
Mata Jing mulai berkaca-kaca, ia tak lagi terlihat dingin ataupun kejam.
Tak ada lagi keeleganan, serta kesan kearogansian tingginya, seperti biasa.
''Yang mulia...Tuan muda Yunsang sudah tiba.'' Seru kasim, dari luar pintu ruangan.
Mendengar pemberitahuan tersebut, Jing menyapu ujung matanya dengan jari.
Ia berdiri dari tepi ranjang, berjalan kearah meja yang tak jauh dari tempatnya semula.
Dengan mimik sendu, ia mendudukkan tubuh pada salah satu kursi disana.
Kesenduan yang masih tetap menggantung pada wajah tampan itu, bukanlah penghalang untuknya menghentikan gerak bibir, dan berkata.
''Masuk.''
''Kreeaaat''
Dan tak menunggu waktu yang lama, setelah suara derit pintu terdengar, seorang bocah yang baru saja beranjak dewasa memasuki ruangan itu.
''Memberi salam untuk ayahanda kaisar, semoga selalu sejahtera dan panjang umur.''
Bocah tanggung yang tak lain adalah Yunsang tersebut, memang selalu memanggil Jing sebagai Ayah, ketika mereka tidak berada di tempat umum, atau di hadapan orang lain.
Terutama jika mereka berdua berada di dekat Ziaruo, Yunsang akan menyebut Jing dengan panggilan tersebut, dan Jing akan dengan senang hati berkolaborasi di dalamnya.
Karena Jing tahu, Panggilan keakraban itu selalu mampu menampilkan sosok kelembutan di wajah wanita tersebut.
Kali ini Jing sengaja memanggil Yungsang ke sana, berharap bahwa dengan memanggil sang putra kesayangan (ziaruo), wanita di atas ranjang tersebut akan terbangun.
Entah insting atau sebuah kebodohan, yang jelas apapun yang terpikir di benak Jing untuk membangunkan Ziaruo, ia akan dengan cepat melakukan hal itu.
Berhasil ataupun tidak, ia hanya dapat berdoa, berharap serta pasrah, dan tidak akan menyesali setiap tindakan yang ia ambil.
''Tidak perlu formalitas.'' Jawab Jing, tanpa melihat kearah Yunsang.
Namun, dengan mata masih tetap terfokus kearah tubuh di atas ranjang.
Seakan, tak ada hal lain yang lebih penting lagi.
Meski Yunsang telah dijelaskan oleh kasim yang menjemputnya selama di perjalanan, hatinya tetap merasakan kesedihan ketika melihat tubuh tak lemah wanita di atas ranjang.
Sosok yang sangat ia sayangi melebihi apapun di dunianya, kini terbaring tak berdaya disana.
Bocah Yunsang tidak mengetahui apapun, perihal pertempuran dan kejadian yang menimpa Ziaruo, secara mendetil.
Ia hanya diberitahukan, bahwa sang ibunda sedang sakit, dan memerlukan kehadirannya.
Yunsang tidak berpikir bahwa kondisi sang ibu separah ini, bahkan dapat dikatakan tak memiliki hawa kehidupan.
Hatinya pilu, cemas, sedih, serta takut untuk wanita itu secara bersamaan.
Akan tetapi, dengan keberadaan pria Jing yang terus menatap kearah yang sama, ia hanya dapat terpaku tak bergeming.
Mata polos bening Yunsang mulai berkaca-kaca, sebagai ungkapan kepedihan hatinya yang kian mencekat kuat.
Dan di sisi lain, meski Jing menyadari kepedihan dari pemuda kecil itu, ia tetap dingin dan membisu.
Hati sendiri sedang tak menentu, lalu untuk apa ia harus memperdulikan kepedihan hati bocah kecil disana?.
Nyatanya ia tidak dapat menenangkan hatinya sendiri, dan haruskah ia berbohong dan menguatkan hati lain?.
Jing bukanlah pria dengan kehangatan, serta toleransi tinggi atas perasaan sesama.
Ia juga bukan seonggok batu, yang tidak tersentuh atas gambaran pilu di depannya saat ini.
__ADS_1
Namun bagaimanapun Jing bukanlah seorang pembicara yang baik, yang dapat mengutarakan kepedihan, serta mampu memberikan ungkapan menghibur untuk orang lain dengan perkataan.
Diam..dan diam dengan pemikiran, serta caranya sendiri.
Hingga beberapa saat kemudian, sebuah helaan nafas panjang terdengar.
Dan ia mulai membuka suara. ''Apa kau tak merindukannya?, sapalah Ibundamu, jangan hiraukan yang lain.''
Suara itu tidaklah dengan nada keras ataupun tinggi. Namun, dengan keheningan yang tercipta disana, ucapan dengan campuran pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban tersebut, mampu di dengar oleh semua orang dengan jelas.
Pria Jing berharap, dengan suara panggilan dan kerinduan bocah Yunsang, Ziaruo akan terbangun.
Atau setidaknya ia akan bereaksi, atas kasih sayangnya sebagai seorang ibu.
Jing ingin pria kecil tersebut, membangunkan sang istri dengan kasih sayangnya selama ini.
Sementara itu, Yunsang yang di besarkan dengan pemahaman tinggi, serta pembelajaran kaum bangsawan akhir-akhir ini, bukan lagi hanya bocah kecil bodoh.
Dengan perkataan dari kaisar Jing, ia memahami bahwa dirinya di datangkan kesana, bukan hanya untuk menjenguk sang ibunda yang sedang sakit.
Melainkan, dirinya kini di tempatkan sebagai sebuah alat yang di uji cobakan untuk menyembuhkan sang Permaisuri, dari kekaisaran Zing yang agung.
Meski demikian, itu bukanlah masalah sama sekali, baginya dengan alasan apapun dia di datangkan, Yunsang tidak peduli. Ia tetap dapat melihat sang ibunda, dan datang kepadanya secara langsung itu sudah cukup.
Tentang alasan, serta tujuan pria disana tidaklah penting.Terlebih lagi di dalam hati Yunsang, memang tak pernah menganggap Jing sebagai seseorang, seperti panggilan yang di ucapkan bibir kecilnya barusan.
Yunsang membenci Jiang jing wei.
Dengan langkah perlahan pemuda tersebut mulai mendekat kearah ranjang. Tubuh kecilnya bertumpu pada lutut kecil, dan berjongkok di tepian ranjang.
Dengan kedua tangan kecil miliknya, ia meraih tangan Ziaruo dengan penuh kelembutan.
''Ibunda...'' Panggilnya dengan suara pelan, serta dalam.
Di tambah lagi, saat tangan yang ia raih tak memberikan tanda kehangatan seperti biasa, hati bocah tersebut semakin menciut oleh kegetiran, serta ketakutannya sendiri.
''Ibunda, Yunsang datang.'' Panggilnya lagi.
''Yunsang rindu ibunda.''
Kalimat itu meluncur dengan di iringi bulir bening, yang mulai membasahi pipi.
Bahkan, beberapa kasim dan pelayan wanita yang mendengarnya pun, tak ayal ikut melemahkan air mata.
Pria kecil itu, semakin merapatkan kepala mendekat kearah tangan Ziaruo.
Menciumnya beberapa kali, dan mengusap-usap lembut telapak tangan itu.
Tubuh kecilnya yang berada di samping ranjang, kini mulai bergetar perlahan atas isak tangis yang ia tahan.
Bagaimanapun ia seorang pria, dan sang ibu mengatakan bahwa pantang baginya menyerah, ataupun menangis dikala mengahadapi suatu masalah.
Di masa lalu, ia akan sekuat tenaga memenuhi perkataan sang ibu.
Namun, dengan kondisi Ziaruo yang demikian, ia tidak lagi dapat menahan kesedihan hati saat ini.
Yunsang tetaplah masih bocah kecil.
Di saat orang yang sangat ia utamakan dan kasihi tidak dalam kondisi yang baik, hanya gundah serta cemas yang dimiliki.
Terlebih lagi, Ziaruo adalah segalanya bagi bocah kecil itu.
Ibundanya, pendukungnya, dan dapat dikatakan sebagai dunianya.
Bocah Yunsang merasa ketakutan akibat pemikirannya sendiri.
__ADS_1
Dalam pemahamannya, jika dia kehilangan wanita disana, maka dunianya, dan segala miliknya juga akan menghilang.
Ibundanya, dan hanya wanita disana saja yang sangat ia pedulikan.
Lalu bagaimana mungkin, ia tidak menangis di saat seperti sekarang?.
''Ibunda, bangunlah Yunsang akan menjadi putra terbaikmu, dan tidak akan berulah.''
Bocah itu semakin bergerak meringsekkan tubuhnya, hingga tanpa sadar tubuh kecil bagian bawahnya menggantung di tepi ranjang.
Dan ketika Yunsang merasakan tangan dingin sang ibu, kian menghangat atas genggamannya, hatinya sedikit lega meski mata wanita di sana tetap tidak bereaksi.
Menyadari hal tersebut, ia berdiri dan mendudukkan tubuh di atas ranjang, tepat di samping tubuh Ziaruo.
''Ibunda kedinginan.'' Pikir Yunsang.
Kedua tangan kecilnya memegang tangan sang ibu, serta melakukan gerak lembut seolah menggosok-gosokan kedua tangan, di atas telapak serta punggung tangan Ziaruo.
Ia mengingat, ketika sang ibu melakukan hal yang sama, disaat dirinya kedinginan dulu.
''Untuk memberikan kehangatan tak harus memerlukan nyala api, ataupun menunggu datangnya matahari pagi. Namun, ketika seseorang memiliki hati, serta kasih sayang yang tulus, bahkan hanya dengan tangan, kita mampu saling membagi kehangatan''
Yunsang mengucapkan bait-bait perkataan, yang pernah di dengar dari Ziaruo.
Ia hafal dengan baris perkataan sang ibu dengan baik.
Meski demikian, Yunsang hanya memahami sebatas apa yang ia mengerti saja.
Baik itu makna, serta maksud dari apa yang di ucapkan oleh Ziaruo, dirinya tak memiliki pemikiran penangkapan lain, atas sirat makna dari segi penyampaian sang ibu yang sebenarnya.
Dirinya masihlah terlalu dini, untuk lebih jauh mengerti.
Sebanyak ia mengingat kebersamaan mereka, sebanyak itu pula ia melelehkan air mata.
Dan setiap apa yang ia ucapkan, semakin membuat mereka yang mendengar, terpaut dengan kesedihan.
Yunsang, bocah kecil malang yang akan menjadi tak berpelindung tanpa Ziaruo.
Setidaknya itulah yang difikirkan oleh semua orang.
Mengingat sejarah kelahirannya yang memalukan, mana mungkin Jiang jing wei akan merawatnya tanpa kehadiran Wanita tersebut.
Namun, yang tidak di ketahui oleh orang lain disana, setiap Yunsang mengutarakan kalimat-kalimat itu, ia juga menekankan bahwa segalanya adalah kesalahan dari pria Jing, yang telah merusak kehidupan bahagia miliknya.
Yunsang semakin membenci Jing.
Pria kecil yang belum mampu memahami tinggi dan rendahnya langit tersebut, hanya dapat berpikir bahwa segala yang ia anggap benar adalah benar.
Dan apapun yang terjadi kepada sang ibunda, adalah berasal dari kehadiran pria Jing di antara kehidupan mereka.
Ia hanya ingin ibundanya, tidak status sebagai bangsawan dengan embel-embel cibiran di balik punggung, yang kini ia sandang.
Ia hanya ingin Janda Yun, sebagai ibundanya saja, dan bukan sebagai Permaisuri yang bahkan, para pelayan rendah di istana dalam, terkadang sering menjelekannya di belakang.
''Ibunda...Yunsang sendirian, Yunsang hanya ingin ibunda.'' Lanjut pemuda itu lagi.
Namun kali ini bocah kecil itu tidak lagi dalam posisi duduk.
Ia merebahkan tubuh sejajar dengan Ziaruo, serta memeluk pinggang sang ibu erat.
Yunsang tidak lagi memperdulikan pemikiran orang lain disana, tidak juga pemikiran dari Jing orang yang sangat ia takuti, sekaligus benci.
Tubuh kecilnya yang hanya setinggi dada pria dewasa, tampak meringkuk dangan kesenduan yang mendalam, di samping tubuh Ziaruo yang tak bergeming.
''Ibunda..''
__ADS_1