
Seberat dan separah apapun sebuah luka, masih jauh lebih ringan dari luka sebuah hati, dan setidaknya itulah yang Ziaruo pikiran saat ini.
Seorang wanita cantik dengan kekuatan yang luar biasa, bahkan bagi seorang pria hebat yang mengenalnya, akan merasa gentar serta ragu untuk menyinggungnya.
Akan tetapi, justru ia runtuh hanya dengan beberapa kata saja.
Didalam hidupnya hanya perkataan dari mereka berdualah ( Murongxu dan Baixio ) yang paling ia pedulikan.
Hatinya sakit, dan merasa seolah tidak terima, dengan apa yang diucapkan oleh sang kaisar tersebut, dengan langkah kakinya yang sedikit bergetar, perlahan ia menuju bilik kamarnya.
Ia tahu, saat ini sang kakak Yongyu, harusnya sudah mendengar juga pembicaraannya dengan Murongxu.
Ziaruo juga tahu, nantinya akan ada suatu pertanyaan tentang ucapannya hari ini dari sang kakak.
"Akan aku jelaskan semuanya nanti kak, tapi untuk beberapa hari ke depan, jangan menggangguku ataupun membangunkanku sebelum aku keluar dari kamar.'' Ucap Ziaruo kepada Yongyu. Pemuda tersebut mengikuti langkah pelannya, sejak ia mulai memasuki pondok tadi.
''Jangan hiraukan apapun yang orang lain pikirkan, beristirahatlah.'' Jawab Yongyu pelan, sembari menatap punggung sang adik, berjalan masuk kedalam biliknya.
"Apapun dan siapapun dirimu, mulai sekarang, kau hanya akan menjadi adikku, bukan permaisuri ataupun istri dari seseorang, dan hanya aku keluargamu satu satunya.'' Pikir Yongyu dalam hatinya.
Sementara itu, tanpa disadari oleh orang lain, sebuah kilatan cahaya melesat keluar dari dalam ruangan dimana Ziaruo tadi masuk, cahaya tersebut bergerak cepat menembus gelapnya hutan.
Maklum saja, malam itu bulan tak lagi sempurna dengan bulatannya, hanya menampilkan lengkungan, dengan sinar redupnya yang tak dapat menerangi lebatnya pepohonan di hutan.
Sehingga siluet cahaya putih tersebut, semakin jelas terlihat, didalam gelapnya suasana malam itu
Cahaya melesat cepat tanpa dapat di hentikan siapapun. Hingga sampailah ia pada sebuah tempat, dengan suara teriakan dan tangisan pekat penuh ke piluan milik seorang wanita.
Di dalam sebuah gubuk tua tepi sungai, yang terpisah agak jauh dari gubuk gubuk sederhana yang lainnya, tangisan itu berasal.
''Brruuaaakkk...''
Suara pintu terbuka dengan paksa dari luar.
Di sana, sebuah pemandangan yang memilukan bagi gadis cantik itu terpampang.
Tampak seorang wanita, yang hampir tanpa sehelai benangpun di atas tubuhnya. Wanita itu tidak sendirian, beberapa pria dengan wajah yang menampakkan, sebuah kehausan atas sesuatu namun bukan air.
Bahkan, 3 pria dalam keadaan tak jauh berbeda dari gadis tersebut, dan setengah telanjang untuk beberapa yang lainnya lagi.
Sementara itu, ada seorang pria yang tengah melakukan penyatu*n tubuhnya, secara paksa dengan sang gadis.
Melihat hal tersebut, siluet cahaya yang sudah berubah menjadi tubuh seorang wanita cantik, menampilkan kilatan mata tajam.
Jari-jarinya mulai mengeluarkan hawa panas, sebuah aura yang semakin panas dan bertambah panas lagi, hal itu hanya selang beberapa detik saja.
Sementara itu, para pria masih mematung melihat pemandangan yang ada di depannya.
__ADS_1
Dengan penuh pandangan takjub, mereka terperangah.
Namun, sebagian besar yang ada didalam pikiran mereka, adalah hal buruk,serta tidak pantas.
Khayalan mengembara, dengan gambaran liar yang horror membelenggu otak kotor mereka.
Hingga semua Pria itu, tak menyadari dengan apa yang akan mereka hadapi setelah ini, mereka buta dengan bias tampilan luar, sosok di depan pintu.
Seorang pria dari mereka berjalan mendekat kearah pintu, dengan senyum sejuta makna.
Mungkin jika divisualkan dalam tayangan slide vidio, dalam langkahnya yang beberapa jengkal saja, sudah ada puluhan hal er*tis yang muncul di dalam otak kecilnya.
"Yooo...ternyata masih ada hal baik yang bahkan, turun seperti sebuah keberuntungan untuk kit...."
Perkatan pria dengan nada penuh rona kesenangan, mengiringi langkahnya mendekat kearah wanita cantik di depan pintu, dengan alunan irama menggoda.
Namun sebelum ucapannya terselesaikan, tiba-tiba saja pria tersebut,berteriak histeris dengan lengkingan panjang menyayat.
Seolah pria disana, tengah merasakan kesakitan yang teramat luar biasa.
Menyaksikan serta mendengar teriakan itu, sontak saja semua orang yang disana menatap kearah sumber suara.
Disana, salah satu teman mereka, tubuhnya tengah meronta-ronta dengan hebat.
Namun, dari bibir itu tak terdengar suara teriakan meminta pertolongan sama sekali.
Hanya lengkingan panjang, serta teriakan mengerikan yang membangunkan bulu-bulu halus leher belakang semua orang.
Sementara itu, wanita cantik di depan pintu masih berdiri di sana dengan tatapan tajam, dingin serta tampak menakutkan kearah mereka.
"Tolong...tolong aku nona.'' Pinta pelan wanita di pojok ruangan, dengan nada yang tak kalah memilukan, dan teriakan itu hampir seperti sebuah rintihan saja.
Mendengar suara wanita tersebut, ada kemarahan, geram, serta ada setitik kekecewaan yang ia alami ikut mewarnai amarahnya kali ini.
''Mengapa kalian, tak bisa menghormati kami?.''
''Mengapa kalian, selalu berlaku buruk, dengan kekuatan dan emosi kotor kalian?.''
''Aku benar-benar muak, dengan kalian!'' Ucap wanita didepan pintu, dengan amarah yang terlihat sangat jelas pada wajah cantiknya.
"Slash...slash...duuar..duaaar...."suara kilatan petir di atas langit bersaut-sautan.
Seolah ikut menyatakan kemarahan sang wanita.
Angin berhembus cepat menjatuhkan daun-daun dari ranting, dan datang menyelimuti tubuh sang wanita.
Tak menunggu waktu lama, dengan satu kali hempasan tangan saja, semua daun tersebut bergerak menyerang semua pria di sana.
__ADS_1
Dalam hitungan detik saja, tubuh-tubuh gagah milik mereka, terhempas ke lantai gubuk, dengan luka yang parah serta say*tan-s*yatan kecil.
Hanya dalam satu hempasan tangan saja, mereka sudah tergeletak, tanpa mampu melakukan apapun.
Sayat*n tersebut, tepat mengenai setiap titik-titik pembuluh darah mereka, sehingga mengakibatkan luka yang fatal.
Lantai gubuk ditepi sungai itu, kini berubah menjadi berwarna merah cerah, dengan pewarna alami yang mengalir melalui setiap urat pembuluh kehidupan semua pria di sana.
"Duar..slash duuuaaarrr ..duarrr.''
Suara sambaran petir dan kilatan cahaya kian besar. semakin lama, semakin besar dan semakin besar dalam setiap ritmenya.
Dan entah mengapa, tiba-tiba saja kilat dan petir itu menyambar tubuh wanita cantik yang tak lain adalah Ziaruo.
Petir itu datang seperti sebuah cambuk. Ceplar..sekali...Cleplaaar ..dua kali...Ceplaaar ..tiga kali...dan entah hingga berapa kali petir itu menyambar sosok di depan pintu tersebut.
Dan setelah petir tak lagi menyambar, sontak tubuh itu lunglai dan terjatuh dengan banyak luka-luka. Bahkan dari bibirnya memuntahkan seteguk cairan merah segar.
Melihat kejadian tersebut, wanita didalam gubuk itu, terbangun dari keterkejutan dan merangkak meraih pakaiannya.
Dengan sisa kekuatan serta menahan rasa sakit, ia berusaha berdiri dan berjalan kearah tubuh wanita yang telah menjadi penolongnya.
"Nona...no..na...'' Panggilnya lirih, ketika ia sudah dapat mendekati tubuh Ziaruo.
''Dewa, dimana mata keadilanmu?, dia membunuh mereka yang berbuat buruk padaku, mengapa kau menghukumnya?''
Teriaknya dengan air mata yang semakin deras. Wanita itu semakin bersedih dan putus asa, melihat penolongnya dalam keadaan yang terluka parah.
''Apakah kau tak memiliki mata? dia menolongku, dan mereka pantas menerimanya!.'' Lanjutnya lagi, dengan penuh kemarahan sembari memeluk tubuh gadis itu.
"Apakah aku tak pantas untuk kebaikannya?, apakah aku tak pantas untuk di tolong?, dan pantaskah aku menerima semua keburukan mereka?.''
Wanita itu terus berteriak meski dengan suara yang parau, karena sedari tadi ia mamang telah berteriak-teriak meminta pertolongan.
Namun sekalinya, ada yang datang menolong, sang penyelamat mengalami hal buruk didepannya.
Rasa sakit di tubuhnya tak lagi ia pikirkan, perasaan kecewa dan tidak terima terus membuatnya meracau tak beraturan.
"Aku selalu berusaha berbuat kebaikan tapi hal inilah yang aku peroleh, dan hanya dialah yang menolongku.''
'' Tapi kau ingin menghukumnya, Dewa kau sungguh tak dapat memilih pijakan pada hal baik. Maka aku akan menghilangkan ke beradaanmu di hidupku.''
''Dan dia adalah dewaku, dia penolongku. Aku akan melindunginya, bahkan jika harus kehilangan nyawa dan tubuh kotor ini.'' Ucapnya lagi.
Wanita itu mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa di tubuhnya, dengan sedikit terhuyung ia mengangkat tubuh Ziaruo.
Dengan penuh perhatian mengangkat tubuh itu, dan menggendong dipunggung. Ia bermaksud membawanya pergi dari sana, dan mencari pertolongan.
__ADS_1
Dengan langkah gontai, dan menahan rasa sakit pada tubuhnya, wanita itu berjalan meninggalkan gubuk, menuju kearah perkampungan kecil yang terlihat dari tempatnya berdiri sekarang.
"Anda harus sembuh nona, saya akan memastikan anda akan selamat, harus selamat." Ucapnya penuh keyakinan.