Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 255.


__ADS_3

Sementara itu.


Di sisi hutan barat kekaisaran Xili, sekelompok pria dengan pakaian hitam dan bertutup kepala, menyeruak masuk menuju sebuah pondok kecil di tengah hutan.


Mereka dengan segera membuat jalan sendiri untuk masuk kedalam pondok tersebut.


Setelah mencoba beberapa kali dengan usaha yang sedikit merepotkan, akhirnya ketujuh sosok dalam pakaian hitam tersebut mampu membuka tabir pelindung yang membentengi pondok kecil.


Rumah kecil di tengah hutan yang sudah lama di tinggalkan oleh Ziaruo itu, nyatanya tengah menjadi incaran sekelompok orang.


Dan dari setiap gelagat serta tenaga dalam yang di miliki, para penyusup tersebut bukanlah orang sembarangan.


Setelah hampir setengah batang dupa lamanya, mereka kembali keluar dari sana dengan beberapa bungkusan yang berisi barang-barang milik Ziaruo.


"Apa kita juga perlu membawanya?." Tanya salah satu dari mereka, kepada sosok yang terlihat seperti seorang pemimpin.


Ia menunjuk kearah sebuah teko berdebu dari bahan tembikar, yang kini terlihat usang karena tidak terawat.


"Bawa apapun yang terlihat." Jawab rekannya dengan tatapan mata terfokus sejenak kearah yang di tunjuk oleh sosok lain di depannya.


"Sebenarnya ini juga bukan hal yang berharga, mengapa tuan memerintahkan kita untuk mengambilnya?.'' Gumam pria itu lagi.


"Jangan banyak berpikir, lakukan dan segera kembali, itu tugas kita." Jawabnya tegas.


"Ayo, kita harus cepat bergerak, mungkin guru besar sudah kembali dan aku tak ingin melewatkan kesempatan untuk bergabung bersama tim lainnya.'' Sambungnya lagi, sebelum melesat meninggalkan pondok kecil di tengah hutan, dan di ikuti oleh beberapa teman lainnya.

__ADS_1


...........................


Di sebuah negeri dengan kemilau cahaya yang menyinari, serta keunikan alam yang membuai mata, sesosok tubuh menggeliat penuh kegeraman.


Melihat dan mendengar apa yang di putuskan oleh Ziaruo dari balik bola mata yang ia pegang, timbul kemarahan di dalam hati sosok yang tak lain adalah Yaksa tersebut.


"Haaaah...Manusia tetaplah manusia, selalu memutuskan apapun sesuai dengan pikiran egois sendiri."


Suara yang di selingi dengan beberapa kali desisan tersebut, meskipun terdengar seolah untuk diri sendiri, akan tetapi aura yang terpancar terlalu mengerikan.


Seolah orang yang dibicarakan, tengah berutang ribuan dolar dan enggan membayar.


"Anda berpikir akan meninggalkan tempat ini dan membawa Yun-ku?." Tubuh itu menggeliat gelisah.


Ada resah, kemarahan, tidak terima, dan takut bercampur menjadi satu dalam pikiran Yaksa.


Dan itu terpicu setelah mendengar bahwa wanita yang tak lain adalah Ziaruo tersebut, telah memutuskan untuk membawa Weiyun meninggalkan Yincang.


"Jika ingin pergi, bukankah sebaiknya pergi sendiri, mengapa harus membawanya."


Suara Yaksa berubah menjadi meninggi, seiring gerakan ekornya mengibas apapun yang berada di sekitarnya.


"Boooom... braaaaakkkk...boooom."


Setiap benda dan pepohonan yang berada di sisi kanan dan kiri tubuh Yaksa hancur berkeping-keping, menjadi sasaran hantaman bagian ujung bawah tubuh Yaksa.

__ADS_1


"Mengapa tak ada yang tulus dari kalian?, mengapa harus selalu aku yang di buang dan di tinggalkan?."


"Boooom.....booom."


Yaksa menyalurkan rasa tidak nyaman, serta kecewa dalam pikiran saat ini. Apapun yang menyentuh ujung ekornya, tidak dapat terhindar dari kehancuran.


''Hah!, Jika harus seperti ini...Lebih baik jika kalian menyatu dengan tubuhku. iya...benar sekali...tidak ada perpisahan lagi, dan tidak akan ada yang di tinggalkan hahahaha.....hahahaha."


Yaksa tertawa menyeramkan saat sebuah pemikiran terlintas di benaknya, dan tentu saja itu bukan hal yang baik.


Wanita itu memutuskan untuk menelan Jiang Weiyun dan berpikir bahwa dengan penyatuan yang ada, sosok yang telah menempati sebagian besar ruang kehampaan yang selama ini di miliki tidak akan pernah pergi.


Yaksa bergerak dengan cepat menuju kearah pondok Ziaruo, ia seolah tengah di kejar oleh sesuatu yang sangat menakutkan di belakang tubuhnya, sehingga gerakan Yaksa sangat cepat dan penuh kekuatan.


Sementara sosok pria bongkok yang tak jauh dari tempat semula Yaksa mengamuk, hanya menyaksikan kepergian wanita ular tersebut.


Bahkan, ketika melihat serta memahami ide gila dari wanita Yaksa, justru sebuah senyum tipis tercetak pada bibirnya.


"Ruoer, haruskah putramu berhutang padaku?." Ucapnya lirih.


Wajah dan suara itu, sangat bertolak belakang dengan apa yang meluncur dari bibirnya, meskipun di sana terdengar seperti pertanyaan, namun pada dasarnya lebih mirip seperti sebuah pertimbangan untuk membantu atau tidak.


"Biarkan takdir yang menentukan."


Tubuh pria bongkok tersebut menghilang tak berbekas setelah selesai berucap.

__ADS_1


Meninggalkan kehancuran disana, serta kesunyian yang mencekam dengan sisa aura kemarahan sang penguasa Yincang.


__ADS_2