
Bahkan penyeragapan yang tiba-tiba, dan tidak terprediksi dari kekaisaran Xili, membuat jendral Gu semakin mengeratkan, urat geramnya kuat-kuat.
Oleh karena hal itu, jendral Gu memutuskan untuk menutupi, keberadaan sisa para prajurit elit merah, dari kekaisaran Tang.
Bahkan, ia juga meminta para anggota elit yang tersisa untuk merekrut anggota baru, yang dianggap berkemampuan.
Jendral tua Gu, juga mengizinkan orang-orang terpercayanya, untuk bergabung serta bergantian (Jendral Gu, pasukan kamp militer yang bergabung, serta para senior pasukan merah yang tersisa) melatih mereka, para pasukan elit yang baru.
Dengan beladiri, dan ilmu perang yang telah ia terapkan puluhan tahun di medan pertempuran, dalam kurun waktu tak kurang dari satu tahun saja, pasukan elit merah telah menjadi pasukan terlatih yang hampir mendekati sempurna.
Naluri seorang pejuang jendral tua Gu mengatakan, bahwa dalam penyergapan di hutan barat, bukanlah hal yang biasa.
Karena mustahil dengan kemampuan pengamatan, yang dimiliki oleh kelompok elit merah dibawah komando sang putra, jika tidak mengetahui, ataupun mencium gelagat apapun sebelum bencana itu terjadi.
Oleh karenanya, prioritas utama para anggota elit merah disaat itu, adalah menemukan bukti, serta mencari para penghianat, dari kejadian mengenaskan di perkampungan merah.
Jendral tua Gu berpendapat, bahwa bukan hanya ada pengkhianat didalam tubuh pasukan merah. Namun, juga ada campur tangan dari para pembesar di kekaisaran.
Oleh karena hal tetsebut, Jendral tua Gu menyarankan semua anggota elit merah, untuk tetap bertahan di hutan barat, dan tidak melaporkan posisi keberadaan mereka sementara waktu.
Dan sebagai penyamaran, sebanyak mungkin mereka diharuskan membaur dengan alam, serta berperan sebagai penduduk di sekitar hutan, atau pembuka lahan perdikan baru, di hutan Barat.
Mereka menetap dan mendirikan bangunan-bangunan kecil, di sela-sela pepohonan besar hutan.
Sedangkan untuk pemasukan, dan anggaran kegiatan. Mereka memperoleh dana dari kekayaan jendral Gu pribadi, dan juga dari bercocok tanam, dengan idntitas penduduk jelata di tepi sepanjang kiri, dan kanan sungai, sebagai pencari ikan, serta penjual kayu bakar.
Dalam hirarki organisasi mereka, Jendral Gu tua berada pada posisi paling puncak.
Selain sebagai orang tua dari tuan lamanya(Gutingye), Jendral Gu tua juga merupakan sosok heroik di hati, serta pandangan semua pasukan elit merah maupun, pasukan kamp militer kekaisaran Jing.
Oleh karena hal itu, hanya kepada jendral tua Gu, serta para anggota yang di seniorkan saja, pasukan elit merah akan patuh.
........................................
Kaisar Jing turun dari kudanya, dan berjalan mendekati seorang pria yang sedang memotong cabang pohon kering, tak jauh dari rombongannya berhenti.
''Yang Mulia, biarkan hamba yang melakukannya.'' Ucap salah satu penjaga pria, dengan maksud menahan sang Kaisar.
Namun, dengan gerakan tangan pelan Kaisar Jing menghentikan ucapan sang penjaga.
Pria tersebut, berjalan semakin dekat dengan sang penebang kayu.
''Bisakah saya bertemu dengan Luohusi?.'' Ucap Jing dengan nada tenang.
Ia mencari pria yang disebutkan oleh sang jendral tua Gu, sebagai orang kedua, atau pemimpin kedua, yang akan menangani semua urusan di dalam pasukan elit merah, setelah dirinya (Jendral Gu tua).
Dimana pria dengan nama Luohusi, selain pria itu sebagai senior di pasukan elit merah, ia juga merupakan putra dari salah satu wakil pelindung, (Luo jinting) pasukan elit merah terdahulu.
__ADS_1
Mendengar ucapan tersebut, sang penebang kayu berhenti sejenak, dan menoleh kearah Jiang jing wei.
''Tidak ada nama itu di sekitar sini, pergilah.'' Jawab Pria pencari kayu, dengan tanggapan datar.
Pria itu, hanya melihat sekilas kearah Jing, dan kembali mengayunkan goloknya, untuk melanjutkan memotong dahan kering.
Jing tersenyum sejenak, ia melihat dengan baik, keterampilan sang penebang kayu, ketika mengayunkan golok ditangannya. Dan jing yakin, dirinya telah menemukan apa yang tengah ia cari.
''Baiklah...Bisakah anda menunjukan kami, jalan menuju perkampungan merah?.'' Tanya Jing lagi.
Lagi-lagi sang penebang kayu menghentikan gerakan tangan kekarnya. Dengan suara yang agak ditahan ia mendengus.
''Heeeuuh...''
Pria itu meletakan goloknya dengan kasar ke tanah.
Menajamkan tatapan, serta wajah yang kurang bersahabat. Ia berbalik dan berkata dengan nada sedikit kasar.
''Apakah anda akan membayar semua kayu-kayu ini, jika aku gagal mengatarkannya tepat waktu?.''
Pria penebang kayu merasa terganggu, dengan kehadiran Jing disana.
Terlebih lagi, dengan pertanyaan-pertanyaan yang sungguh tidak penting baginya tersebut.
''Aku akan membayarnya, bahkan akan memastikan keluargamu menerima kebaikan dari kayu-kayu ini.'' Jawab Jing Yakin.
Mendengar jawaban itu, pria penebang kayu tertawa keras. ''Hahaha....hahaha....hahaha..''
Sesungguhnya, sejak awal percakapan keduanya, Jing dan beberapa orang orang di rombongan telah menyedari, bahwa banyak pasang mata tengah mengawasi dari kejauhan.
Dan ketika mereka semua muncul, tak ada sedikitpun keterkejutan dari wajah Jing yang terlihat.
Di sana tak lagi hanya ada Jing, penebang kayu, serta rombongannya.
Namun juga ada puluhan, ratusan, bahkan hal itu terus bertambah.
Mungkin, jika mereka semua telah berada disana, akan ada ribuan orang berkumpul, seperti yang telah dituturkan oleh jendral tua Gu.
''Apakah jendral Gu yang mengirim kalian datang?.'' Tanya balik pria penebang kayu.
''Benar dan ...''
Jiang jing wei berjalan lebih mendekat kearah sang pria, dari balik lengan baju, ia mengeluarkan sebuah plakat dengan bentuk harimau terbuat dari perak, pada mata harimau putih itu, menampilkan butiran permata merah yang seolah menyala.
Melihat plakat tersebut, sang penebang kayu tersenyum sarkas, seraya berkata. ''Apa hubungan kami dengan plakat itu?, Sejak semuanya telah terbuang, kami tidak lagi melihat plakat, dan hanya bergerak dengan kesetiaan pada tuan yang kami akui.''
''Dan tuan yang kau akui, menyertakan plakat ini untuk kekaisaran kami.'' Sahut Jing tegas.
__ADS_1
''Hahaha...Jika tuan kami, tidak lagi menginginkan, maka kami dapat membangun jati diri sendiri.'' Lanjut sang penebang kayu.
Ia merasa tersinggung dengan pengalihan kepemilikan plakat, dari satu orang ke orang yang lainnya, baginya jendral tua Gu seakan telah membuang mereka.
Atau dengan bahasa lain, jendral Gu tak lagi memiliki kewenangan untuk mereka, atau dapat diartikan telah melepas keberadaan pasukan merah.
''Ia benar, kami bisa menjadi pasukan untuk diri kami sendiri.'' Sahut seorang pria dari balik pepohonan.
Dan beberapa suara lainnya lagi membenarkan/ menyetujui gagasan tersebut.
Mendengar hal itu, Jing terdiam sejenak. Ia menelisik hampir kesemua arah.
Jika Jing tak salah presepsi, disana terlihat tak kurang dari ribuan para pria yang telah terkumpul.
Baginya, ia memang tidak kekurangan prajurit, namun dengan tambahan tenaga itu disana, pasukannya akan lebih memiliki kesempatan besar untuk menang.
Jing menatap pria pertama yang ia temui tadi. Dengan suara yang di buat setenang mungkin ia kembali berkata. ''Sesungguhnya, plakat ini tidak diberikan untukku, namun diberikan kepada permaisuri.''
Mendengar hal tersebut, sang penebang kayu terdiam sejenak.
Ia tahu betul siapa permaisuri yang dimaksud oleh pria di depannya.
''Apa bedanya bagi kami?, toh dia sekarang telah menjadi permaisuri dari negri Zing.'' Jawab sang pria penebang, dengan suara yang di tekan sedemikian rupa.
Jing menangkap keganjilan suara itu, serta bahasa tubuh yang berubah dari sang pria. Ia menyadari bahwa terdapat pemikiran lain dari pria di depannya itu.
''Baiklah, karena kalian telah memutuskan untuk menjadi identitas sendiri, tak ada yang bisa kulakukan.'' Jing mengibaskan lengan bajunya, menebah sesuatu, yang seakan tengah menempel disana.
''Dan plakat ini akan kukembalikan kepadaNya, dengan menyampaikan keinginan kalian.'' Lanjut Jing lagi, yang bersikap seolah ia telah menyerah, dengan keinginannya saat itu.
Melihat sikap tersebut, pria penebang kayu reflek menoleh kearah beberapa orang di belakangnya.
''Tunggu..'' Panggil pria penebang itu kepada Jing.
''Saya Luohusi, mari kita kepondok untuk berbincang.'' Sambung pria penenang kayu, yang sebenarnya adalah Luohusi sendiri.
Mendengar ucapan itu, kaisar Jing dan beberapa orang lain didalam rombongan kekaisaran tersenyum.
Dan tanpa mengucapkan apapun, Jing di ikuti oleh 3 orang penjaga bayangan, berjalan mengikuti langkah kaki Luohusi.
''Apakah mereka harus ikut?.'' Tanya seorang pria di samping Luohusi.
''Apakah anda keberatan?.'' Tanya balik Jing, masih dengan nada tenang.
Melihat hal itu, Luohusi menepuk pundak pria disampingnya, sembari berucap. ''Biarkan saja.''
''Baiklah..'' Jawab Pria itu kembali.
__ADS_1
Ia mematuhi apa yang di ucapkan oleh Luohusi.
Seolah, pria tersebut pemimpin disana.