Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 20 Kesetiaan dan pengabdian.


__ADS_3

 


Derap langkah kuda berhenti di depan sebuah pondok, tampak sebuah bayangan dengan sigap melompat turun.


Sang penunggang berjalan cepat mendekati kuda kedua, ia segera membantu penunggang kedua itu, untuk turun dari atas kudanya.


Penunggang kuda pertama tetap menopang tubuh temannya, tampak jelas pemuda tersebut tengah mengeratkan gigi untuk menahan rasa sakit.


Sebuah anak panah dengan bulu angsa pada ujungnya, menembus punggung sebelah kanan, penunggang kedua tersebut.


 


''Wuhan, apakah tempat ini aman?, sepertinya pondok itu berpenghuni.'' Ucap pria dengan anak panah pada punggungnya.


"Maaf tuan, kita hanya bisa mengambil pilihan ini.


Jika mereka berbahaya, saya akan melakukan pilihan kedua.'' Jawab Wuhan, dengan bahasa lugas, sesuai perintah dari pria yang bersamanya.


Pemuda dengan anak panah tersebut, yang tak lain adalah Kaisar JiangJing wei.


Sudah menjadi kebiasaan mereka, jika dalam mode penyamaran, Wuhan harus bersikap selayaknya seorang penjaga bayaran dari seorang saudagar kaya, atau seorang bangsawan biasa.


Mereka melihat seorang pria yang berjalan kearahnya dari dalam rumah.


Dan saat ini, Wuhan hanya bisa bersikap waspada kepada pria tersebut.


Namun, karena kondisi sang tuan yang mulai kritis, akhirnya ia masuk kedalam pondok setelah pria tadi membukakan pintu.


Pria pemilik pondok itu hanya diam serta menatapnya tajam.


Seolah ia dapat mengerti kewaspadaan kedua tamunya.


Ia membukakan pintu pagar, dan berkata dengan nada datar. ''Bawa tuanmu masuk, aku rasa kau tak menginginkan bantuanku.''


Mendengar Izin telah diberikan, dengan sigap wuhan segera mengendong sang majikan di belakang punggungnya.


Langkah cepat kaki Wuhan, mulai menapaki tangga masuk pondok, mengikuti sang pria pemilik.


"Tok..tok...tok..''


Suara ketukan pintu.


''Nona, dia terluka anak panah pada punggung, dan sepertinya panah tersebut di olesi racun.'' Ucap pria tersebut, didepan sebuah kamar.


"Aku tahu, baringkan dia di kamarmu dulu.'' Sahut suara dari dalam kamar, yang tak lain adalah Ziaruo.


"Emmm..baik nona.'' Jawabnya dengan nada berat.


"Apa kau keberatan Yongyu?.'' Tanya Ziaruo kepada pria didepan pintu kamar.


Wanita itu, mengerti perasaan yang kini dirasakan oleh Yongyu.


Baginya jika memang Yongyu merasa keberatan, mungkin Ziaruo akan memikirkan cara lain untuk membantu tamu, yang telah ia ketahui identitasnya tersebut.


''Saya tidak berani nona, maafkan atas kelancangan sa.....''Jawab Yong dengan nada pelan, ia belum sempat menyelesaikan ucapannya, ketika Wuhan dengan nada agak tinggi menyela.


''Bisakah kalian, melanjutkan percakapan nanti saja, apa kalian akan membiarkan temanku meninggal karena kehabisan darah?.'' Sahut Wuhan, dengan nada kesal dan cemas.


Melihat hal tersebut, Yongyu menjadi kesal, namun ia masih mampu menahan dirinya.


"Kriekk.''


Suara pintu terbuka, dari dalam ruangan.


"Yongyu...antar tamu kita, aku akan mengambil beberapa tanaman obat.'' Ucap Ziaruo tegas, tanpa memperdulikan tatapan tajam Wuhan kepadanya.

__ADS_1


Dengan bantuan Yongyu, Wuhan menurunkan saudagar Jing, dan mendudukannya diatas ranjang kamar Yongyu.


Mereka tidak dapat membaringkan tubuh pemuda tersebut, karena anak panah pada punggung Jing, menembus hingga kedepan dada kanannya.


Oleh karena itu, Wuhan dengan setia menopang tubuh pingsan tersebut, agar tidak terjatuh, ataupun terkulai keatas ranjang.


"Nona sepertinya ia pingsan, dan racunya bukan racun biasa.'' Ucap Yongyu kembali, kepada wanita yang ia panggil sebagai nona.


Tampak kecemasan pada mata pemuda itu, meskipun berusaha ia tutupi.


Dan wanita tersebut, hanya tersenyum serta melihatnya sekilas.


Ziaruo berjalan mendekati tubuh lemah, yang kini dengan posisi duduk pada ranjang di depannya.


Dengan tenang ia menggerakan tangan secara pelan, memutari tubuh Jing wei.


Dalam kelebat mata, seketika tubuh tersebut menjadi duduk dengan postur tegap tanpa penompang(tanpa bantuan Wuhan yang memeganginya ), dan berkata. ''Kau sekarang bisa melepaskanya.''


Ziaruo mengambil sebuah gunting, untuk memotong pakaian pria tersebut, sebuah benda yang mungkin masih aneh diera ini sekarang.


Akan tetapi, ia tak memperdulikan tanggapan, ataupun pemahaman orang lain.


Fokus utamanya adalah, segera mengobati Kaisar Jing depannya saat ini.


Namun, tiba-tiba saja gerakan tanganya berhenti, saat sebuah tangan lain dari belakang tubuh, menahan pergelangan tangan miliknya. ''Apa yang akan kau lakukan hah?, dan senjat...''


........................


Wuhan memperhatikan setiap gerakan, yang dilakukan oleh wanita yang dipanggil Nona itu.


Ia tak ingin, ada sesuatu hal buruk terjadi kepada sang Tuan.


Dan ketika wanita didepannya tiba-tiba meletakan benda tajam tepat ketubuh sang Kaisar.


Namun, belum sempat ia menyelesaikan ucapan, serta menjauhkan tangan sang wanita dari tubuh Jing, tiba-tiba saja lidahnya kelu dan kaku. Tubuh Wuhan mematung, dan tidak dapat melakukan apapun.


Bahkan sesaat kemudian, tubuh dan kakinya melemah, hingga ia terkulai duduk dilantai ruangan.


Tampak sekilas sebuah ketidak sukaan, atas tindakan Wuhan yang memegang pergelangan tangannya, wanita itu menatap pria tersebut tajam serta datar.


Dengan suara pelan dan tampak tenang, Ziaruo berkata. ''Lepaskan tanganmu, atau kau ingin menjadi pria dengan satu lengan?.''


Tanpa menunggu jawaban dari Wuhan, Yongyu dengan kasar memukul tangan pemuda tersebut, hingga tangan Wuhan terhempas memukul lantai,


Karena tangan Wuhan saat ini tidak dapat merespon dan seolah lumpuh.


Mengakibatkan kedua lengan itu secara langsung terjatuh, dan tergeletak di lantai ruangan, tak dapat diangkat ataupun di pindahkan lagi.


Dengan posisinya yang terduduk, ia melihat wanita tersebut memotong pakaian sang majikan, menggunakan senjata aneh yang baru di lihatnya.


Bukan tanpa alasan, Ziaruo menyobek baju dari tubuh Jing. Hal tersebut untuk memudahkan, dirinya mengobati luka ditubuh pria muda itu.


Dan ketidak tahuan Wuhan, menjadikannya merasa cemas, serta curiga yang berlebihan.


Tanpa ragu, Ziaruo memotong ujung kepala anak panah, yang menembus pundak atas sebelah kanan Jingwei.


Lagi-lagi Wuhan kebingungan, ia sama sekali tak melihat senjata atau alat apapun, yang di gunakan oleh sang gadis, untuk memotong mata anak panah.


Wuhan hanya melihat sesaat, ketika tangan gadis itu menyentuh ujung anak panah, dan sesaat setelahnya ujung benda runcing tersebut, sudah patah serta berada didalam genggaman gadis itu.


Tidak hanya disitu, Wuhan juga melihat cara Ziaruo mencabut batang panah di punggung Jingwei dengan sangat cepat.


Bahkan matanya yang terlatih bertahun tahun, tidak dapat melihat jelas gerakan dari Ziaruo, saat mencabut batang panah.


Menyaksikan hal tersebut, hati Wuhan mulai dihinggapi rasa bersalah, atas sikap kasarnya tadi.

__ADS_1


Namun, itu semua ia lakukan karena atas dasar kesetiaanya, kepada sang kaisar.


Wuhan hanya menjaga dan waspada saja, ia tidak ingin ada orang yang mencelakai sang tuan.


"Yong, bantu aku membaringkan tubuhnya.'' Ucap Ziaruo, setelah mengoleskan obat pada kedua luka Kaisar Jing, serta membalut luka tersebut menggunakan kain bersih.


Wanita itu melangkah keluar dari ruangan, tanpa menghiraukan Wuhan, ataupun Yongyu yang masih terpaku.


Sementara itu, kondisi Wuhan sangat memprihatinkan karena bukan saja dia tak dapat bergerak.


Telapak tangan yang ia gunakan untuk menyentuh pergelangan tangan Ziaruo, sekarang melepuh dan terasa sangat menyakitkan.


Yongyu menatap Wuhan dengan sinis sebelum keluar ruangan, dengan nada kasar ia berucap. ''Kau pria bodoh!, beraninya lancang kepada nona. berdoa saja besok kau masih hidup, agar saat tuanmu itu bangun, dia tidak bersedih karena kematianmu.''


*¤ flash back on ¤*


"Maaf nona... mengapa anda menyelamatkan saya, dan bagaimana anda tahu bahwa di tubuh saya terpasang racun untuk mengontrol pergerakan dan kepatuhan saya?.'' Tanya pria yang kini duduk di lantai pondok.


Pemuda tersebut adalah pria dengan topeng buruk, yang menyerang pangeran Murongyu didalam hutan barat, beberapa saat yang lalu.


"Apakah aku harus menjawabnya?, bukankah terbebas dari kematian, sudah cukup menyenangkan, mengapa harus begitu penasaran?.'' Jawab Ziaruo tenang.


"Maafkan saya nona, karena lancang menanyakannya.'' Jiang jingyun.


"Siapa nama anda?, dan bisakah anda duduk disana, saya bukan seorang ratu, mengapa anda duduk bersimpuh dibawah?.'' Ucap Ziaruo lagi, sambil menunjuk sebuah kursi yang berada di depannya.


"Tidak nona, biarkan saya duduk disini saja, saya tidak pantas duduk sejajar dengan anda, dan saya Yongyu.'' jawabnya pelan dengan menundukkan wajah.


"Benarkah, anda tidak pantas duduk setara dengan saya, ataukah sebaliknya pangeran Jiang jingyun?.''


''Heeeehhh...''


Wanita itu menggelar nafas panjang sejenak, sebelin akhirnya membuka mulut dan berucap kembali.


''Sungguh keberuntungan dari dewa, dalam satu hari saja pondok sederhanaku, mendapat kunjungan dua orang yang hebat.''


Wanita itu kembali menyesap tehnya disela ucapan.


Sebuah ucapan, sebagai kiasan untuk perkataan dengan makna yang sebaliknya.


"Tu..tunggu nona, sungguh saya tidak bermaksud demikian.'' Jawab Yongyu spontan, karena melihat gadis itu berdiri dari duduknya, dan hendak berjalan pergi dari ruangan tersebut.


''Saya membenci gelar itu nona, karena status tersebut orang terdekat saya, serta orang yang paling aku percayai melebihi diri sendiri, tega memberikan racun, hanya karena takut saya menjadi ancaman untuk tahtanya.'' Jawabnya pelan, seolah ada kepahitan dalam setiap perkataan tersebut.


Mendengar ucapan dengan kejujuran itu, Ziaruo kembali duduk menghela nafas sesaat, dan kembali berkata. "Jika terlalu menyakitkan jangan diceritakan, anda tak harus menjelaskan sesuatu, yang tidak ingin anda ingat kepada orang lain.''


''Akan tetapi, juga tak bisa menyalahkan orang lain, atas kesalah fahamannya karena tak mengenal anda dengan baik.'' lanjut Ziaruo.


"Saya tidak ingin anda salah faham nona, saya memang seorang pangeran dikekaisaran Zing, namun di luar itu saya hanya sebuah alat p*mbun*h.'' Jelas jingyun, sembari menundukkan kepala lebih dalam.


"Lalu, apa rencana anda selanjutnya.'' Ziaruo.


"Jika diizinkan, saya ingin tinggal disini, dan mengikuti anda nona, saya yakin anda bukan gadis biasa seperti penampilan, yang sekarang terlihat.'' Jawab Yongyu dengan kesungguhan.


"Baiklah, saya akan mengizinkan anda untuk tinggal disini, tapi apakah tidak masalah, jika anda menjadi seorang pelayan?.'' Tanya gadis itu tegas.


''Bahkan wajah andapun akan mengalami perubahan, aku tidak ingin memperoleh masalah baru karena anda.'' Ucap Ziaruo lagi, dengan penuh pertimbangan.


Mendengar hal tersebut wajah Jiang jingyun menjadi cerah, seolah ia mendapat sesuatu yang berharga.


"Saya bersedia nona, sejak awal memang tidak ingin orang mengenali saya, sebagai pangeran kekaisaran Jing.'' Ucapnya antusias, dan hal tersebut memperoleh sambutan senyum dari Ziaruo.


"Baiklah, karena anda menyetujuinya minumlah ini, saya ingin beristirahat sejenak. Dan.....Percakapan kita lanjut besok pagi.'' Lanjut gadis itu, sambil menyerahkan 2 butir kecil butiran obat, sebelum melangkah menuju kamar tidurnya.


*¤ flash back off ¤*

__ADS_1


__ADS_2