Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 169


__ADS_3

Disebuah tempat asing, yang dapat dikatakan jauh dari jangkauan orang-orang di belahan dunia manapun.


Sepasang tubuh bergerak dengan cepat.


Bahkan keduanya, berpindah dengan hanya dalam kedipan mata saja.


Mereka terus bergerak, hingga sampai pada tempat dimana, sebuah gerbang dengan kokoh berdiri, dengan ujung ketinggian yang tak dapat dilihat, dari tempat mereka berdiri sekarang.


Sebuah perkampungan yang tampak seperti kota kecil, dengan gerbang aneh, tak terawat kini berada tepat di depan keduanya.


Tubuh mereka merasakan sebuah keasingan yang menyeruak.


Bahkan seolah ada sebuah tenaga kuat, berusaha menghisap habis elemen, serta kekuatan kehidupan keduanya.


''Ruoer, jika kau telah memutuskan datang kesana, kau harus menghilangkan hawa dari kedewian yang kau miliki.'' Ucap sang pria, yang tak lain adalah Baixio.


Ia datang kesana bersama Ziaruo, untuk mempercepat perjalanan sang murid.


Baixio berharap selama didalam perjalanan mereka kesana, wanita itu akan berubah pikiran.


Namun, ia menyadari bagaimana mungkin, wanita keras kepala disampingnya itu, akan mengurungkan niat, dan bersedia kehilangan sang putra yang telah lama ia inginkan.


Pada kenyataan, apa yang ia harapkan tak akan pernah terjadi.


Karena, Ziaruo telah memutuskan untuk datang ke Yincang, tanpa ragu.


''Jika kau masih memiliki elemen atau pancaran energi kultivasi di tubuhmu, bahkan sebelum sampai disana, mungkin tubuh dan jiwa mu akan menghilang.'' Lanjut Baixio lagi.


Pria dengan wajah tampan serta tegas itu, mengatakan semua kebenaran, tentang tempat yang akan didatangi sang murid dengan detil.


Ia berharap jikapun dirinya tak berada disamping wanita tersebut, ia berharap dengan setiap ucapan yang ia katakan, Ziaruo akan kembali dengan selamat.


Dan hanya mendengar ucapan serta raut wajah Baixio, Ziaruo memahami kecemasan sang Guru.


Dengan suara yang ia tekan setenang mungkin, Ziaruo menjawab. ''Murid mengerti, Guru jangan cemas.''


Sesungguhnya, Ziaruo juga merasakan ketakutan, serta kecemasan.


Baginya banyak hal yang membuatnya ragu, akan keberhasilan usahanya kali kini.


Wanita itu juga merasakan takut, tak dapat kembali dengan selamat setelah masuk kesana.


Mengingat, ia akan berjalan ditempat yang asing, dengan banyaknya bahaya, serta tanpa perlindungan kekuatan yang selama ini ia miliki.


Akan tetapi, ketakutan terbesarnya adalah tentang keselamatan sang bayi, yang baru berusia beberapa minggu di dalam rahimnya saat ini.


Ziaruo menghela nafas panjang, Ia berbalik, dan menatap sang guru dengan tegas, sembari berkata. ''Guru...Murid siap, mohon bantuannya.''


Mendengar hal itu, Baixio terpejam sejenak.

__ADS_1


Entah apa yang ada didalam hati, serta pikirannya, Ziaruo tak dapat melihat itu.


Dan setelah pria tersebut membuka mata, dengan perlahan Baixio menggerakan tangannya, menyentuh kening Ziaruo seraya berucap. ''Selalu hanya dapat berusaha, dan tetap tak dapat menghindari takdir.''


Sebuah ucapan dengan nada berat, mengalun dengan lirih dari bibir Sang Guru.


''Berhati-hatilah, bawa ini bersamamu, dan jika kau telah selesai cepat kembali sebelum benda itu menghilang.'' Lanjut Baixio, sembari mengeluarkan tiga manik dengan warna keunguan.


''Manik waktu ini, akan menjaga hawa ditubuhmu tetap aman, hanya sampai jika benda itu masih terlihat.'' Sambung pria itu lagi, sembari melingkarkan manik yang telah ia ubah dengan magicnya, menjadi sebuah gelang ditangan Ziaruo.


''Terimakasih Guru, Murid akan mengingatnya.'' Jawab Ziaruo patuh.


Melihat sorot mata Baixio yang tepat menatap kearah manik matanya, Ziaruo merasakan sebuah kehangatan, sekaligus kecemasan pada sang Guru.


Entah mengapa, perasaan itu tiba-tiba saja membuatnya mengulurkan kedua tangan miliknya, dan dengan cepat Ziaruo memeluk tubuh sang Guru, seraya berucap pelan. ''Aku menyayangimu Guru, jangan cemas.''


Mendapat perlakuan yang demikian, Baixio tertegun dan mematung sejenak.


Ia tidak menyangka bahwa sang Murid akan mengambil tindakan yang demikian.


''Kau ..kau ini, semakin lancang.'' Ucap Baixio ketus, sembari menggerakan tangannya membalas pelukan wanita itu.


''Aku akan datang kembali, ketika gelang itu kau lepaskan nanti.'' Tambah Baixio lagi.


''Terimakasih Guru.'' Ziaruo.


''Cepat pergilah ....atau aku akan membawa kembali, dan mengubah keputusan.'' Ucap Baixio lagi, sembari melepas pelukan Ziaruo.


Baixio menuntun wanita itu, berjalan menuju gerbang dengan tumbuhan liar, merambat subur diantara pilar pilarnya.


Dan ketika tangan Baixio terlepas, tubuh Ziaruo tak lagi terlihat dari pandangannya.


''Aku tak menyangka akan datang ketempat ini lagi.'' Gumam pria itu lirih.


''Bagaimana dengan anda Yang Mulia?, apakah Anda juga pernah datang ketempat ini?.'' Sambung Baixio lagi.


Seolah disana ada seseorang selain dirinya. Dan ia memanggil pria tersebut dengan sebutan Yang mulia.


Tak berselang waktu lama, dari balik sebuah kabut muncul sesosok pria yang sangat Baixio kenal.


''Ternyata Guru besar, masih saja hebat seperti yang terdengar.'' Sahut pria yang tak lain adalah Murongxu.


Pria penguasa kekaisaran Awan. Namun, dengan tubuh manusia awam milik kaisar Murongxu, kaisar Xili yang telah lengser.


Melihat pria itu disana, wajah Baixio kembali datar. Tak ada kebencian, ataupun kesenangan atas pertemuan mereka.


Wajah itu, seakan tak memiliki expresi sama sekali. Hanya menyapa dan berkata saja.


Sementara itu, Murongxu yang telah mengetahui, dan memperoleh kembali ingatan tentang kehidupan dimasa lalu, serta tentang permasalahan diantara mereka, tak dapat lagi menutupi ketidak sukaan diantara keduanya.

__ADS_1


''Guru besar sangat pandai bersembunyi, namun jika Ruoer mengetahuinya, apakah dia tetap akan menghormati anda seperti sekarang?.'' Ucap Murongxu lagi.


''Mengetahui dan melupakan segalanya, apakah akan berbeda?.'' Baixio.


''Jikapun itu terjadi, maka terjadilah.'' Sambung Baixio singkat, sebelum melesat pergi dari sana.


''Siapa yang masih sama, dan siapa yang telah berubah tidak ada yang akan benar-benar menyadari.'' Lanjut dalam diam Baixio.


Sementara itu, didalam sebuah hutan kecil.


Seorang wanita berjalan menuju kearah perkampungan yang terlihat tak jauh berada di depannya.


Ia hanya berjalan lurus, dan tak mengindahkan mata-mata tajam menatap kearah tubuh miliknya.


Ia juga mendengar ucapan dari beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengannya.


''Aroma tubuhnya berbeda suamiku, tapi hanya sekilas tadi.'' Ucap wanita dengan paras cantik, namun dengan gaun yang bersinar keunguan.


''Kau benar...Aku juga sempat merasakannya, tapi lihatlah..dia hanya manusia, bahkan kini dia tengah hamil.'' Jawab sang pria, yang di panggil dengan sebutan suami oleh sang wanita.


Pria dengan pakaian apa seorang pejuang, namun dengan kepala beradik emas itu, menatap lekat kearah Ziaruo.


''Tapi...jika dia manusia, mengapa ia tidak takut, atau terkejut dengan kita suamiku?.'' Tanya sang istri lagi.


''Sudahlah...ayo kita ke balai pertemuan, semua telah berkumpul. Abaikan dia.'' Sahut sang suami.


Dan setelah mengatakan segalanya, keduanya berlalu.


Banyak penghuni perkampungan yang lain juga menatap aneh dan penasaran ke arah Ziaruo.


Sementara itu, setelah mendengar perkataan sepasang suami istri tadi, ia memutuskan untuk memasang wajah takut, ataupun terkejut ketika melihat kerana orang lain disana.


Bagi Ziaruo yang pernah tinggal di kekaisaran Awan, bentuk dan wujud apapun hampir semuanya pernah ia lihat.


Ia melupakan, bahwa dirinya datang kesana sebagai manusia yang hanya memiliki keteguhan serta keinginan, dan tanpa kekuatan serta ke-immortalan yang ia miliki sebumnya.


Jadi dia harus terkejut, serta merasakan takut, atas setiap keanehan dan bentuk- bentuk menakutkan dari penghuni perkampungan disana.


Ia melakukan segalanya dengan baik, bahkan Ziaruo juga sempat beberapa kali mundur untuk menghindari tatapan serta endusan dari para penduduk Yincang, yang sempat mencium aroma aneh dari tubuhnya.


Hingga akhirnya, ia sampai di sebuah bangunan dengan penyanggah dari 2 tubuh manusia raksasa, pada sisi kiri dan kanan.


Dua tubuh besar tersebut, menopang sisi-sisi bangunan pada salah satu pundak keduanya.


Dan pada bagian belakang bangunan, menempel lekat kedinding tebing pegunungan.


''Akhirnya aku sampai.'' Gumam lirih wanita itu.


''Anda benar.....Sudah sampai disini pada akhirnya...'' Sahut sebuah suara, dari dalam ruangan.

__ADS_1


__ADS_2