Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 174


__ADS_3

'' Hari ini, anda sangat konyol.'' Ucap Ziaruo, sembari memeluk Jing.


''Bahkan wanita yang telah kehilangan suami(Janda), orang masih akan mengaitkan nama sang suami, ketika mengisahkan tentang dirinya (sang janda).'' Ziaruo.


''Lalu bagaimana wanita ini akan pergi, ketika suaminya masih hidup, dan hanya kehilangan kejayaan?.'' Lanjut wanita itu lagi, di dekat telinga Jing, masih dengan nada lirih.


''Yuun...'' panggil Zing, seraya mengeratkan pelukan tangannya.


''Permaisuri ingin melalui tinggi dan rendah bersama, apakah Anda tidak mempercayai wanita ini?.'' Tanya Ziaruo, masih dalam posisi memeluk pria tersebut.


Ia enggan melepaskan pelukannya, khususnya disaat seperti sekarang.


Ada banyak alasan bagi Ziaruo melakukan hal tersebut.


Bukan hanya ingin menyakinkan, serta menenangkan pikiran suaminya saja.


Namun, ia juga ingin menikmati bermanja pada dada bidang Jing-nya, di antara waktu yang kian menipis.


Terlebih lagi, ketika sang suami juga membalas pelukan yang ia berikan.


''Saya memiliki cara, dan hanya tinggal menunggu persetujuan anda saja.'' Lanjutnya lagi.


Ziaruo perlahan melepas pelukan tangannya pada tubuh kaisar Jing, ia ingin menjelaskan duduk permasalahan, yang menjadi penyebab ke-empat kekaisaran, ikut bergabung menyerang kekaisaran sang suami.


Ia juga ingin menjelaskan cara terbaik untuk menyelesaikan polemik tersebut, secara mendetil dan dengan posisi yang nyaman.


Namun, Jing enggan melepas pelukan tangannya.


Bahkan, ia kembali menarik, serta melingkarkan tangan Ziaruo, ketubuhnya.


Dan pada akhirnya, Ziaruo hanya bisa menjelaskan segalanya, dengan posisi saling berpelukan.


Jing mendengar setiap penjelasan dari Ziaruo.


Berawal dari pesta perjamuan di negri Tang, Alasan kolaborasi penyerangan yang tidak terprediksi, hingga berakhir pengiriman prajurit dari ke-empat kekaisaran.


Jing membulatkan mata tak percaya.


Bahkan, hingga ia reflek melepas pelukan hangat sang istri, dengan mendorong tubuh itu kedepan.


''Jadi otak dari semuanya adalah Canzuo.'' Ucap Jing, dengan keterkejutan.


Ia sungguh tidak menyangka, bahwa para prajurit dari keempat kekaisaran, di perintahkan menyerang negerinya, oleh kaisar dan pejabat tinggi mereka, yang tengah dalam pengaruh racun pengontrol jiwa milik Biyi.


Dan racun itu di berikan, ketika mereka menghadiri perjamuan pada pesta tahunan, di kekaisaran Tang, beberapa hari yang lalu.


Ziaruo hanya mengangguk pelan, sebagai persetujuan, atas pertanyaan darinya.


Wanita itu, tidak mengatakan bahwa kemungkinan terbesarnya, adalah Biyi yang memegang kendali dari semuanya.

__ADS_1


Bahkan ia hampir yakin, Canzuo-lah yang justru menjadi bidak-bidak catur, dari Biyi.


Namun, karena ia masih bingung, dan belum menemukan tujuan, serta alasan di balik tindakan sang kakak, Ziaruo tetap diam, dan membiarkan anggapan Jing.


Wanita itu, tidak mengklarifikasi pemikiran jing, yang mengangap Canzuo-lah penulis narasi, dan Biyi sebagai pengambil peran.


''Jangan khawatir, bukankah ia(Canzuo) telah berusaha sangat keras Yang mulia.


Dan sebagai orang yang baik, kita hanya wajib menghargai usaha, serta jika mampu kita bisa mewujudkannya juga.''


Ziaruo mengatakan hal itu, dengan senyum sinis tercetak pada wajah cantiknya.


Sementara, bagi Jing yang melihat hal tersebut, ia kembali bersimpati kepada sang istri.


Jing tahu dengan benar, dengan ketenangan, serta senyuman tersebut, wanita itu telah memiliki rencana.


Akan tetapi, entah mengapa hati jing kembali diliputi kecemasan.


Dibalik segalanya, tak ada hal yang akan, mudah bagi Permaisurinya sekarang.


Terlebih lagi, ketika Jing mengingat Ziaruo tak lagi bisa bebas, menggunakan tenaga dalam, atau kekuatan, demi putra mereka.


''Anda tak perlu khawatir, wanita ini hanya perlu bertemu dengan kaisar Tang, memberikan keinginanya, dan meminta ia untuk menarik para prajurit keempat kekaisaran.'' Tutur Ziaruo, menjelaskan.


Ia ingin menenangkan, serta menjelaskan proses tindakannya kepada sang suami, secara apa adanya.


''Bahkan, ini masih belum semuanya Yang mulia.'' Bukan dalam hati Ziaruo.


Wanita itu memang masih menyembunyikan, tentang kepergiannyan 10 hari mendatang.


Ia ingin memfokuskan dulu pada permasalahan besar, yang tengah di hadapi kekaisaran Zing saat ini.


Namun, mendengar penuturan dari sang istri, nyatanya Jing benar-benar cemas.


Bagaimana ia akan membiarkan Ziaruo, bertemu secara langsung,dengan saingan cintanya.


Terlebih lagi, dengan kehamilan yang masih rentan. Jing tak ingin sang istri, dan calon bayi di rahim Ziaruo dalam bahaya.


Dan Jing tidak mengada-ada, karena wanita itu, baru saja kembali dari perjalanannya menemui sang guru(sesuai pengakuan Ziaruo), bahkan belum sempat beristirahat sama sekali.


Justru sekarang, harus kembali melakukan perjalanan ke negri Tang, untuk melakukan perundingan dengan kaisar Canzuo.


Pria itu sungguh tak ingin menyetujui gagasan yang ia anggap konyol dan berbahaya tersebut.


Namun, mengingat hanya cara ini saja yang dapat terfikirkan, Jing merasa tak berdaya.


Jika dia diharuskan memilih, pria itu akan lebih memilih kehilangan tahtanya, dibandingkan harus memberi izin untuk sang permaisuri menghadapi bahaya, serta menemui pria pemujanya.


Akan tetapi, mengingat hati Ziaruo yang memiliki kelembutan untuk orang lain, tentu saja jing sudah dapat menebak.

__ADS_1


Bahwa, Ziaruo akan membenci dirinya, jika membiarkan penderitaan rakyat Jing, dan khususnya para prajurit, akibat suatu pertempuran yang dapat ia cegah.


Jing diam terpaku, dan tak menjawab perkataan Permaisuri Yun.


Dalam gambaran di benaknya, ia juga tahu sehebat apapun prajuritnya, tetap saja akan terpukul dan kalah, oleh gabungan prajurit ke-empat kekaisaran.


Sementara jika dirinya, atau orang lain yang pergi untuk melakukan perundingan dengan negri Tang, itu sungguh jauh lebih tidak mungkin.


Mengingat, siapa Canzuo dan keinginan apa yang akan menjadi penawaran. Jing sudah bisa menduganya.


Terlebih lagi, bagi mereka adalah hal mustahil akan dapat sampai di kekaisaran Tang, sebelum senja nanti.


Pria itu menghela nafas dalam.


Perlahan menggerakan tangan, dan mengusap lembut pucuk kepala Ziaruo, memeluk wanita itu erat-erat, seraya berkata. ''Tapi kau harus di temani, jangan menemuinya sendirian.''


Ia berencana akan menyertakan beberapa penjaga bayangan.


Atau setidaknya, Yongyu, Rayyan, atau juga Wuhan, untuk menyertai kepergian Ziaruo.


Dan kebetulan, Yongyu dan Wuhan, baru saja bergabung kembali tadi pagi, setelah menyelesaikan tugas mereka.


''Yang Mulia, itu akan menguras tenaga wanita ini. Bukankah saya harus sampai di kekaisaran Tang dengan cepat?.'' Ziaruo.


Mendengar jawaban tersebut, Jing tak berkutik.


Ia kembali terbentur pada kenyataan yang ada.


Baik itu Wuhan, penjaga bayangan miliknya, bahkan Rayyan, ataupun Yongyu sang ipar, tak ada yang memiliki kemampuan berpindah tempat dalam waktu singkat.


Dan jika ia memaksa, untuk menyertakan mereka dalam perjalanan Ziaruo, dengan secara tak langsung, dirinya telah menambah beban bagi sang istri.


Karena dengan kehamilan Ziaruo, ia tak di izinkan menggunakan tenaga dalam berlebihan.


Bahkan jika bisa, ia diharuskan menetralkan tenaga spiritual miliknya, untuk melindungi bayi mereka.


Namun, untuk berpindah cepat dari hutan barat menuju kekaisaran Tang, Ziaruo mau tidak mau harus mengerahkan tenaga dalam.


Dan tentu saja, akan jauh lebih berisiko jika wanita itu, juga harus membawa beberapa orang lain lagi.


Jing menatap sendu kearah Ziaruo, hatinya berkecamuk dan berontak tak puas.


''Yun...haruskah itu kau lakukan?.'' Tanya Jing dengan ketidak berdayaan.


Ia tidak rela melepas wanita itu pergi kali ini.


Namun, disaat sekarang hanya sang permaisuri sajalah, yang dapat mencegah kerugian besar, serta penderitaan dari rakyatnya.


''Atau kita biarkan saja takdir yang menentukan nasib kita kali ini Yun, aku....'' Sambung Jing lagi.

__ADS_1


__ADS_2