
Masih di dalam sidang pagi kekaisaran Tang.
''Selamat Yang Mulia kaisar.'' Ucap semua orang yang di sana hampir bersamaan.
Mendengar ucapan selamat dari semua orang, Canzuo tersenyum tipis, dan bergumam dalam diamnya.
''Berikan selamat itu, setelah kalian melakukan tindakan.''
Sebuah senyum penuh makna, dari pria tampan dengan status tinggi itu, mencentak kecemasan di wajah jendral Gu.
Pria tersebut sengaja mengumumkan kehamilan sang selir. Ia tahu bahwa dengan hal tersebut, ia akan menghemat tenaganya untuk memberikan ancaman, kepada sang calon bayi di dalam kandungan selir Gu.
Karena sudah kebiasaan, dan menjadi rahasia umum bagi semua orang, bahwa istana dalam adalah medan perang yang bahkan jauh lebih kejam, dari sebuah pertempuran di medan laga.
Demi kasih sayang dan kekuasaan dari sang kaisar, mereka (para selir dan keluarganya), akan saling menjatuhkan dan menyakiti diantara sesama wanita kaisar.
Dan di tengah pemikirannya untuk menyakiti selir Gu dan kandungannya, kaisar canzuo menemukan cara terbaik dengan hanya menyebarkan berita tersebut, tentu saja dengan wajah bahagia palsunya.
Ia tinggal menunggu, hasil dari tindakan para selir serta keluarga selir lainnya, yang merasa cemburu atau kurang suka, dengan kehamilan wanita Gu (keluarga Menteri kanan Gu).
Sekali melempar dua bidikan tertembus.
Dan jika ada kejadian buruk yang menimpa selir Gu, Canzuo tinggal menyalahkan sisi lain dari pembuat masalah.
Sementara dirinya tetap pada posisi yang tenang, serta tetap bersih dari fikiran buruk(dugaan bersalah) sang mertua.
Namun, apapun di dunia ini tak akan ada yang sempurna. Sehebat dan secermat apapun rencana dari kaisar, pada kenyataannya hal itu dapat di cium oleh sang Mentri kanan ayah selir Gu.
Pria yang tak lagi muda itu, tidak menampilkan senyum apapun. Bahkan ada kecemasan pada wajah, yang sudah menginjak setengah abad tersebut.
''Mengapa dengan pengabdianku yang telah puluhan tahun, tidak dapat menghentikan kecurigaan anda Yang Mulia.
Bahkan, anda selalu menyakiti putra dan putri keluarga Gu kami?.'' Gumam dalam diam Mentri Gu.
Pria Gu, menerima setiap ucapan selamat yang di berikan oleh hampir semua orang yang hadir, bahkan hingga setelah pertemuan pagi berakhir, masih ada beberapa orang yang mengucapakan selamat, atas kehamilan sang selir putrinya.
''Aku benar-benar mengirim putriku kesarang serigala. Yang Mulia...apakah anda akan mendorongku hingga akhir?.'' Pikir dalam hati mentri Gu, disela langkah kakinya, menuju kereta.
.....................skip....................
Waktu mengalir dengan cepat, dari pagi bergulir ke siang, dan semakin merambat, menuju senja hari.
Dimana semua rombongan yang di tunggu, akhirnya tiba di depan gerbang istana.
Tanpa menunggu sebuah pemeriksaan yang berarti, rombongan akhirnya memasuki istana, kekaisaran Tang yang agung.
Sebuah sambutan hangat, dari para pejabat, serta beberapa anggota keluarga kekaisaran, sebagai perwakilan untuk menghormati tamu yang datang.
Mereka di bagi dalam penempatan kediaman, sesuai dengan status, serta kedudukan mereka.
__ADS_1
Setiap anggota kekaisaran (keluarga royal kekaisaran, Raja ataupun pangeran), akan di tempatkan di pavilliun tamu di dalam istana.
Sementara untuk pembesar( pejabat serta para cendekiawan ), akan diantar ke sayap istana bagian kiri.
Dan untuk penjaga, ataupun para prajurit elit, akan di tempatkan di dalam tenda, yang didirikan tak jauh dari istana sayap kiri.
Pengaturan ini, sengaja di terapkan. Mengingat para tamu kekaisaran akan berdiam di sana, selama 3 hingga 5 hari mendatang.
Hal ini bertujuan, agar mereka dapat melakukan actifitas, serta keperluan tanpa adanya ketidak nyamanan.
Akan tetapi, sejujurnya kaisar Canzuo tengah melakukan sesuatu, dengan perhitungan cermat, atas apa yang telah ia rencanakan kedepannya.
''Hormat hamba Yang Mulai, sepertinya kaisar dan permaisuri Zing, tidak datang bersama rombongan.'' Ucap seorang pria, dengan tubuh membungkuk di depan Canzuo.
''Aku tahu, kau boleh pergi.'' Jawab pria itu, dengan suara yang datar.
''Baik Yang Mulia.''
Jawab pria dengan pakaian hitam-hitam itu, sebelum melesat pergi dengan cepat.
''Kau pasti disana, bahkan pria itu juga mengikitimu kesana.'' Ucap Canzuo pelan.
''Lalu apa yang akan kau lakukan?.'' Tanya sebuah suara dengan tenang, bahkan tak tergambar sebuah ekspresi dari suara tersebut.
''Dia hanya seorang wanita, apakah segalanya sebanding?.'' Tanya Canzuo, dengan nada yang masih sama.
''Bahkan jika dunia ditanganmu, selama ia tidak ada ketertarikan, semuanya adalah sia sia di hadapannya, wanita seperti itu, apakah kau tidak ingin bersamanya?.'' Jawab suara yang sama lagi.
Akan tetapi, lebih kearah sebuah pertanyaan, dengan maksud yang kental akan provokasi, untuk sang kaisar muda.
''Aku pernah melihatnya, dan aku juga pernah bertemu dengan dia, kurasa ia biasa saja.'' jawab sang kaisar dengan suara tenangnya.
Padahal, di dalam hati ia sangat menginginkan wanita itu, dan hal ini juga salah satu alasan, hingga sekarang ia masih mengosongkan kursi permaisuri di sampingnya.
Mendengar hal itu, pemilik suara itu tertawa dengan sangat kencang, hingga beberapa kristal di dalam ruangan tersebut bergetar.
Suara tawa itu berhenti setelah beberapa saat kemudian.
''Dasar manusia, bahkan kau tak bisa bersikap jujur dengan hatimu sendiri.''
Mendengar ucapan itu, Canzuo mengernyitkan kening, ia terkadang merasa malu, serta tidak nyaman dengan sang penolong.
''Jika anda menginginkannya, maka sudah sepantasnya aku menyempurnakan keinginan itu.'' Lanjut sang suara lagi.
Mendengar ucapan tersebut, Canzuo menampilkan semburat bahagia di wajahnya.
Akan tetapi, dengan sekuat mungkin ia usahakan untuk tampil tenang.
Kaisar muda dari negri Tang itu, sangat mempercayai kemampuan dari sang pemilik suara.
__ADS_1
Dengan wajah yang masih sama ia kembali berkata. '' Jika itu benar terwujud, meskipun sejenak mungkin kehidupan ini akan terasa sempurna.''
Tanpa ia sadari, sebuah senyuman menyeringai dari balik kegelapan tersembul jelas, akan tetapi hal itu tak diketahui olehnya.
''Semua keinginan anda adalah perintah untukku.'' Sahut suara itu dengan semangat.
Ruangan kembali hening, tak lagi terdengar apapun, atau suara siapapun di sana lagi, bahkan tidak dengan suara sang kaisar Muda.
Hal ini, sudah biasa bagi para penjaga ataupun kasim di sana.
Mereka lebih sering mendengar percakapan aneh, dari dalam ruang kerja Kaisar Canzuo, suara itu jelas dan bahkan dapat di ketegorikan keras.
Namun jika di tanya, ataupun berusaha untuk mengingat kembali, apa yang pernah mereka dengar, semuanya tidak akan ingat ataupun mengerti, tentang pembicaraan mereka(kaisar Canzuo dan suara misterius).
Sementara itu di kediaman keluarga Yun, tepatnya di tengah kota Diwei.
Sepasang tubuh menggeliat di balik selimut diatas ranjang, didalam sebuah ruangan cukup besar.
''Kau lapar?.'' Tanya sang pria dengan suara lembut.
''Heemm...''
Jawab singkat Ziaruo.
Wanita itu menyahuti pertanyaan Jing dengan ''Eheman'' saja, sebuah ungkapan persetujuan di tengah rasa kantuk yang melandanya.
Melihat hal tersebut, kaisar Jing merasa sikap sang istri menggemaskan.
Di sela tangan yang mulai sulit di kondisikan, Jing berkata. ''Yuuun...kau ingin makan apa?, apakah seperti yang tadi?.''
Lagi lagi, wanita itu menjawab hanya dengan singkat. ''Eeemmm...'' Sembari beberapa kali berusaha menepis tangan sang suami sekenanya.
Mendengar jawaban sang istri yang seolah mengiyakan, senyum tipis tercetak diwajah pria tersebut.
''Benarkah?.'' Ucapnya lagi.
Kaisar Jing tahu, bahwa Ziaruo menjawab semuanya, dengan asal asalan saja.
Namun ia tak ambil pusing, baginya setiap apapun yang terucap dari bibir wanita itu, adalah kebenaran.
Terlebih lagi, untuk sesuatu yang sangat ia sukai.
Dengan wajah yang mulai memerah, serta senyuman dibibir kian melebar, Jing kembali menyeruak masuk kedalam selimut, sembari berkata. ''Baik...dengan senang hati Yang Mulia Permaisuri.''
Mendengar ucapan sang suami dengan nada antusias, Ziaruo membuka matanya lebar.
Ia menyadari ada yang tidak sesuai, dengan pemahaman sang suami, atas setiap ucapannya.
Dengan cepat ia membuka selimut dan mendudukan tubuhnya, sembari berucap. ''Tidak.. saya sudah bangun Yang Mulia.''
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir dan membaca, mohon tinggalkan jejak, like dan komentar ya ....agar Author tambah semangat.