Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 12 Kembali, hanya ..maaf #2


__ADS_3

'Niu..niu..niu...niu...''


Suara mobil ambulance nyaring memecah suasana.


Sore itu, dikediaman Rahmawan tiba-tiba saja menjadi ramai serta banyak tetangga berkerumun.


Mereka terkejut, penasaran, serta ingin tahu siapakah yang sakit, ketika melihat mobil ambulance memasuki kediaman kelurga tersebut.


"Siapa yang sakit?.'' Tanya tetangga satu.


"Kalau tidak salah putri tuan Adi." Jawab tetangga kedua.


"Memangnya sakit apa?.'' Tanya tetangga satu lagi.


"Ia...sakit apa?, kemarin sore aku masih melihatnya sedang menyirami bunga di taman samping rumah." Sahut tetangga tiga, meragukan ucapan tetangga kedua.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada putri mereka?, kasian dia anak satu-satunya.'' Lanjut tetangga ketiga bersimpati.


Sementara itu, mobil putih dengan suara nyaring tersebut dengan cepat melesat pergi.


Meninggalkan mereka disana, dengan berbagai pertanyaan serta doa-doa untuk Rahartika.


Maklum saja, di kawasan perumahan menengah ke atas tersebut, keluarga Rahartika terkenal sebagai keluarga yang ringan tangan membantu orang lain.


Tidak hanya itu saja, mereka juga memiliki hati yang baik serta ramah.


Jadi hampir semua orang segan, serta menghormati keluarga tuan Adi.


Beralih ke tempat lain.


Tampak seorang pria paruh baya dengan mimik wajah cemas serta gugupnya, tengah menunggu di depan pintu rumah sakit, dengan ranjang dorong( brangkar pasien ) di temani 2 perawat tak jauh darinya.


Beberapa menit yang lalu, ia menerima telpon dari sang istri, yang mengabarkan bahwa Rahartika putrinya tiba-tiba saja pingsan, setelah turun dari tangga lantai dua rumah mereka.


Namun entah nyonya Ranti yang gugup dan salah ucap, atau sang suami Dr.Adi salah mendengarkan perkataan istrinya, sehingga keterangan yang sampai dirumah sakit, adalah putrinya terjatuh dari tangga lantai atas.


Oleh karena itu, peralatan untuk tindakan cidera patah tulang, serta ruangan peralatan untuk mengecek menyeluruhpun (Ct scan) juga di siapkan.


Selang 15 menit, akhirnya mobil Ambulance memasuki halaman rumah sakit.


Dengan sigap dan perasaan cemas, Adi di bantu beberapa perawat menurunkan tubuh Rahartika dari dalam mobil, memindahkanya ke atas brangkar dan segera mendorongnya masuk kedalam kerumah sakit.


Adi menggenggam tangan sang istri, yang sedari tadi menangis.


(Ranti ke rumah sakit dengan mobil Ambulance, ia tak ingin meninggalkan sang putri sendirian bersama perawat, atau lebih tepatya ia tak ingin jauh dari sang putri, di saat saat seperti itu).


"Bu..tenang ya,...Ika pasti kuat...jadi jangan cemas.'' Ucapnya, sebelum melepas genggaman tangan, dari tangan sang istri dan segera masuk kedalam ruang tindakan darurat.


Satu menit, dua menit, satu jam, entah berapa lama lagi Ranti harus menunggu.


Menunggu putrinya sadar dan di pindahkan ke ruangan lain, atau menunggu Adi suaminya keluar, hanya sekedar mendapat keterangan tentang keadaan Rahartika.


Akan tetapi, yang tampak hanya beberapa perawat berjalan keluar masuk dari ruangan tersebut, dan dari mereka wanita itu tidak mendapat jawaban yang memuaskan, serta menenangkan hati.


Lagi-lagi air matanya meleleh, mengucur deras dari mata coklat beningnya.


"Tuhan jaga dan lindungi putriku, jangan sampai terjadi apapun kepadanya, aku mohon tuhan.'' Pintanya di sela-sela isak tangisan.


"Ranti ...'' Panggil seorang wanita, sembari memeluk tubuhnya.


Tubuh wanita paruh baya itu terlihat lemas, dan terduduk pada sebuah kursi, yang tak jauh dari ruang UGD, dimana tubuh sang putri di bawa masuk tadi.''

__ADS_1


Mendengar namanya di sebut, dan memperoleh pelukan, Ranti mengangakat wajahnya, disana tepat di depan wajahnya, tampak wajah cantik seorang wanita yang sangat ia kenal.


Dia adalah istri dari sahabat karib suaminya, (Riana istri dari Adi wijaya ) orang tua dari Rasya.


Dan benar saja, tampak dari jauh pemuda itu (Rasya) berjalan setengah berlari mendekat kearah mereka.


"Tante ...apa yang terjadi, mengapa Rahartika bisa terjatuh dari tangga?.'' Tanyanya dengan raut wajah cemas. (maklum ya, salah info )


"Dia tidak terjatuh dari tangga ...dia hanya pingsan." Jawab Ranti, menjelaskan kesalah pahaman tentang kondisi kejadian sang putri.


Mendengar penjelasan itu, baik Riana maupun Rasya merasa heran.


"Apakah Rahartika sakit tante, kok tiba tiba pingsan?.'' Tanya Rasya lagi, masih bingung, karena setahunya gadis itu tidak sakit.


Dan itu beralasan, karena semalam mereka masih, melakukan chit chat lama, dan dari percakapan keduanya, tidak tampak gadis itu sedang sakit.


Namun belum sempat pertanyaanya terjawab, pintu ruangan terbuka, 2 orang dokter keluar dari ruangan tersebut bersama beberapa perawat.


Melihat hal kehadiran kedua doktor, Ranti berdiri bergegas menyambut sang dokter, dan bertanya. ''Yah... Bagaimana ...heemm...bagaimana putriku?.'' Air mata kembali mengalir.


Yah adalah sebutan kekeluargaan untuk sang suami karena, kebiasaan yang terbawa ketika Ranti mengajari Rahartika memanggil Adi.


Adi memeluk sang istri erat, dan tak dapat berucap apapun, karena ia masih memilah-milih kata yang tepat, untuk disampaikan kepada sang istri.


"Aku menunggumu di ruanganku.'' Ucap dokter Arya.


Dokter Arya adalah teman Adi yang ikut menangani Rahartika tadi.


Pria tersebut menepuk punggung Adi pelan 2 kali, sebelum melangkah pergi dari sana.


"Bu ..tunggu di sini, nanti kujelaskan semuanya kepadamu." Ucap Adi tegas.


"Tapi ..Yah...'' Ucapan Ranti terputus.


Ranti diam mematung, dan kembali menangis.


Kekhawatiran semakin besar dihati Rianti, disela isak tangisnya ia bergumam lirih


"Tapi aku ibunya...hixs..''


Dan itu didengar oleh Riana serta Rasya, namun tidak dengan suaminya yang tengah tidak fokus kepadanya.


Reflek Riana memeluk tubuh Ranti, sebagai sesama wanita ( ibu ) ia memahami perasaan Ranti.


Namun sejak Riana menikah dengan Wijaya, otomatis dia juga mengenal sosok Adi sahabat suaminya itu.


Sedikit banyak Riana mengerti, mungkin ada alasan di balik sikap pria tersebut.


"Biar aku yang menemaninya Di, kau bisa pergi dengan tenang.'' Ucap Riana, berusaha memberikan rasa tenang kepada Adi.


"Terimakasih Naa, aku tinggal sebentar.'' Jawab Adi, sambil mengusap kepala sang istri lembut, sebelum melangkahkan kaki pergi dari sana.


Namun, baru beberapa langkah kaki pria itu berjalan, Rasya menyusulnya dengan cepat mengikuti pria tersebut.


Tampak kedua orang itu berbincang sebentar, sebelum akhirnya mereka melangkah pergi dari sana bersama.


...........................


Di dalam sebuah ruangan, tampak dokter Arya tengah duduk di balik meja kerjanya, melihat-lihat sebuah lembaran rekap medis.


Catatan itu adalah laporan kesehatan milik Rahartika,( Rontgen , Ct scan, serta catatan jurnal yang lainnya )

__ADS_1


"Kau lihatlah, bahkan tak ada kesalahan apapun, kita sudah melakukan pemeriksaan berulang kalibdan dari data ini jelas-jelas tidak ada masalah dengan kesehatan putrimu, tapi mengapa kondisinya semakin buruk?.'' Ucap dokter Arya kepada dokter Adi dengan mimik sedikit kebingungan.


Rasya yang berada di ruangan tersebut, juga mendengarkan dengan perasaan was-was.


''Apakah putrimu masih mengalami mimpi-mimpi itu?.'' Lanjut dokter Arya.


Dokter Arya adalah teman baik Dr. Adi, sebagaimana layaknya hubungan persahabatan Adi dengan Wijaya, sebaik itu pula hubungan antara Dr. Adi dan Dr. Arya.


Namun karena mereka bekerja pada bidang yang sama, serta Dr.Arya adalah orang yang menangani Rahartika, jadi Adi lebih sering bercerita tentang sang putri kepada Dr. Arya.


Adi berharap, dapat menemukan solusi untuk keadaan sang putri, dengan semua keterangan yang dia berikan.


"Heeehhh....'' Adi menghela nafas panjang.


''Justru, kondisi seperti ini biasanya terjadi, setelah mengalami mimpi itu.'' Wajah Adi pucat, dan tampak lebih tua dalam sekejap.


''Lihatlah... aku sebagai ayahnya yang juga sebagai tenaga medis, tidak dapat melakukan apapun." Jawab Adi, dengan nada berat sembari mengepalkan tanganya kuat.


Rasya mengerutkan kening, ketika mendengar kata-kata mimpi dalam pembicaraan kedua orang dokter itu.


Namun ia hanya diam dan menyimak baik-baik, pembicaraan tersebut.


Hngga mereka, (Adi dan Rasya )keluar dari ruangan dokter Arya, Rasya masih diam, ia menunggu kesempatan yang tepat.


Langkah Adi terhenti sejenak, saat melewati ruang perawatan.


Dimana di balik kaca tersebut, tubuh putrinya tengah terbaring lemah, dengan beberapa alat bantu terpasang yang melekat di tubuh ramping Rahartika.


Adi mengambil nafas panjang sesaat, sebelum melangkah masuk kedalam ruangan tersebut.


Sementara Rasya hanya bisa menunggu di luar. Ia juga sangat ingin melihat Rahartika.


Akan tetapi, ruangan perawatan belum mengizinkan orang untuk masuk, selain dari tenaga medis.


Rasya masih harus bersabar.


Adi menatap lembut wajah putri tercintanya.


Ada sesak di dalam dada pria tersebut, ada juga gelisah serta kecemasan tercermin dari sorot mata tuanya.


Perlahan tangannya bergerak ke atas kepala sang putri. Membelainya dengan penuh perasaan, seraya berucap lirih.


''Maafkan ayah sayang, aku tahu kau sangat menderita dan kelelahan saat ini, tapi bisakah kau bertahan untuk kami sekali lagi.''


Bagi Adi meminta hal tersebut, kepada sang putri adalah sesuatu yang sangat berat.


Namun sebagai seorang Ayah, orang tua sekaligus seorang suami, untuk mempertahankan keteguhan, serta membuang kegundahan hati, bukanlah suatu hal yang mudah.


Wajah yang biasanya tampak tenang, dan sesekali menampilkan senyum ramah tersebut, kini terlihat sayu serta menampilkan gurat-gurat kesedihan yang jelas.


"Bangunlah sayang, lihat ayahmu ini....apa yang harus ku katakan kepada ibumu, kau tahukan bagaimana sifat istriku itu.'' Lanjutnya dengan nada sendu, sebelum akhirnya ia menundukkan kepalanya.


Hati Adi hancur melihat tubuh sang putri yang demikian.


Entah untuk berapa lama ia ingin berada di sana, seolah ia enggan keluar menemui sang istri.


Adi tidak takut akan sang istri, tetapi ia belum menemukan suatu cara untuk menyampaikan perihal sang putri kepada Ranti.


Adi tak ingin membuat wanita yang di cintainya tersebut, akan bersedih, dengan ucapan yang akan ia sampaikan.


Sebuah penjelasan tentang kondisi dari Rahartika, putri mereka satu satunya.

__ADS_1


Sementara itu, di sebuah negri yang jauh di suatu dimensi yang berbeda, seorang wanita cantik tengah bersujud memberi hormat ke pada seorang pria paruh baya, yang berdiri membelakanginya.


"Terimalah salam hormatku guru.'' Ziaruo dengan tenang, serta penuh penghormatan, memberi salam kepada Baixio.


__ADS_2