Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 15 Pelatihan dan kehampaan.


__ADS_3

Di sebuah dimensi lain, yang jauh dari semua kebisingan.


Seorang wanita cantik duduk dengan posisi lotus, diatas sebuah batu datar dengan pancaran aura dingin.


Matanya terpejam, dan dari seluruh tubuh itu memancarkan warna keemasan yang lembut.


Seperti sebuah baju pelindung, kabut tipis tersebut menyelimuti seluruh tubuh rampingnya.


Sesekali sinar keemasan berubah menjadi lebih pekat dan kuat.


Dan dalam kalkulasi tertentu, sinar pekat keemasan akan bergerak cepat, menjelajah seluruh ruangan disana.


Namun, sesaat kemudian kembali tenang, dan berganti menjadi warna emas yang lembut, sebelum kembali menyelimuti tubuh Ziaruo.


Wajah cantik dengan mata terpenjam masih tampak tenang, seolah tengah menampilkan aura majestik yang kental.


Dan entah itu karena kabut ke emasan, atau dari aura yang di miliki, kulit mulus yang membalut tubuhnya semakin terlihat lebih indah.


Rutinitas yang dimilikinya saat ini hanya berkultivasi.


Memperdalam kemampuan, serta mengolah tenaga dalam miliknya.


Ia tidak pernah menolak, dan berkeluh kesah atas perintah yang di terima.


Ziaruo, selalu melaksanakan setiap ucapan, petunjuk, serta arahan dari guru besar Xio.


Meski, entah sampai kapan hal ini terus ia lakukan, Ziaruo tetap konsisten.


Hingga nanti, sang guru mengatakan untuk menyudahi pelatihannya.


.....................


Sementara.


Jauh dari tempat yang penuh ketenangan, dan damai tersebut.


Sebuah ruangan nampak dengan aura berbanding balik180º.


Rasya duduk di atas kursi kebesaran, dengan aura intimidasi menatap seorang wanita yang kini berdiri, dengan raut wajah pucat serta tubuh bergetar.


Wanita tersebut, yang tak lain adalah Sinta sekertaris pribadinya.


Sinta telah berbuat kesalahan, dengan sengaja membocorkan jadwal aktifitas pemuda itu, kepada orang lain.


Lebih tepatnya kepada Yolan, yang jelas-jelas ia tahu, bahwa wanita tersebut sangat di hindari sang Presdir.


Oleh sebab itu, Sinta diberhentikan dari tempat kerja.


Pelanggaran yang dia lakukan bagi seorang Rasya saat ini, adalah sebuah kesalahan yang serius.


Sudah hampir 2 tahun ini, Rasya menjabat sebagai seorang Presiden direktur di purasahan tempatnya bekerja.


Hal itu, bukanlah semata-mata karena dia adalah salah satu pewaris disana.


Namun lebih di sebabkan kinerjanya yang tekun, ulet dan berhasil memajukan perusahaan tersebut.


Bukan rahasia lagi, jika kini ia memperoleh julukan sebagai seorang Presdir muda, tampan dan tajir.


Sebab hal itulah, banyak orang tua yang memiliki anak gadis, mendambakannya sebagai menantu mereka.


Akan tetapi, berbanding balik dengan sanjungan serta anggapan orang lain, di usianya yang menginjak awal 30-an, ternyata seorang Rasya selalu membuat keluarganya cemas.


Dengan status yang tak lagi muda, ia belum memiliki seorang pendamping.

__ADS_1


Bahkan seorang teman dekat wanita saja, ia tak memilikinya.


Oleh karena hal tersebutlah, kelurga mereka sering mengadakan perjamuan-perjamuan( pesta ), untuk mengundang keluarga sahabat dan kolega.


Meski hubungan tidak terlalu akrab, asalkan mereka memiliki seorang putri lajang, maka undangan dari keluarga Wijaya diningrat akan mengetuk pintu mereka.


Tentu saja, putrinya memiliki kriteria cantik dan tidak memiliki kekurangan fisik.


Namun, yang terjadi selalu sama.


Seperti saat ini, ketika di kediamannya sedang ada kemeriahan pesta, justru sang arjuna menancapkan gas mobil sportnya, menuju kediaman Rahmawan.


''Tin tin tin.'' Klakson mobil berbunyi beberapa kali.


Tampak seorang pria penjaga, dengan sigap membuka pintu pagar.


Penjaga tersebut menunduk memberi hormat sesaat, sebelum membuka bibirnya. ''Menginap disini tuan muda?.''


Sang Pria penjaga memang sedikit akrab dengan pemuda tersebut, maklum bukan hanya sekali dua kali Rasya menginap di sana.


Pemuda itu membuka kaca mobil dan melemparkan sebungkus rok*k, untuk sang penjaga, dan menjawab singkat. ''Heeem....'' Sebelum kembali menjalankan mobil, serta memarkirkannya.


Setelah mobil terpakir dengan baik, Rasya turun menutup rapat kaca mobil, dan berdiri sejenak menatap keseluruhan rumah.


Ada perasaan tenang sekaligus sedih di dalam hatinya, hingga tanpa sadar helaan nafas panjang ia hembuskan. ''Heeeeeeh...''


Dari samping mobil, ia lihat seorang pemuda yang hampir sebaya menatapnya dengan lekat.


Dan sesaat kemudian saling tersenyum, namun dengan fikiran masing-masing.


''Hai Sya, kenapa?, apa di rumahmu ada pesta lagi?.'' Sapa sang pemuda disana, yang tak lain adalah Dion.


Dion melihat Rasya sejak pertama sang penjaga membuka pintu pagar.


Jauh di lubuk hati, ia merasa sedih untuk pemuda tersebut.


"Seperti itulah...membuat kepalaku pusing saja.'' Jawab Rasya sekenanya, sembari mendudukan tubuh, pada kursi disamping meja.


Rasya memilih kursi yang bersebelahan dengan kursi Dion. Pria yang ia kenal 2 tahun lalu, saat pemakaman Rahartika, dan kini sudah menjadi sahabat baiknya.


''Untung saja ada kakakmu di sini Ika, jadi orang tuamu tidak merasa kesepian.'' Pikir Rasya dalam hati.


"Oh ya bagaimana proyek yang....kata .kata..kata .........''


Mereka berdua berbincang-bincang, sambil menikmati camilan dan kopi.


Dion yang membuat kopi untuk dirinya sendiri, dan juga untuk Rasya. Tak lupa, ia juga mengambil beberapa kue kering, yang akan dijadikan teman minum kopi di sela-sela obrolan mereka.


Keduanya berbincang menghabiskan waktu, ditemani secangkir kopi dan kue kering.


Hingga suara dari dalam menghentikan pembicaraan mereka berdua. "Dion ..apa Rasya bersamamu di depan?.''


Suara seorang wanita dari dalam rumah, yang semakin terdengar mendekat ke arah keduanya.


"Rasya menyuruhku mengatakan, bahwa dia tidak di sini bersamaku Bu.. ha..ha..ha.''


Jawab Dion, dengan candaan menggoda Rasya dan nyonya Ranti.


Meski, ia memperoleh tatapan sinis dari Rasya yang duduk tak jauh dari tempatnya, namun tawa dari bibir Dion terus meluncur.


"Ia tante...bilang kepada mama, bahwa aku sedang ke bulan, dan menitipkan calon mantu mantunya, untuk papa dan kakak saja.'' Jawab Rasya keras, agar di dengar oleh orang yang ada di seberang telepon.


Setelah mengucapkan hal tersebut, Rasya meraih tangan nyonya Ranti dan menciumnya sesaat, sebelum ia melangkah masuk menuju lantai atas, untuk beristirahat.

__ADS_1


Rasya sudah terbiasa menginap dirumah kelurga Rahmawan.


Bahkan, ia seolah menjadi bagian dari keluraga tersebut, seperti Dion.


Hanya saja, untuk Dion memang benar-benar menetap disana, sebagai bagian dari kelurga Rahmawan.


Namun tentu saja, Dion tidak terdaftar dalam akta keluarga Rahmawan.


Bagaimanapun juga, Ia adalah pewaris satu-satunya dari kelurga Atmadja.


Awalnya, Dion ingin menempati kediaman milik kelurganya disana, yang dulu sempat dijual untuk pengobatan sang ibu, pada saat ia belum mengenal Rartika dan kelurganya.


Namum atas permintaan dari Ardi dan Ranti, akhirnya Dion menetap sebagai kelurga di keluarga Rahmawan, layaknya anak mereka sendiri.


Sementara itu, di tempat pesta seorang wanita yang sudah hampir memasuki usianya yang ke-50 tahunan, berkali-kali menatap ke arah pagar depan, menunggu seseorang yang penting, atau dapat di katakan sebagai tokoh utama di dalam pesta malam ini.


Wanita itu berdiri di samping seorang pria yang dengan tenang menikmati kue-kue kecil.


"Ini mama coba, rasanya sangat gurih, berbeda dengan yang bulan lalu ma.'' Ucap pemuda tersebut, sambil berusaha menyuapi sang ibu yang tengah cemas menunggu kedatangan sang adhik( Rasya).


"Heemmz....'' Wanita yang di panggil mama itu, meremas kipas cantik yang di pegang.


''Adhikmu itu ..lama-lama bisa bikin jantung mama meledak Ray, Kapan dia mau nurut?.'' Ucapnya kesal dan jengkel.


Sementara itu bagi Rayyan, pemandangan tersebut sudah jadi hal biasa.


Bahkan dapat di katakan sudah terlalu biasa bagianya, mendapati sang mama menggerutu perihal sang adhik.


"Ini itu...bukan kesalahannya saja Ma. Bukannya dia sudah jelas-jelas bilang tidak akan hadir, mama saja yang kekeh.''


Sambung Rayyan tetap tenang.


Pria itu kembali memasukkan kue ke mulunya.


"Kau ini ...bughh...bukanya membuatku tenang, malah memancing emosiku.'' Gerutu Riana, sambil mendaratkan pukulan di pundak Rayyan.


"Dia pasti dirumah tante Ranti ma, mengapa tidak mama telpon saja dan tanyakan'' Ucap Ray lagi, dengan mata menerawang.


Ia mengingat kejadian 2tahun lalu, sebuah kejadian yang membuat Adhik satu-satunya, berubah menjadi seorang yang dingin dan gila kerja.


Rayyan tahu alasan sang adhik melakukan hal tersebut, adalah untuk menutupi rasa sakit serta kekosongan hatinya.


Sejak kepergian Rahartika, sang adik menjadi pemuda yang seolah hanya raga hampa, tanpa nyawa.


''Dan aku tahu, kau pasti sekarang meringkuk di kamar gadis itu, Sya.'' gumam Rayyan.


Tidak semua orang seberuntung Rayyan, yang terlahir dari keluarga berada dan kelurganya tersebut dapat dibilang sebagai keluarga yang harmonis.


Ia juga menikah dengan wanita yang juga mencintainya, dan berasal dari keluarga setara dengan keluarganya.


Oleh karena itu, ia begitu miris melihat kisah sang adhik .


Nyonya Riana merasa usulan dari Rayyan ada benarnya, dengan cepat ia mengambil ponselnya dan percakan di teleponpun terjadi .


*Yolan Winata, cantik, baik serta anggun sepupu Letisia istri Rayyan, kakak dari Rasya.


*Yolan mengenal Rasya 6 tahun yang lalu, sebelum ia mengenal Rarhartika.


Yolan sempat mundur dan berhenti mengejar Rasya, saat mengetahui bahwa Rasya akan menikah dengan Rahartika.


Padahal saat itu masih keputusan Rasya saja, dan belum diutarakan kepada Rahartika*.


*Akan tetapi, setelah Gadis yang di cintai Rasya meninggal, dan perasaan tulusnya untuk pria tersebut masih besar.

__ADS_1


Yolan memutuskan untuk memperjuangkan cintanya kembali, meskipun Rasya benar-benar enggan berurusan dengan dirinya.


Bahkan, dapat di katakan menghindari Yolan sepenuhnya. Tentu saja bukan hanya Yolan, melainkan semua wanita-wanita yang memiliki ketertarikan kepada dirinya sebagai lawan jenis*.


__ADS_2