah suatu hal yang mudah bagi Ziaruo.


Seorang wanita yang sangat menginginkan untuk memiliki putra, dan sekalinya itu terwujud, ia harus menyerah untuk sebuah perpisahan.


Bahkan secara tak langsung, kehidupannya yang glamor dan berjaya, ia tukar hanya untuk melihat pria kecil itu terlahir.


Bagaimana mungkin itu akan mudah baginya.


Dalam tiga putaran waktu kehidupan, wanita itu telah berulang kali mengalami penderitaan, serta kegagalan.


Dan baru dalam putra terakhir kehidupan saat ini saja, ia dapat menatap, serta menyebut sosok seorang anak dari rahim sendiri.


Akhirnya dewa memberikan takdir seorang putra pada kehidupannya sebagai seorang moral biasa.


Meskipun, kehadiran dari sang anak bukan seperti apa yang dia inginkan, di awal kehidupannya (putra dirinya dan Murongxu), Ziaruo tetaplah seorang ibu dengan kasih sayang tulus untuk Weiyun.


Baginya tak ada kesalahan, ataupun sisi kurang dari sosok Weiyun putranya.


Dengan takdir kehidupan dunia, ia menempuh jalan benar melalui pernikahan, sesuai norma dan hukum yang berlaku.


Ia bahkan dimuliakan dengan gelar sebagai seorang Permaisuri, dari kekaisaran Zing yang agung.

__ADS_1


Namun, dimata para penghuni benua atas Awan, putranya akan selalu dianggap keturunan tak sempurna (rendah).


Meski dengan setatus Jiang Jian jing wei yang tinggi di dunia ini, pria itu bukanlah apa-apa di hadapan kaum suku langit.


Oleh karena hal itu, ia terus berusaha mengambil jarak dari sang putra.


Bagaimanapun, ketika ia kembali nanti, adalah hal mustahil untuk membawnya serta.


Jujur, Ziaruo ingin sekali tetap berada di dunia mortal saat ini.


Hidup bersama keluarga lengkap, seperti yang banyak orang bicarakan.


Namun, garis nasibnya tak pernah menulis catatan itu disana.


Ia datang ke dunia mortal dan bertemu dengan Jing sebagai terhukum, dan akan pergi ketika masanya telah usia.


Dan satu hal yang pasti, hatinya, jiwanya mungkin masih diri sendiri.


Namun ketika masanya di dunia ini telah usai, Ziaruo akan kembali ketubuh asli miliknya, yang kini tengah tertidur pada ranjang elegan, di istana kekaisaran Awan.


Dengan status Ziaruo, sebagai seorang permaisuri dari Kaisar Awan Murongxu nantinya, status apakah yang akan di sandang oleh sang putra.


Wanita itu, jelas tahu dengan benar apa konsekuensi, dari keturunan campuran yang mengalir di tubuh Weiyun.


Bukan hanya akan sulit membawanya bersama, dengan tubuh mortal sang putra.


Jikapun ia berhasil melakukan itu, tetap saja kehidupan berat, penderitaan, cemo'ohan, serta pandangan buruk orang lain di belakang punggung Ziaruo, akan dihadapi oleh bocah tersebut.


Akankah ia rela itu terjadi?. Tentu saja Ziaruo, tak ingin hal tersebut dialami sang putra.


Oleh karena hal tersebut, ia telah memutuskan mengambil luka untuk diri sendiri, dan membangun kekuatan hati bagi Weiyun.


Berdarah dalam jantung, membendung tangis sendiri, untuk ketegasan tutur kata, serta raut dingin di wajahnya, demi kemulyaan sang putra di samping Jiang jing wei.


Di awal-awal, Ziaruo sempat hampir runtuh, ketika melihat Weiyun kecil selalu menangis dengan ketidak hadiran dirinya.


Ia harus mengambil loncatan besar, untuk mempertahankan keteguhan hati, bahkan jika itu melukai diri sendiri.


Namun konflik hati kembali muncul, ketika perlahan-lahan bocah kecil tersebut, semakin terbiasa dengan kondisi kealpaannya.


Bahkan, disaat sang putra mulai lebih dekat dengan Yaksa, yang selalu memanjakan, dan menjaga dirinya, hati Ziaruo memiliki kecemburuan yang hebat.


Ia mulai menumbuhkan ketidaksukaan terhadap Yaksa, dan ingin merengkuh kembali tubuh bocah gembul itu.


Hati dan kasih sayangnya sebagai seorang ibu, tidak rela melihat sosok kecil tersebut, bahagia dan tersenyum manja, dalam dekapan orang lain.


Akan tetapi, wanita itu kembali mengingat tujuan dari setiap tindakannya. Hatinya melemah, pikirannya kembali terfokus.

__ADS_1


Ia hanya dapat menatapnya dari sudut rahasia, sembari menepuk dada itu dengan keras, seraya menghujat diri sendiri. ''Bodoh...bodoh..''


''Tidak...kasih sayang ibu dalam diri ini, akan membuatnya menderita di masa mendatang.'' Gumam lirih Ziaruo, sebelum melesat pergi.


__ADS_2