Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 86 Pengawasan


__ADS_3

Beralih dari hutan barat, kembali menyapa selir kekaisaran Xili yang tengah sibuk dengan acara penyambutan calon penerus keluarga mereka.


Kaisar Murongyu tengah berada di ruang kerjanya, dengan gulungan laporan yang hampir memenuhi meja.


Seorang kasim, menunduk memberikan hormat sebelum menyampaikan sebuah kabar, yang ia terima dari kasim penjaga pavilliun selir Xio. "Selamat Yang Mulia...selir telah melahirkan seorang pangeran kecil dengan selamat.''


Mendengar berita tersebut, Murongyu menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengontrol laju kuas.


Ia memejamkan mata sesaat, sebelum membuka mulut serta berkata dengan tenang.'' Katakan padanya ia(selir) melakukan tugasnya dengan baik, aku akan memberikan dia hadiah yang pantas.''


Sang kasim mengerutkan kening sekilas, namun buru buru ia tampilkan normal kembali dan menjawab.'' Hamba mengerti Yang Mulia, titah anda akan segera pelayan ini sampaikan.''


Kasim itu segera membungkuk undur diri, sembari memberi hormat, setelah melihat kibasan tangan dari penguasa Xili tersebut.


Di tengah langkah kakinya meninggalkan ruangan sang Tuan, Kasim ketua merasa heran dengan tanggapan Kaisar Murongyu, yang seolah tak ada kebahagiaan, ketika mendengar kabar kelahiran penerusnya.


Namun, ia hanya menyimpan segalanya dalam hati. Apapun yang dilakukan dan tanggapan seperti apa yang diberikan sang tuan, bukanlah urusannya. Tugasnya hanyalah menyampaikan pesan saja.


Setelah kepergian Kasim tersebut, Murongyu berdiri dari duduknya berjalan menuju balik pembatas rotan di ujung ruangan. Dengan langkah tegas, ia melangkah keluar dari pintu tersembunyi diantara deretan rak penyimpanan buku yang tertata rapi.


Sejauh apa kakinya melangkah, sebuah bayangan dengan sigap mengikuti dari belakang, bayangan penjaga yang selalu setia menemani sang Kaisar tersebut, mulai menyetarakan langkah kakinya, dengan ritme satu langkah tertinggal dari Murongyu.


''Hanwen apakah aku harus menemui wanita itu?.'' Tanya Murongyu kepada sang penjaga.


Seolah kurang memahami kalimat sang Kaisar, Hanwen mengerutkan keningnya sesaat sebelum bertanya.''Wanita yang mana Yang Mulia?.''


Mendengar jawaban tersebut, Murongyu menghentikan langkahnya, Pria penguasa Xili itu menoleh kearah sang penjaga dan kembali berkata.''Apa kau mempermainkanku?, tentu saja wanita yang baru saja melahirkan


itu selir Xio, kau pikir wanita yang mana lagi?.''


''Oohhhh...''Hanwen mengangukan kepalanya.


Kaisar Murongyu, membalikan tubuhnya kembali kearah penjaga tersebut, ketika ia mendengar jawaban yang singkat keluar dari bibirnya, padahal ia sudah hendak melanjutkan langkahnya, menuju ke pavilliun Permaisuri seperti biasanya.


Sebuah Pavilliun kosong, yang telah lama ia persiapkan, untuk menyambut kedatangan seseorang yang spesial bagi pria tersebut.


''Mengapa kau menjawabku dengan sesuatu yang tidak jelas Han?.''Tanyanya dengan tatapan datar.

__ADS_1


Hanwen tersenyum dan menjawab dengan penuh penghormatan.'' Karena saya tahu, anda hanya menganggap nona Ziaruo saja, sebagai seorang wanita Yang Mulia.''


Kaisar Murongyu menunduk sejenak, ia menghela nafas panjang sebelum kembali berkata.''Apakah itu salah?, bagiku hanya Ziaruo saja wanita yang benar benar tulus terhadap orang lain, aku tak menginginkan semua ini pada awalnya.''


''Namun, untuk memberikan dia yang terbaik, aku berubah menjadi iblis dan haus kekuasaan, menata jalanku serta hanya ingin bahagia bersamanya.'' Lanjutnya masih dengan mimik wajah yang tak dapat di terka.


Hanwen diam dan mendengarkan, ia mengerti atas setiap perjuangan yang dilakukan oleh sang kaisar sahabat satu perguruannya tersebut.


Tak ada jawaban dari Pria disampingnya. Namun Murongyu juga tak menginginkannya.


Keduanya terdiam dalam pikiran mereka masing masing. Terkadang sebuah pertanyaan memang tak membutuhkan jawaban, begitu pula sebuah jawaban yang sudah diketahui, tak perlu untuk diucapkan.


''Apakah ada kabar dari kekaisaran Zing?.'' Tanyanya Murongyu, setelah beberapa saat, dengan suara yang lebih tenang, namun jelas tampak dimatanya sebuah antusias yang besar terpancar.


Hanwen menghela nafas dan tersenyum sekilas, ia mendekat ke arah sang Kaisar dan berbisik lirih.'' Wanita itu... dalam keadaan sehat Yang Mulia, bahkan mungkin sebentar lagi, akan datang menghadiri perjamuan tahunan di kekaisaran Tang.''


Mendengar ucapan tersebut, Murongyu membulatkan matanya, ada desir yang tak biasa dalam detak jatungnya, akan kekecewaan juga ada disana.


Demi wanita tersebutlah, ia memantapkan hatinya yang bimbang, ketika hendak melakukan perebutan tahta dari sang kakak, Kaisar Muronghui.


Akan tetapi baru saja ia mendapatkan tahta, sebuah kabar pernikahan dari Ziaruo sampai kepadanya.


Membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tak berbelas kasih.


Murongyu merasa segalanya tidak adil baginya, dialah pria yang membawa dan mengenal Ziaruo terlebih dahulu, baginya Ziaruo adalah miliknya, dan harus kembali kepadanya.


"Apakah kita memperoleh undangan dari negri Tang?." Wajah Murongyu menampilkan ekspresi datar, ketika menanyakan hal tersebut.


Bagaimanapun, sejak kejadian di hutan barat(penyergapan perkampungan merah) hubungan kekaisaran Xili dan kekaisaran Tang kurang bersahabat.


Terlebih lagi saat pangeran Canzuo mewarisi tahta dari sang ayah, kerjasama kedua negara menjadi dingin, bahkan dapat dikatakan sedang memulai sebuah permusuhan.


Pangeran Canzuo menaruh dendam, serta kebencian atas pangeran Murongyu, yang menjadi Kaisar negri Xili.


Mendengar pertanyaan Murongyu, Hanwen mengangguk sembari berkata." Saya rasa kira mendapatkannya Yang Mulia, karena seluruh kekaisaran di benua ini memperoleh undangan."


"Heeemmm.." Murongyu menganggukan kepalanya beberapa kali, sebelum kembali berkata."Awasi gerak gerik Kaisar Canzuo, aku rasa pesta kali ini tidak sesederhana yang terlihat."

__ADS_1


"Hamba mengerti Yang Mulia, akan kuperintahkan beberapa orang kita untuk menyelidiki dan melakukan pengawasan."Jawab Hanwen tegas, ia memberi hormat sebelum melesat pergi, meninggalkan sang Kaisar bersama 2 penjaga yang ia percaya.


Bagi Hanwen, ia tak boleh melakukan kesalahan apapun, mengenai penjagaan atas keselamatan sang Kaisar.


Sementara itu, di sebuah ruangan pavilliun di sayap kanan istana, beberapa pelayan wanita tengah sibuk membantu melayani serta merawat tubuh permaisuri Xio, dan bayi kecil yang baru saja ia lahirkan.


"Yang Mulia selir, sepertinya pangeran kecil merasa haus." Ucap salah satu pelayan wanita yang tengah mengayunkan bayi kecil diatas ranjang ayunan.


Pelayan wanita itu, merasa kasihan melihat bayi kecil yang kini mulai menangis, namun sang selir tetap diam dan justru memiringkan tubuhnya, membelakangi semua orang yang disana.


Selir Xio tak mengindahkan tangisan bayi kecil, yang baru beberapa saat lalu ia lahirkan.


Entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu?, hingga ia menolak menyusui putranya sendiri.


Para pelayan disana sudah memohon beberapa kali, agar bersedia memberikan susu untuk sang pangeran kecil.


Semakin lama, tangisan sang bayi semakin nyaring terdengar, akan tetapi selir Xio tetap diam dan tak memperdulikannya.


Hingga suara kasim penjaga pintu diluar, mengumumkan kedatangan Kaisar Murongyu dengan lantang." Yang Mulia Kaisar memasuki ruangan."


Mendengar hal tersebut, selir Xio segera berusaha bangun, akan tetapi dengan tubuh yang kelelahan pasca persalinan, ia kesulitan untuk bangun serta berdiri menyambut Pria tersebut, bahkan untuk mendudukan tubuhnyapun ia tak memilik banyak tenaga.


Dua orang pelayan segera datang membantunya, saat itulah semua orang yang disana melihat jelas, wajah selir Xiao dengan lelehan air mata yang mengucur deras.


Semua pelayan kebingungan dan tak mengerti harus berbuat apa, mereka ketakutan dan segera bersujud sembari berkata." Ampuni kami yang Mulia, ampun ketidak mampuan serta kebodohan kami Yang Mulia Kaisar...Yang Mulia selir."


Kaisar Murongyu menghela nafas panjang, sebelum mengibaskan tangannya sembari berkata." Kalian keluarlah."


Mendengar ucapan Kaisar Murongyu, semua orang merasa lega, dan buru buru bergegas pergi dari ruangan tersebut."Terimakasih Yang Mulia."


Murongyu berjalan mendekati ranjang bayi, ia mengambil sang bayi, dan berjalan ke arah ranjang selir Xio.


"Kau tak perlu memberi hormat kepadaku nona Xio, kau hanya perlu memberinya air susu, dia tak melakukan kesalahan apapun." Ucap Kaisar Murongyu, ketika melihat wanita itu hendak memberi hormat menyapanya.


Ia menyerahkan bayi yang masih merah, rapuh dan bahkan, tengah menangis karena kehausan.


"Apa kau akan menghukumnya, atas kesalahan orang lain, Nona Xio?." Lanjut Kaisar kembali, ketika melihat wanita diatas ranjang, menggenggam erat kedua tangannya dibalik selimut, dan tak mau menerima bahkan melihat bayinya.

__ADS_1


Wanita itu masih mengalirkan butir butir bening dari sudut matanya, perlahan terdengar lirih sebuah ucapan dari bibir wanita tersebut." Tapi orang itu adalah ayahnya yang Mulia, dia adalah darah dagingnya."


__ADS_2