Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 196 Menjauh atau menghilang.


__ADS_3

Melihat kondisi Jing yang kian melemah akibat cengkraman pada leher, Ziaruo melupakan bahwa kekuatannya kini tengah ia bagi, untuk mengendalikan ratusan sosok bayangan hitam yang sedang menghadapi para jelmaan serigala.


Alhasil karena terlalu memaksakan diri, dan banyak menggunakan tenaga dalam, secara tiba-tiba Ziaruo memuntahkan seteguk darah segar.


Baik Jing, Yongyu dan semua orang disana yang melihat menjadi panik.


Tak terkecuali, sosok yang kini jauh dari area pertempuran, juga reflek membulatkan mata dan berdiri dari duduknya.


Dalam sesaat, perasaan darinya membuat sang jelmaan diam tertegun.


Dari mata Jingyun yang tengah menekan leher Jing wei sekilas terlihat kekosongan, seolah disana tidak terdapat jiwa kehidupan.


Dan benar adanya, di tengah keterkejutan dari sosok Murong yang jauh di tengah hutan misteri, sejenak ia melupakan sosok jelmaan yang tengah di kendalikan.


Kekhawatirannya teramat besar untuk wanita Yun disana.


Bahkan, dengan kejadian tersebut, ia sempat beranjak dari posisi semedi yang ia lakukan, dan hendak melesat untuk mendatangi Ziaruo saat itu juga.


Akan tetapi, entah apa yang ia pikirkan.


Langkah lebarnya segera ia hentikan, dan kembali melakukan sesuatu yang sempat ia tinggalkan, beberapa saat yang lalu.


...................


Di waktu yang bersamaan, di tepian hutan Misteri.


Wajah dalam bulu jelmaan Jingyun, kembali menampilkan tatapan sinis serta kejam.


Mata itu sejenak menatap kearah Ziaruo yang mulai menstabilkan tubuh, dan menyeka darah pada bibirnya.


''Lihatlah bahkan dia juga menderita hanya untuk dirimu.'' Ucap sang Jelmaan, setelah kembali menyeringai kearah Jingwei.


''Menjauhlah darinya atau kau akan melihat tubuhnya menghilang.'' Lanjut Jelmaan lagi.


Bagi Jing wei perkataan apapun dari sosok di depannya saat ini, ia tidak ambil pusing.


Namun, ketika hal tersebut menyangkut diri dari sang istri, mata Jing tak dapat menutupi kecemasan hatinya.


''Menghilang?.''


Sebait kecil kata, nyatanya mampu membuat tubuh itu bergetar tak normal.


Namun, seakan berbanding balik dengan kondisi Jing, setelah meluncurkan perkataan tersebut, aura dari sang jelmaan kembali seperti sediakala.


Berubah menjadi Aura yang sama, disaat jelmaan itu masih dengan sosok sempurna tubuh Jingyun.


''Apakah ia telah kehilangan kekuatannya?, ataukah ia ingin melemahkan kesiagaanku?.'' Pikir Jing.


Dan entah secara kebetulan, atau memang disengaja. Bersamaan dengan melemahnya aura dari sang jelmaan, tabir pelindung yang menyelimuti tubuh keduanya juga berangsur menghilang.


Jing yang menyadari perubahan tersebut, dengan sekuat tenaga memberikan pukulan untuk tubuh di depannya.


''Bang...bang..''


Dua kali tendangan yang cukup keras dan diarahkan pada titik akupuntur, telak mendarat pada tubuh jelmaan Jingyun.


Akibat serangan yang tiba-tiba, dan kondisi Jelmaan belum menyadari keadaan disekitar, tubuh besar dalam bentuk menyerupai serigala tersebut, terpental hingga beberapa jengkal.

__ADS_1


Menyadari serangannya berhasil, dengan cepat Jing mengambil kesempatan itu untuk berlari kearah Ziaruo.


''Yun...'' Panggilnya penuh kecemasan.


Ia segera meraih tangan sang istri, seraya membawa kedepan pandangan.


''Bagaimana keadaanmu?, apa kau baik-baik saja?.''


Jiang jing wei mengexpos tubuh sang istri dengan seksama.


''Apa yang kau lakukan?, mengapa harus datang?.'' Beruntun kalimat meluncur cepat, dari bibir Jing wei.


Ada kegelisahan yang besar dari kecemasan hatinya, yang kini terwakili dengan nada sedikit di bumbui amarah, untuk wanita itu.


Jing bukanlah pria yang di bentuk dalam kelembutan, dan balutan keromantisan.


Dalam kepanikan serta gerak refleknya, secara natural ia merealisasikan kecemasan hati dengan sebuah nada kasar tanpa ia sadari


Namun, bagi Ziaruo hal tersebut bukanlah sesuatu yang menyedihkan.


Hatinya menghangat, dengan kemarahan Jing saat ini.


Di tengah kekacauan yang mengancam nyawanya, pria tersebut hanya terfokus akan keselamatan Ziaruo.


''Jangan lakukan apapun lagi Yun... kau bisa membunuhku hanya dengan melihat kejadian ini.'' Lanjutnya lagi, setelah memastikan tak ada luka disana.


Jing membawa Ziaruo kedalam pelukan, ia tak memperdulikan dimana mereka kini berada.


Dirinya juga tidak ambil pusing dengan pasang-pasang mata, yang tengah memperhatikan tindakan itu.


''Baguslah...baguslah..baguslah.... kau baik-baik saja.''


Hingga..


''Lepaskan...!''


''Kau lihatkan dia sempat memuntahkan darah. Aku akan membawanya menjauh dari tempat ini.''


Yongyu yang melihat kejadian itu dari jarak yang agak jauh, dengan segera mendatangi keduanya.


Ia tidak lagi memperdulikan kondisi tubuhnya yang babak belur.


Kecemasaannya seolah memberikan kekuatan tersendiri, untuk menghentakan kaki menuju tempat Ziaruo.


Bahkan, ketika ia sampai di dekat sang Adik, tanpa meminta izin ataupun merasa canggung, pemuda itu dengan agak memaksa memisahkan Ziaruo dari dekapan Jing.


Jing yang kebetulan posisinya membelakangi arah kedatangan Yongyu, membulatkan mata tak percaya.


Hatinya terhenyak atas keterkejutan hentakan tangan seseorang yang Ia anggap lancang.


''Lancang..!." Pekiknya keras, seraya membalikkan tubuh.


Jing hendak marah, atau dapat di katakan ingin menghancurkan siapapun itu, yang ia anggap sebagai penggagu disana.


Sejak awal ia memeluk Ziaruo, adalah ingin menenangkan hatinya yang tengah di luput kecemasan dan rasa takut.


Tak pernah ada, sedikitpun dalam hati Jing saat ini, keinginan ataupun pikiran nyeleneh (intim) disaat ia memeluk sang istri.

__ADS_1


Hanya ungkapan kelegaan, serta takut kehilangan yang besar, jika ia melepaskan wanitanya tersebut.


Dan hal itu terjadi secara reflek, ketika melihat Ziaruo dalam keadaan yang baik-baik saja.


Namun, belum sempat perasannya terpuaskan, sebuah tarikan dari arah belakang mengambil tangan sang istri, dengan kasar.


Kecemasan dan rasa takut yang beberapa saat lalu mereda kembali muncul.


Jing mengira bahwa sang jelmaan, atau ada musuh yang hendak mencelakai Ziaruo.


Disaat itu, ia juga tidak mendengar perkataan dari Yongyu, saat hendak menarik tangan permaisuri Yun.


Akan tetapi, ketika Jing melihat bahwa Yongyu-lah yang berdiri disana, hati serta wajahnya menjadi lesu.


Tentu saja, dirinya tak akan melakukan apapun kepada pria Yongyu.


''Apa kau baik-baik saja, ayo kita pergi dari sini, tinggalkan dia.'' Lanjut Yongyu, sembari melirik sekilas kearah Jing.


Dalam hati ada kemarahan yang besar untuk kaisar Jiang jing wei.


Di mana ia masih berpikir bahwa Jing, masihlah saudaranya yang dulu.


Seseorang yang lebih mengutamakan tahta dan kekuasan, diatas segalanya.


Dan baik dia sebagai Jingyun pangeran kedua, ataupun sebagai Yongyu. Ia jelas menolak sesuatu yang akan membuat Ziaruo menderita.


Kekesalan, serta anggapan itu kembali muncul dan menguat, setelah ia mendengar perkataan Jing untuk jelmaan Jingyun, beberapa saat yang lalu.


Ziaruo menyadari, dan memahami ketidak sukaan Yongyu terhadap Jing, hanya menatap sang kakak lembut, dan tak bisa berbuat apa-apa.


Wanita itu hanya ingin menenangkan Yongyu saat ini, dan menunggu saat yang tepat untuk menjelaskannya nanti.


Dengan menekan sedikit rasa menegang di bagian perut, ia berkata. ''Jangan khawatir, aku baik-baik saja kak, hanya saja saat sekarang aku masih harus memastikan sesuatu.''


Ziaruo melepaskan diri dari genggaman Yongyu, dan melangkah kearah sang jelmaan.


Ziaruo menghentikan gerak kakinya, setelah beberapa langkah dari sang jelmaan.


Ia terdiam sejenak, dan memusatkan pikiran.


Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Ziaruo untuk menemukan sebuah jawaban, atas pemikiran dalam benaknya, dan berkata. ''Terlalu terburu-buru merupakan kelemahan dalam pengendalian nafsu, dan itu adalah kesalahan terbesar kalian.''


Mendengar perkataan itu, jelmaan Yun berjalan kearah samping beberapa langkah, dan sesaat kemudian kembali ketempat semula.


Mata tajam sang jelmaan, masih menatap kearah Ziaruo.


Seakan ia tengah mencari sesuatu, pada tubuh tersebut.


Sang jelmaan ternyata memiliki keistimewaan, yang mampu melihat sesuatu yang berbeda dari tubuh Ziaruo.


Dan benar saja, makhluk itu mampu melihat setiap bayangan yang di lepaskan oleh Ziaruo, beberapa saat yang lalu kembali menyatu ketubuhnya setelah menyelesaikan tugas.


Dan ketika itu terjadi, jelmaan Jingyun dapat menyimpulkan serta merasakan, baik kekuatan, kondisi serta raut wajah Ziaruo, semakin membaik.


''Aku ingat....Andalah yang telah menangkap ratu.'' Ucap sang jelmaan dengan wajah yang sedikit mulai menunjukan ketakutan.


Jelmaan tersebut mengacu kepada jelmaan wanita, yang kini berada di dalam cermin air bulan, sebagai pelayan penjaga tubuh Murongxu yang asli.

__ADS_1


Ziaruo mengernyitkan kening sejenak, dan menatap kearah makhluk di depannya.


Namun dengan cepat ia kembali menampilkan wajah tenang dan berkata. ''Oh...Lalu apa mauamu?, bukankah dia tak pernah menyentuh daging?, dan siapa dirimu..?.''


__ADS_2