Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 116 Kedatangan rombongan.


__ADS_3

Selang beberapa hari kumudian, di penginapan Nancang mulai tampak sibuk.


Seperti yang terjadwal, selama dua hari ke depan penginapan tidak menerima tamu dari luar.


Hal ini telah diberitahukan, melalui papan pengumuman yang terpasang pada pintu gerbang penginapan, sejak beberapa hari yang lalu.


Karena Nancang tengah melakukan persiapan, untuk menyambut kedatangan para rombongan dari kekaisaran Zing, yang diperkirakan akan tiba siang ini.


Kaisar Jiang jing wei dengan pakaian sederhananya, tengah duduk di ruang utama pavilliun.


Pria tersebut, di temani oleh sang Permaisuri, serta hampir semua pekerja yang telah menyelesaikan tugas mereka.


Karena dari kabar yang di terima, rombongan telah memasuki perbatasan kota pagi tadi. Jadi sesuai dengan perkiraan, maka siang ini mereka akan sampai di Nancang.


Kaisar Jing bukannya tanpa alasan melakukan hal itu, ia ingin menunjukan kepada para pengikutnya, bahwa dia adalah pemimpin yang kompeten, dan bukan seseorang hanya dengan bualan saja.


Dengan banyaknya ketidak masuk akalan. Sejujurnya bahkan ia sendiri, tidak yakin disaat itu, dengan segala yang di ucapkan oleh Ziaruo permaisurinya.


Justru yang ia pikirkan adalah, mengurungkan keberangkatan mereka ke negri Tang.


Namun, kejadian menakjubkan benar-benar terjadi, dalam satu kelebatan saja, sang Permaisuri mampu membawanya sampai ke Nancang.


Bahkan, bukan hanya dirinya saja, wanita cantik penghuni hatinya itu, juga menyertakan Wuhan sang pengawal.


Di balik rasa tidak percaya, serta keterkejutan Kaisar Jiang jing wei. Pria tersebut juga merasa bangga, karena telah melakukan perjalanan layaknya para dewa, dan dewi di khayangan. Setidaknya itu menurut apa yang ia pikirkan.


Dan di balik itu semuanya, Jing tak lagi harus membatalkan perjalanan.


Bahkan, dirinya sampai disana lebih dahulu dari rombongan jedral, Guru besar Mengshuo, serta para penjaga yang telah berangkat lebih dahulu.


Sang Kaisar juga sudah tidak sabar, ingin melihat wajah keterkejutan yang datang dari Guru Mengshuo, dan para cendekiawan yang dikatakan sebagai orang-orang jenius di kekaisaran.


Ia ingin tahu, bagaimana mereka akan menanggapi, atau menjelaskan kondisi, serta keberadaannya disana saat ini.


Membayangkan semua hal tersebut, membuat pria itu tersenyum beberapa kali. Dan Ziaruo mengetahui segala apa yang tengah ia pikirkan.


Wanita itu hanya menggeleng beberapa kali, sebelum berjalan mendekati Wangde dan Yongyu.


''Bagaimana keadaanNya sekarang?.'' Tanya Ziaruo merujuk tentang Murongxu, dengan suara pelan.


Wanita itu, tak ingin merubah mood sang suami, yang tengah berbahagia.


Mendengar pertanyaan tersebut, Wangde dengan suara yang juga lirih, menjawab. ''Sepertinya obat yang anda berikan, benar-benar manjur Nyonya.''


Ziaruo tersenyum kearah Wangde, dan kembali berkata. ''Bagus...''


Yongyu yang kebetulan juga disana, mendengar dengan jelas.


Ia hanya menatap lekat sang adik, sembari berucap. ''Ciih...kau terlalu baik, biar kulempar saja dia ke jalanan.''


''Kak, hentikan...'' Sahut Ziaruo reflek.


Wanita itu tahu, Yongyu hanya keras dalam perkataannya saja, dan ia yakin pria tersebut, tak akan melakukan apa yang baru saja diucapkannya.


Melihat wajah Ziaruo yang tampak masam, Yongyu dan Wangde terkekeh kecil sejenak.

__ADS_1


Hingga suara seorang pekerja, mengumumkan kedatangan para prajurit, serta cendekiawan dari Zing. ''Rombongan telah tiba...Rimbongan kekaisaran Zing telah tiba...''


Ziaruo kembali mendekati Jiang jing wei, keduanya berdiri berdampingan, untuk menyambut kedatangan Guru besar mengshuo, para cendekiawan, serta para penjaga kepercayaannya.


Dan disana, tepat didepan penginapan, serombongan pria berkuda dan beberapa kereta , mulai memasuki halaman Nancang.


Tampak jelas wajah-wajah penuh kelelahan, mendekat kearah mereka.


Jendral Song yesu sebagai pimpinan, berada di barisan paling depan, dengan kuda hitam kesayangan miliknya.


Belum juga turun dari kudanya, Tampak jelas keterkejutan dari wajah sang Jendral, saat mengetahui Kaisar Jing, telah berada disana bersama Permaisuri.


Dan hal itu, juga terjadi kepada semua orang yang baru tiba tersebut.


Di dalam benak mereka, menggumamkan banyak kebingungan, serta decak kagum untuk sang Tuan.


Terutama untuk Jendral Song, dan 3 pengawal kepercayaan sang Kaisar, yang mengetahui perihal tertundanya keberangakatan keduanya.


''Bagaimana anda sudah sampai disini Yang Mulia?, bagaimana?...Bagaimana itu mungkin?.'' Reflek ucap sang Jendral, ketika turun dari kudanya.


Pria dengan kedudukan Jendral tersebut, seolah melupakan etika, untuk memberi hormat, serta salam terlebih dahulu.


Akan tetapi, ia justru berdiri kokoh didepan sang Kaisar, dan menatapnya dengan tajam serta penuh ketidak percayaan.


Menyaksikan hal itu, Kaisar Jing menahan tawanya, ia ingin memberikan sebuah sambutan hangat untuk para pengawal, yang telah kelelahan sepanjang perjalanan.


Namun, Mengshuo yang mengetahui kejadian tersebut, berdehem dan berucap dengan nada sarkas. ''Eehheemmm lancang, kau bahkan tidak memberi salam, dan penghormatan untuk Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri.''


Sontak saja, mendengar ucapan tersebut, Jendral Song dan ketiga orang, yang berada tak jauh darinya, berlutut dengan cepat.


''Hormat hamba Yang Mulia kaisar, Yang Mulia Permaisuri. Semoga anda sekalian selalu sejahtera.'' Mengshuo maju memberi salam, dan tindakannya diikuti oleh semua pengawal yang lain serta para cendekiawan.


''Mengshuo juga keheranan sama seperti yang lain, akan tetapi dengan berbeda versi.


Versi Song yesu dan 3 penjaga bayangan.


Mereka kebingungan, karena sejak awal mengetahui ketika rombongan berangkat, Kaisar dan Permaisuri tidak ikut, dan bahkan masih berada di istana.


Dengan kata lain, mereka hanya mengawal kereta tak berpenumpang(kereta kosong).


Sedangkan jalur yang mereka lalui, adalah jalur satu satunya menuju Xili, sebelum berlanjut ke negri Tang.


Sehari setelah keberangkatan, mereka menerima kabar dari burung pos, bahwa ketiganya( Kaisar Jing, Permaisuri dan Wuhan) berangkat dari istana, dan meminta menunggu di penginapan Nancang.


Jadi sepengertian Ke empat orang tersebut, merekalah yang akan menunggu tuan mereka, bukannya sang Kaisar dan Permaisuri yang menunggu rombongan.


Sedangkan Versi Mengshuo.


Ia kebingungan, sejak kapan Kaisar dan Permaisuri Menyelinap keluar dari kereta, dan mendahului rombongan.


Akan tetapi Guru besar Meng, tetap berfikir bahwa mereka berangkat dengan ketiganya, dari kekaisaran secara bersama.


Kaisar Jing menatap Song dengan senyum penuh kemenangan. Ada kebanggaan atas pemujaan serta kebingungan di mata sang Jendral.


Jing mendekati pria tersebut dan berbisik lirih. ''Kau melakukannya dengan baik.''

__ADS_1


Kaisar tersebut, menepuk pundak sang Jendral sejenak, sebelum berkata dengan suara yang agak keras. ''Jangan bingung, aku hanya kelelahan berada di dalam kereta, jadi ketika di perbatasan hutan, kami memutuskan menyelinap dan berangkat lebih dulu.''


''Dan...selamat datang di Nancang, kalian boleh beristirahat, makan dan minum sepuasnya, besok kita akan melanjutkan perjalanan.'' Lanjut sang Kaisar kembali.


Meninggalkan kesibukan di penginapan Nancang dengan segala, hiruk pikuk keramaian yang meriah. Beralih kesebuah kota yang masih di bawah naungan kekaisaran Zing.


Selir Feng yang telah kembali ke kampung halamannya, tengah menyusun sebuah rencana.


Ia ingin membebaskan Kaisar Jing dari pengaruh makluk jilmaan siluman.


Selir Feng yang baru saja berani keluar dari kamarnya, berencana mengunjungi seorang guru suci, yang terkenal telah banyak menangkap roh jahat.


Dengan ditemani sang ibunda, selir dengan nama lengkap Fengjiu tersebut, menuju sebuah kuil dengan kereta kuda.


Meskipun ia bukan lagi seorang selir kekaisaran, namun bagi orang lain(rakyat), dirinya masih wanita kesayangan sang kaisar, terlebih lagi ia telah berbohong bahwa kepulangannya kali ini, karena ia tengah merindukan sang ibu.


Bukan, akibat sebuah kesalahan dan dipulangkan secara tidak hormat.


Setelah sampai di kediaman keluarganya, Fengjiu menceritakan segala apa yang dialaminya kepada sang ibu.


Tentu saja dengan versi dan pemahamannya.


Wanita itu menitik fokuskan, bahwa Kaisar Jing sekarang, tengah dalam pengaruh guna guna(sihir) dari Permaisuri.


Bahkan ia telah mengirimkan surat permohonan bantuan, kepada beberapa pejabat, yang pernah ia bantu sebelumnya.


Ia juga mengirimkan surat surat yang lain, kepada para pejabat yang dulu pernah menentang, pernikahan antara Kaisar Jing dan Ziaruo.


Fengjiu meyakini bahwa Ziaruo benar-benar seorang siluman, yang ingin mengambil hawa kehidupan sang Kaisar tercitanya.


Berkarat untuk bahuku, namun menyayat tajam di nadimu.


Seperti itulah candaan yang dilakukan Ziaruo, kepada selir Feng, ia hanya menggertaknya dan menakut nakuti saja.


Akan tetapi sang selir mengganggap segalanya adalah sebuah kebenaran.


Kepura puranya sebagai jilmaan, membuat sang selir menganggap dirinya sebagai siluman yang akan mengambil hawa kehidupan Kaisar Jing.


Bahkan kini telah berkembang menjadi sesosok Iblis, yang akan mengancam keselamatan seluruh penduduk kekaisaran.


Disela ramainya rumor yang beredar, sekelompok orang tengah berkumpul dan berbincang penuh keseriusan.


''Bagaimana, apakah surat yang kita kirimkan sudah diterima?, dan apakah Kaisar Tang menyetujuinya?.'' Tanya pria 1.


''Sepertinya, Kaisar Tang memiliki rencananya sendiri.'' Jawab Pria 2.


''Lalu..?.'' Ucap Pria 1 lagi.


''Kita akan bergerak setelah, orang kita yang di istana memberi kabar.'' Jawab Pria 2.


''Sepertinya kemujuran tengah berada di pihak kita, apa kau mendengar desas desus yang beredar?.'' Lanjut Pria ke-2 lagi.


Mendengar ucapan tersebut, pria dengan jubah panjang serta penutup wajah yang duduk disana menyahuti. ''Jangan terpengaruh dengan rumor konyol itu, atau kita akan kesulitan nantinya.''


''Kita tidak boleh gagal kali ini, atau kita semua akan mati.'' Lanjut pria dengan wajah tertutup tersebut.

__ADS_1


''Semuanya memiliki waktu dan tempatnya masing masing, Oleh karena hal itu akan kupastikan, Kaisar Jing akan berakhir secepatnya. Sebab waktu yang ia miliki telah hampir habis.'' Gumam dalam hati pria tersebut.


__ADS_2