Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 19 Guratan rasa


__ADS_3

''Mentari pagi menyapa hangat, melalui celah dedaunan hutan.


Seorang wanita muda menyembulkan kepalanya dari balik jendela, dengan raut wajah kecewa, ia mengingat kembali ucapan Murongyu semalam.


*Flash back on*


"Sungguh memalukan, mengapa dia harus bisa melihat, dan mengetahui isi pikiranku.


Bahkan aku tadi, sempat berpikir yang tidak pantas kepadanya ..aahhkk...''


''Kenapa harus memalukan seperti ini, seumur hidup aku Muronyu, tidak pernah semalu ini.''


*Flash back off*


Ziaruo mengetahui pikiran pikiran unik, dan horror pemuda tersebut semalam.


Ia menghela nafas sejenak, dan bergumam lirih. ''Mungkin menutup wajah ini, akan mengurangi perhatian orang lain.''


Wanita itu menghela nafas kembali, menutup mata sejenak, serta menajamkan telinga.


Dari atas pepohonan di sekitar pondok, Kicau burung yang bersaut-sautan, sungguh memanjakan pendengaran.


Riak air sungai, di belakang pondok yang bertemu bebatuan, menambah alunan ritme nada-nada keajaiban sang pencipta.


''Aku adalah salah satu ciptaanNya, dengan setitik keistimewaan, serta hanya dengan izin sang pencipta hadir di dunia.


Namun, jika keistimewaan yang kumiliki, menyebabkan suatu keburukan(pikiran kotor) untuk orang lain, apalah makna dari keistimewaan tersebut, selain dari sebuah ujian, heeeeehhhh.'' Ucap Ziaruo lirih.


Ia kembali menghela nafas panjang, menengadahkan wajah ke arah langit, serta merasakan terpaan angin, yang berpadu dengan hangatnya mentari pagi.


Wajah cantik miliknya, tampak rupawan dan indah.


Akan tetapi, semuanya hanya gambaran luar dirinya.


Seolah berbanding balik dengan isi hati, serta pikirannya sendiri. Wanita tersebut, tengah memiliki luka kehilangan, dan beban berat yang tak tergambarkan.


''Guru doakan aku, semoga usahaku menuai keberhasilan. Seperti bulan di malam hari, yang memberikan cahaya, atas pekatnya malam.


Dan.. bukan serupa lilin disiang hari, yang melebur tanpa arti.''


Lanjutnya masih dengan nada lirih.


Ziaruo merindukan sang guru.


..........................................


Sementara itu, di kerajaan Zing.


Tampak seorang permaisuri, dengan beberapa pelayan melangkah penuh Wibawa, melewati taman kekaisaran.


Menuju sebuah ruang, yang berhiaskan ornamen-ornamen cantik, pada sisi kiri dan kanan.


Ada banyak ukiran dengan warna keemasan, yang melambangkan kemewahan serta kemegahan, dari bangunan utama kerajaan tersebut.


"Janda permaisuri Lexue memasuki ruangan.'' Suara seorang kasim, mengumumkan kedatangan sang wanita.


Semua orang, yang di sana berdiri dari duduk, dan membari memberi hormat.


Namun, seorang pria muda mengenakan jubah kebesaran, berpola naga dengan dua cakar yang di sulam, menggunakan benang sutra warna emas.


Pemuda itu berjalan mendekati sang wanita, sembari berucap. ''Hormat hamba ibunda permaisuri.''


"Bangunlah putraku.'' Jawaban lembut penuh dengan ketenangan, keluar dari bibir wanita itu, seraya mengulurkan tangan ke arah sang putra.


Dan hal tersebut, di sambut hangat oleh sang pemuda, sebelum menuntunnya menuju singgasana, tepat di samping kursi kebesaran sang Kaisar.


Wanita yang tak lain adalah, janda permaisuri, ibunda kaisar Jiang jing wei, atau yang biasa disebut sebagai kaisar Jing, menempati kursi istimewa tersebut dengan penuh kebanggaan.


Yang pada kenyataannya, kedudukan itu adalah milik dari permaisuri sang kaisar.

__ADS_1


Namun, karena kaisar negri Zing belum memiliki pernikahan secara resmi ( sesuai adat kekaisaran ).


Maka, posisi itu masih di pegang oleh sang ibu. Yaitu janda permaisuri kaisar terdahulu, yang telah mangkat(meninggal) sejak usia kaisar masih 9 tahun.


Dan hingga sekarang ia menginjak usia ke-21tahun, posisi permaisuri masih belum bertuan sebagaimana mestinya.


Sebenarnya kaisar Zing memiliki puluhan selir. Akan tetapi, ia tak bisa menjadikan mereka seorang permaisuri.


Poin pentingnya adalah, dari ratusan selir di istana dalam, belum ada yang mampu memberikan keturunan.


Bahkan, sudah tersebar berita kasak-kusuk, bagi siapapun(Selir) yang melahirkan seorang pangeran, maka dialah yang akan menempati posisi sebagai wanita no.1 dikerajaan Zing yang tersohor.


Sementara putranya, akan langsung dinobatkan sebagai putra mahkota, penerus kekuasaan di kemudian hari nanti.


Hal ini bukanlah sesuatu yang tanpa sebab, sesunggnya kaisar Jing wei-lah yang tidak dapat memiliki keturunan.


Bukan, karena dirinya Mandul, ataupun tidak dapat melakukan hubungan suami istri.


Namun, karena sebuah racun yang diberikan oleh seseorang melalui makanan secara perlahan, dan dalam jumlah yang tak terdektesi(kecil).


Dengan tujuan, agar tak ada keturunan yang terlahir dari darah kaisar muda itu.


Back to story...


Janda permaisuri, nampak anggun diatas singga sananya, hal ini selalu berlansung dengan teratur.


Sebagai seorang janda permaisuri, Lexuelah sesungguhnya pemegang tampuk kekaisaran.


Akan tetapi, tentu saja dengan mengatas namakan sang kaisar Jiang jingwei.


Bagi kaisarpun, hal itu adalah sebuah hal yang lumrah.


Dengan perjuangan, dan dedikasi sang ibunda, ia masih dapat mempertahankan kursinya hingga sekarang.


Banyak perjuangan janda kaisar saat menemani kaisar kecil, dari pergolakan perebutan tahta, serta dari kelurga terdekat kaisar kecil Jingwei.


........................


KaisarJing, mengantar kepergian sang ibu dari ruangan tersebut, hingga ke pintu depan.


''Semoga hari anda menyenangkan ibunda.'' Ucapnya dengan hormat.


Kaisar Jing membungkukkan badan, ketika mengatakan gal itu.


Dan, ia hanya memperoleh anggukan dari Janda permaisuri.


Setelah tubuh sang ibu berjalan menjauh. Kaisar Jing berjalan menuju ruang kerjanya, yang berada di samping gedung pertemuan.


''Wuhan...'' Panggilnya, kepada seorang penjaga bayangan kepercayaan.


''Hamba yang mulia.'' Jawab sang empunya nama, secepat kelebatan bayangan.


Wuhan menunduk, dengan satu kaki di tekuk, dan satu kaki lagi menempel pada lantai ruangan.


"Bagaimana dengan penyelidikanmu?.'' Tanya kaisar Jing, dengan mendudukan tubuh pada sebuah kursi, yang berada dibalik meja.


Sebuah meja dengan tumpukan gulungan laporan, yang akan menyita banyak waktu, pikiran, serta tenanganya, untuk beberapa saat kedepan.


''Sesuai dengan dugaan anda yang mulia.


Namun, untuk siapa ia bekerja masih belum diketahui.


Ampuni ketidak mampuan hamba yang mulia.''


Wuhan menjelaskan, akan sesuatu yang ia selidiki, atas perintah pribadi sang kaisar.


"Aku sudah bisa menebaknya, hentikan penyelidikan.


Bersiaplah untuk ikut kenegri Xili, kita akan berangkat nanti malam.'' Lanjut Kaisar Jing tenang, sambil mengecek laporan, di atas meja kerjanya kembali.

__ADS_1


''Baik yang mulia, hamba undur diri.'' Jawab Wuhan lagi, sebelum menghilang dibalik pintu ruangan.


Sementara itu, setelah beberapa hari. Dihutan barat kekaisaran Xili ....


Seorang pria tengah duduk ditangga pondok, dengan mata terus menatap kearah luar pintu pagar bangunan, dia tampak gelisah.


Setelah beberapa saat kemudian, dilihatnya seorang wanita dengan cadar terpasang, hingga menutup pangkal hidung atas, (cadar tersebut menutup separuh wajah cantiknya ) berjalan mendekat, bersama seorang pria tampan dengan tubuh tegap.


Pria tersebut, yang tak lain adalah pemb*nuh bertopeng buruk semalam.


''Apakah anda menunggu saya tuan?.'' Tanya Ziaruo dengan nada tenang dan datar.


"Benar nona, saya ingin berpamitan, terimakasih untuk pengobatan anda, dan sudah di izinkan untuk tinggal beberapa hari disini.'' Jawab Murongyu.


Tampak jelas, ada sesuatu yang tengah dipikirkan oleh pria itu.


Dengan agak ragu ia kembali berkata. ''Maaf nona, tapi saya harus segera pergi, karena ada urusan yang harus saya hadiri.''


Sebenarnya jika boleh memilih, ia ingin tinggal di sana lebih lama, atau lebih tepatnya ia ingin berada di mana gadis itu tinggal.


"Untuk bantuan anda, saya akan membalasnya. Setelah kembali kekota, saya akan mengunjungi anda lagi nanti.'' Lanjutnya lagi, berusaha memberikan penjelasan.


Mendengar ucapan itu, Ziaruo tersenyum sesaat dan menjawab. ''Anda tidak perlu pikirkan hal tersebut, saya senang dapat membantu anda, dengan kemampuan yang rendah ini.''


"Tidak nona, anda adalah penyelamat saya, dan maaf atas kesalah fahaman sebelumnya, semoga nona tidak menyimpannya dalam hati.'' Sahut Murongyu, dengan maksud meminta maaf, atas sebutan untuk Ziaruo, beberapa malam yang lalu.


Dan Ziaruo mengetahui arah pembicaraan, pangeran ke-2 Murongyu.


Dengan suara tenang, wanita itu kembali berucap. "Jangan khawatir, hingga saat ini saya masih belum, menjadi seseorang yang mudah, menyimpan dendam.''


Ada sebuah senyum tercetak dibalik cadar wanita itu. Dan masih dapat ditebak oleh Murongyu.


Karena, sekilas terdapat perubahan di kedua ujung mata gadis tersebut.


Seberat apapun, ia melangkah dari sana. Pada akhirnya, hari itu pangeran kedua dari kekaisaran Xili tersebut, meninggalkan pondok sederhana, yang telah ia tempati beberapa hari yang lalu.


Entah karena apa perasaan Murongyu terasa berat, dan enggan meninggalkan gubuk sederhana. di tengah hutan milik sang penyelamat.


Dengan kuda pemberian Ziaruo, pangeran Murongyu mungkin akan sampai di istana, kurang lebih 3 hari dengan perjalanan rute siang saja.(malam istirahat)


Dengan perasaan yang berat, Murongyu menghentakan tali kekang kudanya, dan membawa tubuh gagah itu, berlalu dari pondok Ziaruo di tengah hutan.


Ia datang kepondok dengan luka, serta racun pada tubuhnya.


Dan pergi dari sana, membawa sejuta rasa didalam hati, dengan beban berat yang masih belum ia yakini.


Hatinya Jelas, pikirannya telah pasti.


Namun, satu hal ia tak dapat ia pastikan adalah, hati dan pikiran dari sosok yang kini telah mengganggu pikiran, serta bersemayam dihatinya.


Hatiku....


Tergambar putih purnama malam, dengan mega jingga menyelimuti.


Rasaku ......


Memangku angan, atas bayang bayang, titik kalbu yang membiru.


Anganku ....


Lembut bak sinar mentari senja


menyelimuti hari, merengkuh mimpi....


Akankah....


Rasa dalam anganku,


berpadu bersama mega jingga di langit biru....esok nanti.

__ADS_1


*Murongyu*


__ADS_2